Pengantin Tuan Ashoka

Pengantin Tuan Ashoka
Apa yang kau takutkan?


__ADS_3

Ayu terkejut saat salam terakhir dia mendapati Ashoka sedang berdiri tidak jauh darinya sholat. Seketika itu dia melihat Ashoka mengalihkan atensinya.


"Dari mana dia semalam, apa dia tidak merasa bersalah padaku telah meninggalkan ku dalam kebingungan ini? Ah iya, aku hanyalah istri penebus hutang, jadi mana mungkin dia menyesali itu." batin Ayu.


"Siapkan pakaian untukku." tanpa melihat dan tanpa menunggu jawaban, Ashoka berlalu dari hadapan Ayu.


Ayu mengerjapkan matanya melihat Ashoka melenggang pergi dari hadapannya. Dia lantas melepas mukena, lalu melipatnya rapih.


Pada saat melihat pakaian yang terjejer rapih, pakaian pria maupun pakaian wanita. Pikiran Ayu berspekulasi, dari mana semua pakaian wanita ini berasal. Apakah pakaian ini milik mendiang Almarhumah istri Ashoka?


Seandainya benar pakaian yang di pakainya saat ini, dan mukena yang digunakan tadi untuk sholat adalah milik almarhumah Rose, entah mengapa sama sekali tak membuatnya takut dan merinding.


Karena yang hidup pasti mati, dan yang sudah mati tidak mungkin bisa hidup kembali, kecuali di alam baka. Yah, seperti itulah pelajaran di sekolah jika menyangkut pelajaran soal agama.


Ayu juga baru menyadari masih banyak foto pernikahan dan foto mendiang istri Ashoka yang terpasang di kamar ini.


"Sangat cantik, sangat di sayangkan hidupnya tidak lama. Semoga dia tidak marah, karena aku menikah dengan suaminya." gumamnya lirih.


Mungkin bagi wanita yang menikah atas dasar cinta akan cemburu melihat foto-foto ini, meskipun istri pertama suaminya telah tiada.


Tapi hal ini tidak jadi masalah bagi Ayu, karena dia menegaskan dalam hatinya. Dia terpaksa menikahi Ashoka hanya karena inilah wujud baktinya pada Bapak dan pernikahan ini tidak berdasarkan atas nama cinta.


Ayu sendiri memakai setelan atasan warna navy dipadukan dengan rok sebatas lutut. Lamunan tentang Ashoka buyar, kala melihat Ashoka keluar dari kamar mandi. Suaminya itu hanya melilitkan sehelai handuk untuk menutupi bagian tubuh bawah, pemandangan roti sobek pun terlihat. Ayu segera memalingkan wajahnya.


Netra Ashoka melihat Ayu sedang berdiri, lain hal tatapannya kala melihat pakaian kerjanya yang telah dipersiapkan di atas sofa.


Sepertinya gadis ini cukup tanggap dalam melaksanakan peraturan yang telah ku buat.


Ashoka berjalan menuju pakaiannya yang telah di persiapkan. Tak masalah dengan pemilihan setelan jas dan corak dasi, dilihatnya cocok. Namun, Ashoka memanglah tidak menyukai dengan tampilan memakai dasi, karena dia akan memakai dasi pada saat acara pertemuan penting dengan para petinggi saham dan para kolega bisnisnya.


Ayu tergelak matanya membulat kala melihat Ashoka melempar dasi yang dipilihnya ke sembarang arah.


Hufft.. apa lagi ini? Dia seolah menjadi manusia yang berkuasa di bumi. Ayu kembali menatap Ashoka, kala pria itu bersuara.


"Apa kau sudah membaca kertas yang aku berikan padamu, tempo lalu?" Ashoka bertanya membersamai dengan tangannya menyugar rambutnya yang basah, lalu duduk di meja depan meja rias. Tentunya bukan meja rias yang di penuhi dengan berbagai ornamen seperti milik perempuan.


"Sudah tuan." jawab Ayu melihat Ashoka dari belakang.


"Jangan memanggilku dengan sebutan tuan, panggil saja aku nama atau bila perlu sayang. Bukankah itu lebih baik?" kelakarnya berkata. Ashoka mengira dia bisa bercanda, tapi nyatanya tidak! Dia adalah manusia paling serius di muka bumi ini.


