PENGANTIN PENGGANTI KAKAKKU

PENGANTIN PENGGANTI KAKAKKU
43. Positif


__ADS_3

Dengan telaten Almira mengurus Alfindra yang masih terbaring lemah. Di tangan Almira, ia makan dengan lahap bahkan tak lagi mual-mual setelah makan. Alfindra juga terlihat lebih segar sejak Almira datang tadi malam. Hal itu tentu tak luput dari pandangan Dominic dan Silvia, mereka sampai melongo tak percaya.


"Kamu lihat kan, Ma. Lihat sendiri bagaimana dia mengurus Alfindra dengan baik. Bahkan, besar pengaruhnya untuk kesehatan Alfindra saat ini. Tolong, Ma! Restui mereka. Biarkan mereka menjalani takdir mereka sendiri," ujar Dominic.


Silvia diam tak menjawab, ia tak mengiyakan ucapan suaminya meski dalam hati pun menilai sama.


"Ma, denger papa ngomong nggak? Tuh, tuh lihat!" tunjuk Dominic lagi saat Alfindra meraih tangan Almira dan membawanya di pipi.


"So sweet banget mereka, jadi inget pas kita muda, Ma. Mama inget kan kalau dulu papa gak punya apa-apa, kalau bukan keluarga mama berbesar hati nerima papa kita juga gak akan menikah," lirih Dominic.


Glekk...


"Tapi situasinya beda, Pa!" Kekeh Silvia meski wajahnya sudah tak semenyebalkan tadi.


"Hayoooo... Ngintip, awas bintitan." Zion datang membuyarkan lamunan dua orang tua yang tengah memperhatikan Almira dan Alfindra dari luar.


Silvia sontak menoleh dan menjewer telinga putra sulungnya hingga mengaduh heboh, "dasar abang gak berukhuk, bisa-bisanya nidurin calon adik sendiri," omelnya.


"Ampun, Ma. Ampun! ini semua karena aku lebih ganteng dari si adik. Lagian salah Salma sendiri," gerutu Zion mencoba melepaskan diri.


"Sudah, Ma. Malu ah, didenger banyak orang lewat," bela Dominic.


"Papa tuh ya, bisa nggak sih nggak usah belain anak. Istri papa itu mama," omelnya tak terima.


Di dalam sana, Alfindra masih mencoba membujuk Almira untuk pemeriksaan. Alfin yakin seratus persen kalau istrinya hamil, karena gejala yang ia alami bukanlah asam lambung naik.


"Pokoknya kamu harus periksa, Al. Jangan-jangan emang kamu lagi hamil, makanya aku kaya gini. Siapa tahu kan?"


"Orang aku gak hamil kok Mas. Masa sih hamil? Makan aku biasa, perut aku juga gak gede, aku gak mual, gak pengen makan apapun. Kalau ha id aku rasa itu karena emang dari awal aku selalu telat."


"Tapi kamu gendutan lho..." tapi seksi, sambungnya dalam hati.


"Mas ngatain aku gendut?" Almira melotot.


"Enggak, kamu seksi."


Keduanya beradu mulut, tapi tangan Almira menempel manja di pipi. Alfindra tak akan membiarkan Almira pergi barang sedikit pun.


Sebenarnya, Alfin sudah bisa bangun. Namun, kalau sakitnya diperhatikan gini oleh Almira mendingan dia perpanjang istirahat di rumah sakit barang sehari.


Sayangnya tak semudah itu, Dokter mengatakan kondisi Alfindra sudah membaik dan sore nanti sudah boleh pulang. Dokter juga menyarankan agar Almira selalu menjaga Alfindra dengan baik.

__ADS_1


Mendengar hal itu tentu Zion terbahak puas, puas meledek Alfindra habis-habisan.


"Nona Almira, kamu bisa pakai jaketku kalau tak keberatan," seru Zion seraya menyodorkan jaketnya.


Dress Almira memang berlengan, tapi tak bisa melindungi tangannya yang putih dari sorot matahari.


Almira menggeleng kaku, ia masih enggan mengakrabkan diri dengan abang Alfindra yang memiliki kesan jelek di matanya.


"Biar dia pakai punya Madel," seru Alfindra dingin seolah tak membiarkan sang abang mengusik miliknya barang secuil.


"Punyaku atau Madel sama saja, sama-sama punya orang lain. Bukan punyamu," seru Zion menyeringai.


"Sin ting!" maki Alfindra kesal.


