Pengantin Tuan Ashoka

Pengantin Tuan Ashoka
Keributan di kelas


__ADS_3

Pada saat Ayu memasuki kelas, dia dikejutkan dengan adanya Ayna dan Raka yang bertengkar.


"Anak-anak ada apa ini?" Ayu melihat Raka menarik rambut Ayna, dan Ayna yang menarik baju Raka.


Ayu segera berlari dan memposisikan dirinya berlutut di tengah-tengah Ayna dan Raka. Begitu juga anak-anak yang sedang menyaksikan pertengkaran keduanya. Ada beberapa anak-anak yang memisahkan kedua anak yang sedang berselisih paham.


Tapi, baik Raka maupun Ayna tidak ada yang mau mengalah.


"Raka! Ayna sudah jangan bertengkar." ucap Ayu memisahkan Raka dan Ayna


"Raka!" Ayu memanggil murid laki-lakinya yang setiap harinya memang usil dan hiperaktif di kelas.


"Ayna!" Ayu juga bergantian memanggil Ayna, anak yang cenderung lebih pendiam.


"Laka jahat!" Ayna sangat-sangat amat kesal, karena kerap kali Raka selalu mengganggunya dan Ayna cukup sabar untuk mengacuhkan Raka. Akan tetapi semakin lama dia diam, maka Raka akan semakin mengganggunya. Di sinilah batas kesabarannya tidak bisa lagi Ayna kendalikan.


"Huuu... anak yatim!" balas Raka tidak mau kalah.


"Raka apa kamu tau yang kamu ucapkan tidak baik sayang, kamu tau anak yatim itu apa?" ucap Ayu melihat raut wajah tegang dan nakal Raka dan melihat raut wajah sedih Ayna. Sedangkan anak-anak lain, terdiam.


"Kan memang Ayna anak yatim, dia tidak punya Mama, wlewk?" lagi Raka berbicara tanpa tahu artinya jika ucapannya dapat melukai orang lain.


Ayna kembali maju, meskipun dia perempuan. Tapi dia tidak ingin kalah begitu saja, Ayna menarik rambut Raka. "Lasain kamu!"


"Aaahhh..." erang Raka menahan sakit.


"Ayna!" Ayu memegangi tangan Ayna yang menjambak rambut Raka. "Lepaskan sayang, tidak baik berkelahi seperti ini," ucapnya lembut pada Ayna, ditatapnya wajah Ayna yang sudah memerah mata bocah kecil ini sudah membendung air mata.


"Tapi kan Laka duluan yang mulai, Ayna cuma bilang kalau Bu gulu Ayu sekalang Mama Ayna." kata Ayna menahan tangisnya, di usapnya air mata yang mulai membasahi pipi.


"Dasar Ayna jelek, Ayna gembul!" Raka bukannya menangis karena rambutnya di jambak Ayna, Raka malah semakin menjadi-jadi.


Ayu terenyuh mendengar perkataan Ayna yang mengakui bahwa dirinya telah menjadi Mama bocah kecil ini. Ayu memeluk Ayna, mengusap punggung lalu mengurai pelukannya dan mengusap air mata yang menganak sungai di pipi gembul Ayna.


"Ayna tidak salah, Laka yang salah." seru Ayna seraya menunjuk bocah laki-laki yang memiliki wajah tampan namun terkenal dengan kejahilan dan kenakalan.


"Wlewk... Ayna kan tidak punya Mama, masa ngaku-ngaku kalau Bu guru Ayu Mamanya, dasar Ayna anak yatim!" seru Raka masih keukeuh dengan kata-kata yang sama.


"Olang kata Dady ku, Bu gulu Ayu Mama ku!" sungut Ayna tidak mau kalah, sudah cukup dia diejek sebagai anak yatim.


Ayu mengamati Ayna, dia merasa ada yang aneh. Sebagai guru Ayna, ia tidak pernah sekalipun mendengar pengaduan Ashoka selama ini, apakah Ayna tidak pernah melaporkan bahwa bocah kecil ini kerap kali mendapatkan perundungan? Dan apakah karena lelah di ejek seperti ini, itulah sebabnya Ayna menuruti ucapan Ashoka untuk memanggilnya Mama, dan mengatakan pada teman-temannya bahwa dia punya Mama?

