
Sejauh mata memandang, Ayu mengamati setiap apapun yang dilaluinya. Termasuk melihat para staf dan karyawan kantor yang terlihat masih sibuk dan ada beberapa karyawan yang membawa map. Ya, bisa di bilang kantor ini terlihat sangat berkelas dan sedang sangat sibuk.
Ayu sadar seberapa besarnya pengaruh Ashoka dalam dunia bisnis.
Dilihatnya beberapa gambar dan beberapa papan seni bangunan gedung yang menjulang tinggi, seperti apartemen dan beberapa hotel berkonsep kelas dunia. Ayu mengasumsikan bahwa kantor ini berpusat pada suatu perusahaan jasa konstruksi.
Yah, meskipun Ayu merasa dia seperti baby sitter ketimbang seperti seorang Mama muda, tapi tidak masalah lah ya. Itung-itung, dia bisa cari tahu apa pekerjaan Ashoka dan bisnis apa saja yang digeluti suami yang dinikahinya karena hutang. Secara, ia dan Ashoka sebelumnya tidak saling mengenal, dan beruntungnya saat ini ia bisa tahu tanpa harus bertanya pada Ashoka.
Hem.. aku benar-benar terlihat seperti pengasuh gadis kecil ini. Bahkan aku tidak bisa menolak, saat tiba-tiba Ayna bilang akan ke kantor. Buat apa coba Ayna ke kantor, apa setiap pulang sekolah, kantor adalah tujuannya dan bukan rumah?
Bergulat dengan pikirannya sendiri, Ayu seakan menuli saat-saat Ayna bercerita panjang kali tinggi tentang orang-orang yang berkerja di sini. Anak seusia Ayna mengingat nama-nama setiap karyawan maupun staf yang ditemuinya termasuk hebat. Mungkin juga karena Ayna sering berkunjung, atau bahkan setiap hari, jadi Ayna mengingat siapa-siapa nama dan orang yang ditemuinya di kantor ini.
"Bulung Kakak tua, hinggap di jendela, Kakak sudah tua, giginya tinggal dua..." sepanjang jalan memasuki kantor dan berpapasan dengan beberapa staf kantor, Ayna sibuk bernyanyi dan bercerita riang gembira. Seolah, kini tiada hal lagi yang ia khawatirkan. Gadis kecil ini, sudah merasa memiliki seorang Mama.
"Kakek sayang, bukan Kakak." ralat Ayu saat selentingan mendengar Ayna bernyanyi. Ayna tertawa-tawa mendengar teguran dari Ayu.
"Hay nona kecil, mau ke ruangan Dady yah?" kata seorang staf wanita yang selalu saja ingin mencuri perhatian Ayna.
"He'em, Ayna mau ketemu sama Dady." jawab Ayna seraya mengangguk kecil, dan tidak sedetikpun ia melepaskan genggaman tangannya yang berpaut di tangan Ayu.
"Kalau begitu, mari Auntie antar ke atas," jawab wanita ini menyebut dirinya Auntie. Lalu melihat seorang wanita yang datang bersama dengan Ayna. "Mbak pengasuh baru nona Ayna yah?"
Ayu hampir saja keselek lidahnya sendiri ketika mendengar wanita di hadapannya menyebutnya pengasuh. Kan-kan benar saja, aku pasti dianggap pengasuh, padahal pakaian yang kupakai saat ini lumayan bagus, apa karena wajahku terlihat ndeso yah? Ah, perasaan tidak juga.
"Aku Sofia, Mbak," kata wanita ini memperkenalkan dirinya bernama Sofia.
Ayu memaksakan diri untuk tersenyum, di tariknya kedua garis bibir yang teramat kaku. "Ayu."
Lantai delapan belas, Ayu mengikuti kemana langkah mungil Ayna. Tentu saja bersama dengan Sofia, Ayu dan Ayna memasuki lift.
Dari sudut pandang yang aku lihat, Ayna cukup dengan dengan Mbak Sofia, jika Ashoka ingin mencari Ibu sambung untuk putrinya, kenapa tidak wanita yang bekerja untuknya saja? Sejauh mata memandang, Aku melihat banyak juga karyawan cantik-cantik.
Ayu merasa dirinya seakan mati kutu, meskipun setiap hari berhadapan dengan para dosen killer, tapi inilah kali pertamanya memasuki perusahaan yang cukup besar di kota Ini.
