
Ayu yang sedang berpakaian putih abu-abu baru saja pulang dari sekolah. Kedua tangannya menenteng kotak bekas berjualan kue buatan Ibu di sekolah.
Hasilnya sangat lumayan, karena dengan berjualan kue ini, dia baru akan di kasih uang saku oleh Ibu. Tapi jika tidak berjualan, maka tak ada uang saku ataupun uang jajan. Kata Ibu, wanita itu harus pandai-pandai mencari uang sendiri jangan selalu mengandalkan suami.
Ya, Ayu selalu menuruti perkataan Ibunya. Toh mendisiplinkan nya juga, agar menjadi wanita yang mandiri.
Gadis remaja ini berlarian untuk sampai ke rumah. Sebenarnya ia sudah merengek-rengek untuk dibelikan sepeda pada kedua orang tuanya, tapi kata Ibu dan Bapak beli sepedanya nanti saja.
"Berlari kan bisa menjadikan tubuhmu tumbuh lebih sehat." jawab Ibu saat Ayu kembali merengek minta dibelikan sepeda.
Meskipun kadangkala Ayu sangat iri dengan Bagus, karena apapun yang diminta Bagus pasti selalu di turuti.
Ayu sedari kecil sudah di didik untuk selalu patuh dan taat pada peraturan orang tuanya, karena ia pernah di ancam, jika tidak patuh maka Bapak dan Ibu akan meninggalkannya di panti asuhan. Tentulah, Ayu dengan pikiran polosnya tidak mau hidup di panti asuhan yang notabene ditinggali oleh anak-anak yang tidak mempunyai orang tua, sedangkan orangtuanya masih lengkap.
Dan hari ini, Ayu amat sangat senang sampai ia tak merasakan lelah sedikitpun untuk berlari. Karena berkat kelulusannya dengan hasil nilai terbaik di sekolah. Pastilah, banyak orang tua yang bangga jika anak-anak mereka lulus dengan nilai memuaskan seperti ini.
Ayu berharap, semoga Bapak dan Ibu juga amat sangat bahagia seperti hatinya saat ini. Agar cita-citanya masuk universitas dan menjadi seorang guru terpelajar bisa terwujud. Seperti kata Bu Hanna sang Wali kelas yang mau membantunya masuk universitas ketika dahulu gurunya itu menimba ilmu.
Ucapan salam yang akan di lontarkan di depan pintu rumah tercekat di tenggorokan, kala mendengar suara percakapan Bapak dan Ibu dari dalam rumah yang sedang menyebut-nyebut namanya.
"Pak sebentar lagi Ayu lulus sekolah, Ibu dapet undangan dari pihak sekolah disuruh ambil rapot," ucap Bu Tumirah di sela menjahit sarung milik suaminya.
"Ya sudah, tinggal di ambil saja," jawab Pak Bahar, lalu menyeruput tehnya.
"Bukan begitu Pak, kata seorang guru. Ayu lulus dengan nilai terbaik," balas Bu Tumirah mengingat ucapan wali kelas Ayu beberapa waktu lalu.
"Ya itu bagus," sahut Pak Bahar datar.
"Tapi kan Pak biaya kuliah sangat mahal, kalau sampai dia masuk universitas bisa-bisa kita harus mengeluarkan uang sangat banyak. Bapak kan tau, kalau masuk universitas itu biayanya bisa sampai puluhan sampai ratusan juta Pak," sungut Bu Tumirah dalam menjelaskan, sampai menghentikan aktivitas tangannya yang sedang menjahit sarung.
"Kan dia dapet beasiswa?" balas Pak Bahar masih datar.
"Iya, tapi tetap saja Ibu ndak suka kalau Ayu sekolah tinggi-tinggi. Toh palingan, perempuan itu kalau sudah menikah ya pasti, ujung-ujungnya selalu di dapur, eman-eman biayanya Pak," selalu saja pendapat Bu Tumirah seperti ini, apalagi jika Ayu sudah berkata ingin melanjutkan pendidikannya. Maka Ibu yang terkesan kikir ini akan mencari seribu alasan.
__ADS_1
Pak Bahar baru saja tersadar dengan maksud yang dikatakan istrinya. "Lho iya ya Bu, nanti Bapak bisa bangkrut kalau sampai begitu. Lagian kan Ayu bukan anak kandung kita,"
"Nah itu Bapak tau, meskipun Ayu sudah Ibu anggap seperti anak kandung Ibu sendiri, tapi tetap saja dia bukan darah daging Ibu,"
"waktu itu kita sepakat memungut Ayu yang di buang di tempat pembuangan sampah, kan karena kita belum juga punya anak. Terlepas dia anak haram atau anak yang sengaja di buang,"
"kalau dia bukan anak penurut Ibu juga ndak mau merawatnya sampai sekarang. Lebih baik, kita tabung saja uangnya untuk sekolah Bagus biar masuk Tentara,"
Kata Bu Tumirah panjang kali tinggi sangat amat tidak suka, jikalau sampai Ayu masuk universitas. Padahal kehidupan mereka sebelum pabrik bangkrut jauh dari kata kemiskinan. Namun Bu Tumirah dan Pak Bahar hanya menganggap Ayu sebagai anak pancingan agar cepat hamil dan tidak lebih dari itu. Yah, bisa dikatakan hanyalah memperalat saja untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga.