__ADS_1


Hufft.. Ayu menghela nafas, sekuat tenaga dia memisahkan kedua muridnya yang sedang bersitegang. Ayu tidak ingin di anggap pilih kasih. Dia memeluk keduanya, sama-sama di rangkul dan diberi perhatian.


"Tenang yah, sudah jangan berantem lagi, kalau kalian berantem seperti ini, nanti kuku kalian jadi panjang."


Entah siapapun yang memulai, dan siapapun yang salah. Tidak ada yang dibedakan, semuanya sama di mata Ayu. Begitulah, dia melihat anak-anak. Logika mereka sangat berbeda dengan logika orang dewasa, takutnya nanti jikalau membela salah satunya akan menimbulkan perselisihan.


"Sekarang Bu guru Ayu tanya, Raka. Kamu tahu anak yatim itu apa?" ucap Ayu bertanya dengan nada suara super halus.


"Anak yatim itu tidak punya Mama." jawab Raka, kini bocah kecil ini duduk berhadapan dengan Bu gurunya bersama dengan Ayna.


"Jadi Raka beruntung tidak mempunyai Mama?" Ayu bertanya pada Raka.


"Iyalah.." sahut Raka dengan suara tengilnya.


Netra Ayu beralih menatap satu-persatu anak-anak muridnya yang berjumlah 20 anak. "Siapa di sini yang masih mempunyai Mama dan Papa lengkap?"


Hampir semua anak-anak mengacungkan jari telunjuknya.


"Beruntungnya kalian yang mempunyai kedua orang tua. Mama, Papa, Ayah dan Ibu, kalian bisa setiap waktu memanggil Mama dan Papa, atau Ayah dan Ibu," Ayu menatap satu persatu wajah-wajah polos di depannya yang berjumlah 20 murid. "Tapi Ayna...?"


Netra Ayu menatap Ayna sedih, wajah gadis kecil ini memerah, matanya sembab setetes dua tetes air mata kembali membasahi pipi, begitu juga dengan hidungnya yang berlendir. Ayu mengambil tissue, lantas mengusap air mata yang mengalir di pipi gembul Ayna.


"Siapa bilang Ayna tidak punya Mama?" Ayu menatap satu persatu muridnya yang sedang duduk melihatnya.


Ayna tersenyum senang mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Bu gurunya. Dia merasa mempunyai seseorang yang membelanya. Di tatapnya wajah Bu guru Ayu yang nampak cantik hari ini. "Mama." batin Ayna senang.


"Tapi Mama ku bilang, Mama Ayna sudah meninggal sejak Ayna masih bayi?" kata Rifti.


Ayu tertegun, anak-anak ini sepertinya terbiasa mendengarkan pembicaraan orang dewasa, Ayu mengusap pucuk kepala Ayna dan Raka yang duduk di barisan paling depan. "Meskipun begitu, siapapun bisa menjadi Mama dan juga Papa, karena orang tua kalian mempunyai ikatan satu sama lain, yang di sebut menikah."


"Jadi Bu guru Ayu sudah menikah sama Dady Ayna?" tanya Zaki.


"Menikah itu apa, Bu guru?" tanya Wildan.


Ayu merasa dia harus melakukan sesuatu untuk pengalihan. Tanpa di jelaskan saat ini pun, mereka nantinya akan paham, karena di jelaskan untuk saat ini mereka tidak akan mengerti apa itu menikah. Daripada membuat anak-anak pusing memikirkan perihal apa yang belum semestinya mereka pelajari Ayu mengeluarkan beberapa kertas dari dalam tas. Sebuah gambar yang bisa di warnai dengan bilangan angka, yang nantinya bisa mengasah daya ingat, daya seni, dan mengasah bakat.


"Siapa yang mau menggambar sekaligus berhitung? Bu guru punya gambar sangat cantik, hari ini pelajaran kita berhitung dan menggambar."


"Aku Bu guru, aku." jawab anak-anak bersemangat sembari mengangkat tangannya ke atas.


Begitu pula dengan Ayna, gadis kecil ini selalu bersemangat kala Bu guru Ayu mengatakan kata-kata yang membuatnya bersemangat.

__ADS_1


Ayu menatap semua anak-anak muridnya. Diperhatikannya satu persatu, anak-anak ini masih sangat polos, akan tetapi karena sering mendengarkan pembicaraan orang dewasa sebab itulah pertanyaannya pun menular seperti orang dewasa, padahal mereka belum tahu apa yang mereka katakan. Dan jika sudah bertanya pasti akan merembet kemana-mana.


