Pengantin Tuan Ashoka

Pengantin Tuan Ashoka
Tidak dapat tidur


__ADS_3

Gading tau jika Ashoka akan pulang terlambat malam ini. Oleh sebab itu saat dia sedang dalam perjalanan menuju club'malam, Gading kembali lagi ke rumah. Lantas naik kelantai dua untuk menyambangi kamar Kakak iparnya. Dia juga tau, hubungan Ashoka dan Ayu yang memang tidak seperti hubungan suami-istri pada umunya.


Siapa tau, Kakak ipar butuh kehangatan. Secara Kak Ashoka terlalu mudah mengabaikan daun muda yang masih segar dan hijau itu, kan sayang kalau didiamkan.


Eh tapi, pada saat sampai di lantai atas, Gading dikejutkan dengan Ashoka yang sedang berdiri di depan kamar Ayna. Juga terlihat seperti mengintip dibagian celah pintu yang sedikit terbuka.


"Kak Ashoka?"


Ashoka terkejut mendengar suara Gading dari belakang. "Kau?"


Bukan hanya Ashoka. Di dalam kamar, Ayna dan Ayu juga terlonjak kaget saat mendengar suara Gading yang seperti berada di depan kamar Ayna.


Ayna lebih dulu turun dari tempat tidur, di susul oleh Ayu. Lantas membuka pintu. Dan pada saat inilah Ayu menyadari bahwa dia lupa menutup pintu dengan benar. Karena perbuatan Gading, membuat Ayu waspada kecuali saat Ashoka berada di rumah. Meskipun mereka tidak tidur dalam satu kamar. Tapi setidaknya, dengan adanya Ashoka, Ayu sedikit merasa lega. Paling tidak, adik ipar yang brengsek ini tidak akan mengganggunya.


"Dady..." seru Ayna girang melihat Dady Ashoka ada di depan pintu kamarnya, gadis kecil ini langsung minta di gendong oleh sang Ayah. Dilihatnya juga Paman Gading yang tidak jauh dari Dady Ashoka. "Paman Gading?"


"Ku kira kau sudah pergi ke club?" Ashoka memicingkan mata menatap sang adik yang selalu membuatnya jengkel.


Gading tertawa kecil guna menutupi kebohongannya.


"Haha iya, hari ini aku malas ke club Kak, dan aku dengar Kakak juga pulang malam. Jadi ku pikir, akan menemani Ayna bermain sebelum tidur," kilah Gading berbohong.


Ayu menatap Gading tajam. Dia menyangsikan semua perkataan adik iparnya. Entah mengapa aku merasa si brengsek ini sedang merencanakan sesuatu yang tidak baik.


"Om Gading, Ayn mau bobo sama Dady sama Mama. Kita mainnya besok aja yah," ucap Ayna pada Paman Gading.


Gading tersenyum tipis, sembari mengusap pucuk kepala keponakannya. "Baiklah princess, besok saja Om akan ajak kamu main, sekarang kamu istirahat yah. Have a nice dream,"


"Iya Om," jawab Ayna.


"Karena Dady sudah pulang, Om akan turun. Om merasa tenang, karena Dady sudah pulang" Gading mengusap kepala keponakannya lagi.


"Selamat malam, selamat istirahat Kak Ashoka." kata Gading pada Ashoka sok pura-pura manis. Padahal dalam hatinya dia mengumpat. Sial! Kenapa harus pulang, tidak kau terlalu mudah mengabaikan daun muda, Dasar Ashoka payah!

__ADS_1


Sebelum pergi, Gading melihat sang Kakak Ipar yang masih berdiri di ambang pintu, dia berkedip genit sesaat kemudian dia pergi dari sana.


Ayu melihat kepergian Gading, entah kenapa dalam hatinya ada sesuatu yang tidak beres. Sesaat kemudian menyadarkan diri saat mendengar Ayna berbicara.


"Ayo Dady, Ayn mau bobo baleng sama Dady sama Mama," ucap Ayna.


"Dady akan mandi takut ada virus yang masih menempel. Ayna bobo dulu sama Mama, nanti Dady menyusul,"


"Baiklah Dad." sahut Ayna.


"Apa perlu saya siapkan makan malam, Mas?" ucap Ayu menawarkan, sebisa mungkin dia bertutur kata santai dan menghargai bahwa pria di depannya ini adalah suaminya. Meskipun perasaannya sangat kaku saat mengatakan hal demikian.


"Tak perlu, kau temani saja Ayna tidur. Ini sudah malam, seharusnya kau sudah menidurkannya sejak tadi," kata Ashoka tegas pada Ayu, namun masih pada nada suara yang rendah.


"Maaf," Ayu menunduk, dia takut jika sudah mendengar suara Ashoka yang dingin dan kaku meskipun nada suaranya tidak tinggi.


"Dady ini bukan salah Mama, Ayn nda bisa bobo, Ayn kangen Dady," kata Ayna melihat kilatan kemarahan dalam diri Dady Ashoka pada Mama Ayu.


"Secepatnya Dady akan membersihkan diri, lalu akan menemani mu tidur," Ashoka menurunkan Ayna.


