Pengantin Tuan Ashoka

Pengantin Tuan Ashoka
Turbulensi


__ADS_3

"Apa kau bisa memijat kepala ku?" Ashoka membuka suara sesampainya di dalam kamar, ia tidak membawa Ayu ke kamar pribadinya. Tapi kamar yang di tempati Ayu lah ia sekarang.


Ayu merasakan telinganya berdengung saat Ashoka bertanya. Ada juga perasaan canggung ketika hanya berdua apalagi dalam situasi yang dirasa tegang, sampai-sampai keringat dingin mulai membasahi telapak tangan. Ayu hanya menjawab pertanyaan suaminya dengan anggukan kecil.


Ashoka duduk di sofa yang memang mempunyai desain seperti sofa untuk berbaring. Ia mulai membaringkan tubuhnya yang telah lama menahan pegal dan lelah, lantas memejamkan matanya.


Hari ini ketika mendapatkan berita yang tidak mengenakkan tentang Ayu dan Ayna, ia sampai meninggalkan meting di hotel Winners begitu saja, satu proyek Mega besar di pulau Dewata Bali harus tertunda. Paling tidak setelah merasakan hal yang membuat hatinya bergejolak khawatir, Ashoka ingin sedikit merefleksikan perasaan juga pikiran.


"Apakah anda sakit?" Ayu melihat Ashoka yang sudah berbaring di sofa dekat jendela, dilihatnya suaminya itu terlihat sangat tampan saat sinar senja kekuningan menerpa wajahnya.


"Tidak!" Ashoka berkata tanpa membuka matanya.


"Tapi anda terlihat tidak sehat, apa sebaiknya saya buatkan minuman yang bisa mengembalikan mood anda?" Ayu memerhatikan wajah suaminya, ia terpesona dikarenakan ketampanan wajah itu.


"Tidak perlu!" Ashoka menjawab tegas. "apa kau tidak mendengar perkataan ku. Kau hanya perlu melakukan tugas yang aku katakan, jangan sampai aku mengulanginya." meskipun dengan mata terpejam tapi Ashoka tahu bahwa istrinya itu masih mematung ditempatnya berdiri.


"Eh, iya." Ayu menjawab dengan jantung dag-dig-dug pyar, kerap kali mendengar suara Ashoka yang terdengar tegas seolah menandakan bahwa pria itu seorang pemimpin yang hebat. Ayu mulai melangkahkan kakinya menuju sofa.


Ayu berdiri di belakang sofa, dimana kepala Ashoka berada. Akan tetapi pada saat akan menjulurkan tangannya, suara Ashoka kembali mengejutkannya.


"Kenapa kau malah berdiri di belakangku, apa kau mau menikam ku. Apa aku menyuruh mu berdiri di sana?" kali ini Ashoka membuka matanya, melihat Ayu dari bawah dagu.


Ah elah ni orang, kalau ngomong nggak pakai salam atau tanda-tanda, kan aku jadi kagetan! Ayu menatap Ashoka malas.


"Terus saya mesti bagaimana, anda tidak menjelaskan dimana saya memposisikan diri saya, anda hanya menginginkan saya memijit kepala anda," Ayu menepiskan rasa gelisah nya, yang kerap kali merajam saat berdekatan dengan pria yang berbeda usia 13 tahun ini.

__ADS_1


"Apa kau ingin berdebat denganku? Atau kau ingin aku selalu menuntun mu, bukan kah kau ini bukan anak kecil yang selalu harus di ajari?" Ashoka mengalihkan posisi menjadi duduk, sorot matanya tak lepas dari Ayu.


Dia ini sebenarnya ngomong apa sih, aku jelas nggak mudeng! 'Kan aku serba salah. Ayu mendengus kesal.


"Baiklah, saya akan mengikuti arahan anda. Tapi tolong jangan bicara sepatah dua patah kata saja. Saya sedang tidak bermain teka-teki tapi ketika saya berbicara dengan anda, seolah saya sedang memainkan permainan itu. Saya juga masih harus menyesuaikan diri terhadap anda," Ayu berkata bersuara menahan kesal. Tapi setelah mengatakan itu, Ayu merasa ia seperti telah mengeluarkan unek-uneknya.


Hahhh kenapa rasanya enteng, andai saja keberanian ku selalu standby seperti ini. Aku tak merasa gelisah dan risau saat berhadapan dengan pria ini. Ayu menghela nafas panjang, ia merasa sedikit lega.


"Begitu yah?" Ashoka manggut-manggut, ia melihat Ayu memang masih terlihat lugu. Tidak seperti kebanyakan wanita yang selalu mencoba untuk menggodanya.


Hahh... gadis ini benar-benar tidak tau cara memanjakan suaminya. Desah Ashoka, netranya melihat tangan Ayu, ia meraih tangan itu. Lantas menariknya sampai pada istri mudanya ini jatuh dalam pangkuannya. Netranya melihat wajah Ayu yang terkejut bukan main sampai mata gadis ini terbelalak.


Jantung yang sejak tadi sedang mengalami turbulensi kini seperti lebih kepada terkena serangan badai. Ayu bukan lagi terkejut, lebih tepatnya mungkin terperangah kala tangannya tanpa aba-aba di tarik paksa oleh tangan kekar Ashoka, hingga kini posisinya sangat dekat dan amat dekat.


Ayu menyadarkan diri dari rasa tertegun. Netranya tak kuasa kala berlama-lama menatap sorot mata Ashoka yang seolah mempunyai nilai magis, ia memalingkan wajah. "Apa yang anda lakukan kenapa anda melakukan ini, bukankah anda meminta saya untuk memijit kepala anda? Tolong lepaskan saya."