"Mbak Ayu baru berapa hari mengasuh nona Ayna?" Sofia bertanya sesaat setelah masuki lift, bukan tanpa sebab ia menanyakan hal ini. Karena seringnya Ayna datang ke kantor bersama dengan bik Marni.
Ayu merasa perut dan hatinya tergelitik mendengar pertanyaan dari staf kantor yang masih nampak cantik ini. Ayu kikuk untuk menjawabnya. Yah, mungkin saja staf kantor banyak yang tidak tahu jikalau Ashoka telah menikah lagi.
"Emm saya..." baru saja Ayu membuka mulut untuk menjawab pertanyaan Sofia. Ayna sudah lebih dulu menyambarnya.
"Dady bilang, Bu gulu Ayu adalah Mamaku." ucap Ayna menunjukkan senyuman kecil pada Sofia.
__ADS_1
Ayu melihat wajah Sofia memperlihatkan terkejut. Ia hanya bisa membalas tatapan Sofia dengan senyuman masam.
Ka-kapan tuan Ashoka menikah? Perasaan aku tidak pernah mendapatkan surat undangan? Sofia bertanya-tanya dalam kebingungan. Pasalnya, ia selalu ingin menarik simpati atasannya dengan alibi menarik perhatian Ayna terlebih dahulu saat acap kali datang ke kantor, dan mendengar bahwa Ayna mengakui wanita yang datang membersamai ini adalah Mamanya? Alamat pupus sudah harapanku!
Tidak ada lagi pembicaraan sepanjang masa lift membawa ketiganya sampai ke lantai atas yang menjadi tujuan Ayna.
Ayu melihat Tarjo keluar dari salah satu ruangan.
"Nyonya Ayu, Nona kecil." Tarjo menghampiri Ayu dan Ayna yang belum lama keluar dari lift.
"Om Taljo, Dady mana?" Ayna langsung menyambar ucapan sekretaris Dady-nya.
Ayu melihat wajah Tarjo sedikit pias, entah karena kurang tidur. Apa karena ada sesuatu hal yang sedang dirasakan Tarjo. Atau bisa jadi karena menahan kesal akibat pekerjaan yang diberikan Ashoka.
"Dady ada di dalam kantor," jawab Tarjo gelapan. Mengingat masih ada Jamila di dalam ruangan Ashoka, Tarjo berpikir untuk mengalihkan perhatian Ayna. "nona kecil, yuk ikut Om Tarjo, Om punya permainan baru di laptop Om,"
"Enggak mau, Ayna mau ketemu sama Dady." Ayna bersikeukeuh untuk bertemu dengan Dady-nya.
Hemm.. permainan baru, memang dia di sini hanya bermain atau bagaimana? Ayu melihat wajah Tarjo yang semakin pias saja. "Sebenarnya ada apa Om Tarjo?"
Alih-alih menjawab pertanyaan Ayu, Tarjo malah balik bertanya. "Kenapa anda membawa nona kecil ke kantor tidak memberitahu saya terlebih dahulu nyonya?"
Apa maksudnya ini, dia pikir Aku tau kalau rencana Ayna tiba-tiba berubah. Aku juga harus mengalihkan jadwal kuliahku untuk menemani Ayna. Ayu menatap Tarjo dengan menahan kesal, seolah ia sedang di salahkan karena datang membawa Ayna tidak mengabarkan terlebih dahulu pada Tarjo, memang sesibuk apa Ashoka sampai bertemu saja harus membuat janji.
Tarjo juga tak bisa menyalahkan Ayu yang datang tanpa memberitahu terlebih dahulu. Mengingat Ayu baru pertama kalinya datang ke kantor ini. Tapi, Tarjo berharap, Jamila tidak melakukan sesuatu tindakan yang memalukan.
"Dady..." Ayna berseru bersamaan dengan membuka pintu dan netranya melihat Jamila yang berdiri di sebelah Dady Ashoka.
Jamila terperanjat dengan adanya kemunculan Ayna yang tiba-tiba, hingga membuat tubuhnya oleng dan ambruk di pangkuan Ashoka yang sedang duduk di sofa. Busetdah, tuyul darimana datangnya?!
Ayu yang sudah berdiri di belakang Ayna, segera menutup mata gadis kecil ini. Agar tidak melihat adegan yang membuat siapapun mengira kearah hal-hal negatif. Dilihatnya wajah Ashoka yang nampak pias, dan beralih melihat wajah Jamila yang justru menampakkan seringai senyuman. Bukan hanya itu, Jamila sepertinya sengaja melakukan itu.
