
Ayu panik mendengar Ashoka menggeram.
"S-saya minta maaf.." Ayu melihat Ashoka seperti menahan sakit di dagunya. Dia juga bingung dengan adanya Ayna yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar.
"Kau membuat hidungku sangat sakit." ucap Ashoka berdengung di sebalik telapak tangannya yang menutupi dagu sampai ke hidung.
Ayna bingung dengan situasi yang terjadi saat ini di kamar Dady-nya. Gadis kecil ini masih memeluk boneka dengan rambut acak-acakan khas orang bangun tidur. Tangan mungilnya mengucek mata, dan menyibakkan tirai kabut yang menghalangi pandangan mata. Lalu berjalan mendekati Dady-nya yang sempat mengerang dan sedang menutup mulut.
"Dady apa yang teljadi, kenapa Bu gulu Ayu di kamal Dady?" Ayna menatap Ayu dengan tatapan bertanya-tanya. Pesta kemarin belum dapat di cernanya, dan masih menganggap keberadaan gurunya masih terasa asing.
Meskipun bingung untuk menjawab apa, namun Ayu masih berusaha untuk tenang. Lalu dia berlutut dihadapan Ayna.
"Bu guru di sini sedang membantu Dady mu." jelasnya.
Ayna beralih menatap Dady-nya yang terduduk di sofa, sedang tangannya masih menutup mulut. "Telus kenapa Dady menutup mulut, apa Dady saliawan?"
Ashoka membuka telapak tangannya yang sejak tadi menutupi dagu dan hidungnya. Alih-alih menjawab pertanyaan Ayna, Ashoka justru berkata terus terang. "Ayna, sepertinya kau harus memanggil Bu guru Ayu dengan sebutan Mama, sekarang dia Mama mu. Bukankah kau menginginkan Mama?"
Ayu dan Ayna terkejut bukan karena mendengar jawaban Ashoka, akan tetapi mereka melihat hidung Ashoka mengeluarkan darah.
"Dady mimisan?" Ayna berdiri di depan Dady Ashoka, melihat darah keluar dari hidung sang Ayah.
"Ka-kau berdarah?" Ayu membulatkan matanya, lalu segera tanggap untuk mengambil tissue.
Ashoka mengusap darah segar yang mengalir dari hidungnya. Darah segar itu terlihat di jari telunjuk.
"Ini pasti karena kepalamu, kenapa bisa kau mempunyai kepala sekeras batu!" Ashoka menatap Ayu dingin, dilihatnya istrinya itu mendekat setelah mengambil kotak tissue.
"Maaf, saya minta maaf, sumpah saya tidak sengaja melakukannya," Ayu mengusap darah segar di atas bibir Ashoka. Saat seperti ini, pandangannya langsung bertemu pandang dengan netra Ashoka yang seolah menariknya masuk ke dalamnya, Ayu segera memalingkan wajah.
Ashoka merasakan hal lain dalam diri Ayu, ia merasa tertarik pada reaksi kepanikan yang ditunjukkan Ayu padanya. Apa karena memang sudah lama dia tidak bersentuhan ataupun tidak diperhatikan oleh wanita. Sehingga perasaan ini muncul?
Semua yang dilakukan Ayu tak lepas dari sorot mata Ayna, gadis kecil ini tidak mengerti kesalahan apa yang dilakukan oleh gurunya, sampai harus meminta maaf secara berulang. Seolah takut Dady Ashoka akan marah.
"Apa sekalang Dady sudah tidak apa-apa? Coba Ayna lihat?" Ayna mengecek wajah Ashoka, darah tidak lagi keluar. "Sudah tidak kelual lagi dalahnya, Dad." lanjutnya setelah memeriksa.
"Benarkah?" jawab Ashoka, lalu menarik Ayna dan duduk disebelahnya.
"Tadi Dady belum jelasin kenapa Ayna halus sebut Bu gulu Ayu Mama? Kata teman-teman Ayna, jika Dady menikah, dan Ayna punya Mama balu, Mama balu itu jahat, sepelti Mamanya Utia," jelas Ayna kembali mengingat ucapan teman-temannya di sekolah.
