
Ayu dan Ayna keluar dari toko buku dengan membawa dua kantong plastik berisi buku-buku. Di depan pintu kaca toko seorang bodyguard wanita menyambut kedatangan mereka.
"Biar saya yang membawanya nyonya," pintanya pada Ayu.
"Terimakasih." Ayu tersenyum ramah, lantas memberikan kantung plastik berisi buku pada bodyguard yang bernama Lusy, sebenarnya bodyguard yang lama seorang pria. Namun, kemudian Ayu merasa tidak nyaman, lantas meminta pendapat pada Ashoka untuk meminta di gantikan bodyguard wanita.
Saat Ayu mengedarkan pandangannya, ia melihat seorang wanita tua yang terlihat seperti (maaf) pengemis sedang duduk tidak jauh dari keberadaan toko buku. Ayu mengambil lembaran uang dari dalam tas lalu diberikannya pada Ayna.
"Untuk apa uang ini Ma?" Ayna bingung karena Mama Ayu memberikan uang berwarna biru padanya.
Ayu membungkukkan punggungnya lantas mendekatkan bibirnya ke telinga Ayna.
"Berikan pada nenek itu," bisik Ayu seraya menunjuk wanita tua yang memakai pakaian amat lusuh yang berjarak empat meter.
Ayna mengikuti kemana arah telunjuk Mama Ayu, dilihatnya seorang wanita tua yang lusuh. Lalu kembali menatap Mama Ayu.
"Tapi Ma, kata Oma Mega jangan memberikan uang pada pengemis, nanti mereka jadi semakin malas untuk bekerja," kata Ayna mengingat apa yang pernah diucapkan Oma Mega saat keluar bersama dan menjumpai pengemis.
Ayu menatap Ayna nanar, sungguh attitude buruk yang Mama Mega katakan pada anak sekecil Ayna. Jika gadis kecil ini tidak diajarkan berbagi sejak usia dini, maka bisa jadi setelah Ayna besar, akan menjadi gadis yang tidak mempunyai perasaan toleran terhadap sesama.
"Sayang, sedekah dapat menjauhkan kita dari api neraka... dan bukan berarti mereka yang meminta-minta adalah pemalas, hanya saja rezeki yang kita punya sebagian milik mereka yang membutuhkan, jadi berikan padanya. Bersedekah tidak akan membuat kita menjadi miskin, justru bersedekah bisa memancing datangnya rezeki yang tak terhingga," Ayu berkata bernada suara lembut, agar kiranya dapat di ilhami oleh pikiran gadis kecil ini.
Sejenak Ayna terdiam dalam mencermati apa yang sedang dikatakan Mama Ayu. Ditatapnya lebaran uang berwarna biru di tangannya. Ia kembali menatap Mama Ayu yang sedang tersenyum penuh arti padanya.
"Baik Ma." jawabnya kemudian, lantas berjalan dengan langkah mungilnya mendekati nenek tua.
Sebenarnya bisa saja bagi Ayu untuk memberikannya sendiri pada nenek tua itu. Hanya saja, ia ingin mengajarkan Ayna tentang bersedekah ataupun berbagai kepada sesama. Apalagi kepada seseorang yang membutuhkan.
Ayna tak berkata apa-apa, ia lantas memberikan uang berwarna biru pada nenek tua yang terlihat sangat memprihatinkan.
Dengan pandangan mata berbinar, nenek tua ini tersenyum simpul. Garis keriput semakin nampak jelas di wajahnya.
"Terimakasih cu, semoga menjadi anak Sholehah." kata nenek pada gadis kecil yang memberikannya uang.
"Amin." Ayu yang menjawabnya, ia berdiri dibelakang Ayna. Dilihatnya gadis kecil ini tersenyum menatap nenek yang juga tersenyum.
Kemudian Ayu dan Ayna berjalan menuju parkiran dimana mobil mereka terparkir di area parkir toko buku. Netra Ayna melihat minimarket yang berada di sebrang toko buku Bintang Nusantara.
