Pengantin Tuan Ashoka

Pengantin Tuan Ashoka
Ibu sambung


__ADS_3

"Hay Ashoka..."


Via masuk kedalam ruangan Ashoka, tidak mengetuk pintu. Seperti biasanya karena Ashoka membiarkannya keluar masuk kantornya. Via melihat keseriusan pada wajah Ashoka.


"Ada apa, Shoka?" Via bertanya sambil berdiri di belakang Ashoka yang duduk di kursi, lalu tangannya memeluk Ashoka dari belakang.


"Ayna sepertinya mendapatkan masalah lagi." jawab Ashoka tanpa memandang Via.


Via melihat layar monitor laptop yang memperlihatkan seorang guru sedang berada di tengah-tengah murid-murid.


"Tapi kau masih bersikap tenang, meskipun anakmu selalu mendapatkan perundungan, bukankah kau harus bertindak sesuatu agar anak-anak itu tidak lagi mempersulit buah hatimu. Apa karena ada guru itu?"


Ashoka melirik Via, lalu melepaskan tangan Via dari rangkulannya. "Yah, semenjak dia ada di sekolah itu, aku bisa bernafas lega, setidaknya ada seorang wanita yang membuat putriku nyaman. Jadi kapan kau kembali dari Amerika?"


Via beralih ke sisi kiri Ashoka. Lalu duduk di tepian meja kerja rekan kerjanya.


"Semalam, dan kau tidak menjemput ku, karena kau sibuk dengan pernikahan mu, teman macam apa kau ini?" Via melempar tatapan tajam pada Ashoka.


"Teman yang lupa temannya," celetuk Ashoka.


"Jahat!" Via mendengus dingin lalu mendekapkan tangannya di depan dada. "aku melihat foto mu dan guru itu, dia tampak cantik tapi tertekan, dan kau tampak gagah dalam foto pernikahan mu kemarin, apa kau bahagia telah berhasil menikahi daun muda?" lanjutnya lagi, lantas mengambil lembaran sketsa yang di buat Ashoka di atas meja.


"Apa kau cemburu?" Ashoka bertanya sembari menutup layar laptopnya.


"Iya, aku sangat cemburu. Kenapa kau tidak menikahi ku, dan malah menikah dengan wanita yang di jual oleh ayahnya," Via meletakkan lembar kertas sketsa di atas meja lalu berjalan menjauh Ashoka dan duduk di sofa. "apa karena Ayna? Yah aku tau, sebab putrimu yang selalu kau nomer satukan dari pada hatimu?"


Ashoka beranjak dari duduknya lalu menghampiri Via Melinda dan duduk berhadapan dengan sekat meja kaca di tengah-tengah. "Kau yang tidak bisa mengambil perhatian Ayna, aku tidak menikahi wanita hanya karena aku ingin menikahinya, tapi aku ingin wanita yang aku nikahi bisa menjadi Ibu sambung untuk anakku," Ashoka menunduk melihat cincin pernikahan dari istri pertamanya, "putriku sudah lama merindukan seorang wanita yang bukan hanya bisa di panggil Mama, tapi kasih sayangnya,"


"Buat apa aku mengambil hati dan menarik perhatian putrimu, sedangkan hatimu hanya untuk mendiang Rose seorang. Aku yakin, jika bukan karena hutang, guru itu juga tidak akan mau setuju menikah denganmu. Yah kecuali kalau dia memang materialistis," Via melihat cincin pernikahan di jari manis kiri Ashoka. "dan aku sarankan, kau harus bisa melepaskan cincin pernikahan pertama mu, setidaknya kau harus menghargai pernikahan mu sekarang,"


"Kau ingin aku melupakan Rose?" Ashoka memicingkan matanya menatap wanita cantik berambut sebahu itu.