__ADS_1
Ayu tergelak mendengar penjelasan Ayna, ia tahu bahwa rumor tentang Utia yang merupakan salah satu muridnya mendapatkan perlakuan tidak baik dari Ibu tirinya. Tapi, ia juga tidak menyangka ternyata, Ayna menyaring pemberitaan yang sempat beredar di lingkungan sekolah TK. Selama menjadi guru Ayna, Ayu mengenal gadis kecil ini sebagai gadis yang pendiam dan murung.
Ashoka menatap Ayu, yang sedang menatap Ayna. Ini memang salahnya, karena tidak menjelaskan lebih dulu mengenai Ayu pada Ayna, dan kembali mengingat pernikahan ini merupakan atas dasar pelunasan hutang. Serta akibat saking sibuknya pekerjaan di kantor, Ashoka tidak mempunyai waktu untuk menjelaskan pada Ayna.
"Ayna, pelan-pelan kau akan mengerti." ucap Ashoka membelai rambut putri kecilnya.
"Tapi Dad, kata teman-teman Ayna juga bilang, kalau Utia yang nakal, jadi Utia di hukum sama Mama balunya," Ayna beralih menatap Ayu. "kalau begitu Ayna tidak akan nakal, supaya Ayna tidak di hukum." lanjutnya lagi dengan ucapan polosnya, dia tidak mengerti tentang dunia orang dewasa.
Ayu terpaku mendengar celotehan Ayna. Lantas berlutut di depan gadis kecil yang juga muridnya. "Tidak ada anak kecil yang nakal, dan tidak ada orang tua yang jahat, semua itu terjadi karena mereka yang membicarakan tidak lebih baik dari orang yang mereka bicarakan, jadi saran Bu guru jangan membiasakan mendengar pembicaraan orang lain."
Ayna mencerna semua yang dikatakan Bu guru Ayu, sama seperti yang terjadi di sekolah. Ucapan Ayu selalu bisa di pahami olehnya, bahkan ketika ada beberapa teman yang mengejek nya tidak punya Mama, maka Bu guru Ayu lah yang akan membelanya.
Ashoka terpaku melihat wajah Ayu yang tampak tenang dalam menjelaskan situasi membingungkan ini pada Ayna. Sebelum Bahar menunjukkan foto Ayu, Ashoka sebenarnya sudah tahu siapa Ayu. Hanya saja, ia baru tahu jikalau Ayu merupakan anak gadis Bahar.
"Bukankah hari ini kita harus ke sekolah, jadi ayo Bu guru siapkan pakaian untukmu." ucap Ayu sebagai pengalihan arus pembicaraan. Inilah status barunya, hari pertama menjadi istri Ashoka. Ia juga merasa sudah cukup untuk ambil cuti selama tiga hari, tak masalah dengan pernikahan ini.
Ayna mengerjap-ngerjapkan matanya menatap Ayu. "Apakah Bu gulu Ayu akan tinggal di sini?"
Ayu tersenyum membersamai dengan anggukan tipis. "Iya, itupun jika Dady mu mengizinkan Bu guru."
"Asyiiik... ayolah Dad, izinkan Bu gulu Ayu tinggal belsama kita, boleh kan Dad, boleh yah?" Ayna menatap sang Ayah dengan tatapan memelas.
"Baiklah." jawab Ashoka, lalu menciumi pipi gembul putri kecilnya.
"Geli Dad.." Ayna turun dari sofa, lalu menggandeng tangan Ayu. "ayo Bu gulu, Ayna tunjukkan kamal Ayna. Semuanya belwalna pink, kalena Ayna syuka sekali dengan walna pink."
Ashoka meraih tangan Ayu yang akan menjauhinya. Lalu berdiri tiada jarak di antara dirinya maupun Ayu.
"Mama, kau harus membiasakan diri untuk menyebut mu Mama di hadapan Ayna." bisik Ashoka di telinga Ayu, sontak saja dia langsung mendapatkan tatapan intimidasi dari mata Ayu.
