
Desah nafas Ashoka mendekati wajah Ayu, dilihatnya dalam diam. Melihat kecanggungan di wajah istrinya ini membuatnya tanpa sadar mengembangkan senyuman.
"Biar ku perjelas, aku tidak keberatan dengan penampilan mu ini. Asalkan kau tidak mempermalukan ku. Jadi..." Ashoka menghentikan ucapannya. Melihat Ayu berulang kali mengerjapkan mata. Ada dorongan dalam dirinya untuk semakin mengikis jarak antara wajahnya dengan wajah Ayu yang tersisa hanya dua inci.
"Jadi apa?" ucap Ayu bersitatap dengan netra Ashoka. Jantungnya semakin bertalu-talu tak karuan bila dijabarkan ia ingin jungkir balik.
"Lakukan saja tugasmu dengan baik," ucapnya lirih, Ashoka semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Ayu.
Ayu merasa tegang matanya terbelalak, dan seperti tersengat aliran listrik bertegangan tinggi. Saat benda kenyal itu mendarat di bibirnya. Ia meremass jemarinya yang terkepal serta berkeringat di samping paha.
Tiba-tiba pintu terbuka dengan adanya Gading, dia melihat adegan pagi ini. Membuat hatinya terbakar api cemburu. Sialan!
Baik Ayu maupun Ashoka terlonjak kaget, saat mendengar adanya pintu yang dibuka, terpaksalah Ashoka melepaskan pautan bibirnya di bibir Ayu. Berulang kali Ashoka mengerjapkan matanya menatap Ayu yang juga terkejut, seolah baru saja tersadar dari lamunan, ia telah sedekat ini sampai mencium bibir Ayu.
Dorongan apa yang membuatku melakukan ini?
Tegang yang Ashoka rasakan. Meskipun hal ini bukan yang pertama baginya, tapi hal ini merupakan sudah sangat lama tak ia rasakan. Darahnya mengantarkan desiran aneh yang kemudian menyeruak menusuki relung hatinya.
Sementara Ayu masih berusaha untuk meyakinkan bahwa apa yang dilakukan Ashoka bukan bagian dari mimpinya. Benarkah tadi dia mencium ku?
"Maaf Kak, sepertinya aku mengganggu kalian," ucap Gading basa-basi.
Ashoka dan Ayu sontak saja melihat kearah Gading yang sedang berdiri di ambang pintu.
Ayu sangat gugup, sekilas memegangi bibirnya yang sekian detik lalu merasakan betapa hangatnya ciuman pagi ini. Ia tidak mungkin langsung terperdaya 'kan? Tapi bohong bila ia mengatakan tidak menikmatinya.
"Apa yang membawamu ke sini, Gading?" Ashoka bicara datar pada Gading. Guna menutupi kecanggungan nya pada Ayu.
Gading menegaskan rahangnya, namun sebisa mungkin ia menutupi rasa cemburunya. Dilihatnya Ashoka dan Ayu yang hari ini sangat berbeda dengan hari-hari sebelumnya.
"Eh, tidak apa-apa Kak, tadi aku hanya ingin menyampaikan ada sesuatu di kantor, dan kemungkinan menyangkut CEO jasa kontruksi dari Kalimantan," ucap Gading, menatap Ashoka dan curi-curi pandang kearah Kakak iparnya.
"Hem.. aku sudah tau itu, kalau kau bisa menyelesaikan masalah itu, aku percaya padamu bahwa kau seorang pemimpin yang bisa di andalkan," Ashoka memalingkan wajahnya pada meja rias, ia mengambil jel rambut dan melirik Ayu dari pantulan cermin, dilihatnya wajah Ayu yang tengah bersemu merah.
__ADS_1
"Baik Kak." jawab Gading, netranya tajam menatap punggung Ashoka. Seolah ia ingin menghunuskan pedang ke punggung Kakak tirinya itu. Sesaat kemudian ia mengalihkan pandangan matanya menatap Ayu. "Tapi ngomong-ngomong ada hal istimewa apa dengan penampilan Kakak ipar hari ini?" tanyanya pada sang Kakak ipar.
Ayu menatap tajam pada Gading. "Tidak ada, saya hanya merasa penampilan saya memang harus di perbaiki,"
"Begitukah?" Gading meremehkan ucapan Ayu. Ada rasa semakin ingin bercumbu dengan Kakak iparnya.
"Iya." jawab Ayu tegas. Ia berharap dengan menjaga penampilannya yang serba tertutup bisa menghindari diri dari perbuatan adik iparnya yang selalu berpikiran mesum.
Gading menatap Ayu memicingkan matanya. Penampilan Ayu dan melihat kejadian serta kedekatan Ashoka dan Ayu pagi ini tak membuatnya lengah untuk semakin tergoda oleh Kakak iparnya.
