
Ashoka termenung atas perkataan yang dia katakan di hadapan Ayu tadi, terdengar kasar. Ditatapnya pintu yang baru saja dia tutup. Entah kenapa hatinya tidak terima setelah mengatakan itu.
Aku bukan orang yang sok jaim 'kan? Dengan berpura-pura menggodanya. Aku Ashoka, dan orang lain selalu beranggapan aku ini orang yang dingin dan tak tersentuh.
Diusapnya dada yang saat ini tertutupi kaos oblong warna hitam. Menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, sesaat kemudian menadahkan wajahnya menatap langit-langit lantai dua yang bernuansa warna putih.
Kenapa hatiku seperti tergelitik, gatal dan aku tidak merasa telah jatuh cinta padanya. Aku rasa di usia ku yang sekarang ini, cinta hanyalah sebuah lambang.
Ashoka menggendikkan pundaknya, lantas berlalu dari hadapan pintu kamar Ayu.
**
"Bismillahirrahmanirrahim." Ayu menatap dirinya di pantulan cermin. Setelah sekian lamanya waktu membuatnya berteguh hati dalam mengubahnya, dan ia merasa sudah siap. Benar-benar telah siap.
Tidak ada polesan make-up tebal di wajah, hanya memakai cream pelembab dan lip balm untuk menyegarkan wajahnya agar tidak terkesan pucat.
Selepas siap dengan penampilan barunya, sekali lagi Ayu tersenyum simpul menatap dirinya di pantulan cermin.
"Semoga tidak membuat semua orang di dalam rumah ini terkejut." ucap Ayu dengan keteguhan hatinya. Bahwa ia telah siap menjadi Ayuning Laras yang baru.
Setelah beberapa saat terpaku di depan cermin. Kemudian Ayu keluar kamar untuk menyambangi kamar Ashoka, menyiapkan segala keperluan bayi besarnya itu. Yah, inilah tugasnya di rumah ini. Ayu akan belajar menerima kehidupan barunya di rumah ini. Apapun itu, mau sekedar jadi baby sitter ataupun seperti pelayan berkedok istri.
Ayu telah belajar, sekuat apapun dia melawan kehidupan kerasnya. Keputusan akhirnya hanya di tangan Sang Maha Pencipta. Dan dia hanya hamba, semoga saja kesabaran dan keikhlasannya dapat berbuah manis.
Ayu mengetuk pintu kamar suaminya. Dia terbiasa melakukan hal ini. Menjadi istri Ashoka tak serta merta membuat Ayu seenaknya saja keluar masuk kamar sang suami.
Tak lama setelah menunggu sekitar tiga menit pintu bergerak dan terbuka. Ayu melihat Ashoka nampak terkejut dan menatapnya dengan tatapan mata yang sulit diartikan.
Ashoka terkejut melihat istrinya mengubah penampilan, di tatapnya dari ujung kaki sampai ujung kepala. Ashoka mengulurkan tangannya lantas menempelkan telapak tangan ke kening Ayu, guna memeriksa sesuatu tidak salah dan istrinya ini memang tidak dalam keadaan kesambet.
"Malaikat apa yang merasuki mu?" Ashoka bertanya dengan nada datar.
Ayu mengerjap-ngerjapkan matanya menatap Ashoka, ia mundur selangkah setelah Ashoka memegang keningnya. Terlalu dekat dengan Ashoka membuatnya tidak bisa mengontrol degup jantungnya. Ayu kemudian menyadari, mungkin saja Ashoka tengah bingung dengan penampilannya hari ini.
"Malaikat selalu menjaga saya, tanpa harus merasuki saya. Karena saya selalu dalam pengawasannya, setiap jam, menit bahkan detik, bahkan malaikat maut selalu mengawasi saya 72 kali dalam sehari," jawabnya santai, selain mengubah penampilan. Ayu merasa mulai hari ini akan berhadapan dan menjawab setiap perkataan Ashoka dengan sikap yang tenang.
"Kau memang pandai menjawab." tukas Ashoka.
__ADS_1
Ayu terdiam bersitatap dengan manik brown Ashoka.
"Maaf, saya tidak bermaksud lancang..." Ayu menunduk, dan sesaat kemudian mengangkat wajahnya, lagi bersitatap dengan manik brown Ashoka. "apa anda juga ingin mengubah penampilan anda agar tidak selalu berwarna hitam?"