"Eh!" Ayu terlonjak kaget, ia tak bisa berbuat apa-apa kecuali terperangah dengan apa yang dilakukan suaminya yang selalu bertindak sesuka hati. Ia mengangkat tangannya keatas saat melihat Ashoka sudah berbaring di pangkuannya.


"Aku sudah bilang, pijat kepalaku. Jangan banyak bertanya, jangan banyak bergerak dan jangan mengajukan protes!" runut Ashoka berkata. Ia berbaring miring menghadap perut Ayu, tersenyum tipis sesaat kemudian mulai memejamkan matanya.


Netra Ayu masih membulat sempurna melihat hal ajaib yang dilakukan suaminya. Entah manja atau apalah, tapi aku rasa dalam situasi seperti ini, tidaklah menguntungkan ku. Dia seenaknya saja berbuat sesukanya tanpa menunggu ataupun meminta persetujuan dariku. Beginilah rasanya kalau menikah dengan pria kaya berlandaskan pelunasan hutang. Sungguh tak ada harga dirinya.


Ayu menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, olahraga pernafasan ia lakukan sebanyak tiga kali. Dikarenakan merasa tidak nyaman dalam posisi seperti ini, tapi malah mengundang singa ini berbicara.


"Kenapa kau olahraga nafas, apa kau merasa keberatan jika aku berbaring dipangkuan mu?" Ashoka berbicara dengan suara pelan, tapi karena cengkok suaranya yang sudah berciri khas serak basah seperti suara Vino G Bastian maka hal seringan apapun yang diucapkannya terdengar berat. Dan sebanyak Ayu menghela nafas sampai silir-silir mendera telinganya.

__ADS_1


Belum juga dapat menetralkan perasaan gugup dan canggungnya. Ayu kembali terpekur. "Tidak, kenapa anda berpikir saya keberatan?"


"Apa kau tahu nafasmu itu bau jika kau terus melatih pernafasan mu, kau menginginkan aku pingsan lalu kau berpikir akan bebas untuk menggerayangi tubuh ku ini?" ucap Ashoka penuh bangga dengan tubuhnya yang memang berotot dikarenakan sering berolahraga. Ia mengalihkan posisinya berbaring dari yang sebelumnya miring menjadi menghadap wajah Ayu. Dilihatnya sang istri tertegun dan melihatnya.


"Bau?" Ayu mengulangi kata bau yang di ucapkan suaminya. Ia merasa minder, lantas menaruh telapak tangan di depan mulutnya. Aku nggak merasa mulut ku bau, perasaan belum lama aku menyesap permen rasa mint.


Dasar sinting! Sebenarnya singa ini ngomong apa dari tadi membuat otakku blank!


"kalau nafas saya bau, akan lebih baik jika anda mengurungkan niat anda untuk saya memijit kepala anda, tuan. Saya juga bukan wanita penggoda. Jadi meskipun anda pingsan, saya pastikan secuil pun saya tidak akan menyentuh," Ayu merasa mempunyai alasan yang sahih agar Ashoka tidak jadi memintanya untuk memijit nya.


"Iya bau mints, permen apa yang kau sesap tadi? Baunya enak," Ashoka menahan tawa melihat ekspresi yang diperlihatkan Ayu yang cengo, perutnya serasa digelitiki. Ia mengangkat tangannya lalu, saat akan mendekatkan tangannya ke kening Ayu, istrinya ini malah memejamkan mata.


Jangan menjitak keningku lagi, waktu itu saja sampai beberapa hari baru sembuh... please.. please.. Ayu masih memejamkan matanya seraya berdoa dengan harapan Ashoka tidak menyentil keningnya. Bukan apa-apa, bukan karena tak bisa menahan rasa sakit. Hanya saja, sentilan tangan Ashoka persis seperti di timpuk pakai batu kerikil. Dan Ayu pernah merasakan di timpuk pakai batu kerikil saat itu usianya 9 tahun.


Dia itu manis kalau diam seperti ini. Ashoka masih melihat Ayu yang memejamkan mata. Akan tetapi sesaat kemudian ia baru saja tercenung. Apa yang salah dariku. Kenapa aku suka menggodanya, aku bukan anak SMP lagi, bukan lagi pria remaja yang baru saja merasakan fallin love 'kan. Apakah aku masih pantas jika merasakan masa-masa kasmaran? Ah bullshit!


"Kenapa kau memejamkan mata?" Ashoka mengusap-usap kening Ayu, ia melihat Ayu terlonjak kaget.


Eh dia mengusap-usap keningku? kesambet beneran nih orang! Ayu membuka netranya, dan melihat tangan Ashoka sudah turun dari keningnya.


"Apakah melihat saya takut merupakan hobi baru anda tuan?" Ayu berkata dengan gigi dikeramatkan, ia merasa dipermainkan.


Dahi Ashoka mengerut. Dilihatnya wajah Ayu berubah menjadi lebih garang. Tatapannya pun tak seteduh biasanya, kini sorot mata itu nampak sinis. Ashoka menarik satu bibirnya menjadi tersenyum miring. "Kau pernah bilang, kalau kau tidak takut apapun kecuali Allah, yang selalu kau banggakan itu?"


Ayu tertegun mendengar jawaban Ashoka yang menohok. Ia rasa Ashoka selalu saja bisa membuatnya tersudut jika berdebat. Pria ini selalu bisa mencari celah atas kesalahannya. "Bukan takut karena anda menakutkan, hanya saja sikap anda seperti cuaca. Sulit untuk diprediksi."

__ADS_1


...*****...


Bersambung....


__ADS_2