
Dalam menjalani kehidupan selama hampir enam puluh satu tahun, Mama Mega tak merasa kekurangan apapun selama menikah dengan Arsena Bratajaya. Wanita tua ini selalu bisa merasa kesenangan dalam hidupnya. Hal apapun yang diinginkannya selalu saja terwujud.
Tapi semenjak adanya Ayu di rumah ini, Mama Mega merasa gelisah serta khawatir. Pasalnya wanita kampungan itu tidak seperti almarhumah Rose yang lebih mudah di atur dan tidak pernah membantah ucapnya.
Lain dengan Ayu, wanita yang tiba-tiba dinikahi Ashoka tanpa sebab yang jelas selalu menjawab bahkan tak segan berdebat dengannya.
Mama Mega baru saja keluar dari kamar dan ingin segera keluar rumah tanpa disadari oleh Ayna. Tiba-tiba langkah kakinya terhenti, kala seruan kecil itu menggetarkan gendang telinganya.
"Eyang, eyang mau kemana?" Ayna berjalan mendekati Oma Mega, di belakangnya ada Tarjo dan Via.
Mama Mega mengalihkan atensinya, melihat gadis kecil itu sedang berjalan ke arahnya. "Oma akan pergi sebentar sayang,"
"Ayna ikut," Ayna langsung mengajukan diri untuk ikut.
Netra Mama Mega langsung menatap tangga yang menuju lantai dua. Sial, kalau anak kecil ini ikut bisa merepotkan. Ini Ashoka sama wanita sialan itu pada kemana?!
Mama Mega geram, ia kembali menatap Ayna yang sedang menunggu jawabannya. "Maaf sayang, kali ini Oma tidak bisa mengajakmu,"
"Kenapa Oma, Ayn kan juga mau pergi. Ayn bosen di lumah telus, Ayn mau main," Ayna merasa kesal, wajahnya yang semula ceria kini murung mendengar penolakan Oma Mega.
"Ayna main sama Om Tarjo yah," kata Tarjo membujuk. Dilihatnya Ayna menggelengkan kepala.
"Enggak mau." jawab Ayna.
Tarjo menyikut lengan Via, ia berbisik. "Kau ini, kenapa diam saja. Kenapa tidak membantuku membujuknya,"
Via mendengus dingin, menjawab perkataan Tarjo juga berbisik. "Apaan, membujuk anak kecil bukan keahlian ku,"
Tarjo berdecak sebal. "Dasar wanita ini, pantas saja Ashoka tidak tertarik denganmu!"
"Apa kau bilang!" Via tak mau kalah, ia mendelikkan matanya pada Tarjo.
Melihat Tarjo dan Via saling sikut dan memaki dalam nada bicara yang hanya mereka saja yang mengerti membuat Mama Mega kesal. Sampai membuatnya menghela nafas panjang. "Hey kalian! Kenapa Kalian malah bertengkar?!"
Baik Via maupun Tarjo tersentak mendengar teguran sang Nyonya besar.
"Maaf nyonya," kata Tarjo dengan pandangan menunduk.
Mama Mega mencibir serta menajamkan matanya pada Tarjo dan Via. "Dasar payah! Kalian ini tidak becus! Membujuk anak kecil saja tidak bisa!"
Via mendengus dingin mendengar cibiran wanita tua yang selalu saja ingin merebut saham terbesar Bratacorp. Meskipun cintanya bertepuk sebelah tangan, tapi Via merasa kasihan dengan kehidupan yang dijalani Ashoka. Dasar wanita tua, semakin tua bukannya sadar harta dan tahta tidak dibawa mati, tapi dia, seolah semua hartanya bisa di bawa mati! Semoga malaikat pencabut nyawa segera mendatangi mu!
"Kenapa kau menatapku seperti itu, mau cari mati!" sarkas Mama Mega melihat tatapan sinis Via.
__ADS_1
Via tak berkata apa-apa, dia langsung pergi dari sana tanpa permisi.
Melihat Via pergi, Tarjo ikut bingung.
"Orang-orang yang dipilih Ashoka benar-benar tak ada sopan santunnya!" cibir Mama Mega pedas, saat mendapati Via pergi begitu saja.
"Gimana Oma, Ayn boleh ikut 'kan?" Ayna masih merengek-rengek supaya bisa ikut Oma-nya.
