Pengantin Tuan Ashoka

Pengantin Tuan Ashoka
Mengikuti skenario


__ADS_3

Semua orang yang sekarang ini sedang berada di dapur terkejut dengan adanya suara Ashoka yang ternyata sudah pulang.


Dengan sigap, seorang pelayan membawa Ayna ke kamarnya.


Setelah Ayna sudah tidak ada di lingkungan orang dewasa, Ashoka kembali melihat Mama Mega dan istrinya. Lihatlah sekarang, Mama Mega mencoba untuk bersikap lemah. Dan Ashoka tahu itu, tapi dia tetap mengikuti skenario ini.


"Sebenarnya hal apa yang sudah kau lakukan, kenapa kau membuat Mama kesal seperti ini?" Ashoka berkata menatap istrinya yang sudah kembali berdiri, dalam hati Ashoka merasa tidak tega melihatnya. Tapi dia harus melakukannya karena mempunyai alasan.


Saat Ayu mencoba untuk berkata, Mama Mega lebih duluan berbicara.


"Lihatlah Shoka, istrimu ini sangat kurang ajar sama Mama, apa Mama harus diam saja melihatnya menindas Mama, itulah sebabnya Mama ingin kau menikah dengan wanita baik-baik, wanita yang setara bibit, bobot dan sepadan dengan kita. Mama heran, kenapa kau menikahi wanita kampungan ini," ucap Mama Mega panjang kali tinggi, sangat berkata-kata dengan bait yang memelas.


"Tidak seperti ini Mas, tidak seperti yang Mama bilang, saya hanya berniat membantu di dapur, karena sejak tadi saya bosan, tidak ada yang bisa saya lakukan," sanggah Ayu membela diri dari apa yang Mama Mega tuduhkan padanya.


"Lihatkan Shoka, betapa dia ingin memutar balikkan fakta. Baru sehari saja dia menjadi menantu, tapi dia sudah berlagak sebagai ratu," kilah Mama Mega lagi guna meyakinkan Ashoka.


Degupan jantung Ayu semakin tidak karuan, padangan matanya nanar. Bahkan kini sudah menggenang air bening di pelupuk matanya mendengar semua fitnah Mama Mega padanya.


"Sumpah Mas, saya tidak bermaksud seperti itu." lagi Ayu berkata untuk meyakinkan Ashoka.


"Cukup!" sentak Ashoka menghentikan ucapan istrinya. Dilihatnya Ayu terkesiap kala mendengar suaranya.

__ADS_1


Tentu saja Mama Mega merasa senang dengan hal ini, ia tahu bahwa Ashoka pasti akan membelanya. Anak ini sangat bodoh. Namun senyuman licik Mama Mega memudar dan kembali datar ketika melihat Ashoka menatapnya. Mama Mega berwajah sedih dan murung.


Ashoka mendekati Mama Mega, diusapnya punggung wanita setengah baya ini. "Ma, saya minta maaf karena menikahinya, padahal Mama sudah melarang saya. Karena Ayu sudah menjadi tanggungjawab saya, biar saya yang akan menghukumnya,"


Glek... Ayu amat sangat lunglai mendengar suara Ashoka yang akan menghukumnya.


Neraka ini sudah mengungkung ku, apa yang harus aku lakukan untuk bertahan. Kenapa aku terjebak seperti ini.


Ayu bergetar hatinya, dia tidak menyangka keluarga ini tidak setenang yang terlihat dari luar, keluarga ini sangat menakutkan.


"Baiklah Shoka, kau lebih berhak untuk menghukumnya." jawab Mama Mega pura-pura sedih, air mata ular mengalir di pipinya.


"Naiklah ke atas, sekarang juga!" titah Ashoka pada Ayu dengan ucapan tegas.


"Mereka membuatku muak!" geram Ayu ingin sekali berteriak. Tapi tidak kuasa kala suaranya seperti tercekat di tenggorokan.


Masih di ruangan dapur, Gading tentu menjadi saksi atas pertikaian ini. Dan berulang kali, dia takjub dengan cara yang dilakukan oleh Mama Mega. Bisa di bilang, Mamanya pandai berakting sedih. Dan Ashoka terlihat sangat mempercayai semua ucapan Mama, pastilah Kakak iparnya itu akan sangat sedih atas kejadian ini. Pasti juga Kakak ipar butuh perhatian dan kehangatan. Gading tersenyum devil. Dia melihat Ashoka berlalu dari ruangan dapur.


"Bagaimana akting Mama?" ucap Mama Mega sangat lirih, selepas Ashoka pergi, Mama Mega mengusap air matanya, lantas meminta pendapat pada Gading, tentu saja anaknya itu memberikan dua jempol nya.


"Cakep!" ucap Gading lirih. Takut jikalau Ashoka masih di mendengar obrolan ini.

__ADS_1


Ashoka naik ke lantai dua, dia melihat Ayna sedang main bersama dengan Bik Marni. Setelah memastikan Ayna, Ashoka ke kamarnya sendiri. Di atas ranjang, Ashoka melihat selimut yang menggunduk seperti bukit, amat anteng seperti tidak ada pergerakan. Lantas berjalan mendekati tempat tidur.


"Bukalah selimutmu, aku ingin bicara." ucapnya santai.


Di balik selimut Ayu mendengar Ashoka berbicara, dia sudah sangat amat kesal. Pastilah, Ashoka akan menghukumnya. "Apapun hukumannya katakan saja, saya akan mendengar dan mematuhinya,"


Ashoka membuka lipatan tangannya yang sejak tadi mendekap di depan dada, sekali tarikan tangan. Ashoka menarik selimut dan membuangnya begitu saja. Dilihatnya Ayu terperanjat dan langsung terduduk, lalu menunduk lesuh.


Sebelum Ashoka berbicara, Ayu lebih duluan yang berbicara. "Mohon izinkan saya kuliah, anda tidak berhak mengatur hidup saya sepenuhnya, saya mempunyai tanggung jawab untuk menyelesaikan pendidikan saya,"


Ashoka tergelak mendengar perkataan Ayu yang jauh dari kesan perdebatan tadi di dapur.


"Aku tidak pernah melarang mu untuk pergi kuliah, hanya saja. Kau harus segera pulang saat kuliah mu selesai,"


Ayu langsung menadahkan wajahnya menatap Ashoka yang sudah memunggunginya. Ia tersenyum sumringah kala mendengar Ashoka tidak keberatan. "Terimakasih, saya pasti akan lebih patuh,"


"Sekarang kau harus bersiap-siap untuk pindah." tukas Ashoka sebelum memasuki kamar mandi.


Deg...


Ayu dilema mendengar kata pindah, dilihatnya pintu kamar mandi yang tertutup. "Maksudnya pindah apa? Apakah ini hukumannya, aku akan di usir atau diasingkan?" gumamnya lirih.

__ADS_1


...*****...


Bersambung


__ADS_2