
Setelah mengantar Ayna pulang sekolah dan membicarakan tentang kuliahnya. Meskipun Ayu harus ekstra sabar dalam menjelaskan pada Ayna kenapa dia harus bersekolah lagi. Tapi beruntungnya ada Bik Marni yang mau membantunya untuk menjaga Ayna dua sampai tiga jam kedepannya, itupun jika Dosen tidak memberikannya materi pelajaran lebih.
Ayu berharap semoga saja Dosen tidak memberikan tugas lebih, agar ia bisa pulang tepat waktu sebelum Ashoka pulang.
Ayu sengaja memakai jasa tukang ojek. Karena ia enggan di antar memakai mobil mewah yang ada di rumah Ashoka. Dia takut, jikalau teman-teman di kampusnya akan bertanya ini dan itu.
"Maaf Mas saya turun di sini saja," Ayu menepuk pundak driver Ojol agar menghentikan laju motornya.
"Kenapa mbak, ini kan belum sampai ke tempat yang di tuju?" kata driver Ojol menjawab seraya menepikan laju motornya di tepi jalan.
"Nggak pa-pa Mas, saya ada urusan di sekitar sini," ujar Ayu melihat keadaan sekitar.
"Saya bisa menunggu kok Mbak?" tawar driver Ojol karena belum terbiasa menurunkan penumpang sebelum sampai tujuan.
"Nggak pa-pa Mas, di tinggal saja. Masnya selesaikan saja orderannya, nanti saya kasih bintang lima," Ayu menjawab seraya mengeluarkan uang dari dalam tasnya. "ini ongkosnya?"
Driver Ojol bingung, namun dia tetap menerima uang yang diberikan oleh penumpangnya, dan merasa uang yang diberikan lebih. "Mbak ini kelebihan?"
"Buat tips Masnya, semoga bermanfaat," jawab Ayu ramah.
"Eh iya amin mbak, makasih. Ini padahal tipsnya banyak banget,"
"Hehe anggap saja rezekinya Mas, makasih ya Mas,"
"Sama-sama Mbak." jawab driver Ojol merasa sangat senang.
Driver Ojol meninggalkan Ayu. Ayu belumlah sampai di gedung universitas nya, sebenarnya masih ada jarak yang lumayan jauh, tapi masih ada waktu untuk sekedar menenangkan pikiran dulu sebelum bergulat pada buku dan materi pelajaran yang diberikan Dosen.
Ia menyebrang jalan, di sisi kanan jalan ada gedung menjulang tinggi yang nampak angker bagi siapa saja yang lewat. Gadis yang masih berstatuskan mahasiswi ini berjalan memasuki halaman gedung yang di pasangi seng-seng sebagai pagar, Ayu menyibakkan semak belukar yang menutupi sebagian pelataran gedung.
Ayu berpikir jikalau gedung ini tidak mangkrak, pastilah akan menjadi gedung yang sangat megah. Tapi sayangnya, entah alasan apa pembagunan gedung ini berhenti dan akhirnya menjadikan sebuah gedung teronggok yang tidak berarti.
Tempat yang dianggap sangat angker jika dilihat dari luar. Tapi berbeda jika sudah di dalam, karena Ayu bersama dengan kedua temannya Sita dan Keyla mengubah tempat ini untuk mengajarkan anak-anak jalanan les privat.
Kecintaannya pada pendidikan, membuat Ayu dan kedua temannya bertekad untuk lebih lagi menggencarkan penerapan les privat bagi anak-anak yang tidak mampu untuk membayar guru privat. Meskipun Ayu tidak tahu, gedung milik siapkah yang dipakainya ini untuk mengajarkan anak-anak jalanan les privat. Karena yang dia tahu, gedung yang digadang-gadang bakal jadi apartemen mewah kelas satu di kotanya tinggal telah lama mangkrak.
Tapi sejauh Ayu melangkahkan kakinya menuju kedalam gedung. Di sini nampak sangat sepi dan sunyi, jauh dari peradaban manusia, mungkin juga karena sudah hampir sebulan dia tidak datang. Jadi jarang ada anak-anak yang datang ke sini. Sita yang sibuk serta Keyla yang harus membuka toko tidak sempat mengunjungi tempat ini.
Ayu melihat tumpukan material dan beberapa bekas pembangunan yang sudah berlumut karena sirkulasi udara di dasar gedung yang cenderung lembab dibandingkan yang ada di lantai atas dan seterusnya ada beberapa lubang-lubang cukup besar yang sepertinya akan diterapkan jendela.
Ayu berjalan menuju anak tangga untuk mencapai lantai atas. Dia harus berhati-hati karena tangganya cukup berlumut dan ada beberapa rumput yang keluar dari celah-celah lantai.