"No!" sontak saja Via menjawabnya. "kau tidak harus melupakan Rose, tapi kau cukup mengenangnya saja, apa yang sudah tiada tak akan pernah kembali, dia hanya bisa di simpan sebagai kenangan,"


Ashoka tercenung mendengar perkataan demi kata yang dilontarkan Via, wanita berusia 30 tahun itu selalu mempunyai kharisma tapi sangat disayangkan, dia seorang wanita yang tidak mau melahirkan anak. Padahal kodrat dari seorang wanita adalah melahirkan, Via lebih mengutamakan karirnya. Dan soal perasaan, Ashoka hanya menganggap Via sebagai rekan bisnis, tidak lebih dari itu.


"Apa yang sedang kamu kerjakan? Bukankah sketsa ini harus sampai ke bagian divisi?" Via melihat beberapa desain gambar gedung pencakar langit di atas meja kaca.

__ADS_1


Ashoka melihat beberapa gambar yang dirancangnya beberapa hari belakangan ini, itulah sebabnya dia tidak mempunyai banyak waktu untuk memperkenalkan Ayu pada Ayna dan karena respon Mama Mega sangat buruk terhadap Ayu, dia mengulur waktu sampai pada hari H tiba.


"Aku harus mengamatinya terlebih dahulu, karena Gading sempat mengambil alih proyek ini, dan seperti yang kau tau, Gading selalu membuat hal mudah menjadi sulit,"


"Karena dia mengincar posisi mu," celetuk Via.


Ashoka menggendikkan pundaknya, dia tahu jikalau Ibu dan adik tirinya selalu ingin bersaing dengannya dalam meraih hati para tender proyek, Ashoka heran dengan kedua orang itu, mengapa tidak bekerjasama saja dengan-nya, dibandingkan melawan.


"Biarkan saja mereka melakukannya, bagaimana pun juga mereka anggota keluarga ku."


"Kau terlalu baik Ashoka, aku berharap kebaikan mu tidak di manfaatkan oleh orang-orang yang ingin mengambil keuntungan dari kebaikanmu,"


"Ucapanmu terlalu berlebihan, padahal kau tau aku pria yang terkenal angkuh dan mempermainkan banyak wanita."


"Aku heran, dari mana rumor itu berasal. Pasalnya selama aku mengenalmu, kau terlalu cuek pada wanita yang mencoba mencuri perhatian mu, termasuk juga aku," Via tersenyum getir mengingat cintanya pada Ashoka yang bertepuk sebelah tangan. "tapi semoga saja kau bisa membuka hati untuk istrimu saat ini."


Ashoka menerawangkan pandangannya menatap keluar jendela kantornya. Terlihat ada jumpatan awan yang berarak.


"Entahlah, kalau dia bisa menjadi Ibu yang baik untuk putriku, maka aku akan mempertimbangkan hatiku." jawab Ashoka biasa saja.


Terdengar suara keributan di luar ruangan Ashoka.


"Ashoka.." wanita ini memang selalu tergila-gila dengan Ashoka Bratajaya. Siapa lagi jika bukan Jamila.


Via tersenyum tipis, ia langsung beranjak dari duduknya. "Kau harus bisa menyingkirkan ulat, kalau kau mau pernikahan mu langgeng." ucapnya pada Ashoka, lalu keluar dari ruangan.


"Maaf tuan, saya sudah menjegal nona Jamila, tapi dia memaksa dan membuat keributan." Tarjo berdiri sembari menundukkan kepalanya.


"Kau, apa yang kau lakukan di sini Jamila?" Ashoka berkata dingin menatap wanita yang kini sudah bergelayut manja di lengannya.


"Tentu saja ingin menemui mu sayang, lihat aku bawakan makan siang untuk mu." ucap Jamila manja, lalu meletakkan kontak makan siang di meja Ashoka.


**


Jam pelajaran di sekolah telah usai, kini Ayu dan Ayna sudah berada di dalam mobil yang tadi pagi mengantarnya ke sekolah. Dalam pikiran Ayu bingung dan kalut, biasanya setelah pulang mengajar maka dia akan pergi ke kampus, dan pada sore harinya Ayu akan bekerja paruh waktu di cafe.


Sebagai seorang wanita yang mandiri, Ayu selalu ingin bisa merasa bebas dan melakukan semua kegiatannya. Ayu juga mengajar anak-anak di desa-desa terpencil yang jauh jaraknya bisa mencapai 20 km.

