Pengantin Tuan Ashoka

Pengantin Tuan Ashoka
Hanyalah istri pajangan.


__ADS_3

Setelah beberapa hari....


Aku harus bagaimana jika Ayna mengacuhkan ku. Berulang kali aku mencoba mendekatinya tapi tetap saja anak itu menghindar. Apa yang harus kulakukan, sepertinya Mama Mega telah berhasil meracuni pikiran gadis kecil itu supaya benar-benar membenci ku.


Mengingat poin penting perjanjian yang tertuang di beberapa lembar kertas yang telah ku baca, aku harus menjaga dan merawat Ayna. Dengan adanya Ayna sekarang membenci bahkan menghindari ku, bukankah sama saja aku tak lagi penting di rumah ini?


Lagi pula, Ashoka sepertinya memang tak membutuhkan sosok istri. Terlihat bahwa pria itu masih sangat mencintai almarhumah istri pertamanya. Dan apalah aku ini, aku pun tak bisa mengharap lebih untuk dicintai pria kaku itu,


Tunggu, kenapa aku berpikir untuk dicintai olehnya? Haha sepertinya aku sudah gila?


Mendengar Ayu tertawa sendiri membuat Tarjo yang mendengarnya ngeri. Ia celingukan mencari sesuatu yang dianggap lucu. Tapi sejauh mata memandang biasa saja baginya, lalu apa yang membuat gadis ini tertawa? Daripada Tarjo penasaran, ia akhirnya bertanya. "Apa yang nyonya tertawakan?"


Lamunan Ayu pun buyar, saat mendengar suara Tarjo. Dilihatnya pria itu sedang menatapnya bingung. "Ah, tidak ada Om Tarjo, saya hanya sedang menertawakan hidup saya."


Dasar gadis aneh! cibir Tarjo dalam hati. Ia kembali melihat tuan Ashoka yang sedang menjaga Ayna bermain perosotan. Eh tapi kasihan juga, dia hanya duduk sendirian. Ada apa sebenarnya dengan nona kecil?


Ayu kembali bermuara dalam lamunannya.


Hahh.. Kenapa sekarang aku merasa amat sangat berat menjalani hidup seperti ini, setelah di campakkan anak kecil. Padahal aku sudah terbiasa di campakkan dan itu biasa-biasa saja,


Seharusnya aku senang karena dengan begitu, Ashoka mungkin saja akan menceraikan ku secara suka rela tanpa harus membuatnya marah. Kalau sampai aku membuat Pria itu marah bukan hanya pabrik teh dan perkebunan yang dia porak-porandakan, tapi juga kehidupan orang tua ku. Dan jangan harap untukku pulang ke rumah. Mungkin aku langsung di usir Bapak sama Ibu,


Tak ku lihat lagi wajah cerah dan senyuman manis Ayna padaku. Aku saat ini hanya bisa duduk di bangku taman belakang rumah sambil mengamati interaksi ayah dan anak yang sedang bermain di hari weekend. Karena Ayna, tidak membolehkan ku untuk ikut bermain,


Ada perasaan sedih, bingung dan tidak tau aku harus berbuat apa. Bunga warna-warni di taman ini juga seakan tak mampu membuat ku senang, seakan tak mampu memberi ku warna warni kehidupan. Seakan hilang begitu saja, tergantikan dengan warna abu-abu kesuraman.


Aku juga tak lagi mendengar Mama Mega berteriak dengan segala caci makian nya. Karena Mama mertua terlihat sibuk dengan urusannya dan lebih sering menghabiskan waktu luang bersama dengan Ayna mungkin juga dengan hasutannya. Secuil pun Aku tidak diizinkan untuk mendekati gadis kecil ku,


Hal itu membuat telinga ku sedikit mengalami kelonggaran. Seharusnya memang begitu. Seharusnya Aku merasa tenang 'kan? Tapi bagaimana jika tidak? Bagaimana jika Aku merasa hampa? Karena hampir semua orang di rumah ini mendiami ku sejak kejadian itu, sejak aku pulang terlambat,


Bahkan Mama Mega sampai mengikuti ku dan Ayna ke sekolah. Mama mertua mengintai kami, agar Ayna tidak dekat denganku. Dia benar-benar memulai strategi perang dengan cara diam-diam menghasut semua orang untuk membenci ku. Bahkan Bik Marni di pulangkan ke kampung halaman, hanya karena Bik Marni memberiku saran ketika aku bertanya apa kesukaan Ayna dan Ashoka,


Mungkin saja Mama mertua merasa jika dengan caci maki tak berhasil membuat ku angkat kaki dari rumah ini. Maka dengan menghasut semua orang akan membuat ku tidak betah dan akhirnya pergi dengan kemauan ku sendiri,

__ADS_1


Aku mengharapkan kapan hari itu tiba. Hari dimana aku bebas,


Kini rasanya untuk tinggal di rumah sebesar ini aku seperti tunggak yang lapuk.