"Ma, Ayn mau ke sana, boleh tidak Ma?" Ayna menunjuk minimarket di sebrang jalan.
Ayu melihat minimarket yang ditunjuk Ayna. Ia juga melihat pohon rindang yang tidak jauh dari minimarket. "Apa kamu mau makan ice cream lalu berteduh di bawah pohon rindang itu?"
"Iya Ma," jawab Ayna berbinar-binar.
Ayu rasa di teriknya sinar matahari siang ini, akan sangat pas jika sejenak bisa menikmati ice cream di bawah pohon rindang tak jauh dari keberadaan minimarket. Ia lantas menggandeng tangan Ayna menuju minimarket tersebut.
__ADS_1
Sebelum menyeberang jalan, Ayu celingukan ke kanan dan ke kiri. Memanglah ada bodyguard yang bersamanya, namun tidak semestinya Ayu menyerahkan sepenuhnya keamanan pada sang bodyguard. Karena bodyguard juga manusia yang sewaktu-waktu bisa lengah dalam menjaga.
Menunggu untuk sesaat jalanan lengang dari kendaraan. Ayu yang dibantu oleh Lusy mulai berjalan menuju sebrang jalan. Namun pada saat akan mencapai tepi jalan, ada pengendara mobil yang melaju kencang serta ugal-ugalan.
"Nyonya awas.....!" pekik Lusy melihat mobil melaju kencang kearah Ayu.
Ayu segera mendorong tubuh Ayna kearah Lusy, saat menyadari ada mobil yang melaju tak terkendali.
Seorang pria tiba-tiba berlari dengan gesitnya, ia menarik tangan Ayu. Sampai keduanya terhempas ke jalanan.
Bugh..
"Aaaa..." pekik Ayu bersamaan dengan seorang pria yang menolongnya. Ayu merasa sikunya amat sangat sakit dikarenakan terbentur keras di jalanan.
"Kau tidak apa-apa? Apa kau terluka?" pria yang telah menyelamatkan Ayu bertanya dalam kepanikan.
Ayu tak menggubris pertanyaan seorang pria yang menolongnya, ia langsung beranjak dari atas tubuh pria ini. "Maaf," ucapnya seraya menahan rasa sakit di sikunya.
Lusy dan Ayna yang berhasil lebih dulu menghindari mobil lantas mendekati Ayu yang sepertinya sedang menahan sakit.
"Sebaiknya kita ke rumah sakit nyonya, anda tidak terlihat baik-baik saja," tawar Lusy merasa khawatir dan merasa bersalah karena tidak menarik tangan Ayu.
Ayu menggeleng sembari mengusap sikunya.
"Tidak perlu Lusy, saya baik-baik saja. Bagaimana keadaan Ayna, apa dia terluka?" jawab Ayu merasa hal ini tidak perlu di besar-besarkan sampai ke rumah sakit segala. Ia malah mengkhawatirkan gadis kecilnya.
"Apa kau terluka sayang, mana yang sakit, Mama lihat?" sejenak Ayu melupakan rasa sakitnya. Ia meraba-raba tubuh Ayna.
"Ayn tidak apa-apa, Ma," jawab Ayna.
"Huhh syukurlah," Ayu menghela nafas lega, direngkuhnya tubuh kecil Ayna.
Hahh hampir saja... eh tapi siapa pria tadi?
Ayu membulatkan matanya setelah menyadari ada seorang pria yang telah menolongnya, bahkan sempat dilihatnya wajah pria itu tidaklah asing. Ayu mengurai pelukannya, lantas berbalik badan melihat seorang pria yang telah menolongnya hendak pergi dari sana. "Tunggu!"
Pria ini menghentikan langkahnya saat mendengar wanita itu memanggilnya. Ia menolehkan kepalanya mensejajarkan dagu dengan pundaknya. "Ada apa?"
Ayu berjalan mendekati pria yang telah menolongnya. "Apa kau terluka?"
"Ku kira kau tidak akan menanyakan itu padaku?" pria ini menjawabnya santai, padahal ia sedang menahan sakit di punggungnya.
