
Alfindra dan Almira memutuskan kembali ke mansion, bertemu lagi dengan Bambang dan penjaga lain. Baru sampai di depan, Joko menyambutnya dengan antusias. Kedatangan Alfindra kembali ke mansion seolah menjadi warna baru pekerjaannya.
"Selamat datang kembali, Tuan!" sapa Joko dengan senyum ramahnya. Ia tahu, Tuannya sekarang tak segarang dulu. Alfindra sudah menemukan pawangnya.
"Ya? Bambang sama Budi mana?" tanya Alfindra.
"Ada Tuan, setiap hari mereka yang membantu saya merawat mansion ini, hehehe. Saya dan yang lain sangat senang, Tuan dan Nona Almira kembali dan tak jadi membeli rumah baru," jelas Joko.
Alfindra mengangguk, ia sampai lupa dengan sang istri yang masih di mobil tertidur.
Klekkk...
Alfindra membuka pintu mobil, sesaat ia tersenyum tipis menatap istrinya yang malag pulas di perjalanan. Lantas, ia bergegas menggendong Almira masuk ke dalam rumah dan membawanya ke sofa tamu.
"Tuan?" sapa Bambang dan Budi. Mereka tak lagi mengenakan jas hitam ala-ala pengawal. Hanya pakaian santai sebab tadi sedang berada di belakang. Beruntung sekali memiliki tuan yang baik hati, tetap menggajinya meski tak tahu apa yang harus dilakukan di mansion sebesar ini. Apalagi Bambang tidak tahu menahu dimana selama ini Nona dan Tuannya tinggal. Saat bertanya pada Madel, laki-laki itu hanya menjawab seperlunya. Meminta yang lain santai disini asalkan kondisi mansion aman terkendali.
"Ya, Bambang? Bisakah kau turunkan barang-barangku di mobil?"
"Siap Tuan, mau dibawa kamar atas?" tanyq Bambang sebelum melakukan tugasnya.
Bukan tanpa alasan Bambang bertanya, mengingat kandungan Almira sudah semester akhir yang artinya akan susah jika naik turun tangga.
__ADS_1
"Kamar bawah." tegas Alfindra memerintah.
"Mas, biar aku sendiri yang membereskannya. "
"Nggak, biar aku. Lagi pula, aku bisa kok melakukannya," ujar Alfindra tersenyum lembut.
"Aku bisa jadi apapun yang kamu mau, sayang!" sambungnya lagi membuat Almira mengerjapkan mata gemas.
"Idaman siapa dulu hehehe."
Alfindra terkekeh pelan lantas mencium pipi Almira sesaat, "tunggu disini." perintahnya kemudian berlalu. Alfindra masuk ke dalam kamar dan membereskan semuanya. Mengganti sprei, menyapu ulang meski Alfindra yakin sebelumnya sudah rutin dibersihkan oleh Bambang dan yang lain.
"Sepertinya aku harus mencari pelayan untuk Almira, dia mungkin akan jenuh sendirian disini," gumam Alfindra setelah selesai membereskan kamar.
"Shittttt," umpat Madel saat tak sengaja menabrak body belakang mobil depannya yang mengerem mendadak. Si pemilik turun dan langsung menggedor kaca mobilnya.
"Ya?" tanya Madel.
"Apa anda gila? Menabrak mobil belakangku dan masih tidak mau turun untuk tanggung jawab?" seru Wina.
"Anda yang mengerem mendadak, masih berlagak mencari kesalahan orang lain," jawab Madel berusaha santai.
__ADS_1
"Win, udah. Aku kan sudah bilang langsung aja, katanya buru-buru." suara Alina menginterupsi. Madel membulat, "Nona Alina," sapanya lembut.
"Hallo, hehehe maafkan temanku Madel," seru Alina kemudian lantas menarik Wina agar menjauh. Wina mendekus, meratapi body belakang mobilnya yang sedikit rusak.
Tak ingin dicap buruk di hadapan clien tuannya, lantas Madel gegas menghampiri wanita itu untuk memberikan kartu nama.
"Hubungi aku kalau sudah masuk bengkel," seru Madel kemudian bergegas pamit.
Wina mematung di tempat, ia tak menyangka laki-laki itu mudah sekali berubah. Lantas menoleh horor pada Alina, "jangan bilang dia kekasihmu?" selidik Wina dibalas gelengan kepala.
TAKKK...
"Kau tahu kalau aku dan Reyhan akan segera menikah," gumam Alina.
Madel menjemput Alfindra ke mansion. Sampai disana, wajah Alfindra sungguh tak mengenakkan saat ia memberitahu Alfindra kalau investornya ingin bertemu langsung.
"Maaf sayang, kamu baik-baik di rumah sama Bambang dan yang lain ya? Jangan nakal," pamit Alfindra setelah bersiap.
"Aman, yang penting kamu jaga mata, jaga hati, jaga jarak," ujar Almira disambut gelak tawa Madel.
"Nona Almira mulai posesif, Tuan!" ledek Madel.
__ADS_1
Alfindra mencibir, "istriku bukan posesif, tapi dia terlalu mencintaiku," akunya percaya diri.