
Di ruang makan yang tentu saja terpisah dari ruangan dapur. Sarat penyajian makanan juga terlihat sangat berkelas, disiapkan oleh tiga pelayan yang masing-masing mempunyai peranan sendiri-sendiri dalam tugas nya.
Mama Mega sedang duduk di ujung kursi meja makan yang berukuran cukup besar dia bagaikan ratu di dalam singgasana nya.
Dia takut, peranan menantu mengganti posisinya sebagai ratu di mansion ini. 28 tahun sudah, Mega menjadi ratu di singgasana mendiang Arsena Bratajaya. Setelah berhasil menyingkirkan Ibu kandung Ashoka 29 tahun silam.
Di depan Ashoka, dia bisa menjadi Ibu yang baik bahkan tidak pilih-pilih kasih antara putra tiri dan putra kandungnya, tapi siapa sangka, Mega melakukan itu semua untuk mencapai satu tujuan. Tujuan utamanya menjadikan Gading Bratajaya sebagai penerus perusahaan Bratacorp.
"Dimana anak-anak ini kenapa tidak juga keluar dari kamar, apa yang sedang mereka lakukan?" gerutu Mama Mega. "punya menantu juga tidak bisa di andalkan, gadis kampungan!" lanjutnya lagi mengoceh tiada henti.
"Bik Kini, panggilkan Gading." titahnya pada salah satu pelayan, sebelum pelayan itu pergi memanggil Gading. Pria muda ini baru saja memasuki ruang makan.
"Ya Mama aku di sini." Gading menyahut, dengan sigap seorang pelayan menarikan kursi untuknya.
Mama Mega memberikan kode agar semua pelayan meninggalkan ruang makan.
"Ingat Gading, kau akan menjadi penerus dari perusahaan Brata Jaya, kalau kau seperti ini, kau akan tertinggal jauh daripada Ashoka, ingat dewan direksi akan menilai berdasarkan hasil dari satu bulan sekali untuk melihat perkembangan dari sebagian penerus saham terbesar,"
"kau harus lebih giat lagi untuk bangun pagi, tinggalkan saja dunia malam mu yang tidak berguna itu,"
"kalau kau seperti ini terus, maka kita hanya akan menjadi penunggu rumah ini sampai kita mati." seperti biasanya, Mama Mega selalu menceramahi anak kandungnya. Mengingat saham terbesar masih di miliki Ashoka anak tirinya.
Ingin rasanya Gading menutup telinga, sudah ratusan kali ia mendengar ocehan yang sama. Padahal di hidup Gading ingin sekali merasakan kebebasan, tanpa perlu menjadi seorang pemimpin besar.
"Tapi Ma, bagaimana aku bisa mengambil saham itu jika Ayah saja memberikan sebesar 70 persen dari total jumlah saham yang ada di beberapa perusahaan termasuk Bratacorp, Ma,"
"Ayah itu memang tidak adil padaku Ma, dia lebih sayang anak dari istri pertamanya. Aku merasa telah di buang oleh Ayah,"
"Kalau saja, Ayah bisa melihat kemampuan ku, mungkin aku akan lebih bertanggung jawab. Tidak seperti ini, apa karena aku ini anak dari istri kedua Ayah, makanya dia lebih mementingkan Kak Ashoka yang menjadi pemimpin Bratacorp? Aku benar-benar muak dengan semua ini." tidak pernah berubah jawaban Gading, pria ini selalu saja merasa kalah dari Kakak tirinya. Kendati dia sudah bersusah payah di perusahaan, akan tetapi dewan direksi selalu saja memenangkan tender proyek yang di persembahkan Ashoka.
"Pelankan suaramu, sebentar lagi Ashoka dan Ayna akan turun." Mama Mega memperingatkan Gading.
Di luar ruangan makan yang terdapat sekat kaca besar dan guci sangat besar. Ashoka, Ayu dan Ayna mendengar hampir semua pembicaraan Mama Mega dan Gading.
Ayu melihat wajah Ashoka yang terlihat tenang, sepertinya pembicaraan seperti ini biasa di dengar oleh suaminya. Sampai pada Ashoka menggandeng Ayna untuk masuk ke ruang makan. Di susul juga olehnya yang selalu mengekor di belakang Ashoka.
