Pengantin Tuan Ashoka

Pengantin Tuan Ashoka
Aku wanita biasa


__ADS_3

Biarpun sudah terlelap, tapi Ayu tetap membangunkan Ayna untuk gosok gigi. Ia tidak lengah sedikitpun dalam menjaga kesehatan mulut dan gigi, karena di sana terdapat banyak sekali bakteri yang tak kasat mata, yang menyenangkan gigi berlubang dan rusak.


"Ayo Ayn di buka mulutnya?" Ayu masih berusaha untuk membujuk Ayna agar membuka mulutnya. Ia mendudukkan Ayna di atas closed untuk memudahkannya. Dan ia sendiri berjongkok dihadapan gadis kecil ini.


"Hemmmm..." Ayna menggeleng dengan mata yang masih terpejam karena saking ngantuk nya. "Ayn mau bobo Ma..." lanjutnya bersuara malas.


"Aaaa... ayo buka mulutmu, nanti kalau kamu nggak menggosok gigimu, banyak kuman terus gigimu ilang satu-satu lho," lagi Ayu membujuk dengan ucapan halus namun sedikit ditekankan.


"Nggak mau, Ma!" Ayna lagi-lagi menggelengkan kepalanya, kali ini matanya terbuka dan melihat tangan Mama Ayu sedang memegangi sikat gigi yang sudah dibaluri pasta gigi. Ia menghalau tangan Mama Ayu supaya menjauhinya. "Mama Ayn ngantuk, Ayn mau bobo." rengeknya hampir menangis.


Ayu tak pantang mundur, meskipun Ayna merengek dan hampir menangis. Jika ia mengalah dan membiarkan Ayna tidur tanpa gosok gigi, maka sudah bisa di pastikan giginya akan mengalami kerusakan yang cukup parah. Meskipun gigi Ayna masih termasuk gigi susu. Tapi Ayu berpikir, jika tidak mendisiplinkan Ayna sejak usai dini, maka selamanya akan tertanam kebiasaan buruk hingga gadis kecil ini menjelma menjadi wanita dewasa.


Karena menggosok gigi sebelum tidur merupakan suatu hal yang wajib, apalagi sehabis makan. Hal ini sudah menjadi kebiasaan Ayu, sebab itulah dia ingin Ayna juga sama. Tak mengabaikan sesuatu hal kecil demi mencegah kerusakan yang ditimbulkan gigi di suatu hari kelak.


"Ayo sayang buka mulutmu, ini cuma sebentar kok. Habis gosok gigi sama cuci kaki, kamu bisa langsung bobo." Ayu terus mendesak serta sedikit memaksa. Ia bisa melihat bahwa Ayna berdecak sebal, sorot matanya berubah persis seperti sorot mata Ashoka yang tajam. Tapi tak membuat Ayu gentar.


Mau tidak mau, Ayna terpaksa membuka mulutnya daripada terus menerus berdebat seperti ini.


Ayu bisa bernafas lega, saat Ayna mau membuka mulutnya meskipun tak selebar biasanya saat tidak dalam keadaan mengantuk.


"Nice sayang." Ayu tersenyum senang, lalu dengan gerakan tangan perlahan ia mulai menyikati gigi Ayna.


Yah namanya juga anak kecil, susah-susah gampang dalam mendidik serta merawatnya. Apalagi bagi Ayu sendiri yang belum pernah merasakan seperti apa prosesnya melahirkan. Baginya ini masih mending, karena ia tidak merasakan seperti apa tangisan bayi pada malam hari ketika minta susu, menangis karena ngompol atau bisa jadi pup.


Meskipun demikian, karena aktivitasnya yang lebih sering dihabiskan dengan anak-anak. Seyogyanya Ayu sedikit bisa memahami karakter anak-anak, yang terkadang bikin kesel, tapi tak jarang pula bikin ketawa ketiwi.


Itulah hebatnya anak-anak, bisa membuat kita orang dewasa ketawa meskipun dalam keadaan hati paling jengkel sekalipun.


Karena mereka itu tulus, mereka tidak berpura-pura untuk bahagia seperti kita orang dewasa.


Jika hati mereka sedang mood, maka tidak bisa mereka sembunyikan untuk tertawa, jika hati mereka sedang bad mood, maka mereka akan menangis sejadi-jadinya. Bahkan tak jarang pula sampai guling-guling.


Dan itulah kenikmatan ketika masih menjadi anak kecil, mereka tidak harus berpura-pura untuk tersenyum untuk menutupi hati yang menangis. Mereka apa adanya dengan hatinya. Dengan perasaannya, dengan pemikiran polosnya.

__ADS_1


Ayu menyadari bahwasanya menjadi orang dewasa itu banyak nggak enaknya. Apalagi sekarang ia dikondisikan sebagai seorang Ibu yang tidak bebas lagi untuk keluyuran semaunya. Meskipun bukan keluyuran dalam konteks yang negatif. Tapi ia merasa tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri. Bahkan ada seorang bodyguard yang menemani kemanapun ia pergi.