Sekolah tempat Ayu mengajar termasuk sekolah yang mempunyai kualitas tinggi, dan tidak di izinkan orang tua murid menunggu di area sekolah hanya di perbolehkan mengantar dan menjemput anak-anaknya saja. Maka gurulah yang harus mendidik dan mengajar anak-anak untuk bisa mandiri tanpa pendampingan orang tua murid.


Sebelum dapat bekerja di sini, Ayu harus menjalani serangkaian tes. Salah satunya psikologi, karena manusia mempunyai tingkat kesabaran yang berbeda-beda, sebab untuk menjadi guru terpelajar di sekolah mandiri dan berkualitas ini, kepala yayasan hanya menerima seorang guru yang memiliki tingkat kesabaran ekstra.


Moto dari sekolah ini adalah, mendidik anak-anak agar menjadi mandiri dan berkualitas.


Oh iya, biayanya juga sangat mehong, alias mahal. Mungkin juga karena sekolah ini swasta, kalian tentu tahu jikalau sekolah swasta pasti akan jauh lebih mahal ketimbang yang dari pemerintah. Tapi di jamin sekolah TK yang mempunyai nama School Winners ini benar-benar punya kualitas tinggi. Dan biasanya anak-anak yang bersekolah di sini, hanyalah dari keluarga menengah ke atas.


Sekelas dalam mengajar murid-murid ini, Ayu tidak sendiri, dia di bantu oleh satu guru lagi. Dan itu juga berlaku bagi kelas lain.


Di setiap sudut ruangan juga terdapat cctv. Ada yang secara gamblang, dan Ayu juga mendengar ada yang terpasang secara tersembunyi.


**


Di perusahaan, Ashoka sedang mendesain gambar yang kiranya mempunyai nilai jual tinggi, seorang pengusaha properti menginginkan sebuah konsep apartemen yang berkelas dan mewah.


Sebagai perusahaan yang memiliki jasa kontruksi bangunan. Ashoka harus merancang sesempurna mungkin agar bisa memuaskan keinginan pengusaha properti yang telah bersedia bekerjasama dengan perusahaannya. Setelah itu, baru bisa dia kembangkan bersama bawahannya.


Akan tetapi ketika masih sibuk membuat sketsa, laptopnya mendapatkan kiriman email dari pihak sekolah. Ashoka mengernyitkan dahinya. Lantas membuka file dokumen berupa video.


Video di putar, memperlihatkan putrinya dan seorang anak laki-laki berantem saling menarik rambut dan pakaian. Ashoka mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ayah mana yang tidak naik pitam melihat anaknya di bully lagi.


"Haruskah aku memberi pelajaran pada anak-anak yang selalu melakukan perundungan pada putriku." ucap Ashoka mengeratkan giginya.


Sesaat kemudian Ayu datang dan melerai diantara Ayna dan seorang anak laki-laki, cara Ayu yang terbilang lembut dalam melerai pertikaian membuat Ashoka selalu bisa mengurungkan niatnya jika ingin memberikan pelajaran pada anak-anak yang membully putrinya karena tidak mempunyai Mama.


Dari pihak sekolah juga Ashoka tahu, jikalau anaknya sering mendapatkan perundungan. Karena Ayna tidak pernah mengadukan ataupun menceritakan tentang perundungan ini padanya. Setelah di tanyakan, jawaban Ayna sungguh mengharukan.


"Ayna tidak mau membuat Dady khawatiy, Bu gulu Ayu sudah membela Ayna di sekolah. Ayna ingin punya Mama sepelti Bu gulu Ayu." jawaban Ayna saat di tanya.


Ashoka tersentuh dengan hal itu, dia mencari tahu siapa Ayuning Laras.


Uang 2 Milyar tidak pernah berarti apapun di mata Ashoka, dia ingin melihat wajah gadis kecilnya bahagia dan tersenyum, tak lagi merasakan hampa karena tidak punya Mama.


Saat sedang mengamati video. Pintu ruangan terbuka lebar oleh seorang wanita cantik nan seksi, siapa lagi jika bukan Via. Wanita yang selama ini menemani Ashoka dalam lingkup pekerjaannya.


"Hay Ashoka.."


...*****...

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2