Pengantin Tuan Ashoka

Pengantin Tuan Ashoka
Harta, tahta tak selalu membuat bahagia


__ADS_3

Mobil mewah yang dikemudikan Husna telah sampai di parkiran sekolah. Dan benar seperti yang Ayu sangkakan, pastilah akan mengundang perhatian orang-orang yang berlalu lalang dilingkungan sekolah. Lebih lagi bukan hanya satu mobil, ada mobil pribadi Ashoka yang dibawa oleh Tarjo di belakang mobil V-Class ini.


Ayu merasa degup jantungnya bertalu-talu. Melihat tatapan orang-orang padanya, lebih lagi beberapa guru senior yang mengetahui tentang pernikahannya dengan Ashoka.


Aku berasa telah bertransformasi dari motor butut ke mobil V-Class, bukankah ini sesuatu hal yang sangat liar untuk diperbincangkan?


Perhatian orang-orang semakin mencolok, setelah Ashoka turun dari mobil, pria gagah nan rupawan berwajah tampan dan berkharisma ini selalu bisa mencuri perhatian wanita-wanita yang melihatnya. Ayu sendiri tidak tahu, seperti apa sebenarnya peranan pekerjaan suaminya, yang dia tahu Ashoka hanyalah pengusaha yang mempunyai bisnis simpan pinjam, atau bisa jadi ada usaha yang melebihi ini.


"Dady salim?" Ayna mengulurkan tangannya ke hadapan Ashoka. Sungguh etika yang baik bukan? Jika seorang Ashoka yang terkenal angkuh dan dingin ini sampai mengajarkan cara kesopanan pada orang yang lebih tua.


Ashoka tersenyum lebar lalu sedikit membungkukkan punggungnya, dan menjabat tangan mungil putrinya, ia lantas berbisik di telinga Ayna. "Jika ada teman yang mengejek ataupun menanyakan di mana Mama mu, maka tunjukkan jika Bu guru Ayu adalah Mamamu, dan kau juga harus terbiasa memanggil Bu guru Ayu mu dengan sebutan Mama, bukankah kau anak yang genius untuk bisa memahami apa yang Dady katakan?"


Tatapan Ayna langsung mengarah pada Ayu yang masih berdiri dengan berusaha menutupi sebagian wajahnya. Karena wanita yang lebih dia kenal sebagai gurunya ini, sekarang sedang menjadi pusat perhatian orang-orang dilingkungan sekolah.


Ayna kembali menatap Dady Ashoka, kemudian mengangguki ucapan Dady Ashoka. Ayna cukup tahu, seperti apa teman-temannya mengejek, dan ia juga tidak pernah mengadukan pada Dady, bahwa ia sering di ejek karena tidak mempunyai wanita yang bisa dipanggil Mama. Saat-saat seperti itulah, Bu guru Ayu akan memeluknya.


"Baik Dad." ucap Ayna, memahami apa yang di katakan oleh Dady Ashoka.


Ayna meraih tangan Ibu tirinya, "Ayo Ma."


Ayu tertegun mendengar Ayna memanggilnya dengan sebutan 'Ma. Apa yang dibisikkan Ashoka pada anaknya, mungkinkah sedang membicarakan soal panggilan untuk dirinya. Jadi, semudah inikah gadis kecil ini menerimanya sebagai Mama, atau hanya sekedar menuruti perintah sang ayah.


Sebagai guru meskipun belum lama mengajar di sekolah ini, Ayu cukup tahu jikalau karakter Ayna di kelas cenderung pendiam. Namun yang membuatnya bingung, kenapa tidak pernah melihat Ashoka mengantar Ayna ke sekolah. Jika bukan karena pernikahannya kemarin, pun dia tidak tahu jika Ashoka adalah Ayah dari Ayna.


Mereka ini sangat misterius bagiku, selama ini aku hanya melihat kedua bodyguard yang menunggu Ayna di depan gedung sekolah. Sekarang justru bodyguardnya tinggal satu, apakah karena aku?


"Kau tidak mau memberikan contoh yang baik untuk Ayna?" Ashoka berkata tanpa melihat Ayu.


Ayu meraih tangan Ashoka lantas menciumnya. "Hati-hati di jalan."