Kenapa rasanya aneh, aku seperti pernah melihatnya, tapi dimana? Ayu melihat dengan seksama bahwa pria didepannya ini pernah dilihatnya.
"Tenanglah aku baik-baik saja, sebaiknya kau khawatir saja dirimu," jawab pria ini tersenyum masam, saat punggungnya lebih terasa sakit.
__ADS_1
"Tapi saya melihat wajahmu tidak memperlihatkan bahwa kau baik-baik saja, apa perlu kita ke rumah sakit?" tawar Ayu melihat bahwa pria ini sedang menahan sakit.
"Sudahlah, aku baik-baik saja," jawab pria ini meyakinkan.
Ayu merasa tidak enak hati, ia mengedarkan pandangannya melihat beberapa stand kursi yang ada di depan minimarket. "Sebaiknya kita ke sana lebih dulu, biar bagaimanapun kamu telah menyelamatkan saya, saya takut terjadi apa-apa dengan mu."
**
Dari kejauhan mobil ugal-ugalan yang dikemudikan oleh seorang wanita berhenti, dia melihat kebelakang, persisnya dimana Ayu dan Ayna berada. Ia geram, meremass jemarinya yang terkepal, lalu memukul setir mobil.
"Sialan! Padahal sedikit lagi aku bisa menyingkirkan wanita itu!"
Tatapannya beralih ke depan jalanan.
"Lain kali aku akan membuatnya semakin tersiksa."
Setelah beberapa saat meluapkan emosi karena rencananya gagal total, wanita ini kembali melajukan mobilnya.
**
Pria ini tak bisa menolak atas ajakan seorang wanita yang ditolongnya, karena wanita ini terus memaksanya.
Mereka lantas duduk di kursi yang tersedia di depan minimarket. Sementara itu Lusy masuk kedalam minimarket untuk membeli beberapa minuman.
"Om, apa Om baik-baik saja? Apa Om tidak mau ke rumah sakit?" Ayna bertanya, ia sejak tadi terus memperhatikan bahwa pria yang telah menyelamatkan Mama Ayu memegangi punggung.
"Om baik-baik saja cantik, bagaimana apa kau terluka?" tanyanya pada gadis kecil yang telah bertanya padanya.
"Baik Om, Ayn tidak apa-apa." jawab Ayna tersenyum tipis.
"Maaf, jika aku menanyakan hal ini," Ayu merasa apa yang dilihatnya ini tidak salah. Jika pria yang ada dihadapannya memanglah orang yang pernah ditemuinya di gedung kosong. "apa kita pernah bertemu sebelumnya, tidak tau kenapa wajahmu tidaklah asing?"
Pria ini tersenyum simpul melihat wanita yang telah merubah penampilan dengan menutup surainya dengan kerudung warna cokelat. Namun meskipun begitu, ia tidak melupakan wajah wanita yang ditemuinya di gedung kosong.
"Ternyata kau masih mengingat ku," ucapnya dengan pandangan mata yang berbinar-binar. Setelah pertemuan itu, ia terus teringat dengan wajah manis itu, wajah manis yang saat itu sedang meluapkan emosinya.
"Jadi benar itu kau?" Ayu bertanya guna memastikan, bahwa apa yang dilihatnya ini memang tidak salah.
"Aku Fonzo," kata pria ini seraya mengulurkan tangannya kehadapan wanita yang telah membuatnya terpesona sejak pertemuan pertamanya.
Ayu tersenyum simpul, dilihatnya tangan yang terulur dihadapannya. Dia tak langsung menjabat tangan, biar bagaimanapun ia adalah seorang wanita telah menikah dan memang harus ada batasan dengan pria lain, meskipun itu hanya sekedar berjabat tangan. Ayu menangkupkan kedua tangannya di depan dada. "Saya Ayu.."
Fonzo menarik tangannya, dia menghargai atas apa yang dilakukan wanita yang bernama Ayu.
...*****...
__ADS_1
Bersambung