
Kenapa aku merasa sangat malu, apa yang membuatku seperti ini. Apa karena ciuman Ashoka yang mendarat di pipiku pagi ini. Dan kenapa kalau ciuman pagi, toh ciuman ini hanya sebatas di pipi dan itupun karena Ayna yang memintanya. Tapi kenapa aku harus malu seperti ini? Ya Allah, tolonglah aku. Rasanya wajahku terasa panas.
Ayu terbengong sambil mendudukkan karena ingin menyembunyikan pipinya yang sepertinya memang memerah, sedangkan tangannya memegangi sendok. Padahal ia sedang menyuapi Ayna sarapan, sampai Ayu tidak sadar, sendoknya melenceng melewati mulut Ayna yang sudah menganga.
"Mama....?" pekik Ayna memandangi wajah Mama Ayu yang sepertinya sedang melamun, seketika itu dilihatnya Mama Ayu terlonjak dan balik memandanginya.
"Iya, ada apa sayang?" Ayu spontan menatap Ayna.
"Mama itu lihat, mulut Ayn di syini Ma, bukan di syana," Ayna menunjuk mulutnya yang menganga lantas beralih menunjuk tangan Mama Ayu yang sedang memegang sendok berisi sereal gandum yang dicampur susu.
Ayu mengikuti arah kemana jari telunjuk Ayna, dilihatnya sendok yang sedang dipegangnya malah mendarat di pipi Ashoka. Maniknya langsung menatap wajah suaminya itu merah padam seperti sirene pemadam kebakaran. Ayu terlonjak kaget.
"Maaf, maaf.." Ayu langsung menarik tangannya, lalu berdiri dan mengambil tissue. Lantas mengusapkannya ke wajah Ashoka.
Sendok nggak ada akhlak, kenapa harus mendarat di wajahnya. Kan lihat, matanya sudah seperti melihat mangsa. Ayu tersenyum kecut untuk menutupi rasa bersalah sekaligus takut, tanpa berani lagi melihat wajah Ashoka.
Ya, posisi Ayna memang duduk di tengah-tengah Ayu dan Ashoka jadi pada saat Ayu sedang menyodorkan sendok, ia malah menerabas jalur dan mendaratkan sendok tak ada akhlak ini di pipi Ashoka.
Hufft... Ashoka menahan kesal sekaligus kelucuan, dilihatnya Mama Mega dan Gading yang sedang menatapnya tajam. Ia langsung merampas paksa tissue yang sedang dipegang Ayu, lalu mengusap pipinya.
"Biar aku saja!" pekiknya tanpa melihat Ayu. Ashoka kembali menyeruput kopinya, seolah tidak terjadi apa-apa. Ia tidak mau sampai Mama Mega membuat kegaduhan lagi. Karena, secuil apapun kesalahan yang dilakukan orang yang tidak disukai oleh Mama Mega, biasanya akan menjadi bahan perdebatan.
Ashoka kembali melirik Ayu yang sudah duduk kembali, lantas memegang sendok lagi. Dalam diamnya, sebenarnya Ashoka tersenyum melihat ekspresi Ayu yang terbengong setelah mendapatkan ciumannya pagi ini.
Haha, lihat dia seperti orang bodoh, apa hanya karena ciuman ku di pipinya pagi ini? Basi, jika di zaman modern ini masih mengatakan ciuman pertama, apalagi hanya di pipi, kalaupun iya. Apa yang selama ini dilakukannya bersama dengan mantan kekasihnya yang telah berkhianat itu?
Gumam Ashoka dalam hatinya. Pagi-pagi, Ashoka sudah punya hiburan menarik.
__ADS_1
Lain halnya dengan Gading yang sebenarnya sedang merasakan merinding kala melihat wajah Ayu, ada sedikit ketakutan dalam hatinya jikalau Ayu akan mengadukan perbuatannya semalam pada Ashoka. Tapi sepertinya, melihat Ashoka yang nampak sangat tenang, ia bisa bernafas lega. Mungkin saja Ayu tidak memberitahu tau Kak Ashoka.
Gading juga merasa takut, jikalau sampai Mama Mega tau tentang ketertarikannya pada Ayu, Mama Mega pasti akan memakinya. Karena Gading tau, Mama Mega sangat membenci siapapun wanita yang di bawa Ashoka kedalam rumah ini. Terkecuali wanita pendamping Ashoka adalah pilihan Mama. Yah, bisa jadi peraturan ini termasuk dirinya, tapi Gading jelas tak mau, karena ini zaman modern, zaman kebebasan dan tidak ada lagi perjodohan.
Lagi, Mama Mega menatap tidak suka pada Ayu. Dan Mama Mega tidak mau melewati kesempatan ini, untuk lagi dan lagi mencibir kelakuan Ayu yang dianggapnya seperti wanita rendahan tidak mencirikan wanita berkelas sama sekali.
"Lihat, Mama bilang juga apa, wanita kampungan hanya bisa hidup di kampung. Kalau wanita kampungan tetap di bawa ke istana ya begitu itu, selalu bikin malu," Mama Mega menatap Ayu tajam.
"Untung saja ini bukan makam besar bersama dengan para kolega dan keluarga lainnya, coba saja bayangkan jika ini makan malam bersama dengan para petinggi saham," lanjutnya lagi.
"Kemana-mana ya pasti Jamila, dia cantik dan perfectionist dibandingkan wanita kampungan ini, Shoka," Meskipun Mama Mega berkata dengan suara pelan, tapi masih bisa diartikan bahwa Mama Mega sangat-sangat mencibir perilaku menantunya yang dianggapnya seperti benalu busuk.