Mendengar perkataan Ashoka yang terkesan ingin bercanda namun dalam porsi suara yang dingin seperti itu, membuat Ayu jadi ilfill. Maniknya menatap pria bertubuh tegap nan kekar yang sedang duduk di sofa bundar depan cermin.

__ADS_1


"Ba-baiklah, saya akan memanggil anda dengan sebutan Mas. Saya rasa itu lebih baik, akan tetapi jika anda setuju?" jawab Ayu tatapannya masih fokus mengamati suaminya yang terkesan tidak ada ekspresi di wajah.


"It's okey.." balas Ashoka ringan, lalu memegang hairdryer dan mengacungkannya pada Ayu. "keringkan rambutku." titahnya ba' Raja.


Tatapan Ayu beralih melihat alat pengering rambut yang berada di tangan Ashoka. "Baik."


Diambilnya hairdryer dari tangan Ashoka, lalu mengeringkan rambut suaminya yang berbau wangi shampoo. Jika di cium wanginya, bukanlah shampoo yang di jual di pasaran. Sangat khas dan segar.


Wajah Ashoka tepat menghadap bagian dada Ayu, ia tersenyum masam kala melihat dua gundukan kembar di balik pakaian warna navy.


"Kau tidak takut, jika seandainya pakaian yang kau pakai milik almarhumah istriku?" Ashoka bertanya melihat wajah Ayu dari bawah, dapat dilihat olehnya dagu Ayu cukup bagus, hidung yang sedikit mancung, dan mata yang bulat serta bulu mata yang lentik.


Ayu mematikan hairdryer kala mendengar Ashoka berbicara. "Tidak."


Ashoka manggut-manggut mendengar jawaban lugas istri mudanya. "Jadi kau tidak takut orang mati?"


"Tidak." lagi Ayu menjawabnya singkat, dan kembali menyalakan hairdryer dengan gerakan perlahan tangannya menyugar rambut Ashoka. Ia lakukan secara perlahan, agar tidak membangunkan macam yang terlihat anteng tidak seperti segarang ketika baru pertama kali bertemu dengan Ashoka.


"Lalu apa yang kau takutkan?" Ashoka masih menadahkan wajahnya menatap Ayu, istri mudanya ini terlihat pemberani, keberanian itu tersirat jelas dari rahang Ayu yang tegas.


"Allah." lagi Ayu menjawabnya singkat.


Kening Ayu mengerut mendengar jawaban menohok suaminya. "Apa ada masalah dengan anda dan Allah?"


"Ya! Dia selalu menjadikan kita bonekanya, kita seolah tak berdaya tanpa bantuan-Nya. Dia juga merenggut dan memisahkan ku dari orang-orang yang ku cintai. Seperti Almarhumah Ibu, istri dan juga Ayah. Jadi aku tidak menyukai-Nya, apakah salah?" Ashoka mengalihkan atensinya kembali menatap Ayu.


"Hemm... pantas saja dia tidak sholat subuh tadi." benak Ayu bermonolog.


"Hidup dan mati adalah kodrat, terlepas anda menyukai atau tidak, tapi yang jelas. Kematian akan selalu menghampiri setiap makhluk yang bernyawa," Ayu kembali mengeringkan rambut Ashoka. Merasa di tatap sedemikian intens oleh Ashoka Ayu kembali berkata. "maaf saya tidak bermaksud menggurui anda, pelajaran itu saya dapatkan dari sekolah."


Ashoka manggut-manggut. Entah mengapa Ashoka merasa Ayu adalah gadis yang enak di ajak bicara, nampak jelas dari jawaban Ayu sejak tadi ia membuka suara.


"Selain Tuhan, kau takut dengan siapa?" entah mengapa Ashoka ingin tahu perihal sepele ini.


"Nilai ujianku jeblok." lugas Ayu, lalu menaruh hairdryer ke atas meja, karena rambut Ashoka telah kering dan juga di rapihkan seperti gaya rambut salon. Hal ini tidak terlalu ribet baginya, beruntung pernah bekerja di salon, ada pelajaran yang bisa digunakan saat-saat seperti ini.