Ayu segera menggandeng tangan Ayan, ia ingin segera masuk kedalam gedung sekolah. Pasalnya sekarang dia seakan-akan menjadi pusat perhatian orang-orang yang berada dilingkungan sekolah. Bahkan oleh rekan gurunya yang mengetahui pernikahannya dengan Ashoka.


Ashoka melihat kepergian Ayu dan Ayna yang semakin menjauh dan masuk kedalam gedung sekolah. Ashoka tidak merasa takut lagi, semenjak ada guru Ayu di sekolah. Dia sudah lama mengetahui kedekatan Ayna dan Ayu.


"Tuan mobilnya sudah siap." Tarjo berdiri di belakang Ashoka.


Ashoka kembali melanjutkan perjalannya menuju perusahaan dengan mobil yang dibawa Tarjo, sedangkan mobil yang dibawa Husna standby di parkiran sekolah.

__ADS_1


Ashoka ingin bergegas menuju kantor, ia tidak mau sampai Gading mengacaukan perusahaan dengan ide gila adik tirinya. Gading bukan hanya merepotkan, akan tetapi juga seringkali membuat kesal.


**


Di koridor sekolah, Ayu memahami pandangan orang-orang yang kini sedang memandangnya seperti tatapan mengintimidasi. Gila! Siapa yang tidak tertarik dan ingin mengetahui, mengapa bisa seorang guru TK yang setiap harinya memakai motor butut, tiba-tiba di antar menggunakan mobil mewah.


Terlebih saat pesta pernikahan kemarin, ada beberapa tamu dari pihak sekolah yang hadir. Ayu ingin mereka mengenalnya sama seperti Ayu sebelum menjadi istri Ashoka. Ayu merasa mereka tidak perlu segan padanya seperti saat ini, saat mereka biasanya tak acuh kini menyapanya.


Ayu ingin segera sampai di kelasnya mengajar, tapi suara yang sangat familiar terdengar dari belakang.


"Ayu..."


Ayu langsung menghentikan langkahnya, begitu juga dengan Ayna. Mereka menoleh dan melihat Wali guru di TK kelas B sekaligus teman kuliahnya.


"Ya ada apa Sita?" Ayu bertanya masa bodo, melihat wajah Sita yang seolah sedang mempersiapkan berbagai macam pertanyaan.


Ayu melihat Ayna yang juga sedang memperhatikannya. Dia lalu berlutut di hadapan gadis kecil yang sejak tadi menggenggam tangannya.


"Ayna masuk kelas dulu yah, Bu guru mau bicara sebentar sama Bu guru Sita." Ayu memegang kedua pundak Ayna.


"Khusus di sekolah, Ayna boleh memanggil Bu guru Ayu seperti biasanya ya sayang." Ayu mengusap pipi gembul Ayna.


"Oke." Ayna mengangguk singkat, lalu melepaskan genggamannya dan menjauhi Ayu, Lantas berjalan menuju ruangan kelasnya.


Sita memperhatikan penampilan Ayu yang hari ini terkesan feminim, tidak seperti hari-hari sebelumnya lebih ke tomboi. "Ada apa dengan pakaian mu hari ini?"


"Tidak ada, aku hanya ingin terlihat feminim?" jawab Ayu santai, agar tidak berkesan sedang gugup.


"Bagaimana pernikahan mu? Apa suamimu adalah Ashoka Bratajaya?" Sita memang selalu saja berbicara apa adanya.


Ayu menatap teman kuliahnya, meskipun dekat dan cukup akrab dengan Sita. Tapi Ayu bukanlah tipe orang yang suka curhat ketika ada masalah, jadi Sita tahu darimana, apa mungkin dari pihak yayasan sekolah yang mengedarkan pernikahannya?


Melihat Ayu hanya diam, Sita kembali berkata. "Aku melihatmu di depan, kau di antar memakai mobil mewah, dan juga aku melihat suamimu Ashoka. Kau hebat bisa menikahi pria tajir seperti Ashoka, dan kau cukup jahat, karena kau tidak bercerita padaku, bahwa kau akan menikah dan juga tidak mengundang ku. Padahal ku kira kau akan menikah dengan Rudi. Mengingat kalian sudah lama berpacaran,"


"Berita tentang pernikahan ini seperti bola liar, cepat sekali menyebar. Padahal Ashoka tidak mengizinkanku mengundang satupun temanku. Entah apa alasannya, aku juga tidak tahu." Batin Ayu mengalihkan atensinya, dia kembali teringat tentang Rudi.


