
Diperjalanan Tarjo sedang fokus mengemudikan laju mobil sport keluaran terbaru milik Ashoka. Tanpa sengaja saat mengedarkan pandangannya, ia melihat Ayu sedang berlari kencang di sisi kiri jalan.
"Tuan," Tarjo memanggil Ashoka, dilihatnya dari kaca spion di atas kemudi, Ashoka sedang memejamkan mata. Ia tahu, jikalau Ashoka tidak mudah tertidur di dalam mobil.
"Hem.." jawab Ashoka hanya sekedar berdehem, lalu membuka netranya melihat Tarjo dari kaca spion.
"Nyonya Ayu sedang berlari, apa perlu saya berhenti?"
Ashoka langsung mencari dimana Tarjo melihat Ayu berlari, dan benar saja. Istrinya itu sedang berlari sangat kencang. Tanpa sadar senyuman tersungging di sudut bibirnya. Alih-alih menjawab 'ya, Ashoka justru berkata.
"Tidak perlu, lanjut jalan saja," ucapnya tanpa perduli.
Tarjo mengernyitkan dahinya mendengar jawaban Ashoka yang monoton, bahkan tidak terkesan kasihan melihat istri mudanya berlari seperti dikejar hutang.
"Tapi tuan," Tarjo kembali melihat Ashoka di spion.
"Aku bilang tidak perlu, biarkan dia lari!" Ashoka menatap Tarjo di kaca spion tajam.
Tarjo tak mampu berkutik, ia terus melajukan mobilnya semakin jauh hingga Ayu terlihat semakin mengecil di kaca spion mobil.
Dasar pria kaku, dia itu istri mu. Kenapa sedikit pun kau tidak kasihan padanya. Ku kira, kau bisa bahagia setelah menikahi daun muda, tapi tetap saja kau masih tidak bisa melupakan Rose. Ros, Ros, beruntungnya kau, dicintai oleh Ashoka sebesar ini. Kalau aku jadi kau, Rose, aku akan mencuci otak Ashoka agar dia tidak terbelenggu seperti ini lagi.
Yah, makian itu hanya bisa Tarjo katakan dalam hatinya saja.
Ashoka melihat jam tangannya, ini sudah kelewatan jamnya Ayu untuk pulang. Wanita itu berjanji akan pulang tepat waktu. Tapi nyatanya, melenceng dari apa yang sudah dijanjikan kemarin malam.
__ADS_1
Aku tidak perduli dia mendapatkan hukuman dari Dosennya, atau dia pulang telat karena asik bercengkrama dengan para teman-temannya. Yang harus dia ingat, untuk jangan melanggar janji dan sumpah yang sudah di buat!
Ashoka kembali memejamkan matanya. Ya, dia memang lebih memilih memejamkan matanya di sepanjang jalannya menuju pulang ketika pulang kantor.
Mobil sport yang dikemudikan Tarjo sampai di pelataran mansion keluarga Bratajaya.
Seorang kepala pelayan, membukakan pintu mobil untuk tuannya. Sebelum Ashoka keluar dari mobil, dia membungkukkan sedikit punggung, tanda ia memberi hormat pada tuannya.
Ashoka turun dari mobil, telinganya langsung di sambar dengan suara putri kecilnya sedang menangis sambil berteriak-teriak.
"Ada apa dengan Ayna kali ini, Pak Khan?" tanyanya pada sang kepala pelayan.
"Nona kecil terus menerus memanggil nyonya Ayu, tuan." Pak Khan menjawab seraya melepas jas besar dan tentunya sangat mahal yang melekat di tubuh tegap Ashoka.
"Tuan saya akan pulang sekarang," ucap Tarjo di belakang Ashoka yang sedang menatap mansion.
"Hem ya." Ashoka menjawabnya singkat.
Ku harap kau bisa menerima keberadaan Ayu sebagai istri mu, bukan hanya sebagai baby sitter anakmu Shoka. Tarjo bergumam dalam hatinya, lalu pergi dari kediaman Bos-nya dan menuju kendaraannya sendiri yang terparkir di garasi mobil khusus karyawan.
Dua orang pelayan lainnya sigap membukakan pintu rumah utama yang berukuran sangat besar, persis seperti pintu istana.
Ashoka bergegas memasuki rumah, dan ruang keluarga adalah tujuannya. Maniknya langsung melihat Ayna yang sedang menangis, beralih pada Mama Mega dan Gading yang terlihat membujuk Ayna.
Bagaimanapun kelicikan dan keburukan kalian terhadap ku, kalian tetap anggota keluarga ku. Papa Arsena ingin aku menjaga kalian dan tidak mengusir kalian dari rumah ini.
__ADS_1
Ashoka mematung di tempatnya berdiri, mengamati kedua orang yang selalu menganggapnya seperti benalu yang bodoh.
Gading menyadari keberadaan Kakaknya, dia langsung mendekat, dengan tipu rayunya. Gading tau, jika Syahrul sudah berhasil ditemukan oleh orang-orang Ashoka. Dan dia harus bisa mengambil kembali hati Kakaknya. Karena yang dia tahu, Ashoka hanyalah Kakak yang bodoh.
"Kak kenapa baru pulang? Kalau sampai kau pulang sedikit saja lebih lambat, maka tamat sudah riwayat ku karena harus menjaga anakmu yang rewel ini," ucap Gading merengek seperti halnya adik yang manja pada Kakaknya.
Dasar serigala! Aku yakin kau sudah tau tentang Syahrul, kalau bukan karena amanat Papa, tentunya aku sudah mencekik mu Gading! maki Ashoka dalam hati. Dia tak menghiraukan racauan Gading, ia terus berjalan untuk menyalami tangan Mama Mega dan menghampiri Ayna.
"Selalu saja pengorbanan ku sia-sia saja. Dia benar-benar manusia es!" gerutu Gading melihat sikap tak acuh Kakaknya.
Ayna langsung berbalik badan, kala menyadari keberadaan Dady-nya. Ia segera beranjak dari duduknya dan berlarian dengan langkah mungilnya menghampiri dan langsung memeluk lutut Dady Ashoka. "Dady...."
Ashoka membungkuk dan membopong tubuh mungil Ayna. "Ayna kenapa hm? Kenapa Ayna menangis seperti ini," tangannya memberi isyarat kepada pelayan agar mengambilkannya tissue. Dengan sigap pelayan mengambilkan kotak tissue lalu memberikan pada Ashoka.
"Mama Ayu kan udah janji sama Ayn bakalan celitain dongeng tentang angsa putih. Ayna sangat kesepian Dady.. Ayna kangen Mama Ayu, Ayn kangen Mama," adu Ayna tentang keluh kesahnya dalam menunggu Mama Ayu sangat lama.
Ashoka mengusap wajah memerah putrinya. Hatinya tercubit. Astaga, darimana anak ini tau tentang kata-kata kesepian?
Wanita itu sudah membuat hati anakku hancur, tunggu sampai dia pulang. Akan aku beri dia pelajaran! Tak henti-hentinya Ashoka mengutuki istrinya.
"Mama Ayu sebentar lagi sampai sayang, sekarang main sama Dady dulu yuk." ucap Ashoka amat lembut.
...*****...
Bersambung
__ADS_1