Terpana saat Ayu berbicara dengan nada suara lembut tapi tidak mendesahh, Ashoka baru menyadarinya bahwa ada debaran yang sedang bergejolak di dalam dadanya. Tak menjawab pertanyaan Ayu, Ashoka berlalu begitu saja masuk kedalam kamar.
Ayu bingung melihat gelagat Ashoka. Ia mengernyitkan dahinya, sesaat kemudian menyusul Ashoka.
Ayu, kamu harus terbiasa dengan perilakunya yang kadang susah ditebak. Dan belajarlah supaya tidak mengumpat dengan perkataan kasar, bagaimanapun juga dialah orang yang telah merelakan yang 2 Milyar.
Dilihatnya Ashoka berjalan menuju kamar mandi tanpa melihat bahkan meliriknya. Ayu juga tidak pernah berpikir untuk memikat pria beranak satu itu, cukup menjadi anak yang belajar ikhlas untuk menebus hutang Bapak dan untuk menjadi seorang istri yang patuh agar hidupnya di rumah ini berjalan dengan perdamaian.
Ayu mulai mendengar gemericik air dari kamar mandi. Ia tak menghiraukannya, dan langsung menuju ruang pakaian untuk mengambil stelan pakaian yang akan di pakai Ashoka hari ini.
Saat membuka lemari pakaian, dilihatnya pakaian yang kebanyakan memang berwarna gelap. Tapi kemudian Ayu merasa tergelitik saat melihat kemeja berwarna biru navy, pikirannya langsung membayangkan.
Hemm... apa jadinya seorang Ashoka Bratajaya memakai pakaian berwarna, 'kan selama yang aku lihat, dia selalu berpakaian warna hitam. Bahkan pakaian santainya saja warna hitam.
Ayu mulai memadu padankan kemeja dengan jas. Sesaat kemudian dia telah melihat pakaian yang telah dipilihnya.
Sepertinya memang seperti ini pas. Aku rasa dia tidak akan keberatan, toh kemeja ini juga tidak terlalu berwarna terang.
Seulas senyuman tersungging di sudut bibir Ashoka saat melihat Ayu memalingkan wajah, sempat dilihatnya bahwa pipi Ayu merona merah. Selangkah demi selangkah Ashoka berjalan mendekati istrinya. Lantas berhenti tepat di belakangnya. Hingga membuat Ayu terperanjat.
Ayu langsung berbalik badan, saat menyadari Ashoka sedang berdiri dibelakangnya. Lalu bergeser ke samping, ia selalu ingin ada jarak antara dirinya dan Ashoka.
"Kostum apa yang kau pakai hari ini?" Ashoka bertanya dengan suara datar, matanya memicing menatap istrinya yang sedang menunduk.
Ayu mengernyitkan dahinya mendengar perkataan Ashoka yang mengatakan soal kostum. Secara spontan Ayu mengangkat wajahnya, manik matanya bersitatap dengan manik brown Ashoka.
Kampret! Apa maksudnya kostum?...
Astaghfirullah! Sabar Ayu sabar. Kau sudah berjanji pada dirimu, kalau kau tidak lagi mengumpat dia dalam hatimu, dia bisa saja tidak mendengar suaramu, tapi Allah selalu tau apa yang ada di hatimu.
Ayu menahan diri untuk tidak tersulut emosi. Dia tersenyum kecil, lalu menjawab dengan perkataan penuh penekanan. "Apa maksud anda kostum? Saya tidak memakai kostum, dan saya memakai pakaian ini dalam keadaan sadar, apakah perkataan anda tadi sedang mengejek saya?"
Ashoka menatap kedua bola mata hitam istrinya. Tanpa sadar seulas senyuman tersungging di bibirnya melihat kemarahan yang diperlihatkan Ayu.
__ADS_1
"Hey santai lah..." Ashoka berjalan melewatinya, lalu duduk di sofa bundar depan meja rias. "rupanya kau sudah berani menjawab perkataan ku dengan nada ketus seperti itu, apa kau sudah merasa menjadi nyonya Ashoka?" lanjutnya seraya menyugar rambutnya setengah basah.