"Ayna, kamu ajaklah Dady. Pastilah dia mau menemani mu jalan-jalan ke mall atau ke taman bermain. Besok kan hari libur sekolah, lagipula Dady mu lusa akan pergi ke Belanda, kapan lagi akan menemani mu bermain," kata Mama Mega membujuk.
Wajah Ayna yang semula murung kini kembali ceria. "Iya Oma,"
"Anak pintar." Mama Mega mengusap pucuk kepala Ayna, ia merasa lega. Karena Ayna tidak jadi ikut dengannya.
Setelah melihat Ayna menapaki anak tangga menuju lantai atas disusul oleh Tarjo. Mama Mega keluar rumah, di sana sudah ada supir pribadi dan mobil mewah yang siap mengantarkan kemana sang nyonya memberi titah.
"Ke restauran Golden Prima, Pak Mol." titah Mama Mega setelah masuk dan duduk dengan anggunnya di dalam mobil.
"Baik nyonya." jawab Pak Mol, seraya mengangguk kecil.
Satu jam kemudian, Mama Mega sudah sampai di depan restauran paling megah yang hanya bisa dimasuki oleh kalangan para kelas atas.
"Silahkan nyonya Mega." seorang pramusaji telah siap menyambut Mama Mega yang telah menjadi pelanggan restauran ini. Tentunya untuk menghadiri arisan sosialita elit. Ruangan VVIP yang biasa di gunakan untuk merayakan arisan adalah tujuannya.
Begitu pula Bu Dewi, istri dari seorang pengusaha pertambangan menyambut kedatangan Mega. "Iya, Bu Mega. Makin awet muda lho saya lihat."
Dan beberapa Ibu-ibu sosialita lainnya. Ramah kala menyambut para tamu yang baru saja ikut bergabung. Namanya juga sosialita elit. Pastilah barang-barang yang dibawa mereka merupakan barang yang bermerek dan perhiasan dan pakaian yang berharga puluhan juta bahkan sampai milyaran.
Di ruang VVIP Mama Mega disambut baik oleh para kalangan geng arisan sosialita elit yang berjumlah lima belas orang. Mama Mega tersenyum sumringah, dia merasa di sinilah ia merasakan kesenangan tersendiri. Maka tak segan, dia akan memakai perhiasan paling bergengsi juga tas branded serta seluruh pakaian yang menunjang penampilan wanita enam puluh satu tahun ini.
Kata sosialita menjadi semakin marak di tengah arus digitalisasi dan zaman yang serba modern seperti saat ini. Akses informasi semakin terbuka, apalagi dengan kehadiran media sosial yang cenderung menampilkan kemewahan, sehingga mengubah pola hidup masyarakat menjadi lebih konsumtif.
Gaya Hidup Sosialita
Kehidupan sosialita di Indonesia, sudah semakin menjamur. Kelompok ini biasanya terdiri dari orang yang sangat kaya, suka pamer harta, atau sering dikaitkan dengan hedonisme. Dalam hal ini, ada pula hubungannya dengan hedonic treadmill.
Sedikit pengertian hedonisme adalah pandangan hidup bahwa menciptakan kebahagiaan sendiri akan menyembuhkan kesedihan. Semakin banyak kebahagiaan yang diciptakan dan didapat, maka semakin sembuh luka batin yang ada di dalam diri seseorang. Jadi, bisa disimpulkan bahwa hedonisme adalah pemujaan atas kesenangan dan penolakan atas penderitaan.
Karena sering mencari hiburan untuk bersenang-senang, biasanya sifat jiwa sosialita ini suka boros, nafsu belanja tinggi, suka pamer, sering berfoya-foya, dan hal-hal duniawi lainnya. Veven Wardhana, seorang pengamat budaya, mengatakan bahwa kegiatan kaum sosialita biasanya dalam bentuk kelompok arisan elit, pamer barang mewah, rumpi, dan kegiatan lainnya yang berhubungan dengan kekayaan, pekerjaan yang bagus, dan kerap menampilkan kehidupan yang berlebihan.
Pengertian Sosialita
Sebenarnya, kata ini sudah digunakan sejak tahun 1928. Artinya, sekelompok orang yang sering melakukan aksi sosial dan sering mengikuti acara hiburan fashion kelas atas. Menurut Wikipedia, sosialita adalah kata serapan dari Bahasa Inggris, yaitu socialite.