Kata Bu Tumirah, sayang kalau harus membayar pembantu.
"Wah ide bagus itu Bu, Bapak bakal sangat bangga kalau Bagus bisa jadi Tentara." kata Pak Bahar menyetujui usulan istrinya yang dianggapnya masuk akal. "dari pada membiayai kuliah anak pungut, ya mendingan untuk membiayai anak kandung kita." lanjutnya lagi.
Di luar rumah, Ayu sangat amat tersiksa telinganya serasa berdengung hebat saat mendengar semua perkataan yang terlontar dari mulut kedua orang tuanya. Relung hatinya seakan-akan di hantam ombak besar, hingga membuatnya sesak seketika ini juga.
Ayu menjatuhkan kotak bekas ia berdagang kue di sekolah. Lantas berlari sejauh mungkin ke tempat yang bisa membuatnya tenang. Meskipun nantinya ia akan kembali lagi ke rumah ini.
Aku anak haram
Aku anak yang dibuang di tempat pembuangan sampah
Siapa orang tuaku.....?
Semua perkataan itu seolah terpatri dalam ingatan ku dan memutari otak ku.
"Ayu bangunlah, Ayu bangun!" untuk pertama kalinya Ashoka memanggil nama istrinya. Bahkan dengan nada suara khawatir.
Pria berperawakan tegap ini duduk di tepian ranjang, tangannya sejak tadi mengguncang-guncang 'kan tubuh istrinya agar terbangun dari pingsan.
Ayu mengerjapkan mata terkejut mendapati Ashoka kini berada di depannya. Dia mengusap wajahnya yang dipenuhi keringat dan kelopak mata yang berair. Ayu mengingat apa yang baru saja diimpikan, kenapa ingatan tentang percakapan kedua orang tuanya, datang di mimpinya lagi dan lagi. Dia merasa sesak saat mengingat kembali kenangan terburuknya selama ia hidup.
"Sepertinya kau mimpi buruk," Ashoka memberikan isyarat pada Bik Marni yang pertama kali menemukan Ayu pingsan di kamar Ayna untuk mengambilkannya air minum.
__ADS_1
Dengan sigap Bik Marni mengambilkan gelas yang ada di atas meja. Lalu memberikannya pada sang tuan. "Ini tuan,"
Ashoka menanggapi gelas, lantas memberikan pada istrinya yang nampak sangat sayu. "Minumlah, agar kau lebih tenang,"
Dengan di bantu Ashoka, Ayu meminumnya sampai tandas. Sebenarnya ia masih dalam keadaan pikiran yang bingung, karena tadi ia merasa ada di kamar Ayna. Dan kenapa sekarang ini ada di kamarnya sendiri, apalagi ia baru saja menyadarinya, bau minyak kayu putih yang sangat menyengat di hidungnya.
"Sa-saya kenapa?" Ayu bertanya seperti orang linglung.
"Kau tadi pingsan di kamar Ayna," sahut Ashoka mengambil gelas kosong dari tangan istrinya.
"Pingsan?" Ayu bergumam amat lirih, seraya memegangi kepalanya.
"Apa kau sakit?" Ashoka mengulurkan tangannya hendak memeriksa kembali kening Ayu. Namun, Ayu mundur membuat tangannya menggantung di udara.
Teringat dengan sentilan keras tangan Ashoka di keningnya. Ayu memundurkan tubuhnya, tatkala melihat tangan Ashoka terjulur seperti hendak menyentuh keningnya.
"Sa-saya ba-baik-baik saja, hanya sedikit pusing." Ayu menjawab tanpa melihat suaminya, bayangan suram tentang perjalanan hidupnya berhasil dia usir. Meskipun seringkali datang menghampiri sebagai mimpi buruk. Entah bodoh atau terlalu menjadi anak yang sangat penurut, tapi Ayu merasa semakin dewasa dia semakin mengerti bahwa kedua orang tuanya, Ralat! Orang tua angkatnya hanya memanfaatkan kepatuhannya.
Interaksi yang dilakukan Ashoka tak luput dari pengawasan Bik Marni, ia tahu betul jikalau tuannya ini adalah tipe pria yang kaku dan dingin, itu jelas tergambar pada saat beberapa wanita cantik yang akan dikenalkan nyonya Mega, tuan Ashoka sama sekali tak menghiraukan wanita-wanita cantik yang datang. Tapi sekarang?
Semoga nyonya Ayu adalah orang yang tepat untuk menggantikan peranan almarhumah nyonya Rose.
Dilihatnya Ayu yang membuang wajah, Ashoka langsung berdiri. Sepertinya rasa kekhawatirannya sia-sia saja. Dia kembali menegaskan hubungannya dengan Ayu hanya terjadi karena kesepakatan. Tidak seharusnya dia mengkhawatirkan kondisi istrinya seperti ini.
...*****...
Bersambung...
*
Hallo bestie... jika kalian suka. Please yah tinggalkan like, vote dan gift. Agar Author amatiran ini semakin semangat up-nya.
Terimakasih
__ADS_1