Ayu dan Ayna masuk kedalam kamar. Lantas berbaring saling berhadapan, Ayu juga menuntun Ayna doa sebelum tidur.


Tak menunggu waktu lama, Ayna sudah terlelap dalam tidurnya. Bahkan tanpa perlu menunggu Dady Ashoka selesai mandi.


Ayu yang sudah di landa kantuk pun ikut memejamkan matanya, apalagi saat ini lampu dalam keadaan redup pas seperti kesukaannya saat akan tidur, tidak suka cahaya yang terlalu terang juga tidak suka tidur dalam keadaan gelap gulita. Pada saat baru akan terjun ke alam mimpi, tiba-tiba Ayu merasakan seseorang tidur di sebelahnya, bukan hanya itu, tangan yang kekar ini juga memeluknya dari belakang.


Sontak saja Ayu terlonjak kaget, ketika akan beranjak duduk. Seseorang yang ternyata adalah suaminya sendiri berbisik sampai membuatnya merinding saat nafas Ashoka menerpa telinganya.


"Terimakasih telah menjaga Ayna." bisik Ashoka tepat di telinga sang istri.


Untuk pertama kalinya setelah menikahi Ayu, Ashoka tidur sedekat ini. Biasanya dia akan tidur sendiri, begitu pula dengan Ayu. Tapi kali ini, Ashoka seolah merasakan dorongan dalam dirinya untuk melakukan ini untuk pendekatan. Yah, dia berpikir untuk belajar menerima Ayu sebagai istrinya, bukan hanya baby sitter untuk anaknya.


Ashoka membenamkan wajahnya di antara rambut Ayu yang terurai di bantal, dia mencium aroma shampoo mint. Dan hal ini membuat Ashoka merasakan darahnya berdesir.

__ADS_1


Kenapa aku merasakan hal aneh pada diriku, apa karena aku sudah lama tidur sendirian. Jadi hal aneh ini muncul dalam hatiku?


Ashoka juga merasakan yang di bawah sana lambat laun mulai mengeras saat tubuhnya menempel seperti ini. Ah sial!


Jika Ashoka sedang belajar mendekati Ayu dengan caranya. Sangat berbeda dengan Ayu.


Ayu merasa dirinya membeku, jantungnya berdebar-debar tak karu-karuan saat-saat seperti ini. Bahkan mata yang semula sangat amat berat seperti lima Watt. Kini seolah menjadi 50 Watt.


Bahkan Ayu tertegun sekaligus tercengang mendengar kata 'terimakasih dari bibir suaminya secara langsung. Ayu tak menyangka pria ini memeluknya, dia amat tidak menyangka bahwa kini Ashoka berbaring dibelakangnya dengan jarak yang sangat dekat.


Nafas Ashoka sangat terasa berhembus di dekat telinganya. Ayu sama sekali tak kuasa untuk bergerak, dia takut sekaligus bingung ada apakah gerangan sampai Ashoka melakukan hal ini padanya.


Karena ini adalah pertama kali baginya setelah menikah dengan Ashoka Bratajaya. Suaminya ini memeluknya, bahkan erat sampai tangan kekar ini begitu terasa berat di pinggang sampai perutnya yang ramping.


Etdah kenapa aku jadi kayak tahan napas begini? Ayu, Ayu napas Yu. Kau belum mati.


Aku sama sekali tidak pernah berpikir, bahwa sang tuan Ashoka akan melakukan hal semacam ini. Yah, Aku merasa diriku hanya selamanya bisa menjadi baby sitter untuk Ayna dan setelahnya aku akan pergi dengan mudah dari rumah ini, karena aku tidak pernah berpikir untuk bisa menggantikan Almarhumah Rose yang sangat dicintai sang tuan dingin ini.


Diam, mematung sambil menatap Ayna di cahaya lampu tidur yang redup. Ayu mendengar desah nafas Ashoka sudah beraturan.


Apa tandanya pria ini sudah tidur?


Ayu mencoba untuk mengangkat tangan Ashoka yang melingkari perutnya, tapi kenapa sangat berat.


Sebenarnya apa yang dia makan, kenapa sangat berat. Apa dia makan batu?


Alhasil karena sudah tiga kali gagal untuk memindahkan tangan Ashoka yang malah semakin erat saja, Ayu pun pasrah. Dia diam seribu bahasa. Bahkan dia tak lagi menghiraukan kakinya yang dilanda kesemutan.


Pria ini benar-benar susah di tebak. Atau memang karena aku yang tidak pernah belajar untuk memahaminya? Tapi jika terus dibiarkan seperti ini, maka aku pun tidak dapat tidur.


Ayu menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Benar-benar dalam keadaan yang tidak diuntungkan.


Dalam diamnya, bahkan matanya terpejam. Ashoka masih belum tidur, dia tahu Ayu sedang berusaha memindahkan tangannya, dan dengan sengaja pula Ashoka semakin mengeratkan pelukannya. Senyuman tipis terlukis di kedua sudut bibirnya.

__ADS_1


...*****...


Bersambung...


__ADS_2