Tak mengapa, hatinya sedang belajar ikhlas untuk menerimanya. Dari pada terus mengeluh. Ayu berpikir lapang, kita tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, jadi ia belajar untuk menikmati waktu dan menghargai momen kehidupan yang tidak bisa diputar ulang.


"Sudah."


Selesai sudah dalam menggosokkan gigi Ayna. Kini tinggal cuci kaki lalu membawa gadis kecil ini ke tempat tidur.


"Baca doa dulu Ayn." ucap Ayu memperingatkan Ayna.


"Bismika allahumma ahyaa wa bismika amuut." sahut Ayna, lalu memejamkan matanya. Tangannya memeluk perut Mama Ayu, hal ini sudah menjadi kebiasaannya semenjak gurunya ini menjelma sebagai Ibunya.


Ayu mengusap-usap punggung Ayna, berulangkali sampai rambut dan kembali ke punggung. Desah nafas Ayna sudah teratur.


Tidak seperti biasanya, ketika akan tidur. Ayna akan selalu meminta untuk dibacakan dongeng atau Ayu yang akan mengajari Ayna hafalan surat pendek. Seperti Al-fatihah atau Al-Ikhlas, kali ini tak perlu menunggu waktu lama untuk Ayna terlelap kembali.


Setelah memastikan Ayna tidur, Ayu kembali ke kamarnya sendiri. Ia juga harus ganti pakaian serta menggosok giginya. Setelah berada di dalam kamar mandi kamarnya. Ayu melepaskan hijabnya dan menggantungkan di gantungan pakaian.


Diambilnya sikat gigi, lantas menggosoknya perlahan.


"Apa dia masih di bawah bersama dengan wanita itu?"


"Apa yang mereka bicarakan?"


"Apa Mama Mega secara terang-terangan mengusirku dari sini dengan membuktikan membawa wanita cantik untuk Ashoka?"


"Seharusnya nggak jadi masalah buatku 'kan? Toh aku memang ingin pergi dari rumah ini!"


Ayu bertanya-tanya dalam benaknya. Ia kembali menyikat giginya. Karena sedang merasa kesal, ia menggosok giginya akan kasar sampai-sampai ujung sikat gigi menyodok gusinya.


"Aaa.." pekiknya merasakan sakit di gusi.


"Kenapa aku jadi jengkol begini?"

__ADS_1


Mencuci sikat gigi lantas kumur-kumur. Ayu mengingat kembali awal-awal bertemu dengan Ashoka. Perkataan apa saja yang dikatakan pria itu sebelum menjadi suaminya. Seakan menjadi voice mail dalam ingatannya.


"Seharusnya aku bersikap dingin, dia pernah mengatakan jika aku jangan ikut campur. Mau dia membawa seribu wanita manapun, aku harus diam!"


"Tapi istri manapun nggak akan tinggal diam kan, kalau melihat suaminya bersama dengan wanita lain?"


Hahh... Ayu menghela nafas panjang. Serba salah memang, jika ia melabrak serta mengusir wanita yang menggoda suaminya. Dapat dipastikan jikalau Mama Mega akan pasang badan untuk memarahi serta memakinya.


Ayu membasuh wajahnya agar terlihat lebih segar, dan mengharap air ini mampu membasuh pikirannya yang mulai memanas jika memikirkan Ashoka berbicara dengan wanita lain. Apalagi ia merasa wanita yang berkeliaran di samping Ashoka lebih cantik darinya.


"Lha kenapa aku jadi sibuk mikirin dia mulu?"


Ayu tercenung, ia meraba dadanya. "Apa aku cemburu?"


Ayu menggelengkan kepalanya, menyanggah apa yang sedang ia rasakan.


Setelah pergulatan hebat dalam hati serta pikirannya. Ayu keluar dari kamar mandi, ia duduk di sofa bundar depan meja rias. Memandangi dirinya yang terlihat menyedihkan.


"Aku memang tidak secantik wanita cantik yang berada di sekeliling suamiku. Mungkinkah itu sebabnya aku diselingkuhi Rudi?"


"Aku biasa saja, aku wanita biasa saja."


Ayu tersenyum pada dirinya sendiri di pantulan cermin. Lantas menepuk-nepuk kedua pipinya agak keras, seolah ia sedang membangunkan mimpinya.


"Seharusnya kamu bersyukur Ayu, kamu terlahir sempurna. Kamu tidak cacat." maki Ayu pada dirinya sendiri.


Ayu mengulurkan kedua tangannya ke belakang guna membuka resleting pakaian yang sepertinya tidak bersahabat, seperti ada benang yang menyangkut di sana.


*


Pintu kamar terbuka, dengan adanya Ashoka masuk kedalam kamar yang ditempati Ayu. Netranya melihat istrinya itu sedang duduk dengan pandangan menunduk dan nampaknya sedang kesusahan dalam membuka resleting pakaian dibagian belakang.


...*****...

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2