
Sepanjang hari menemani Ayna, Ayu selalu ingin bisa memberikan hal-hal yang bermanfaat dan tentunya positif untuk putri sambungnya.
Dilihatnya Ayna begitu penurut, dan mengerjakan soal-soal yang diberikannya, membuat Ayu semakin sayang dan merasa bahwa dia sedikit berat untuk pergi dari rumah ini. Dia sendiri juga sudah selesai mendesain gambar dengan tulisan untuk anak-anak murid di laptopnya agar keesokan harinya tinggal di print.
Sekarang giliran membuat susu untuk Ayna, karena tidak ada lagi Bik Marni yang membantunya. Semua peralatan Ayna untuk membuat susu ada di kamar. Ayu juga tidak lagi membuat susu memakai dot. Dia ingin membiasakan Ayna meminum susu pakai gelas dan sebelum gosok gigi.
"Ayo sayang, ini susumu di minum, setelah itu kita gosok gigi dan bobo,"
"Iya Ma, tapi kan Ayn sudah selesai mengeljakan pl'na, Ma. Sekalang Ayn mau dengel Mama celita, yang kata Mama Beluang, bulung gagak, sama bulung melak tinggal selumah," Ayna menutup bukunya, dia menagih janji, jikalau selesai mengerjakan pr-nya. Maka Mama Ayu akan membacakan dongeng untuknya.
"Iya baiklah, Mama tidak lupa. Sekarang habiskan dulu susumu, lalu kita gosok gigi,"
Ayna meminum susunya sampai tandas, lalu memberikan gelas pada Mama Ayu. Ayu menaruh gelas di nampan atas meja. Kemudian Ayu menggiring Ayna untuk masuk kedalam kamar mandi. Setelah menggosok gigi dan mencuci kaki serta tangan, mereka keluar dari kamar mandi dengan gigi yang bersih.
Ayna menaiki tempat tidur yang tingginya memang di desain khusus, agar dia tidak kesusahan saat naik dan turun dari tempat tidur.
Di susul Ayu yang duduk dengan bersandarkan sandaran tempat tidur sedangkan kakinya selonjoran. Kini keduanya sudah pada posisi posisi wenak, atau bila tidak disingkat pw.
"Ayo Ma, dimulai celitana, sebelum Ayn ngantuk," Ayna menatap Mama Ayu dari bawah dagu. Lalu memeluk perut wanita yang dipanggilnya Mama.
Ayu tersenyum, dia kemudian menarik bantal dan menyandarkan kepalanya di bantal. Dengan badan menghadap Ayna.
"Pada zaman dahulu, semua hewan hidup rukun aman dan damai. Termasuk Bubu si beruang betina. Bubu tinggal bersama Gaga dan Meri. Gaga adalah burung gagak. Meri adalah burung merak. Bubu merawat Gaga dan Meri sejak kecil,"
"Bealti meleka benelan bisa tinggal selumah Ma?" kata Ayna memotong cerita yang sedang diceritakan Mama Ayu, karena penasaran imajinasi nya sudah mengembara menggambarkan sosok Beruang, burung merak dan burung gagak yang tinggal serumah layaknya manusia.
"Iya serumah, rumah mereka berada di hutan," jawab Ayu.
"Hutan?" gambaran dalam kepala Ayna sudah kemana-mana.
"Gaga dan Meri sangat berbeda. Gaga berbulu hitam lebat. Sehingga Gaga tampak seram. Bulu Meri warna-warni ekornya mengembang seperti kipas banyak orang kagum dengan Meri,"
"Karena bulunya yang hitam, Gaga tidak mau keluar rumah. Gaga tidak percaya diri, karena banyak orang yang takut padanya karena berbulu hitam,"
"Pada suatu ketika, Meri mengajak Gaga bermain di luar, tapi Gaga tetap tidak mau,"
__ADS_1
"Gaga ayo main di luar, kamu jangan takut," kata Meri mengajak Gaga bermain.
"Meleka bisa bicala Ma?" Ayna bicara lagi, dia belum paham kenapa hewan bisa bicara.
"Bisa, inikan cerita pada zaman dahulu, sayang," sahut Ayu memberi pengertian yang kiranya dapat dimengerti Ayna. Dilihatnya Ayna mengangguk seperti Paham.
"Ya udah, Mama lanjut lagi celitana, Ayna mau dengal," kata Ayna, dia memeluk dan membenamkan wajahnya di dada Mama Ayu, terasa sangat nyaman.
Ashoka masih stay berdiri di depan pintu, dia tersenyum mendengar suara Ayu dan Ayna. Apalagi saat Ayna bertanya tentang hewan bisa bicara? Menurutnya amat sangat lucu. Wanita itu pandai membuat cerita, seharusnya dia menjadi sutradara hehe..
Sementara itu, Ayu kembali bercerita.
"Aku tidak mau, aku takut mereka tidak suka padaku karena bulu ku hitam, tidak seperti bulu mu yang cantik seperti kipas warna-warni, Meri," jawab Gaga.