Ah iya, soal Rudi. Pria brengsek itu telah berkhianat saat Ayu akan datang ke kosan Rudi untuk menceritakan tentang pernikahannya dengan Ashoka tiga hari lalu dan berharap Rudi akan memberinya solusi. Tapi Ayu malah memergoki adegan panas Rudi dan Heni di dalam kamar kosan Rudi. Dan itulah yang membuat Ayu mengerti bahwa yang saling mencintai saja tidak harus berakhir di pelaminan.

__ADS_1


Lama mendiamkan Sita, Ayu tersenyum simpul melihat teman kuliahnya yang sedang menunggu jawaban darinya.


"Sita, sebelumnya aku minta maaf. Aku tidak pernah bermaksud untuk mengabaikan mu, tapi aku punya alasan kenapa aku sampai menikah dengan Ashoka dan bukannya Rudi. Ayu benar-benar minta maaf tidak mengundang mu,"


Ayu menunduk sembari meremass jemarinya yang terkepal. Mungkin orang-orang akan menganggapnya hebat dan mengira pernikahan ini membawa keberuntungan bagi siapapun yang menikahi Ashoka. Tapi mengapa, Ayu tidak merasa bahagia, mungkin karena keterpaksaan untuk melunasi hutang. Sesuatu apapun yang digarisbawahi dengan kata 'terpaksa' pastilah tidak menyenangkan.


"Apa kau bahagia?" Sita melihat Ayu tidak merasa bahagia dengan pernikahannya.


"Apa kau melihat ku bahagia, Sit?" Ayu mengangkat wajahnya bersitatap dengan sorot mata Sita. Ia balik bertanya.


Sita memperhatikan raut wajah Ayu yang tidak bahagia atas pernikahan ini. Mungkin lain jika ia yang menikahi pria tajir seperti Ashoka. Tapi, semua hal yang berbau tentang harta dan tahta tidak selalu membuat bahagia.


"Mungkin jika aku jadi dirimu, aku akan bahagia. Tapi ku lihat, kau sama sekali tidak bahagia," Sita menepuk pundak Ayu. "sabar, pasti ada hikmah yang bisa dijadikan pelajaran. Dan anggap saja, kau mendapatkan keberuntungan setelah berpisah dari si cabull, Rudi."


Ayu kembali menyadari bahwa rasa pengkhianat Rudi teralihkan sebab pernikahan ini.


"Kau tahu darimana soal Rudi melakukan....?" Ayu menjeda ucapannya, ia tak sanggup lagi untuk mengatakan pengkhianatan Rudi.


Sita tersenyum tipis, ia tahu bahwa Ayu adalah teman yang introvert. "Aku tau, setelah kau mendobrak pintu kosan Rudi tiga hari lalu, warga di sekitar langsung menggerebek dan meminta agar Rudi segera menikahi Heni, dan hal itu cukup gempar di media sosial. Apa kau tidak membuka media sosial akhir-akhir ini?"


Ayu tercengang mendengarnya. Setelah mendobrak pintu kosan Rudi dan mengatakan kata putus detik itu juga. Ayu segera berlari sekencang-kencangnya menjauhi kosan sang mantan pacar.


"Sudah, lupakan Rudi." Sita menepuk bahu Ayu, hingga membuat temannya itu membuyarkan lamunan.


"Makasih Sita, maaf karena aku tidak mengundang mu kemarin. Jujur dia tidak mengizinkan ku mengundang siapapun," Ayu bersuara sendu, dia menyesali ini, karena hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia dan bersejarah untuknya mengharap bisa mengundang banyak orang, tapi nyatanya realita tidak semanis rencana.


"Sudah tidak apa-apa, asalkan kau mentraktirku ku, kata maaf mu pasti ku terima," balas Sita menggenggam tangan Ayu.


Ayu mengangguk sekilas, lalu melihat jam di pergelangan tangannya, waktu sudah menunjukkan masuk kelas untuk mengajar.


"Sita, sepertinya kita harus mengakhiri obrolan, karena sudah waktunya mengajar anak-anak."


"Baiklah." sahut Sita, lalu mengakhiri percakapan dan masuk ke dalam kelas masing-masing.


...*****...


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2