Kita lihat saja, mau apapun kau memakai pakaian mu. Kau tidak akan bisa lolos dariku, aku sudah terperangkap dalam keadaan tertarik olehmu, dan aku juga tahu hubungan mu dengan Kak Ashoka amat sangat membosankan. Sebab itulah aku akan membuatmu senang, soal apa yang ku lihat barusan. Aku anggap itu hanyalah hal sepele. Karena setiap harinya kalian selalu tidur terpisah.
"Gading, ada lagi yang ingin kau sampaikan?" Ashoka bicara lagi, karena Gading tak juga pergi dari kamarnya.
Mendengar suara Ashoka, netra Gading memutuskan kontak mata dengan netra Ayu yang memang sedang menatapnya tajam.
"Eh tidak ada Kak, kalau begitu aku permisi." Gading lantas beranjak pergi dari kamar Ashoka.
Ashoka berbalik badan, dilihatnya Ayu masih berdiri mematung tak jauh darinya berada.
Seperti paku yang menancap dalam hatinya, Ayu mengangkat wajahnya yang semula terus tertunduk. Dilihatnya Ashoka sedang berkaca. "Saya juga tidak menginginkannya, jadi anda tidak perlu risau, saya tidak akan menggoda anda,"
Degh.. Ashoka melihat Ayu dari pantulan cermin. Ia merasa tidak suka mendengar jawaban Ayu.
"Aku akan melakukan perjalanan bisnis ke Belanda, selama aku tidak ada, kau harus menjaga Ayna. Jangan pernah berdebat sama Mama,"
Ayu melihat Ashoka di pantulan cermin dengan tatapan sinis. "Baik."
Setelah selesai dengan kegiatannya mengurusi Ashoka, dan sepanjang Ayu berada di kamar pria itu. Selalu membuatnya tertekan dan canggung. Kini ia bisa bernafas lega. Dan satu lagi, nampaknya kemeja yang telah ia siapkan tidak diterima baik oleh Ashoka.
Pria itu tetap akan memakai pakaian hitam. Ya sudahlah terserah, toh memang pakaian hitam pas di tubuh Ashoka. Pria itu terkesan seperti geng mafia di serial drama Turki yang pernah di lihatnya.
Di kamar Ayna pun sama, anak kecil ini selalu bertanya ini dan itu, dan kenapa sekarang ia memakai hijab.
__ADS_1
"Mama kenapa pakai hijab?"
"Karena Mama perempuan,"
"Memang kalau perempuan wajib memakai hijab Ma?"
"Hukum memakai hijab atau jilbab pada perempuan muslim adalah wajib. Sebab Allah telah memerintahkannya sesuai surat di dalam Alquran. Islam menjunjung tinggi harkat dan martabat perempuan, sehingga turun ayat dalam Alquran,"
"Kalau Ayn juga ingin memakainya seperti Mama, apa Ayn dibolehkan?"
"Tentu, itu lebih baik sayang." ucap Ayu tersenyum simpul, diusapnya pipi Ayna yang lucu. Mata gadis kecil ini selalu berbinar-binar.
Ayna tersenyum senang, ia melihat wajah Mama Ayu lebih terlihat berseri-seri hari ini.
***
Meja makan adalah tempat di mana semua anggota keluarga inti Bratajaya harus hadir. Tanpa kecuali Gading, meskipun pria muda ini sering pulang diri hari dan harus menahan kantuk yang amat sangat luar biasa. Tapi hal kedisiplinan seperti ini sudah terjadi sejak almarhum Arsena masih hidup. Dan peraturan seperti ini masih berlaku sampai detik ini.
Semakin dewasa dan semakin bertambahnya usia, Ashoka sadar pentingnya berkumpul dengan keluarga di meja makan. Karena setiap inti keluarga ini akan sibuk pada kegiatannya masing-masing.
Mama Ashoka melihat penampilan Ayu hari ini. "Mau pakaian apapun yang kau pakai, kau tetap wanita kampungan,"
Ayu tersenyum tipis, meskipun dalam hatinya seperti tertusuk duri. "Terimakasih atas pujiannya Ma,"
Mama Mega benar-benar tidak menyukai menantunya. "Kau anggap ucapan ku adalah pujian, apa kau sedang mengejekku, hah?"
"Tidak sama sekali Ma, saya hanya merasa ucapan Mama selalu mengingatkan saya, bahwa saya memang datang dari kampung," jawab Ayu lembut.
Ashoka merasa begah, selalu saja ada perdebatan kecil ketika berkumpul seperti ini.
"Lusa saya akan berangkat ke Belanda," Ashoka mengalihkan obrolan. Dilihatnya Mama Mega, Gading dan kemudian beralih ke Ayu. Kedua orang yang sedang menikmati sarapannya terkejut mendengarnya berkata demikian.
"Kenapa sangat mendadak, Shoka. Memangnya ada urusan apa kamu ke Belanda?" Mama Mega bertanya, karena apa yang dikatakan putra tirinya selalu membuatnya ingin tahu.
__ADS_1
...*****...
Bersambung....