
"Shoka, atas kejadian yang hampir saja mencelakakan anakmu, kau tidak mungkin membiarkannya saja 'kan? Biar bagaimanapun karenanya, cucu Oma hampir saja keserempet mobil, kau harus mengambil langkah tegas!" sungut Mama Mega tidak tenang, tatkala melihat Ashoka biasa saja.
Ashoka merasa kepalanya pening, acap kali Mama Mega selalu bisa mencari celah dari kesalahan setiap orang yang tidak wanita tua itu sukai.
"Ma, saya mohon untuk kali ini saja, jangan memperkeruh masalah. Saya merasa sangat bersyukur karena anak dan istri saya baik-baik saja," Ashoka berkata dengan nada suara halus tapi masih terdengar tegas.
Mama Mega masih tidak terima. "Jadi kau mau mengatakan kalau Mama mu ini orang yang suka memperkeruh masalah seperti itu, hah?"
"Bukan seperti itu Ma.. tapi lihatlah Ayu dan Ayna baik-baik saja sekarang," Ashoka mencoba memberi pengertian pada Mama Mega.
"Mama sama sekali tidak peduli dengan keadaan istri mu.... Tapi Shoka, kalau kau membiarkannya saja. Maka dia akan bertindak sesuka hatinya, atau bisa jadi dia memang berniat mencelakai Ayna,"
"Itu tidak mungkin Ma, saya tidak pernah berniat seperti itu, demi Allah," Ayu menyanggah perkataan Mama Mega yang jelas telah memfitnah nya.
"Alah, tidak usah bersumpah dengan bawa-bawa nama Tuhan hanya untuk mencari simpati kami, sekalipun kecelakaan tadi merenggut nyawa mu, saya tidak perduli!" sungut Mama Mega tak melunakkan pita suaranya.
"Astaghfirullah..." gumam Ayu, jantungnya berdebar-debar. Perasaannya semakin ngilu, memang tidak ada yang perduli dengan hidupku. Ayu meraba dadanya yang sekarang ini sedang bergemuruh.
"Ma, please saya mohon. Jangan seperti ini, hargailah keputusan saya. Dia telah menjadi istri saya," ada rasa iba di hati Ashoka mendengar suara Mama Mega yang pandai bersilat lidah saat mencaci maki istrinya.
"Apa kau tau?" kali ini Kimberly yang bicara, ia seolah sudah diberi kuasa untuk berbicara. Maniknya yang berwarna biru keabu-abuan melihat Ayu yang berwajah merah. "tidak ada Ibu sambung yang akan menyayangi anak tiri seperti anak kandungnya sendiri..." Kimberly mengalihkan atensinya pada Ashoka yang masih berdiri di sebelah Ayu. "Shoka, aku tidak yakin, kalau istri mu ini nantinya hamil dan punya anak, apa dia akan tetap menyayangi Ayna sama seperti sekarang ini? Kurasa perasaannya lain,"
"Nah itu, Mama sependapat dengan Kim... Mama rasa apa yang dikatakan Kimberly benar Shoka. Apalagi istrimu datang dari keluarga rendahan, pastilah dia mau menikah dengan mu hanya karena dia tau kau orang terpandang dan mempunyai banyak harta," Mama Mega menimpali ucapan Kimberly. Sorot matanya masih sama, dia tidak suka terhadap menantunya.
"Tidak Ma, tidak seperti itu. Sungguh, saya berani bersumpah demi Allah.... saya tidak pernah sekalipun berpikir menikah dan menjadi Ibu untuk Ayna hanya karena harta. Sekalipun saya manusia termiskin di dunia, saya tidak akan gelap mata hanya karena harta yang tidak akan saya bawa ketika ajal saya tiba," ucap Ayu gemetar, ia menggeleng menyanggah setiap perkataan yang diucapkan Kimberly dan Mama Mega.
__ADS_1
Ada yang menusuk hatinya tapi bukan paku, seolah sedang mengalir darah tapi tak terlihat. Lemas, yang Ayu rasa. Kedua lututnya serasa tak kuat lagi untuk menopang beban tubuhnya yang semakin berat, seberat beban hidupnya. Ia lunglai, beruntungnya Ashoka segera tanggap untuk menopang tubuhnya yang tak kuat lagi untuk sekedar berdiri.
Ashoka mengeraskan rahangnya. Ia diam bukan berarti tak bisa melawan Mama Mega. Bukan berarti ia tak punya keberanian untuk membantah. Tapi kali ini sepertinya emosi dalam hatinya sudah bergejolak.
"Cukup Ma! Sudah cukup!" Ashoka ingin menyelesaikan setiap pertikaian ini secara baik-baik.
Ashoka menatap Kimberly sinis, ia sangat tidak suka melihat Kimberly apalagi wanita bule itu sekarang terlihat ikut campur dalam urusan keluarganya. "Kim, sebaiknya kau pulang. Kenapa kau turut membuka suaramu, kau tidak ingin jika aku sampai hilang akal dan memecahkan pita suara mu 'kan?!"
Mendengar suara Ashoka, Kimberly tentunya berdecak kesal, ia meraih tasnya lantas pergi dari sana dengan membawa serta kemarahannya. "Aku bersumpah akan membalas mu Shoka. Aku bahkan akan berusaha mencelakai istri mu lagi!"