"Berarti kau bodoh." celetuk Ashoka, berdiri dan kini pandangannya menunduk melihat Ayu, karena tinggi istrinya ini hanya setinggi dadanya.


"Jadi apa anda menyesal telah menikahi wanita bodoh sebagai penebus hutang?"


Ashoka menggendikkan pundaknya mendengar pertanyaan Ayu.

__ADS_1


"Pakaikan" titahnya, melihat kemeja yang ada di atas sofa.


Pakaikan, apa maksudnya pakaikan, dia tidak bermaksud memintaku memakaikan pakaiannya kan? Ayu melihat Ashoka dengan perasaan bingung.


"Cepatlah pakaikan, kau tidak tuli 'kan?" ucap Ashoka lagi, dia duduk kembali di sofa meja rias.


"Tidak bisakah anda melakukannya sendiri! Kau kan punya dua tangan." Namun protesnya hanya bisa Ayu katakan dalam hati. Dia tidak kuasa menolak perintah Ashoka. Ayu mengambil kemeja yang telah disiapkannya.


"Tubuhnya sangat bagus dan kekar, padahal usianya sudah 34 tahun, apa karena dia rajin olahraga?" batin Ayu ketika memakaikan kemeja di tubuh Ashoka.


Satu persatu Ayu mengancingkan kemeja di tubuh Ashoka. Dia tidak berani menatap wajah suaminya, ketika sudah terpasang sangat rapih, Ayu juga turut memakainya jas hitam, tapi tidak celana. Ayu berpikir mana mungkin Ashoka akan menyuruhnya memakaikan CD dan celana panjang. Tapi-- baru saja Ayu berharap tidak mungkin memakaikan Ashoka celana, pria itu berkata.


"Pakaikan celananya juga, apa kau ingin melihatku memakai jas tanpa celana bukan?" tukas Ashoka tanpa melihat istrinya, lalu berdiri dan seketika itu juga handuk terlepas.


Ayu melihat handuk jatuh dan teronggok begitu saja di lantai.


"Astaga, pria macam apa kau ini, apa setiap hari pelayan yang memakaikan cd dan celana untukmu?" gerutu Ayu lagi-lagi hanya ada dalam hatinya.


Dengan perasaan dongkol, Ayu mengambil cd, dia menelan salivanya ketika mengambilnya, seakan nafas ini tercekat di tenggorokan, bayangkan saja sendiri seperti apa rasanya, ketika baru pertama kali memegang cd pria. Ayu memejamkan matanya ketika mulai membungkukkan punggungnya di depan tubuh bagian bawah Ashoka.


Aku bukan istri, tapi aku seperti pelayan dari bayi besar.


cd sudah terpasang, di pinggang Ashoka. Sungguh Ayu memastikan tidak melihat burung jalak milik Ashoka, dia tidak melihatnya.


Kini tinggal celana panjang yang berwarna gelap. Ayu kembali sedikit membungkukkan punggungnya, kali ini dia tidak menutup mata, karena di rasa aman burung jalak itu sudah ada di dalam sangkar. Tapi kenapa pas berhadapan dengan buruk jalak itu di balik cd sangat terlihat menonjol. Ayu seketika itu juga memalingkan wajah.


"Pagi-pagi mataku sudah ternodai, dasar kampret, dia pikir dengan menyiksaku seperti ini akan membuatku lemah! Tidak, dia harus tahu, bahwa aku adalah Ayu, wanita yang tidak mudah ditindas. Hhh kecuali jika sudah berkaitan uang 2 Milyar. Apalah dayaku?" Ayu berseloroh dalam hatinya, dia menghela nafas amat kesal.


Tak lama setelah memakaikan celana panjang pada tubuh Ashoka, pintu kamar terbuka bersamaan dengan seorang bocah kecil memasuki kamar serta memanggil Dady.


Ceklek!!


"Dady...." Ayna si bocah kecil dengan tatapan polosnya, dia melihat Bu gurunya sedang membungkuk di depan Dady.


Ayu sontak saja terkejut dan langsung berdiri, sampai kepala bagian belakangnya membentur dagu Ashoka.


"Hadoh! Dagu dan hidungku sakit sekali!" erang Ashoka memegangi dagunya yang seolah mendapatkan hantaman batu dari bawah.


...*****...


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2