
"Selamat, Pak. Anaknya laki-laki." suster membawa seorang bayi di gendongan keluar. Meminta Wildan mengikutinya ke ruang khusus bayi.
"Istri saya mana, sus?" Wildan tentu senang akhirnya menjadi seorang ayah. Namun, ia masih tak mengerti kenapa istrinya belum keluar.
"Bu Hana masih di dalam, pemulihan obat bius. Nanti kalau obat biusnya mulai hilang akan dipindah ke ruang rawat," jelas suster, akan tetapi hal itu tak membuat raut wajah Wildan melega. Ia sungguh khawatir dengan keadaan Hana di dalam sana.
Kembali, Wildan menunggu di luar setelah meng-adzani putranya. Ia terduduk dengan mata menggenang. Membayangkan Hana berjuang di dalam sendirian tanpa genggaman tangan darinya. Wildan tahu, Hana typikal wanita manja dalam hal apapun dan itu yang membuat Wildan bahagia karena selalu merasa dibutuhkan oleh Hana.
"Will," lirih seorang wanita paruh baya menghampirinya.
"Mama?" Wildan langsung bangkit, menghampirinya dan tangisnya pecah.
"Hana berjuang sendirian, Ma. Aku nggak bisa,--"
Mama Wildan hanya bisa mengusap lembut punggung putranya kasian, "Hana pasti kuat sayang, kamu sudah melakukan upaya terbaik. Jadi, kalau jalannya emang harus operasi mau gimana lagi."
Wildan mengangguk seraya melepas pelukan.
"Kapan kalian pindah, Wil?" kamu sudah punya anak sekarang dan mama rasa sudah wajibnya kamu membawa Hana pulang ke rumahmu sendiri." Wilona duduk kemudian menggenggam lembut tangan putranya.
__ADS_1
"Maaf, Ma. Aku belum siap," lirih Wildan kemudian melirik Anton yang datang dari kejauhan.
"Kamu masih mikirin papa mertua kamu? Bukannya bagus kalau kamu mengajaknya sekalian, Wil? Bagaimanapun Pak Anton sendirian. Cuma mama nggak mau kamu tinggal disana, rumah itu kan pemberian adik ipar kamu." Wilona sudah tahu kalau rumah milik Anton adalah pemberian Alfindra, jadi tak ada salahnya meminta Wildan menempati rumahnya sendiri. Rumah yang jelas-jelas atas namanya.
"Nanti aku pikirkan, Ma."
***
Wildan menatap jendela dengan perasaan gelisah. Hana memang sudah dipindahkan di ruang rawat, akan tetapi bayi laki mereka masih harus diinkubator karena beratnya yang kecil.
"Wil, makan dulu sana!" titah Anton. Bersama dengan itu, Almira dan Alfin datang.
"Gimana keadaan kak Hana, Bang?" tanya Almira.
Almira mengangguk, "makan, Wil. Biar Aku dan Almira yang jaga Hana," seru Anton. Sementara Wilona sudah pulang sejak sore tadi, ia harus mempersiapkan segala keperluan cucunya mengingat kelahiran sang menantu yang maju dua minggu.
"Iya, Pa." Wildan melangkah pelan akan tetapi tak disangka Alfindra meminta izin pada Almira untuk ikut dengannya.
Pasti nih calon bapak kepo maksimal.
__ADS_1
Benar dugaan Wildan, setelah mereka jauh menyusuri lorong rumah sakit menuju kantin. Alfindra mengekor layaknya bebek.
"Gimana?" tanyanya membuka percakapan.
"Apanya?"
"Gimana nungguin wanita lahiran?" akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari bibir Alfindra yang suka gengsian.
Wildan menghela napas kasar, "paniklah, nano-nano. Apalagi aku gak bisa nemenin Hana di ruang operasi, dada ini terasa dihantam batu bertubi-tubi," jawab Wildan mendramatisir.
"Lebay!" desis Alfindra, tapi mendadak ia juga takut. Gimana nanti dia menghadapi Almira yang melahirkan bayi kembar? Padahal hari perkiraan lahirnya tinggal satu bulan lagi.
Wildan memilih makan, mengabaikan Alfindra yang terus menanyai dirinya seputar Hana. Padahal sudah jelas, Wildan tidak tahu karena tak menunggu di dalam ruang operasi. Meskipun dirinya termasuk orang kaya, tidak semua orang kaya bisa menyaksikan operasi SC kaya artis-artis dan tidak semua rumah sakit memberikan izin. Yang dipikiran Wildan adalah, yang penting rumah sakit terdekat dan Hana segera ditangani.
"Siap-siap aja," seru Wildan setelah menyelesaikan makannya. Sementara Alfindra hanya minum kopi karena niatnya untuk mendapat pengarahan atau paling tidak apa yang harus dilakukan sebagai suami siaga dalam menghadapi istri lahiran.
"Mas? Kok bete gitu?" tanya Almira melihat suaminya murung.
Alfindra mendekat, ia berbisik pelan di telinga, "abang ipar kamu pelit, Mir. Masa gak mau kasih kisi-kisi menjadi suami siaga! Gak mau cerita gimana tadi dan harus apa?"
__ADS_1
Sontak Almira memukul pelan lengan sang suami, "mas rese ya? Ibaratnya, Bang Wildan itu masih panik. Kak Hana juga belum bisa gerak banyak malah ditanyain kaya gitu," balas Almira.
Mereka menunggu di luar, membiarkan Wildan di dalam mengurusi Hana. Sejenak, Almira tersenyum melihat abangnya begitu mencintai sang kakak, ia hanya bisa berharap kelak jika melahirkan, Alfindra juga akan selalu disisinya.