"Hahahaha, kalau gak sin ting pasti istrimu sudah nempel sama aku," godanya lagi.


"Cih..."


Silvia diam, Almira hanya mengangguk singkat. Mau tak mau, Silvia harus membiarkan putranya pulang bersama Almira dan Madel. Dominic setia mengusap lengannya, "restui, Ma. Papa yakin mereka akan bahagia."


"Papa, awas mama mau pulang. Nanti malam tidur sama Zion," kesal Silvia.


"Dih ogah, udah gede juga!" keluh Zion menolak, "mending bobo sama Neng Salma!" sambungnya lagi membuat Silvia kembali menatapnya tajam.


"Dih mama, Alfin aja belum mama restu," Jawab Zion sambil ngibrit.


***


Alfindra istirahat beberapa hari di apartemen. Ditemani Almira, Alfin sedikit lebih tenang kecuali tiap pagi, ia memang masih sering mual. Melihat dengan mata sendiri, Almira jadi tak tega. Ia keluar sebentar saat Alfindra terlelap untuk membeli beberapa tespeck.


"Darimana kamu, Mir?" tanya Alfindra.


"Eh, Mas sudah bangun?" tanya Almira basa-basi.


"Ngapain kamu, aku tidur malah sibuk keluar. Ketemu siapa?" cerca Alfindra menyelidik.


"Emh, aku ke apotek sebentar. Beli..." Almira mencengkram bungkusan kresek putih di tangan.


"Apa?" tanya Alfindra tak sabar.


"Tespect, Mas."

__ADS_1


"Ouhhhh..." Alfindra mengangguk, sejurus memudian menghampiri Almira.


"Ayo kita tes sama-sama," ajaknya membuat si empu hanya meringis tak menjawab.


"Aku sendiri aja, Mas!" tolak Almira menggeleng. Ia ingin ke kamar mandi menampung urin untuk mengetes positif tidaknya, tapi suaminya itu justru ikut membuntuti hingga Almira canggung sendiri.


"Mas keluar dulu deh."


"Nggak, aku juga mau lihat tesnya!" kekeh Alfindra.


"Nggak bisa mas, aku malu tahu ishhh... Kan itu..." Almira menunduk, masa sih suaminya harus ikut menyaksikan ia buang air.


"Ngapain malu, memang bagian mana tubuh kamu yang belum aku lihat, Mir. Sudahlah ayo cek, mas yakin kamu tuh positif," kekeh Alfindra.


Mau tak mau, Almira terpaksa melakukannya di hadapan Alfindra, ia memasukkan tespeck ke dalam urin untuk melihat hasilnya. Satu detik, dua detik satu garis muncul. Detik-detik berikutnya membuat jantung Alfindra juga Almira sama tegang.


"Tuh kan positif...." kekeh Alfindra sementara Almira tak mampu berkata-kata. Belum puas dengan hasilnya lantas ia membuka dua tespeck lagi dan memasukkannya lagi ke dalam urin.


Hasilnya sama, positif lagi. Namun, mata Almira justru berkaca-kaca dan terisak pelan.


"Lho lho kok malah nangis," Alfindra berjongkok lalu meraih wajah Almira.


"Aku hamil, Mas," gumam Almira. Perasaan bahagia, senang, takut, sekaligus haru menyeruak menjadi satu.


"Iya, kamu hamil anakku. Kecebongku memang sehebat itu, ayo berdiri."


"Mas!" Almira memanyunkan bibirnya, bisa-bisanya di momen haru malah membanggakan kecebong.


"Tapi gimana kalau mama kamu tetep kekeh jodohin kamu sama dokter itu. Aku gak mau jadi janda, Mas."


"Gak akan, Salma itu udah hak patennya bang Zion. Bentar lagi juga nikah mereka. Oh ya, sebenarnya mas ada rencana kuliahin kamu, tapi kalau kamu hamil gini gak jadi," seru Alfindra.


"Yahh..." gumam Almira.


"kamu kecewa? Gak papa kalau gak jadi kan bisa nanti kalau di baby udah lahir. Kamu bisa daftar kuliah," seru Alfindra.


"Mas kita masih di kamar mandi lho," gumam Almira.


"Yaudah yuk cuss ngamar!"


"Auhhh," pekik Almira kala Alfindra membopongnya keluar dari dalam kamar mandi. Namun, meski begitu tangannya mengalung mesra di leher dan bibirnya mengukir senyum.

__ADS_1


"Malam panjang lagi," batin Almira.


__ADS_2