
Yana menjelaskan apa yang jadi pertanyaan Ayu. Ia tak menyangka Ayu mempunyai tingkat keberanian dalam melakukan sesuatu yang sudah di tentang keras oleh nyonya besar, bahkan sepertinya memang kebal terhadap hinaan yang terjadi beberapa hari lalu.
"Seperti sarapan yang beberapa hari nyonya Ayu lihat di meja setiap pagi. Tuan Ashoka kalau sarapan hanya minum kopi hitam yang tidak terlalu manis, roti gandum atau roti sandwich,"
"Kalau nona kecil biasanya suka sereal sama susu, tapi kalau saya buat bubur atau nasi goreng pasti di makan. Nyonya pasti tau kalau nona kecil doyan makan,"
"Hehehe... iya iya, aku melihat pipinya yang empuk," Ayu tertawa kala mengingat pipi Ayna yang tembem. Lalu memperagakan pipinya yang digelembungkan.
Dua pelayan dan Yana terkekeh kecil saat melihat Ayu memperagakan pipi Ayna yang gembul.
"Nyonya Ayu benar banget hehehe," ucap Wati.
"Jangan keras-keras ketawanya, nanti nyonya besar dengar, terus kita kena sembur," kata Yana, meskipun dia seorang mantan koki di hotel dan sekarang bekerja di restauran terkenal bernama merek dagang Brata Resto. Tapi dia tetap saja takut kala nyonya Mega marah.
"Jangan panggil saya nyonya, panggil saja saya Ayu," ucap Ayu kerap kali telinganya terganggu dengan sebutan itu.
"Maaf nyonya Ayu, anda sudah menikah dengan tuan Ashoka, secara otomatis anda istri dari tuan kami. Jadi sudah seharusnya kami memanggil anda nyonya, sama seperti almarhumah nyonya Rose." sahut seorang pelayan lainnya yang bernama Sopi.
"Kalau begitu, bagaimana dengan Ibu?" kata Wati memberi saran.
Ayu spontanitas mengibaskan tangan membersamai dengan menggelengkan kepalanya. "Jangan nyonya atau Bu, jadi terkesan saya ini tua banget,"
Dua orang pelayan dan Yana dibuat bingung dengan apa yang menjadi maksud istri Ashoka yang masih muda, dalam pikiran mereka juga Ayu terlihat masih muda untuk dipanggil nyonya atau Bu, jadi apa yang pas?
"Tapi tidak mungkin kami memanggil anda hanya dengan nama atau Mbak, nanti kami bisa kena marah tuan Ashoka," kata Sopi.
Sang tuan Ashoka ini benar-benar, sampai gelar saja bisa kena marah. Kan kalau aku dipanggil dengan sebutan seperti itu aku terlihat lebih tua, padahal aku kan baru mau 22. Ayu merasa dalam sekejap saja, nama panggilannya telah berubah seperti orang tua yang tidak semestinya ia dapatkan gelar itu.
"Ya sudah lupakan, lanjutkan soal pertanyaan saya yang sebelumnya," kata Ayu pada Akhirnya.
Yana selaku koki yang telah lama memasak menu makanan untuk keluarga Ashoka, menjelaskan semua makanan yang disuka dan tidak di sukai penghuni mansion ini. Termasuk menu Gading.
Lagi, Ayu berdecak kesal saat mengingat kelakuan adik iparnya yang selalu saja mencari kesempatan untuk mendekatinya.
Untuk apa aku mengerti menu yang disukai adik ipar brengsek itu, huh. Aku benar-benar kesal!
...**...
Selepas memasak, Ayu melihat Ayna masih menonton siaran televisi anak-anak. Sebentar lagi maghrib, tak nampak Ashoka pulang, mungkin sedang banyak pekerjaan di kantor. Meskipun Ayu belumlah sepenuhnya dapat menerima jika dia adalah seorang istri, tapi setidaknya ia harus menghargai statusnya kini.
"Ayna lagi nonton apa?" Ayu bertanya sekedar basa-basi padahal dia sudah tahu apa yang sedang di tonton anaknya, dia lantas mendekati Ayna yang duduk dengan bersandarkan bantal di sofa.
