
Ayu hanya bisa jadi penonton, dia terus menerus mengamati Ashoka yang saat ini telah berganti permainan bersama dengan gadis kecilnya. Permainan basket selalu saja membuat para kaum Adam mempesona, dan para kaum Hawa terpesona. Apalagi jika sudah menyeka keringat di leher lalu menyugar rambutnya yang lurus dan mempunyai gaya rambut length hairstyle scissor cut, tidak panjang tidak juga cepak. Sangat pas dengan wajah Ashoka yang mempunyai hidung mancung, sedikit berewok, dan lebih lagi sorot mata yang tajam.
Ganteng banget suamiku... Uhuk, uhuk.. rasanya aku seperti tersedak biji kedondong saat mengatakan dia suamiku.
Pria yang saat ini sedang berpakaian olahraga warna biru tua terlihat sangat cool. Pakaian yang amat selaras dengan kulit yang bersih, tapi tidak juga terlalu putih pias. Lebih kepada kuning langsat menambah kesan maskulin saat terkena sinar matahari pagi, apalagi saat bajunya setengah disingkap, terpampang dengan sangat jelas roti sobek yang sempurna. Meskipun Ayu hanya bisa jadi penonton, tapi dia seperti merasakan ikut bermain bersama mereka. Tangannya terulur seolah sedang memegang perut roti sobek milik Ashoka.
Aku tidak menyangka telah menikahi Hot Dady. Status yang banyak di perbincangkan di khalayak ramai, seharusnya aku bahagia seperti yang dikisahkan di novel-novel yang telah ku baca, tapi lagi-lagi kenyataan memang tidak seindah yang terjadi di dalam cerita pernovelan. Sebenarnya untuk apa dia menikah lagi, jika aku hanya dijadikan istri pajangan?
Tarjo semakin bingung dan semakin aneh kala melihat Ayu mengulurkan tangannya, apalagi dengan gerakan seperti meraba-raba.
Ayu terkesiap dari lamunannya saat Ashoka dan Ayna berjalan kearahnya. Dag dig dug jantungnya berdegup kencang. Ternyata kedua orang ini hanya duduk dan tidak berniat mengajaknya bermain bersama. Sepertinya mereka sudah kelelahan.
"Handuk," ucap Ashoka datar, lalu mengibaskan tangannya untuk dijadikan kipas.
Ah iya, aku hampir saja lupa untuk segera mengambil handuk ketika mereka sudah selesai bermain dan berolahraga, sepertinya aku telah terpesona dengan ketampanan suamiku, em em em suami. Aku semakin geli saja saat mengakui jikalau dia suamiku sementara dia tidak menganggap ku istrinya, ketampanan yang sudah seperti obat saat aku keracunan. Ketika aku sangat tidak terima harus menjalani hidup sebagai seorang baby sitter berkedok istri, bukan hanya itu, tapi aku seperti pelayan. Ya ya ya siapa yang mau hidup seperti ini?
Meskipun terus menggerutu dalam hati, tapi sebisa mungkin Ayu tersenyum saat melakukan tugasnya. Ya, jika ada prosedur iklan yang menawarkannya berakting, mungkin dia akan lulus. Pikirnya.
Diambilnya handuk kecil yang seperti gulungan kue bolu. Ayu pernah melihatnya, saat bekerja paruh waktu di sebuah hotel yang berada di atas bukit. Tak jauh dari agrowisata kebun teh milik orang tua angkatnya. Dan sampai sekarang juga, baik Pak Bahar maupun Bu Tumirah tidak tahu jikalau Ayu sudah tahu, jikalau dia bukanlah anak kandung mereka.
"Sini sayang dekat sama Mama, Mama akan bantu kamu menyeka keringat," Ayu berkata amat sangat lembut, dan lagi entah untuk yang ke berapa kalinya, gadis kecil ini selalu menolaknya.
"Nda mau!" Ayna malah semakin menjauhi posisinya duduk. Kedua tangannya turut serta mengibas dihadapan Mama tirinya, pertanda penolakannya.
"Ayna sayang, seka keringat mu, atau tubuh mu akan mendapatkan iritasi kulit," Ashoka membujuk, karena kulit Ayna memang iritasi apabila terlalu lama terkena keringat.
Ayu melihat wajah Ayna nampak sangat murung, bahkan bibir pink gadis kecil ini manyun. Ingin sekali ia menciumnya. Tanpa berpikir panjang, Ayu menarik tubuh mungil dan memangku serta mencium singkat pipi gembul gadis kecilnya.
__ADS_1
"Uuhhh kamu manis banget, seperti marshmellow," Ayu terus menciuminya. Tapi, respon Ayna tidak tertawa seperti biasanya. Bahkan gadis kecil ini menutupi wajahnya.
"Tante jangan cium aku!" Ayna merajuk, seraya menjauhkan tubuhnya.
Ayu merasa hatinya kian tercubit, saat Ayna memanggilnya dengan sebutan Tante. Sebenarnya bukan hanya dia yang terkejut mendengar panggilan Ayna yang berubah, tapi juga Ashoka.
"Tulunin aku," Ayna melepaskan diri dari pangkuan Mama tirinya. Dia semakin menjauh dan seperti enggan untuk digapai.
"Ayna ada apa dengan panggilan mu itu, My princess?" Ashoka yang semula duduk bersandar, kini duduk dengan tegak menghadap gadis kecilnya.
"Dia bukan Mama Ayna Dad, Mama Ayna sudah belada di sulga, dan Ayna nda mau punya Mama tili. Kata Oma, Mama tili itu jahat, Mama tili nda sayang sama Ayn, Mama tili hanya sayang sama Dady, lebih baik Ayn nda puna Mama Tili," Ayna berkata dengan nada bersungut-sungut. Dia mengingat dengan sangat jelas di memori ingatannya, setiap untaian kata yang Oma Mega katakan. Jikalau Ayu bukanlah Mama tiri yang baik.