Sekilas Ayu melihat interior rumah sangat mewah, pasti setiap hal yang terpasang dan terpahat di rumah ini beromset ratusan juta. Tapi untuk apa bangunan semegah ini, jika orang yang tinggal di dalamnya tidak merasakan ketentraman.
"Selamat pagi Mam." sapa Ashoka ramah, seperti tidak mendengar apa-apa.
__ADS_1
"Pagi Ashoka, pagi Ayna, pagi juga menantu," Mama Mega membalas sapaan Ashoka dan tersenyum ramah. Tatapannya berubah tajam kala menatap sang menantu, "gadis kampungan ya tetap saja kampungan, mau pakai pakaian semahal apapun. Aku bersumpah kau tidak akan pernah bertahan lama di rumah ini menantu!" sengit mama dalam hati.
"Selamat pagi Kak, selamat pagi Ayna. Hay Kakak ipar, kau terlihat berseri-seri, apa semalam tidurmu nyenyak, pastilah kalian melakukannya sampai beberapa ronde, mengingat Kak Ashoka sudah menyendiri beberapa tahun," Gading berkelakar dengan ucapannya yang seperti biasa, asal ceplos, dia melihat raut wajah Ashoka dan kecantikan Kakak iparnya yang cukup menggoda, darahnya berdesir, Gading merasa tertarik terhadap Ayu.
"Gading, jaga bicaramu. Jangan membuat Kakak iparmu tidak nyaman." tegur Mama Mega pada Gading, pura-pura.
"Maaf Kak," ucap Gading.
"Apa yang Om Gading bicalakan?" Ayna bertanya setelah meminum susunya.
"Tidak Ayna, Om hanya bercanda," sahut Gading.
"Lain kali kau harus memperhatikan caramu bicara Gading, jangan mengatakan sesuatu hal yang membuat Ayna berpikir dewasa terlalu dini," ucap Ashoka tanpa menatap Gading.
"Baik Kak," Gading menjawabnya santai, seolah tidak ada ketegangan di antara mereka.
Ashoka tidak ambil pusing dari semua perkataan kedua orang yang ada di depannya. Dia sendiri mempunyai alasan untuk tetap tinggal dan bertahan di bawah satu atap bersama dengan Ibu serta adik tirinya.
Ayu memperhatikan raut wajah Ashoka yang datar. Entah mengapa dalam hatinya merasa, bahwa kehidupan yang Ashoka jalani bersama dengan Ibu dan adik tirinya tidaklah harmonis seperti yang terlihat, bisa saja Ashoka mempunyai alasan kenapa masih tinggal bersama. Bukankah orang kaya pasti memiliki hunian lebih dari satu?
Sekali lagi, Ayu menggidik pundaknya dan memperingatkan diri, bahwa dia adalah wanita yang dijadikan istri hanya karena pelunasan hutang Bapak. Dia tidak di tugaskan di sini untuk menghibur Ashoka.
Sarapan pagi yang sebenarnya sangat lezat namun seperti hambar, yang terdengar hanya bunyi cangkir yang di letakkan oleh masing-masing anggota keluarga ini, dan sesekali melahap makanan yang telah di sediakan di atas meja.
"Sudah Dady, Ayna sudah selesai." Ayna lantas turun dari kursi dengan di bantu Ayu yang telah siap siaga, ia merasa tidak berselera untuk sarapan.
Melihat suasana yang dingin ini, Ayu ingin segera keluar dari rumah ini. Meskipun mewah, namun jika penghuninya seperti makhluk halus, siapapun juga tidak ada yang betah, apalagi sejak tadi Gading terus curi-curi pandang kearahnya. Membuat Ayu bergidik ngeri. Dan tatapan Mama Mega nampak sangat tidak menyukainya.
Ayna salim sama Oma Mega dan paman Gading. Yah, hal seperti itu diajarkan oleh Dady Ashoka dan sudah menjadi kebiasaan Ayna, diikuti oleh Ayu yang juga bersalaman dengan Ibu mertuanya.
"Ingat menantu, kau sekarang sudah menjadi istri Ashoka, jaga sikap mu di luar sana, jangan sampai membuat kami malu dengan tingkah kerendahan mu. Aku tidak tau Ashoka bertemu dengan mu bagaimana, tapi kau terlihat bukan dari keluarga terpandang, Bapakmu hanya sekedar pendiri pabrik teh," kata Mama Mega pedas.