"Nonton Upin Ipin," Ayna menjawab tanpa mengalihkan atensinya dari siaran televisi. Dilihatnya siaran televisi berganti pada tayangan kumandang adzan magrib.
"Ayna sholat yuk sama Mama," ajaknya membujuk sama seperti hari-hari sebelumnya.
__ADS_1
"Tapi Ayn belum hafal bacaana Ma?" jawab Ayna apa adanya, karena di rumah memang tidak ada yang mengajarinya bagaimana caranya mengenalkan rukun iman dan rukun islam.
Ayu menatap nanar pada gadis kecil ini. Dia menghela nafas dalam, di usapnya pucuk kepala Ayna.
"Tidak apa-apa, nanti Mama ajarin, seperti kemarin Mama ajarin ke Ayna." Ayu beranjak dari duduknya, lalu menggendong Ayna, menuju lantai atas persisnya di dalam kamarnya.
Dia sudah mengajarkan Ayna untuk sholat, meskipun saat pertama kali mengajaknya sangat sulit. Tapi Ayu tetap melakukan dengan segala bujuk rayunya. Sangat di sayangkan, karena di rumah ini tidak ada yang mengajari anak kecil ini menjalankan tugasnya sebagai seorang muslim.
Dalam beberapa hari Ayu mengamati keadaan setiap penghuni rumah ini. Mereka semua sibuk dengan urusan duniawi semata.
Adik ipar ternyata memang sering pulang larut malam dengan keadaan mabuk sempoyongan. Dan membuat Ayu harus lebih berhati-hati dan waspada. Dia belum berani melaporkan perbuatan Gading pada Ashoka. Dia takut, jikalau laporannya dianggap hanya fitnah karena belum adanya fakta.
Mama Mega. Meskipun kadang Mama Mega menemani Ayna bermain, tapi tak pernah Ayu melihat Mama Mega memakai mukenah.
Padahal jelas-jelas mereka ini seorang muslim, terlihat dari furniture kaligrafi yang terpanjang di dinding. Meskipun tidak banyak, tapi setidaknya setiap rumah orang-orang yang beragama pastilah memiliki ciri khasnya dalam menggambarkan keyakinan mereka masing-masing.
Terlebih Ashoka, pria itu sudah mengatakan tidak percaya dengan adanya Tuhan.
Ayu berpikir, mungkin saja suaminya butuh pengertian agar tidak membenci kenapa semua orang yang disayanginya berpulang ke Rahmatullah. Meskipun Ashoka sudah cukup tua untuk mengerti akan hal itu, tapi bagi Ayu sendiri sedikit memahami mengapa sikap Ashoka terkenal angkuh dan dingin, mungkin saja salah satu penyebabnya ini.
Ayu telah selesai sholat dengan bacaan yang di ucapkan sedikit lebih keras agar Ayna dapat menirukan suaranya.
Hmm sepertinya aku harus membeli buku mengaji untuk Ayna. Biar dia juga belajar mengaji di rumah. Memang di sekolah ada pelajaran mengaji, tapi keluarga ini sepertinya lupa, dari sekian banyaknya les tapi tidak ada yang menyangkut soal pelajaran agama.
"Ayna udah lepar?" Ayu bertanya sembari melipat mukena.
"Sudah Ma, Ayn lapel dali tadi malahan." jawab Ayna sambil membuka mukena nya.
"Kita lipat mukena dulu, lalu kita turun."
Ayu dan Ayna turun ke lantai satu, di sana Ayu melihat ada Gading.
Tumben amat dia pulang sore!
Sungguh Ayu amat sangat ingin menghindari pria brengs*k itu. Ya, Ayu ingin mengutuknya sebagai pria brengs*k, karena sudah beberapa kali dia menolak dengan keras godaan adik iparnya yang selalu saja akan melecehkannya. Entah ada apa dengan pikiran tidak warasnya Gading.
"Hay Ayna, hay Kakak Ipar," Gading berjalan mendekati keponakan dan Kakak iparnya.
