
Pintu kamar terbuka, dengan adanya Ashoka masuk kedalam kamar. Netranya melihat istrinya itu sedang duduk dengan pandangan menunduk dan nampaknya sedang kesusahan dalam membuka resleting pakaian dibagian belakang.
Ashoka menduga jikalau Ayu tengah serius sampai tidak mendengar saat ia membuka pintu kamar. Ia berjalan mendekatinya, lantas memegang tangan istrinya yang sejak tadi dilihatnya sedang berusaha membuka resleting. Dan benar saja seperti dugaannya. Ayu terlonjak kaget.
Ayu langsung berbalik menoleh kaget, saat mendapati tangannya disentuh. Ia mendongakkan kepalanya pada wajah Ashoka dan ia baru saja menyadari bahwa suaminya ini sedang berdiri dibelakangnya.
"Anda sepertinya sangat senang membuat saya jantungan?" Ayu mendengus kesal. Dilihatnya wajah suaminya ini datar, persis seperti apa yang dilihatnya setiap hari. Ia kembali menghadap depan, dimana cermin rias berada.
"Kau yang terlalu serius," cetus Ashoka, seraya tangannya memegang kedua bahu istrinya.
Netra Ayu membulat, saat merasakan bahunya hangat. Perlahan ada desiran aneh dalam dirinya seolah kehangatan di bahunya menjalari hatinya.
"Maksudnya?" tanyanya melihat Ashoka dari pantulan cermin.
"Membuka resleting saja sudah membuatmu serius." Ashoka melihat Ayu di pantulan cermin. Sekali gerakan jemari tangannya, Ashoka sudah membuka resleting pakaian istrinya. Atensinya beralih menunduk pada punggung Ayu yang terekspos putih bersih menampilkan tali bra warna hitam. Perlahan ada dorongan dalam dirinya, jemari telunjuknya menyentuh punggung Ayu.
Ashoka menelan salivanya, melihat sesuatu hal yang membuat kelaki-lakiannya tergugah.
Ayu tercengang dengan apa yang dilakukan Ashoka. Netranya mendelik kaget, melihat wajah suaminya ini sedang menunduk. Desiran aneh dalam dirinya semakin menjadi lebih aneh, saat merasakan jemari suaminya ini menyentuh punggungnya. Tiba-tiba muncul dalam pikirannya tentang si wanita bule.
"Bagaimana dengan wanita bule itu, siapa yang menemaninya jika anda di sini?" cetus Ayu, kini tatapannya pada suaminya ini berubah menjadi dingin.
Telinganya mendengar Ayu berbicara, hingga Ashoka menghentikan jemari tangannya pada pengait bra. Ia kembali menyadari dirinya telah terlena sampai membuatnya seolah tanpa sadar telah menyentuh tubuh istrinya. Ashoka menarik tangannya dari sana. Secara perlahan mengangkat wajahnya, bersitatap pada netra Ayu yang menatapnya sinis.
"Apa kau cemburu?" tanyanya menyelidik.
"Apakah anda menangkap gelagat kecemburuan dari saya?" Ayu balik bertanya, Netranya masih bersitatap dengan sorot mata Ashoka di pantulan cermin.
Ashoka diam, dan dalam diamnya ia sedang mengamati bahwa istrinya yang terkesan dingin tapi mungkin saja sedang menyembunyikan kecemburuan.
"Jangan membicarakan orang lain saat kita sedang berdua." tukas Ashoka berjalan menjauhi istrinya, dan tempat tidur adalah tujuannya.
Ayu memutar badannya, ia melihat suaminya itu sudah berbaring dengan bersandarkan sandaran tempat tidur. Dahinya mengernyit melihat hal itu.
"Baiklah saya paham, saya tidak akan ikut campur mengenai hal privasi anda, termasuk juga soal wanita," Ayu berdiri dengan pandangan masih menatap Ashoka. "tapi kenapa anda berbaring di tempat tidur saya?"