"Meri memikirkan bagaimana caranya agar Gaga mau main diluar, tanpa Gaga merasa takut jikalau orang-orang akan takut padanya,"
"Pada malam hari, Meri sengaja mencabuti bulu-bulunya yang berwarna-warni. Tak perduli jika setiap bulu yang tercabut rasanya sangat sakit. Demi Gaga, Meri melakukannya, karena Gaga juga pernah membantu Meri saat Meri ekornya luka. Meri menganyam bulu-bulunya, saat Gaga masih tertidur dia memasangkan bulunya ke sayap-sayap Gaga yang berwarna hitam, hingga sayap Gaga yang hitam tidak terlihat lagi,"
"Pada keesokan harinya, Gaga terbangun, dia amat sangat terheran-heran. Karena bulunya yang hitam kini telah berubah warna-warni seperti bulu Meri,"
"Bubu datang, dan mengatakan pada Gaga. Bahwa bulu-bulu yang menutupi bulu Gaga yang hitam, adalah bulu-bulu milik Meri,"
"Gaga segera mencari Meri, dan menemukan Meri di tepian danau. Gaga melihat Meri tidak mempunyai bulu-bulu warna-warni lagi, karena sudah di berikan pada Gaga,"
"Meri..." Gaga memanggil Meri.
"Gaga," Meri tersenyum melihat saudaranya tidak lagi takut untuk keluar rumah.
"Kenapa kamu memberikan bulu-bulu cantik mu padaku, Meri?" kata Gaga bertanya pada Meri.
"Supaya kamu tidak lagi malu untuk keluar rumah karena bulu hitam mu," jawab Meri sembari tersenyum meskipun tubuhnya sangat dingin karena terpaan angin yang berhembus.
"Gaga sangat terharu mendengar Meri mau mencabut bulu-bulu cantiknya agar Gaga mau keluar rumah tanpa takut jika orang-orang akan menganggap Gaga burung yang menakutkan,"
"Tidak Meri, aku tidak boleh begini. Meskipun aku hitam, tapi ini bukan aku, aku tidak bisa menjadi seperti mu, dan kamu juga tidak bisa menjadi seperti ku, huhuhuuu.." kata Gaga, seraya menangis.
__ADS_1
"Aku memang mau mempunyai bulu warna-warni dan cantik seperti mu Meri, tapi bukan dengan kamu mencabuti dan melukaimu, lebih baik aku menjadi burung si gagak berbulu hitam, daripada aku menyakiti mu, hu hu huuu..." lanjut Gaga masih menangis.
Meri memeluk Gaga.
"Tidak apa-apa Gaga, bulu-bulu ku akan tumbuh lagi. Lagipula bulu-bulu ku sangat panjang dan berat, aku kadang susah untuk berjalan," jawab Meri, menenangkan kekhawatiran Gaga.
"Gaga, Meri." Bubu beruang datang dari arah belakang Meri dan Gaga, dial lantas mendekati keduanya. Dirangkul pundak Meri dan Gaga. "Semua makhluk yang diciptakan oleh Allah memiliki takdirnya masing- masing. Allah Swt telah mengatur setiap takdir yang dijalani oleh makhluk- Nya. Ada takdir yang bisa diubah dan ada yang tidak bisa diubah. Bisa jadi, apa yang kita keluhkan, begitu didambakan oleh mahluk yang lainnya. Ada kelebihan pasti juga ada kekurangan. Kita harus selalu bersyukur dengan apa yang sudah menjadi kodrat kita untuk menjalani hidup." kata Bubu menasehati Meri dan Gaga.
"Beberapa hari telah berlalu. Gaga tidak takut lagi untuk keluar rumah, bahkan dia suka terbang ke hutan. Bertengger di dahan pohon. Meri yang tidak bisa terbang jauh. Meri bermain di sekitar rumah, tapi kemudian Gaga kembali ke rumah untuk menemani Meri bermain,"
"Banyak perbedaan antara Bubu, Gaga dan Meri. Namun mereka saling menyayangi. Mereka pun bermain bersama membersihkan rumah bersama juga membantu Bubu di rumah,"
"Selesai..." Ayu melihat Ayna masih terjaga, bahkan gadis kecil ini nampak sedang menyaring cerita yang sedang di dongengkan nya.
"Apa belteman juga nda boleh pilih-pilih ya Ma? Telus kalau ada yang belbuat jahat gimana, Ma?" Ayna bertanya, gadis kecil ini mengalihkan posisinya duduk.
"Kita tidak hidup sendiri, ada saudara dan orang tua, ada teman-teman kita, ada pula tetangga-tetangga kita, kita hidup dalam masyarakat harus peduli satu sama lain. Saling membantu dan menolong karena kita sebagai makhluk sosial tidak dapat hidup sendirian," Ayu ikut memposisikan dirinya duduk berhadapan dengan Ayna. Kedua tangannya menangkup pipi gembul gadis kecilnya, ditatapnya kedua bola mata hitam Ayna. "Kalau ada yang berbuat jahat sama kita, ya lebih baik kita menghindarinya, itu tandanya dia bukan teman yang asik di ajak bermain."
Sementara itu, di luar kamar. Ashoka tersenyum lebar mendengar apa yang sedang diperbincangkan Ayu dan Ayna. Entah kenapa dia amat sangat bahagia, seperti menemukan kekurangannya yang selama ini hilang. Inilah impiannya, memiliki keluarga yang utuh.
"Kak Ashoka?" Gading melihat Ashoka sedang berada di depan kamar Ayna, tepatnya seperti sedang mengintip di celah pintu kamar.
Ashoka terlonjak kaget, mendengar suara Gading. "Kau!"
Di dalam kamar, baik Ayna maupun Ayu terlonjak kaget, saat mendengar suara Gading. Mereka lantas beranjak dari tempat tidur dan membuka pintu kamar.
"Dady..." seru Ayna girang.
*****
Bersambung...
*
Hallo bestie... jika kalian suka. Please yah tinggalkan like, vote dan gift. Agar Author amatiran ini semakin semangat up-nya.
__ADS_1
Terimakasih