Mendengar perkataan Ashoka, Ayu refleks menggelengkan kepalanya, menyanggah ucapan Ashoka. Sungguh Ayu tidak pernah berpikir kesana. Meskipun pernikahannya hanya sekedar pelunasan hutang, tapi Ayu tidak seserakah itu.
"Bukan seperti itu, saya tidak pernah bermaksud untuk menjawab perkataan anda dengan jawaban ketus. Hanya saja saya tidak menyukai dengan perkataan yang anda katakan barusan. Sebenarnya sudah sangat lama saya ingin mengubah penampilan saya, saya hanya merasa perlu kesiapan yang matang, agar saya bisa sepenuhnya berhijrah,"
Ayu menjawab jujur, bahwa perubahan pada dirinya hari ini merupakan tekad yang sudah lama terpendam. Meskipun setiap harinya dia selalu memakai pakaian panjang, tapi untuk menutup surainya membutuhkan waktu agar hatinya benar-benar mantap. Dan hari inilah ia memulainya.
Ashoka mengangkat satu alisnya mendengar jawaban Ayu.
"Kenapa kau tidak meminta persetujuan atau pendapat dariku, bukankah kau tahu segala yang kau lakukan harus mendapatkan persetujuan dariku?" ucap Ashoka mendapati Ayu terdiam.
Ayu memejamkan matanya dalam-dalam.
Ah iya, kan aku sekarang seperti bonekanya, aku tidak bisa bertindak sesuka hatiku sendiri.
Helaan nafas panjang menyelaraskan rasa tidak nyaman. Ayu menunduk lesuh seraya memilin jemarinya. Ia telah salah, kenapa tidak dari dulu saja menutup surainya dengan hijab, agar tidak menimbulkan pro dan kontra seperti ini.
Ashoka melihat Ayu yang masih berdiri di depan lemari pakaian. Penampilan Ayu dengan rok panjang warna hitam dipadukan kemeja warna cokelat serta hijab senada membuat Ashoka memandangi Ayu dengan sisi yang berbeda. Adem!
Tidak mendengar Ashoka bersuara, Ayu mengangkat wajahnya dan melihat bahwa Ashoka sedang menatapnya dengan tatapan tak bisa diartikan nya.
"Saya minta maaf, karena tidak meminta persetujuan anda terlebih dahulu. Saya hanya merasa hati saya sudah sepenuhnya yakin bahwa saya ingin menutup aurat, jika anda tidak setuju..." Ayu menjeda ucapannya. Menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. "tanpa mengurangi kepatuhan saya terhadap anda, tapi sayangnya saya sudah teguh pada pendirian saya untuk berhijrah mulai hari ini," lanjutnya tanpa memandang Ashoka.
"Jadi, apa dengan hijab mu itu, kau ingin menunjukkan padaku bahwa agamamu lebih pintar dariku?" Ashoka berkata masih tidak memalingkan wajahnya, dia ingin tahu seperti apa jawaban Ayu atas pertanyaannya.
"Hijab bukan hanya untuk wanita yang pandai agamanya saja. Hijab juga bukan hanya untuk wanita yang pandai mengaji saja. Tapi hijab adalah kewajiban bagi semua wanita yang mengaku muslimah," Ayu menjeda ucapannya, dia menunduk dalam-dalam, sesaat kemudian bersitatap dengan manik mata Ashoka. "dan saya telah lama menginginkan hal ini, hanya saja saya baru diberikan hidayah untuk benar-benar memakainya tanpa melepaskannya lagi. Insya Allah," lanjutnya berkata dengan keteguhan hatinya.
Semoga Allah tetap menjaga ku tetap Istiqomah. Amin. lanjut Ayu dalam hatinya. Dia tak ingin dianggap menggurui seseorang yang lebih tua darinya.
Kali ini Ashoka bukan lagi terpana, tapi ia tertegun mendengar perkataan Ayu. Ia manggut-manggut lalu mengalihkan atensinya. Diambilnya hairdryer dan mengacungkannya pada Ayu.
"Keringkan rambutku." titahnya, mengalihkan percakapan soal penampilan Ayu hari ini. Toh, dalam hatinya juga setuju dengan penampilan baru istrinya.
"Maaf, jika saya telah menyinggung perasaan anda. Sungguh saya tidak bermaksud menggurui anda, Mas." ucap Ayu dengan pandangan menunduk.
...*****...
__ADS_1
Bersambung