Ashoka memejamkan matanya, menikmati aroma wewangian segar di ini. "Mulai malam ini.... ini adalah kamar ku juga,"
Ayu mendelikkan matanya, tidak mengerti akan apa yang sebenarnya dikatakan oleh suaminya ini. Lagi-lagi ia hanya bisa menghela nafas panjang menahan kesal saat Ashoka bertindak sesuka hatinya. Ia berjalan mendekati ujung tempat tidur, diambilnya selimut dari sana.
"Baiklah anda pakai saja kamar ini, saya tidur di kamar Ayna." hardik Ayu menahan kesal.
__ADS_1
Ashoka membuka matanya, lantas beranjak duduk. "Tunggu!"
Ayu menghentikan langkahnya saat baru dua langkah berjalan. Kali ini nafas agak kasar ia hentakan menyelaraskan rasa kesalnya pada manusia menyebalkan itu. "Iya ada apa?"
"Kita bisa tidur sekamar," ujar Ashoka melihat istrinya itu dari belakang sedang memeluk selimuti berwarna cokelat pastel.
Ayu terhenyak atas pernyataan Ashoka yang terdengar seperti permintaan. Ia berbalik badan, melihat Ashoka sedang menatapnya. "Boleh saya tanyakan satu hal?"
Ashoka mengangguk kecil.
"Kenapa anda tiba-tiba berubah manis?" ungkap Ayu menyampaikan unek-uneknya yang sempat bergelut dalam benaknya.
Ashoka menggendikkan pundaknya. "Karena manis itu enak,"
"Tapi saya takut," celetuk Ayu.
"Takut kenapa? Bukankah kau pernah bilang, jikalau kau tidak takut apapun?" jawab Ashoka ingin sedikit bercanda, tapi melihat istrinya ini nampak serius. Alhasil nada suaranya jadi terkesan garing.
"Saya takut terkena diabetes, karena hal manis yang anda lakukan membuatnya saya jadi tambah bingung," tukas Ayu sangat serius.
"Kenapa bingung?" Ashoka meladeni racauan istrinya santai.
"Maksud mu?"
"Apa yang bisa saya lakukan jika saya selalu merasa saya ini bukanlah istri anda. Melainkan hanya wanita yang dijadikan tumbal pelunasan hutang," ungkap Ayu, ada perasaan sesal di sana.
Lagi-lagi Ashoka terpekur mendengar serta memandangi istrinya yang tak sedikit menggeser posisi berdirinya. Sampai pada suaranya mengambang di udara laksana kapas yang tertiup angin, sangat ringan. "Jadilah teman ku,"
"Teman?" Ayu mengulangi kata-kata paling bersahabat dari sekian banyaknya Ashoka berbicara dengannya.
"Iya, teman... dengan begitu perlahan-lahan kita akan mampu membuka diri. Kita tidak akan lagi merasa canggung dan juga risih, soal hutang. Jangan selalu mengungkitnya, kau tidak akan pernah bisa menggantinya, karena kau telah menjadi istri Ashoka." tukas Ashoka, ingin membuka pikiran Ayu agar tidak perlu lagi mengungkit soal hutang piutang.
"Haruskah saya berterimakasih atas apa yang anda katakan barusan?" tanya Ayu tak mengalihkan atensinya.
"Terserah!" celetuk Ashoka.
"Jadi apakah dengan demikian kita memang memerlukan satu kamar juga?" Ayu bertanya lagi guna memastikan.
Ashoka mengangguk kecil. "Kau tentu ingin membuktikan jika hubungan kita di mata Mama Mega baik-baik saja bukan, dengan adanya kita satu kamar, ini akan sangat menguntungkan mu..." Ashoka menjeda ucapannya, ia merentangkan kedua tangannya lalu menekuknya dibelakang kepala sebagai tumpuan. Lantas berbaring di bantal yang bertumpuk dua.
"lagi pula aku sudah meminta Pak Khan untuk memindahkan semua pakaian dan barang-barang ku di kamar ini. Jadi kau tidak perlu bersusah payah untuk bolak-balik kamar, dan kau akan lebih mudah dalam mengurus ku." sambung Ashoka bersuara sangat santai.