Haruskah aku mendengar hinaan ini setiap harinya? batin Ayu.
"Baik Oma." jawab Ayu, dia amat menahan kesal. Tapi beruntungnya, setiap hari di sekolah dia selalu menghadapi kerewelan anak-anak, dan anggap saja nenek yang satu ini, anak kecil yang sudah nenek-nenek.
Di saat bersamaan Ayu berbalik badan, Gading juga berdiri. Hingga langkah Ayu hampir saja bertabrakan dengan Gading. Beruntungnya Ayu masih bisa fokus, hingga dalam keadaan ruangan sebesar ini, dia lebih leluasa untuk menghindar. Dilihat sekilas olehnya, seringai senyuman Gading sangat menjijikkan.
Gading tersenyum ja'im, tentu saja dia melakukannya dengan sengaja, dan hati-hati agar tidak menimbulkan kecurigaan Ashoka, bahwa dia mulai tertarik untuk menggoda Ayu.
__ADS_1
Ayu menyusul langkah Ashoka yang telah berjalan lebih dahulu meninggalkannya. Suaminya itu benar-benar bersikap dingin padanya, bahkan dengan langkah jenjang membopong Ayna, tidak sama sekali Ashoka meliriknya. Sampai pada langkah Ashoka terhenti di bagasi mobil yang luas, terlihat ada beberapa mobil mewah yang terpajang rapi kinclong cling mengkilap.
Ayu melihat sebuah mobil mewah dengan seorang pelayan yang sudah standby berdiri di sebelah mobil bermerek mobil Mercedes-Benz V-Class.
Jika aku memakai mobil mahal ini ke sekolah, bagaimana dengan tanggapan orang-orang padaku? Ayu membatin melihat mobil di depannya.
Sebelum Ayu memasuki mobil, dia melihat Ashoka. "Maaf M-mas, bolehkah saya naik angkutan umum saja?"
Ayna nampak girang mendengar Ayu menyebut angkutan.
"Kalau Bu gulu Ayu naik angkutan, Ayna juga ikut." Ayna melepaskan tangannya dari genggaman tangan Ashoka lalu menghampiri Ayu.
Ayu dapat melihat jika tatapan ramah Ashoka berubah bak kilatan petir.
"Aku tidak akan membiarkan Ayna mengirup polusi udara yang tercemar," sekata demi kata, Ashoka berkata penuh dengan penekanan. Tatapannya menghunus mata Ayu. "jangan persulit hidup mu, cepatlah masuk kedalam mobil!" lanjutnya lagi tanpa ingin di bantah.
Jika sudah mendengar suara Ashoka yang terdengar seperti perintah, maka tidak ada satupun yang dapat membantah.
Ketika Bik Marni sudah siap untuk mengantarkan Ayna ke sekolah. Ashoka menghentikannya.
"Bibik di rumah saja, Ayna sudah ada Mamanya, dia harus terbiasa." lugas Ashoka berkata.
Bik Marni tidak berkutik, seketika saja dia diam seperti patung.
Ashoka juga memperkenalkan supir pribadi yang selalu mengantarkan kemanapun Ayna pergi.
"Dialah supir pribadi Ayna, namanya Husna," ucap Ashoka menunjuk seorang wanita yang masih terlihat muda.
"Baik akan saya ingat." Ayu melihat seorang wanita yang di tujukan Ashoka. Ternyata penghuni rumah ini banyak juga, selain dari keluarga inti, ada banyak juga pelayan serta supir pribadi.
"Semoga kita cocok Husna." sapanya ramah pada sang supir pribadi Ayna.
"Iya Nyonya." jawab Husna ramah.
Ayu lantas menggandeng tangan Ayna untuk masuk ke dalam mobil yang sama dengan Ashoka.
Setelah duduk, Ayu merasakan tekanan yang sangat luar biasa. Ia merasa kini hidupnya setelah menikahi Ashoka, seperti dipenjara, jika dalam waktu 24 jam harus selalu mengawasi Ayna. Bahkan kini seorang pelayan wanita pun tak di izinkan ikut bersama untuk menjaga Ayna.
"Bagaimana dengan kuliahku?" keluh Ayu dalam hati.
__ADS_1
*****
Bersambung...