__ADS_1


Ayu memang tidak sendiri dalam menjalani kegiatan mengembangkan ilmu pelajaran di sekolah pada anak-anak yang kurang mampu untuk sekedar membayar guru privat, dia bersama dengan komunitas peduli anak bangsa akan melakukan itu saban 3 hari seminggu. Tapi jika mengingat sekarang ini, sepertinya akan sulit untuk dilakukan.


Haruskah aku menekan kebebasan ku, haruskah aku menekan kuliahku. Anak ini sejak tadi terus memintaku memangku nya, mungkin dia kangen dengan Mamanya.


Dilematis dalam keadaan seperti ini, Ayu hanya bisa menghela nafas berulang kali. Ingin meninggalkan Ayna juga kasihan, pastilah anak kecil ini selalu kesepian di rumah hanya dengan pelayan dan Oma-nya.


"Ayna suka kangen sama Mama Ayna nggak?" Ayu bertanya sangat pelan, hatinya juga dilanda penasaran.


"Kangen," Ayna menadahkan wajahnya menatap Ayu dari bawah. "kata Dady, Mama Ayna meninggal waktu lahilin Ayna, dan Mama juga sudah bahagia di sulga, kata Dady Ayna halus bahagia, tapi gimana Ayna bahagia sedangkan teman-teman selalu beyceyita meleka di pelhatikan sama Mama meleka sedangkan Ayna?" Ayna menjawab dengan nada biasa, tangannya masih memeluk punggung Ayu. Lalu kembali bersandar ke dada Mama tirinya.


Hati Ayu langsung tercekat mendengar ucapan Ayna. Ya Allah sedih banget, Ayna tidak pernah bertemu dengan Mamanya. Mata Ayu langsung berair. Di peluknya tubuh mungil Ayna, seolah merasakan betapa anak sekecil ini merindukan sosok seorang Ibu.


"Apa Ayna tidak pernah mengadukan kejahilan teman-teman di sekolah saat mengganggu Ayna?" tanya Ayu, membersamai dengan gerakan tangan perlahan membelai rambut hitam gadis kecil yang nampak nyaman dalam dekapannya.


Ayna menggelengkan kepalanya, "Enggak,"


"Kenapa?" Ayu menatap Ayna dari ujung kepala.


"Ayna kasihan sama Dady, kata Om Taljo, Dady udah bekelja kelas di kantoy dan seling pulang malam. Seyingkali Ayna kangen sama Dady, Ayna pengen celita, tapi Ayna takut Dady sedih."


Ayna semakin membenamkan wajahnya di dada Ayu, dia merasa sangat nyaman.


Sekali lagi, hati Ayu terenyuh mendengar perkataan Ayna yang cenderung lebih mengerti dari anak seusianya, mungkin karena gadis kecil ini selalu diajarkan untuk mandiri sejak usia dini.


Ayu kembali teringat dengan beberapa poin penting yang diberikan oleh Ashoka, dari mulai Ayna bangun sampai tidur. Poin pertama sudah dipelajarinya dari Bik Marni, dan poin kedua adalah menemani kemanapun Ayna pergi. Dan sepulang sekolah ada beberapa les private yang akan datang ke rumah ataupun Ayna akan datang ke tempat les.


"Mbak Husna, Ayna mau ke kantoy Dady." kata Ayna merasa kangen dengan Dady Ashoka, jika pada saat-saat tertentu maka sepulang sekolah ia ingin menyambangi kantor Dady Ashoka.


"Baik nona." jawab Husna, lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Ayu tertegun mendengar perkataan Ayna yang mendadak ingin menyambangi kantor Ashoka. Namun ia tak memberikan tanggapan.


Tak sampai satu jam, mobil pun sampai di depan gedung yang dijadikan kantor utama dari perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi.


Seorang satpam sigap membukakan pintu mobil, karena mereka tahu jikalau mobil ini adalah mobil pribadi Ayna.


...*****...

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2