__ADS_1
Hahhh ternyata enak juga bersikap biasa saja. Tanpa perlu menjadi sok jaim yang nantinya akan membuat ilfil.
Ashoka melihat istrinya itu nampak sebal. Dan ia merasa baru kali ini banyak bicara serta bernada suara santai pada seseorang setelah almarhum Rose tiada.
Ayu mendesis sebal, merasa telah di prank melalui sikap Ashoka yang manis. Ternyata memang ada udang dibalik bakwan. Ayu membuang selimut di lantai lantas berjalan menuju ruang ganti pakaian. Dan baru saja sadar, pada saat masuk kedalam kamar ia belum ke ruang ganti pakaian. Saat ini maniknya sedang melihat pakaian Ashoka serta barang-barang suaminya yang telah berjejer rapih.
Kapan dia melakukan ini, sore tadi saat kami keluar makan pecak lele dan ke festival belum ada perubahan apapun di dalam kamar ini.
Ayu segera mengganti pakaiannya dengan pakaian piyama. Lantas keluar dari ruang ganti pakaian, maniknya melihat suaminya itu sedang berbaring miring menghadapnya.
"Tidurlah di sini, kamu tidak perlu takut. Aku tidak akan menyentuh mu, sampai kita benar-benar siap untuk melakukannya." Ashoka menepuk bantal kosong di sebelahnya.
Netra Ayu menatap malas pada Ashoka yang seolah bersikap tenang. Sekilas melihat bantal kosong di sebelah suaminya itu berbaring.
Ashoka melihat Ayu seperti terpaku ditempat berdiri. Seperdetik kemudian melihat istrinya itu berjalan melewati tempat tidur.
"Hey kau mau kemana, apa kau mengabaikan ucapan ku, hah?" serunya lantang. Namun sesaat kemudian Ashoka melihat Ayu membungkuk lalu mengambil selimut dan kemudian berjalan ke tempat tidur.
Ayu kesal, ia diam saja. Bahkan tak berniat menjawab perkataan Ashoka. Lalu berbaring di tempat tidur memunggungi Ashoka.
"Hey kau, dosa tau! Tidur membelakangi suami." kata Ashoka datar.
Lagi Ayu hanya bisa menghela nafas kasar saat mendengar Ashoka menegur nya. Ya Allah, sampai kapan penderitaan ini berakhir.
Ayu berbalik badan, lalu mengayunkan tangannya di udara dan mendarat mulus di tubuh suaminya. "Puas!" netranya bertemu pandang dengan netra Ashoka. Meskipun jantungnya berdegup kencang namun sebisa mungkin Ayu mengontrolnya. Eh tapi dia memang manis.
Ashoka tertegun mendapati sikap istrinya yang telah berani memeluknya. "Ya sangat puas! Apalagi jika kita bisa melakukannya malam ini,"
"Tidak!" sergah Ayu cepat. Ia mulai memejamkan mata. "saya masih perlu kesiapan, dan seperti yang anda katakan, kita akan menjadi teman untuk saling mengenal satu sama lain." sambungnya bersuara tegas.
Ashoka mengangkat tangannya, lalu membelai rambut istrinya. Seulas senyuman tersungging di kedua sudut bibirnya. Sesaat kemudian menarik tangannya dari sana. Perlahan matanya terpejam.
Sebenarnya Ayu tersentuh saat Ashoka mengusap rambutnya. Tapi untuk menutupi degupan jantung yang semakin meningkat, Ayu lebih memilih tetap memejamkan matanya. Ia membaca niat doa tidur dalam hatinya, perlahan alam bawah sadarnya di tarik oleh alam mimpi. Dengan khayalan membayangkan Ayna yang tidur disebelahnya, Ayu mengusap-usap punggung Ashoka.
Dalam keadaan mata terpejam, Ashoka tersenyum tipis saat mendapati punggungnya diusap-usap Ayu sangat lembut.
Keduanya sama-sama larut dalam alam mimpi.
*****
Bersambung
__ADS_1