"Ayna..." Ashoka syok melihat Ayna dan Ayu yang kini sudah berdiri di ambang pintu ruangan kantornya. Ashoka melepaskan rangkulan Jamila yang semakin menjadi-jadi. Ia bahkan langsung berdiri hingga membuat Jamila terjatuh di lantai.
"Aaahhh..." pekik Jamila sesaat kemudian tanpa ancang-ancang tanpa parasut, pantatnya menghantam kerasnya lantai.
"Ayo Ayna, sepertinya kita datang di waktu yang salah." ucap Ayu lembut, sorot matanya masih menatap Ashoka yang kini sudah melepaskan diri dari kungkungan pelukan wanita seksi itu.
"Tunggu!" Ashoka berdiri dengan gagahnya menghadap istri dan juga anaknya.
"Dady, apa yang Dady lakukan belsama Tante Mila?" Ayna melepaskan tangan Ayu yang menutupi penglihatannya, ia melihat Dady Ashoka sudah berdiri dan berjalan menghampirinya.
__ADS_1
Tidak langsung menjawab pertanyaan Ayna, Ashoka justru bertanya pada Ayu. "Kau, apa yang kau lakukan di sini?"
Ayu tertegun mendengar pertanyaan Ashoka. Dilihatnya Jamila yang kembali mendekati Ashoka.
"Memangnya kenapa Shoka, Ayna juga sudah tahu siapa aku. Kau takut Istri mu akan cemburu?" Jamila merangkul lengan Ashoka.
"Kau!" Ashoka menatap tajam pada Jamila, lalu melepaskan tangan Jamila yang merangkul manja di lengannya. "lepaskan tanganmu!"
Jamila terlonjak kaget mendengar suara dingin Ashoka. Namun ia tak kunjung pergi.
"Maafkan saya Mas, saya tidak tau jika anda sedang sibuk sekarang ini, lain kali saya akan memperingatkan Ayna untuk datang di waktu yang tepat. Kalau begitu saya permisi." Ayu beralih menatap Ayna, bocah kecil ini nampak bingung. "Ayna, ayo kita pulang?" bujuknya halus.
"Tapi kan Ayna balu ketemu Dady," jawab Ayna tidak ingin pulang.
Ayu menatap dalamnya manik mata Ayna. "Mau mendengarkan Mama mendongeng princess yang berubah menjadi angsa?"
Wajah Ayna berubah ceria. "Mau, mau, mau."
Ayu segera menggandeng tangan Ayna tanpa melihat Ashoka maupun Jamila.
Belum sempat Ashoka menjawab, netranya melihat Ayu dan Ayna sudah lebih dulu pergi dari ruangannya dan berjalan dengan langkah jenjang sampai menuju lift.
Rahang Ashoka menegas, saat melihat keberadaan Jamila yang masih berdiri disebelahnya. "Enyahlah dari hadapan ku!"
"Tapi kan Shoka, kita belum makan siang, kamu tau aku sampai kecipratan minyak, tuh lihat.." rengek Jamila, dia tidak terima jika Ashoka mengusirnya begitu saja. Lalu menunjukkan bekas merah di pergelangan tangannya.
Ashoka tidak perduli
"Tarjo!" pekik Ashoka memanggil sekretarisnya, sementara matanya masih fokus menatap pintu lift yang tertutup.
Tarjo dengan sigap menghampiri sang tuan. "Saya tuan,"
"Jangan pernah izinkan wanita ini datang atau menginjakkan kaki di kantor ku lagi!" titah Ashoka tanpa melihat Jamila, lalu kembali masuk kedalam ruangannya.
Ashoka berdiri di dekat jendela, matanya mengarah pada dasar pelataran perusahaannya dan melihat mobil Ayna meninggalkan pelataran. Entah mengapa dalam hati merasa ganjil menanggapi dinginnya sikap Ayu bahkan tanpa terlihat adanya kecemburuan.
Alih-alih mengambil smartpone ataupun menyusul istrinya untuk menjelaskan apa yang terjadi tadi. Ashoka kembali mengambil sketsa yang tadi sedang dikerjakannya.
"Untuk apa aku menjelaskan dan memikirkannya? Biarkan saja begitu adanya."
...*****...
__ADS_1
Bersambung....