Teringat kembali dengan semua fitnahan Mama Mega yang mengatai ku shoping-shoping dan pergi dengan teman-teman ku. Sumpah, demi apapun, sampai detik ini pria itu tak pernah memberi ku uang, tak pernah juga aku melihatnya memegang uang kas, bahkan tak pernah ku lihat kartu sakti yang selalu di sebut-sebut sebagai pamungkas orang-orang kaya raya,


Bahkan Om Tarjo sebagai orang kepercayaan Ashoka, tak pernah sekalipun membahas tentang hal itu,


Aku sebenarnya heran, kenapa Mas Ashoka hanya diam saja dengan segala peraturan yang dibuat Mama Mega sampai memecat Bik Marni segala. Dia itu punya hati tidak sih? Aku jadi kesel sendiri!


Lama bertengkar dan bergulat dengan hati dan pikirannya sendiri. Ayu tersadar, saat mendengar tawa kecil Ayna. Aaa aku kangen...


Dilihatnya Tarjo yang sejak tadi hanya berdiri tidak jauh darinya berada. Ayu hanya heran, kenapa juga di hari weekend Tarjo berangkat. Padahal sejak tadi tidak ada yang dilakukan, kan lebih baik di rumah berkumpul dengan keluarga. Apa jangan-jangan Tarjo tidak mempunyai keluarga? Ayu menggendikkan pundaknya. Toh, hal itu bukan urusannya.


"Om Tarjo boleh saya bertanya?" Ayu bertanya dengan suara yang biasa saja.


"Silahkan nyonya," jawab Tarjo tanpa menoleh.


"Bisakah memangil saya biasa saja, tak perlu sampai menyebut dengan embel-embel seperti itu,"


"Bukan, bukan itu pertanyaan saya,"


"Jadi silahkan jika anda mau bertanya, langsung pada intinya saja,"


Cih, iya aku tau kau sangat sibuk. Tidak Om Tarjo tidak Ashoka mereka sama-sama kaku.


"Apa anda tau, kenapa Mas Ashoka menerima tawaran Bapak untuk menikahi saya?"


Sejenak Tarjo tercenung mendengar pertanyaan istri atasannya. Namun, secepatnya dia menjawab. "Tidak,"


Ayu menyangsikan jawaban Tarjo, sempat dilihatnya bahwa Tarjo terkejut atas pertanyaannya, dan itu menggambarkan Tarjo memang tahu, tapi mungkin saja menutupinya. "Tidak mungkin anda tidak tahu?"


"Jika saya memang tidak tahu? Apakah anda akan memaksa saya untuk berbicara?"

__ADS_1


Sialan! Kenapa orang-orang yang berada disekitar Ashoka sangat-sangat menyebalkan, tidak Gading, tidak Mama Mega, bahkan kini Ayna juga menjauhiku.


"Baiklah, lewati pertanyaan saya tadi, saya akan bertanya pada pertanyaan selanjutnya," tak ingin Ayu sia-siakan kesempatan bertemu dengan orang kepercayaan suaminya, dengan begitu ia bisa mengetahui seperti apa perangai Ashoka yang dianggapnya misterius.


"Silahkan nyoya,"


"Apa Mas Ashoka pernah gonta-ganti wanita setelah ditinggalkan oleh istrinya?"


"Tidak,"


"Kalau begitu untuk apa dia menikah lagi, bukankah selamanya dia akan mencintai istri pertamanya sampai mati?"


Om Tarjo diam, pria itu terlihat kebingungan untuk menjawab pertanyaan ku. Semakin membuatku sangat penasaran seperti apa perangai Mas Ashoka. Jika aku tahu, kan lebih mudah bagiku jika berhadapan dengannya.


"Om Tarjo, apakah hanya almarhumah nyonya Rose yang Mas Ashoka cintai, tidakkah dia pernah bertemu wanita sebelum almarhumah istri pertamanya?"


"Tidak," yah, seingat Tarjo hanya Rose lah wanita yang Ashoka cintai selama ini.


"Jadi seperti apa nyonya Rose?" Ayu bertanya lagi. Entah kenapa ia sangat penasaran akan hal ini.


"Sebenarnya berkaitan dengan pertanyaan anda. Apakah anda cemburu, nyonya?"


Ayu tertegun mendengar pertanyaan dari Tarjono.


Ada apa dengan hatiku mendengar pertanyaan seperti itu, aku tidak mungkin cemburu 'kan? Tapi kenapa rasanya seperti hatiku ngilu.


Ayu tertunduk lesuh serta memilin jari jeraminya. "Siti Aisyah cemburu karena Rasulullah selalu menyebut Siti Khadijah padahal beliau telah wafat sebelum dirinya menikah dengan Rasulullah," ia kembali mengangkat wajahnya menatap Tarjo yang kini juga menatapnya. "apakah saya salah telah menanyakan hal ini Om Tarjo?"


Tarjono menghela nafas dalam. Dia merasa kasihan melihat gadis yang sebenarnya masa depannya masih panjang namun harus memiliki sekelumit permalasahan hidup yang dijalaninya.


Melihat Om Tarjo diam, itu menandakan bahwa aku hanyalah istri pajangan.


...*****...

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2