Netra Mama Mega merunut sampai wanita bule itu keluar dari ruang keluarga. Lantas kembali menatap Ashoka.
"Ashoka, Mama hanya sedang membuka pikiran mu. Supaya kau tidak buta dalam melihat siapa sebenarnya wanita yang kau nikahi ini... kenapa kau harus marah pada Kimberly, Mama rasa apa yang dia ucapkan tidak salah," Mama Mega tak henti-hentinya memprovokasi Ashoka.
Mama Mega terpekur mendengar pertanyaan Ashoka yang sepertinya terdengar seperti sebuah pernyataan. Ia mendekati anak tirinya, mengambil tangan Ashoka kemudian menggenggamnya erat, "Apa kau meragukan kasih sayang Mama selama ini terhadap mu, Shoka?"
Ashoka memejamkan matanya, menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Sedetik berikutnya membuka mata dan bersitatap dengan netra tua Mama Mega. Wanita yang telah menjadi Ibu sambungnya selama kurang lebih hampir 28 tahun lamanya.
"Ma, bagaimanapun juga saya hanya anak tiri Mama. Tapi saya berharap Mama menyayangi saya secara tulus, benar-benar tulus..." Ashoka terdiam sejenak, rasa di palung hatinya semakin sesak jikalau menarik waktu ke beberapa tahun setelah Ayah Arsena tiada. Mama Mega semakin memperlihatkan taringnya untuk merebut perusahaan dan sebagian aset keluarga Bratajaya.
"dan itulah yang saya harapkan dari Ayu terhadap Ayna, saya ingin dia tulus. Terlepas dari statusnya bukan wanita yang melahirkan putri saya, dan saya sangat berharap tidak ada status Ibu tiri dan anak tiri, saya ingin semuanya sama. Saling menyayangi seperti darah dalam satu raga," sambungnya lagi. Ashoka tak bisa lagi berhadapan seperti ini dihadapan semua orang. Dia merasa telah menunjukkan sifat rapuhnya. Dan itu merupakan suatu hal yang tidak Ashoka sukai, sama sekali tidak suka.
Mama Mega tak pernah berpikir sebelumnya, jikalau Ashoka akan mengungkit-ungkit statusnya. Ketika akan berbicara lagi, ia mengurungkannya saat melihat anak tirinya sudah lebih dulu berbicara sesaat kemudian berbalik badan memunggunginya.
"Maaf Ma, saya ingin istirahat." Ashoka berbalik badan, hendak meninggalkan semua orang yang sekarang ini berada di ruang keluarga. Akan tetapi sesaat kemudian ada sentuhan tangan lembut yang meraih tangannya. Melihat ke sisi kanan, ternyata sentuhan tangan lembut ini milik istrinya. Maniknya melihat sorot mata sendu sedang menatapnya.
__ADS_1
Ayu menangkap ada kepedihan yang jelas tergambar dalam setiap untaian kata yang dikatakan suaminya. Apalagi jika sekarang ini melihat raut wajah teduh suaminya. Ayu tidak ingin membiarkan Ashoka melewati kepedihan ini seorang diri lagi. Biar bagaimanapun ia sekarang istrinya, dan Ayu rasa ada tugasnya dalam menemani setiap suka maupun duka Ashoka. Dan entah mengapa, ada perasaannya yang menginginkan ia bisa menjadi obat pelipur lara.
Ashoka mulai mengayunkan langkah kakinya menjauhi ruang keluarga juga menjauhi Mama Mega. Ia membiarkan tangannya digenggam Ayu, bahkan ia berbalik menggenggam tangan istrinya, sampai pada langkah kaki menuju anak tangga.
Mama Mega terus menatap kepergian Ashoka dan Ayu dengan tatapan tidak suka.
"Wanita sialan! Sejak ada dia di rumah ini, semuanya menjadi runyam!" Mama Mega marah-marah, dengan suaranya yang dibuat pelan.
Di balik ruang keluarga, Gading sebenarnya sudah ada di sana selama perdebatan itu terjadi. Ia mendengar semuanya, tapi tak ada yang bisa dia katakan. Sesaat kemudian, ia keluar dari sana dan menghampiri Mama Mega yang terlihat sangat marah.
"Ma, sudahlah kenapa Mama harus semarah ini?"
"Mama sangat membenci wanita sialan itu! Mantra apa yang sudah dia lakukan sampai membuat Ashoka berani membantah ucapan Mama!"
"Karena Kakak ipar sangat menggoda!" celetuk Gading membuat Mama Mega langsung menghujaninya dengan tatapan sengit.
Mama Mega menoyor kepala Gading. "Apa tadi yang kau katakan, jangan bilang kau juga tertarik dengan wanita kampungan itu!"
...*****...
Bersambung
Jangan lupa di like, juga votenya yah sertakan hadiahnya juga. Agar karya ini tetap update semaksimal mungkin. Itupun kalau ada yang masih berharap kisah Ashoka dan Ayu lanjut? Karena sepenuhnya saya sadar karya ini tidak sempurna.
Terimakasih
__ADS_1