Ayu tertegun mendengar lagi dan lagi hinaan Mama Mega padanya. Sungguh, tiada yang bisa betah jika tinggal dengan mertua cerewet seperti Mama Mega, tapi sekali lagi. Hufft... sabar Ayu.
Ayu menekankan pada dirinya. Ia di sini hanya punya urusan dengan Ashoka dan Ayna, selebihnya. Hemm entahlah.. Ayu melirik Ashoka cuma diam saja, sebenarnya pria ini punya kuasa tidak sih di rumah ini. Kenapa, Ashoka hanya diam saja! pikir Ayu kesal, karena ia merasa Ashoka tidak sedikitpun terlihat untuk membelanya.
"Maaf Ma, saya tidak akan mengulangi kesalahan saya," ucap Ayu mengalah, diingatnya peringatan Ashoka kemarin. Bahwa tidak ada gunanya berdebat dengan Mama Mega.
Baik Ashoka maupun Ayu tertegun mendengar pertanyaan Ayna. Sebenarnya dibalik diamnya Ashoka amat sangat geram, karena Mama Mega sudah berkata tidak dalam posisi yang pas.
"Ma?" panggil Ashoka pada Mama Mega yang sedang menikmati secangkir tehnya.
"Apa? Apa kau mau membela wanita ini, apa yang salah Shoka, dia memang kampungan udik dan tidak tau malu," lagi Mama Mega mencibir dengan perkataan pedasnya.
Ashoka menghela nafas panjang, lalu beralih menatap Ayna. Ini tidak baik di dengarkan oleh putrinya, biar bagaimanapun, Ayu adalah pilihannya yang pas untuk menjadi Ibu sambung Ayna, Ashoka tidak ingin Ayna mendengar kejelekan wanita yang dipilihnya.
"My princess," Ashoka memanggil putrinya guna mengalihkan pembicaraan yang sebenarnya tidak bisa langsung ia menghardik Mama Mega di depan Ayna.
__ADS_1
Ayna mengalihkan atensinya dari semula menatap Oma Mega kini menatap Dady Ashoka. "Iya Dad?"
"Habiskan susumu, bukankah ini sudah sangat siang untuk mu berangkat sekolah," Ashoka berkata amat lembut. Lalu beralih menatap Ayu yang sejak Mama Mega berkata, dilihatnya hanya diam saja. Mungkin saja, Ayu teringat dengan peringatannya kemarin, untuk tidak menjawab perkataan Mama Mega.
Sempat kesal karena Ashoka bersikap diam saja, terkesan tidak membelanya sedikit pun. Entah mengapa saat ini Ayu merasa meleleh melihat sikap Ashoka yang menurutnya sangat manis, pria itu tidak ingin anaknya mendengar perkataan yang tidak baik. Seolah mematahkan anggapan bahwa Ashoka pria angkuh dan arogan yang sebelum hari pernikahan ia dengan dari berita yang beredar.
"Tapi kan Dad, Ayn belum tau apa jawaban Oma?" Ayna merasa masih perlu jawaban yang pasti, karena gadis kecil ini sudah terlanjur mendengar dan ingin tahu perihal apa yang sudah didengarnya.
"Ayn, anak pintar kan?" Ashoka memegangi pipi Ayna. Dilihatnya Ayna mengangguk. "dengarkan ucapan Dady, nanti Dady yang akan menjawabnya, sekarang sudah siang, sudah waktunya kamu berangkat sekolah, hari libur, Dady janji akan bawa kamu ke villa," sambungnya membujuk, kiranya bisa membuat Ayna melupakan pertanyaan tadi.
"Acik..." Ayna bersorak gembira, karena memang sudah lama ia tak diajak ke villa dan liburan bersama Dady.
Ayu sudah berdiri, bahkan sejak tadi ia ingin segera pergi dan lari dari neraka ini. "Ayo sayang."
Seperti biasa, sebelum berangkat Ayna menyalami tangan Oma Mega, Paman Gading dan Dady Ashoka.
Begitu juga yang dilakukan Ayu, meskipun kesal namun ia tetap memberi contoh yang sekiranya baik untuk Ayna. Dengan pengecualian, ia tidak menyalami tangan Gading. "Saya berangkat Oma,"
Mama Mega bersikap tak acuh, bahkan sebenarnya ia segan untuk menyalami tangan Ayu.
"Hati-hati ya Ayn, hati-hati Kakak ipar.." Gading berseru lalu mengerlingkan matanya pada Ayu. Tentu saja Ashoka tidak tau, karena Kakaknya yang dianggap bodoh itu sedang melihat Ayna.
Awas saja kalau kau sampai menganggu ataupun melecehkan ku lagi, akan aku buat terong mu patah! Ayu berdecak kesal, lalu berjalan menjauhi ruang makan dengan menggandeng tangan Ayna. Sampai pada mobil yang sudah standby di halaman rumah.
"Rumah mewah tapi seperti neraka, buat apa?" gumam Ayu sangat lirih bahkan tanpa nada. Maniknya melihat rumah mewah ba' istana negara dari balik kaca mobil.
Perlahan mobil yang dikemudikan Husna meninggalkan pelataran rumah mewah ba' istana. Membawanya Ayu bersama dengan Ayna, menuju ke sekolah.
__ADS_1
...*****...
Bersambung....