"Halo Om Gading, apa Om pulang bawa Ice cleam?" tanya Ayna, kerap kali Pamannya akan menjanjikan pulang membawa Ice cream favoritnya.
"Oh maaf sayang, nanti Paman akan bilang pada Dady mu, agar pabrik ice cream langsung mengantarnya ke sini, berapapun kau minta pasti Dady akan membelikan nya..." Gading berkata sembari mengedipkan matanya pada Ayu. "benarkan Kakak ipar?"
Ayu segera membalikkan wajah, saat tau jikalau Gading sedang mengedipkan mata.
"Iya, pasti Dady membelikan Ayn Ice cleam yang syangaaaaaat buanak!" ucap Ayna girang, ia amat sangat suka ice cream.
__ADS_1
Gading dengan sengaja mendekati Ayna. Pada saat akan menggandeng tangan keponakannya, dengan sengaja dia membelai lembut lengan Ayu yang memang sedang menggandeng tangan Ayna.
Ayu terlonjak kaget, dia segera menjauhkan diri dari Gading. Ayu bergidik ngeri, di usapnya bekas belaiannya tangan Gading agak kasar.
Dasar pria brengsek, ternyata dia tidak pernah sekalipun menghargai ku sebagai Kakak iparnya. Apa dia tidak takut, kalau sampai aku mengadukannya pada Mas Ashoka?
"Mama, Mama, Ayna mau ke meja makan. Ayn lapel." ucap Ayna lalu berlari kecil menuju ruangan dapur.
"Iya, Mama akan bantu menyiapkannya," pada saat Ayu akan melangkah kakinya untuk menyusul Ayna yang lebih dulu meninggalkannya. Tiba-tiba tangannya diraih oleh tangan Gading. Adik iparnya ini sungguh berani menggodanya lagi.
"Kakak ipar, kapan kau akan menemani ku, aku sudah tidak tahan lagi, apa malam ini kau mau menemani ku, hm?" ucap Gading setengah berbisik.
Ayu mendelikkan matanya menatap wajah menyebalkan adik iparnya. "Dasar bedebah, jauhkan tanganmu dari dariku!"
"Tenang saja, kenapa kau sangat jual mahal hah?" Gading bicara lagi dengan suara serak.
Mama Mega baru saja keluar dari kamar, dilihatnya jarak Gading dan Ayu sangat dekat. "Sedang apa kalian?"
Baik Ayu maupun Gading tersentak mendengar teriakan Mama Mega.
Gading segera melepaskan tangannya yang semula mencekal lengan kakak iparnya. Dia mengalihkan atensinya menatap Mama Mega yang berjalan mendekatinya.
Sedangkan Ayu, berusaha untuk bersikap santai. Meskipun jantungnya hebat. Toh dia tidak melakukan kesalahan. Dilihatnya Gading hanya diam.
Mama Mega malah mendekati Ayu. Dia menatap amat tidak suka. "Jangan coba-coba menggoda Gading, gadis jal*ng!"
Rahang Ayu mengeras saat mendengar Mama Mega mengatakan jal*Ng pada dirinya.
"Ma, sebaiknya Mama jaga anak kesayangan Mama, jangan biarkan dia berkeliaran," Ayu berkata dengan nada penuh penekanan. Dilihatnya Mama Mega terkejut.
"Kau! Dasar gadis jal*ng, apa maksud mu mengatakan itu, hah! Kau benar-benar mau menantang ku yah?!" sungut Mama Mega.
"Ma sudahlah Ma." Gading berdiri dihadapan Mama Mega, yang sepertinya akan menjambak rambut Ayu.
Ayu sedikit membungkukkan punggungnya pada Mama Mega. "Saya permisi, Ma." setelah mengatakan itu, Ayu pergi ke ruang makan membawa perasaan kesal.
Tidak anak tidak Emak, mereka suka sekali mengganggu ketenangan hati ku, huh!
...*****...
Bersambung
Maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan. Mohon jangan sungkan memberikan dukungan.
Terimakasih
__ADS_1