"Biarkan Ayna menyesuaikan diri. Saya mohon, karena tidak baik memaksanya, bila dia belum mengerti. Pernikahan ini terjadi karena waktu yang sangat singkat, dan sebelum ini kita tidak mengenal satu sama lain." tukas Ayu, lalu keluar dari kamar Ashoka.
Ashoka tidak menghentikan Ayu, saat membicarakan tentang sekolah, ia juga merasa pernikahan ini tidak perlu sampai mengambil cuti dan pergi untuk berbulan madu. Yah, Ashoka merasa tidak mempunyai waktu hanya sekedar bepergian seperti pasangan baru menikah.
Di luar kamar Ashoka, Ayu melihat ada dua orang asisten rumah tangga yang sedang melakukan pekerjaannya. Mereka terlihat rajin dan tekun dalam menjalankan tugas.
"Selamat pagi Nyonya." kata pelayan setelah melihat istri baru Ashoka keluar dari kamar.
"Pagi." jawab Ayu tersenyum ramah.
__ADS_1
Ayna terus menarik tangan Ayu sampai pada kamarnya yang luas dan bernuansa pink.
"Inilah kamal Ayna Bu gulu." ucap Ayna setelah membawa Ayu ke kamarnya yang bersebelahan dengan kamar sang Ayah.
"Ayna sangat syuka sekali sama plincess."
"Lihat-lihat Bu gulu, Ayna paling suka sama Cindelella." Ayna menunjukkan boneka Cinderella yang memakai gaun sangat cantik.
Ayu tersenyum melihat boneka yang di tunjukan Ayna, dan ada beberapa lagi boneka yang di tunjukan anak ini.
Sejauh mata memandang, Ayu melihat kamar yang luas bernuansa pink, ada banyak mainan dan juga pernak-pernik princess. Mungkin anak ini sangat mengidam-idamkan princess. Dan memang kehidupan Ayna selayaknya seorang putri, jadi wajar saja gadis kecil ini mengidolakan sosok princess yang ada di dalam dongeng.
Berbeda dengannya saat masih kecil, Ayu sama sekali tidak suka sereal dongeng yang kebanyakan di sukai oleh anak-anak perempuan. Kendati demikian dia adalah seorang guru TK.
Ketukan di pintu membuyarkan lamunan Ayu tentang segala hal tentang princess.
"Selamat pagi Nyonya, saya di sini akan menyiapkan segala keperluan Nona Ayna untuk berangkat sekolah." kata Bik Marni.
"Baik bik, tapi izinkan saya untuk melihat keperluan apa saja yang dibutuhkan Ayna."
"Baik Nyonya." Bik Marni menyiapkan segala keperluan Ayna, dari mulai seragam sekolah, tas, sepatu dan segala perlengkapannya, begitu juga air hangat panas dari shower yang di campur air dingin. Setelah selesai dengan segala keperluannya, inilah hal yang paling sulit, selain membangunkan Ayna, Bik Marni juga kesulitan kala membujuk Ayna untuk mandi. Tapi entah mengapa sepagi ini, Ayna sudah bangun.
"Nona kecil, sudah waktunya untuk mandi." ajak Bik Marni pada Ayna.
Ayna menggelengkan kepalanya, serta tangannya menyetop Bik Marni yang akan menyentuhnya. "Aku gak mau mandi!" tolaknya.
Ayu melihat Bik Marni yang juga menatapnya.
"Biar saya coba Bik."
Ayu mendekati gadis kecil yang sudah menjadi anak tirinya. "Ayna, seorang princess tidak akan mengatakan itu dan seorang princess tidak malas untuk mandi, nanti kalau Ayna tidak mau mandi, bagaimana seorang pangeran akan mendekati princess. Nanti pangeran bilang begini,"
"Princess tidak harum, aku tidak mau berteman sama princess, asalkan jika princess mandi dulu." lanjut Ayu menirukan suara laki-laki.
"Benalkah? Cindelella selalu halum?" Ayna menunjukkan boneka Cinderella pada Ayu.
"Tentu, jadi sekarang Ayna mandi dulu yuk." bujuk Ayu, lalu menggendong Ayna untuk masuk kedalam kamar mandi.
...*****...
__ADS_1
Bersambung...