
Kepindahan Wildan bersama Hana membuat Anton sedikit bimbang. Antara ingin ikut atau tetap tinggal. Beberapa hari yang lalu, setelah memastikan Hana pulih dan dibawa pulang, Wildan bicara panjang lebar dengannya karena ingin menempati rumah sendiri. Rumah yang benar-benar hasil jerih payah Wildan sendiri, bukan pemberian Alfindra.
Awalnya Wildan tak masalah dimanapun istrinya ingin tinggal, toh sama saja. Namun, sejak sang mama memberikan wejangan padanya setelah punya anak, Wildan mulai punya bayangan tinggal di rumah sendiri dengan anak-anaknya juga sang istri kelak. Itu lebih nyaman dibanding tinggal di rumah megah, yang jelas bukan haknya.
"Gimana, Pa?" tanya Wildan. Saat ini ia sedang berada di ruang santai, bicara dengan Anton. Tak ingin sang istri berubah pikiran, setelah setuju akan pindah. Membawa suasana baru untuk Aleandro, putranya.
Secara resmi, putra pertama Wildan - Hana diberi nama Aleandro Damian.
Anton tampak ragu, akan tetapi menit demi menit berlalu akhirnya mengangguk.
"Papa pengen nemenin Hana sama Damian. Papa ini sudah tua, Wil. Kalau gak nurut sama anak mau ikut siapa?"
Wildan mengangguk senyum, lalu mengusap bahu mertuanya, "Papa bebas memilih mau ikut aku dan Hana atau Almira. Kita semua anak-anak papa, kita yang bertanggung jawab atas papa nantinya," ujar Wildan.
Kembali Anton dibuat salut oleh menantunya, ia sungguh menyesal karena telah meremehkan Wildan.
Sementara di kediaman Alfindra, Almira tampak muram. Sudah hampir jam sembilan dan suaminya belum sampai di rumah. Padahal, Alfindra janji tak akan lagi pulang malam di usia kehamilannya yang sudah membesar.
Delapan bulan, mungkin jika tak mengandung bayi kembar. Almira masih bisa bebas bergerak leluasa. Namun, yang dirasakan saat ini sungguhlah nikmat luar biasa. Harus banyak sabar dan harus banyak istirahat. Akan tetapi jika membayangkan, ia dan sang suami memiliki bayi kembar sepasang membuat rasa lelah, rasa begah dan rasa takut menjadi bahagia.
Dengan gerakan lembut, Almira memandangi perutnya yang besar.
"Sehat-sehat ya, sayang. Bantuin mama ya biar gak gampang mellow, bentar lagi papa pulang kok," lirih Almira yang lebih mirip bisikan.
__ADS_1
Almira bergerak gelisah di kamar, setelah lelah memilih duduk. Almira mengecek ponselnya, sejak kandungannya memasuki semester akhir, ia memang jarang membuka sosial media. Namun, kali ini karena jenuh Almira berselancar dengan ponselnya.
"Ehhh, kenapa ada inbox dari Caca? Kok aku gak tahu," lirih Almira dengan kening mengkerut heran.
'Tanggal 28 aku nikah, Mir. Sama Bang Rayyan, datang ya? Undangan udah aku kirim ke kantor suamimu.'
Glekk...
"Undangan? Kok mas Alfindra gak bilang apa-apa?" gumam Almira. Seketika terhenyak menyadari tanggal 28 itu adalah malam ini.
"Apa mas Alfindra datang sendiri? Dia nggak ngajak aku karena bang Rayyan kah?"
Tiba-tiba Almira merasa sedih, ia rasa Alfindra sengaja pulang malam dan tak mengajaknya ke pernikahan Caca dan Rayyan karena kehamilannya. Hingga saat mendengar deru mobil memasuki halaman rumah, Almira bergegas keluar kamar dan turun.
"Sayang, nungguin ya? Maaf aku tadi banyak kerjaan," seru Alfindra menghampiri sang istri lalu mengecup kening Almira singkat.
"Yakin banyak kerjaan? Nggak dari pesta Caca sama Bang Rayyan?" sindir Almira menahan kesal.
"Pesta?" Alfindra mengerutkan kening. Seketika, ia teringat sesuatu...
***
"Mira sayang, maaf. Mas beneran lupa lho," lirih Alfindra menghampiri sang istri yang berakhir marah dan malah tidur membelakanginya.
__ADS_1
Alfin yang baru selesai mandi memilih ikut naik ke ranjang dan mengusap lembut bahu istrinya.
"Mas nggak tahu sedekat apa aku sama Caca, Mas sengaja pasti karena Caca nikahnya sama Bang Rayyan," sungut Almira. Masih enggan membalikkan badan.
"Enggak lho, mas beneran lupa karena banyak kerjaan. Mas lupa Mir, lagian harusnya Caca hubungi kamu kek, jadinya kalau Mas lupa kan kamu udah tahu. Nah dia kirim undangan juga dadakan lho, dan mas lagi sibuk-sibuknya di kantor. Tanya Madel kalau gak percaya," jelas Alfindra sungguh-sungguh.
"Caca udah hubungi aku, tapi aku baru buka. Aku enggak enak, gimana sekarang," sungut Almira kali ini sambil menoleh horor ke suaminya.
"Yaudah nanti biar mas aja yang jelasin sekalian cari hadiah. Udah ah, jangan marah-marah. Kasian twins, dia kangen papanya lho," bisik Alfindra menenangkan.
"Jangan jadiin si kembar buat Alasan ya mas," ketus Almira. Saat itulah terjadi pergerakan kecil, tendangan-tendangan di perut berhasil membuat Almira meringis pelan.
"Kenapa?" tanya Alfindra khawatir.
"Mereka nendang, Mas."
"Sakit nggak?" tanya Alfindra, dengan lembut membantu Almira mengubah posisi jadi menghadapnya. Tangan Alfindra terangkat pelan mengusap-usap perut Almira.
"Hai? Kangen papa nggak kalian, bantu bujuk mama ya, biar papa boleh nengok bentar," bisiknya membuat Almira sontak mencubit lengan Alfindra.
"Sakit yang..."
"Mas sih, ngomong aneh-aneh!"
__ADS_1
"Enggak, aku cuma nanya mereka kangen enggak sama aku, kalau kangen kan bisa cuss sekarang hehe, kasih aku vitamin Mir biar capeknya hilang," bisik Alfindra meringis. Takut kalau-kalau Almira menolak.