__ADS_1
Socialite terdiri dari 2 kata yaitu social (suka memperhatikan kepentingan umum) dan elite (kelompok orang yang memiliki derajat tinggi, seperti cendekiawan atau bangsawan). Jadi, dapat diartikan, sosialita adalah kelompok orang yang memiliki derajat tinggi, yang peduli dengan orang lain, khususnya orang yang tidak mampu.
Namun, dalam pengaplikasiannya, makna sosialita ini justru memiliki konotasi negatif. Di Indonesia, sosialita justru dipandang sebagai kelompok orang yang hanya ingin mempertahankan status sosialnya saja, sehingga mereka terlihat ideal di mata masyarakat dengan standar yang mereka ciptakan sendiri.
Sebelumnya, sosialita identik dengan perkumpulan ibu-ibu arisan. Namun semakin lama, remaja juga sudah membentuk kelompoknya sendiri dan menamai dirinya sebagai remaja sosialita.
Sebenarnya kaum sosialita sesungguhnya adalah mereka yang tidak suka pamer kekayaan, tetap rendah hati dan merakyat. Berbeda dengan sosialita yang menamakan diri mereka 'sosialita elit' yang ingin menampilkan eksistensi mereka.
Tak lama dengan segala kemeriahan dibalut dengan kemewahan. Arisan dengan berlian seharga 1 milyar dimenangkan oleh Mega Handayani.
"Selamat ya Jeng,"
"Wah arisan kali ini sungguh keberuntungan nyonya Mega."
"Terimakasih Jeng, terimakasih." kata Mama Mega ramah.
Acara pun dilanjutkan dengan acara makan bersama.
Namun Mama Mega tak nafsu makan, ada yang sejak tadi mengganggu pikirannya. Dia diam saja, dan hanya memperhatikan para Ibu-ibu yang terlihat sangat bahagia. Kini satu-persatu Ibu-ibu Arisan pergi untuk melanjutkan urusannya masing-masing. Dan Mama Mega masih duduk dengan beberapa Ibu-ibu sosialita.
"Kenapa Jeng, kok saya perhatikan sejak tadi murung. Apa tidak senang, sudah dapat arisan berlian?" Bu Evi yang duduk bersebelahan dengan Mega bertanya.
"Bu Mega, kenapa mantunya Bu Mega tidak diajak," kata Bu Mirah, menyela pertanyaan yang sedang diajukan Bu Evi.
"Bagaimana bisa di ajak, kan mantunya Bu Mega, wanita kampungan. Mana tahu dia soal arisan sosialita, nanti yang ada dia malu-maluin." sela Bu Bianca ikutan nyinyir.
"Eh Bu Bianca jangan bicara seperti itu. Kan siapa tahu ternyata menantu Bu Mega anak konglomerat, tapi karena dia ingin hidup sederhana saja," jawab Bu Evi.
"Benarkah?" Bu Bianca menyangsikan ucapan Bu Evi. "saya sangat meragukan kalau mantu Bu Mega anak dari orang kaya, aku dengar dia cuma guru TK. Orangtuanya saja hanya memiliki pabrik teh, mana pantas bergaul dengan kita-kita." lanjutnya nyinyir.
"Diamlah! Apa mulut mu itu tidak disekolahkan Bu Bianca?!" sarkas Mama Mega kesal.
Bu Bianca tersentak mendengar nada keras dari Bu Mega. Dia lantas menyambar tas lalu pergi dari sana.
Mama Mega meremas jemarinya yang terkepal. Aku harus berusaha membuat Ashoka berpisah dari Wanita sialan itu! Kemanapun aku pergi hanya mempermalukan ku saja!
"Bu Mega, sebenarnya kenapa dan bagaimana bisa anak Bu Mega menikahi wanita itu?" Bu Via bertanya dengan hati-hati dikarenakan melihat wajah wanita ini tak bersahabat.
"Iya Jeng Mega, apa jangan-jangan Ashoka telah di jebak wanita itu untuk menikahinya, setahu saja Ashoka itu itu seorang pria yang sulit di taklukkan?" imbuh Bu Ajeng, ia sendiri pernah ingin menjodohkan putrinya dengan Ashoka. Tapi sayang, duda satu anak itu menolaknya mentah-mentah.
Mama Mega tercenung mendengar perkataan 'jebak yang dilontarkan oleh Bu Ajeng. Sepertinya aku mendapatkan ide bagus!
...*****...
__ADS_1
Bersambung....