"Sayang, meskipun begitu jangan memanggilnya dengan sebutan Tante. Kemarin-kemarin kau terlihat baik-baik saja, dan bisa menerimanya sebagai Mama mu, apalagi kau tahu Mama Ayu gurumu di sekolah?" ucap Ashoka, dilihatnya sekilas wajah Ayu yang langsung berubah murung, tapi tetap berusaha untuk tersenyum. Dia itu pandai berpura-pura.
Ayu menatap Ayna nanar meskipun dengan sorot mata sayu, tapi bibirnya tersenyum menyimpan seribu anak panah yang selalu saja menyakiti hati. Dia merasa tidak nyaman dengan situasi saat ini. Seolah, dialah pelakor yang hadir di tengah-tengah keluarga harmonis. Padahal dia tidak merebut, apalagi kalau sampai jadi Mama tiri yang jahat. Tidak pernah sekalipun terpikirkan olehnya akan menikah dengan seorang pria yang sudah memiliki anak.
"Nda mau, Ayn nda mau memanggilnya Mama, dia bukan Mamanya Ayn, Dad," Ayna tetap pada pendiriannya. Gadis kecil ini mendekapkan tangannya di depan dada.
"Baiklah-baiklah, Mama tidak akan mempersulit nya. Panggil lah Mama sesuka mu saja My princess," ucap Ayu pada akhirnya, toh dengan memaksanya hanya akan terlihat seperti Mama tiri yang sesungguhnya. Padahal Mama tiri tidak selalu menyandang gelar jahat. Ada juga Mama tiri baik, bahkan melebihi ibu kandung dan Ayu ingin membuktikannya bahwa Mama tiri juga bisa menyandang gelar Mama tiri baik.
"Sini, Mama akan bantu kamu menyeka keringat," Ayu kembali mendekati Ayna, dia bahkan berjongkok dihadapan anak tirinya.
"Nda mau!" Ayna menggelengkan kepalanya, lantas dilihatnya Oma Mega yang sedang berjalan menuju taman. "Oma...."
Tatapan Ashoka maupun Ayu langsung beralih menatap Mama Mega yang kini sudah berjalan dengan bergandengan tangan bersama dengan Ayna.
Ayu masih mematung dengan posisi berjongkok. Sesaat kemudian ia berdiri dan Mama Mega langsung saja menghampirinya dengan menunjukkan wajah judes.
__ADS_1
Direbutnya handuk dari tangan menantunya. Mama Mega ingin Ayu benar-benar pergi dari rumah ini dengan menghasut Ayna terlebih dahulu, dengan begitu akan sangat mudah baginya untuk menghasut Ashoka. Terlepas mencintai atau tidaknya Ashoka dalam menikahi Ayu. Mama Mega tak perduli!
"Kalau kau tidak becus menjadi ibunya, seharusnya kau jangan gegabah untuk menikahi laki-laki yang sudah mempunyai anak!" hardik Mama Mega melirik Ayu tajam.
Nyelekit! Siapa juga yang ingin menikahi anak mu, Ma. Kalau bukan karena hutang Bapak. Aku tidak akan pernah sudi terdampar di rumah angker ini! Teriak Ayu dalam hati, tangannya kini kosong, karena handuk kecil sudah diambil paksa oleh Mama Mega yang telah mengusap keringat di punggung Ayna.
"Saya menyadari ini, Ma. Maka tidak perlu anda selalu mengingatkan saya secara terus menerus," Ayu menjawabnya, padahal tidak biasanya ia menjawab ketika Mama Mega berkata hal yang sama.
"Lihatkan Shoka, istrimu ini bahkan telah berani menjawab perkataan Mama, betapa beraninya dia. Palingan sebentar lagi, dia akan mengusir wanita tua ini dari rumah ini," balas Mama Mega, mengubah suaranya menjadi lebih sendu.
Lihatlah suamiku, dia diam saja melihat istrinya kembali di cecar. Ayu melirik Ashoka sangat amatlah geram.
"Ma," Ashoka menegur Mama Mega. Hanya dengan kalimat sangat sederhana ini.
"Apa?" Mama Mega mendelik, dia langsung menggandeng tangan cucunya. "kau memang lebih membela istri baru mu ini!"
Semakin kau melawan maka semakin kau akan terbakar dan kau akan menjadi abu! Mama Mega memperlihatkan seringai senyuman liciknya pada sang menantu. Sebelum pergi dari sana.
Dilihatnya Ayu yang diam mematung sedang atensinya terus menatap pada Mama Mega yang semakin menjauh dengan menggandeng tangan Ayna. Dia mendekat, tangannya terangkat dan kemudian jemarinya menggulung rambut panjang Ayu, hingga membuat istrinya terkesiap dan semakin dia menggulung maka wajahnya akan semakin mendekat. Lalu berbisik di telinga Ayu.
"Seorang ibu akan tau bagaimana caranya mengambil hati anaknya. Aku akan menantang mu, bagaimana kau merebut hati dan perhatian Ayna tanpa bantuan dari ku!"
Ayu bergidik ngeri melihat wajah Ashoka sedekat ini, bahkan mata tajamnya terlihat seperti busur panah.
Laki-laki ini selalu saja membuatku takut sekaligus jengkel. Kenapa dia memberiku tantangan seperti ini, jikalau dia saja tidak pernah berniat untuk menjauhkan Mama Mega dari anaknya.
...*****...
__ADS_1
Bersambung....