Tujuannya adalah lantai paling atas sebelum rooftop gedung yang sepertinya akan di jadikan sebagai tempat bersantai bagi para penghuni apartemen nantinya. Pasalnya terlihat ada beberapa taman kecil yang belum jadi dan juga fasilitas pendukung lainnya yang juga sudah ditumbuhi rerumputan merambat.
Meskipun terkesan angker, tapi bagi Ayu tidak membuatnya takut berada di gedung angker ini sendirian. Setelah netranya menyisir lokasi yang memang terlihat sangat sepi dan sunyi.
__ADS_1
Ayu duduk di tepian gedung yang sepertinya akan dijadikan jendela sangat besar, tanpa rasa takut Ayu menjuntaikan kakinya mengarah pada gedung bagian bawah. Tenggelam dalam lamunan yang telah menjadi antah berantah. Pelupuk matanya serasa memanas, ada genangan air yang sudah menusuk-nusuk ingin segera diluapkan. Ayu tak bisa lagi menahannya, setetes air mata sudah jatuh membasahi pipi. Dadanya semakin terasa sesak seperti ada pagar beton yang menghimpitnya.
Mengingat semua kejadian yang dialaminya semalam ini dan peristiwa yang terjadi dalam waktu singkat.
Menjadi guru dan sudah di tes psikologinya mengenai kesabaran, tapi tetap saja Ayu hanyalah manusia biasa, yang bisa marah, emosional dan sangat tertekan.
"Aaaaaaahhhhh," Ayu berteriak sangat keras pada udara di atas gedung ini. Membersamai dengan air matanya yang mengalir tiada henti, seolah menyelaraskan perasaannya yang amat sangat sedih.
Seketika burung-burung yang sedang bersembunyi di tempat gelap di dalam gedung ini dan salah satunya burung gagak serta burung lawet kaget mendengar suara teriakan yang membangunkan dan membuat mereka berterbangan keluar dari dalam gedung.
Cuwwiit.. cuwwiit.. cuwwiit..
Kroarrrhh Kroaarrhh Kroaarrhh
Ayu tidak memperdulikan burung-burung ini terbangun, ia menarik kakinya dan duduk selonjoran. Menyembunyikan dirinya di balik dinding beton bangunan.
Di bawah gedung tepatnya orang-orang yang sedang berlalu lalang di jalanan merasa ngeri, kala selentingan mendengar mahluk astral si penghuni gedung yang sudah lama kosong dan berkesan angker berteriak sampai membuat burung gagak serta burung-burung lainnya berterbangan mengitari gedung yang berwarna keabu-abuan serta di tumbuhi rerumputan merambat.
Setelah berteriak, Ayu merasa lega.
Hufft... Dia menghela nafas panjang, sekiranya untuk sejenak dia bisa merasakan kebebasan sendirian seperti sebelum menjadi istri Ashoka. Tepatnya pada saat tertekan ketika kedua orang tuanya mengekang untuk melakukan sesuatu yang dia sukai, dan menjadikan Ayu boneka yang harus selalu berkata (Ya) jika orang tuanya berkata.
Dan Ayu menyadari, sekitar tiga tahun lalu bahwa dia bukanlah anak kandung dari pasangan suami-isteri Pak Bahar dan Bu Tumirah. Ayu sangat terpukul dengan hal itu, ternyata dia hanyalah anak angkat yang ditemukan di TPS (Tempat Pembuangan Sampah)
Sebab itulah dia memahami mengapa kedua orang tua angkatnya selalu saja mengaturnya dan menjadikannya boneka, lebih-lebih saat Bagus lahir.
"Inilah anakmu. Ibu! Bapak!"
"Ya aku sangat berterimakasih pada kalian, karena telah mengangkat ku sebagai anak! Aku sangat berterimakasih! Aku tidak tumbuh menjadi gelandangan dan anak yatim-piatu!"
"Tapi kenapa kalian malah menjual ku dengan berdalih melunasi hutang!"
Ayu berkata dengan suara parau, diselaraskan dengan sesenggukan tangisannya. Teringat kembali setelah menjadi istri Ashoka, benar-benar membuatnya tidak bisa berkutik.
"Mama Mega aku tidak sehina yang kau katakan!"
"Adik ipar, kenapa kau berani melecehkan ku!"
"Kalian semua jahat!"
Ayu mengusap air matanya, ia memukuli dadanya yang terasa sangat sangat sakit dan sesak untuk bernafas.
"Dan kau Ashoka!"
"Kenapa kau diam saja mendengar aku dimaki dan direndahkan. Kenapa kau hanya diam seperti orang bodoh, kenapa kau tidak melihat jika Mama dan adik tirimu selalu menganggap kau bodoh Ashoka!" Ayu berteriak sangat keras pada udara yang di dalam gedung. "suami macam apa kau itu, kenapa kau bisa tahan mendengar gunjingan Mama dan adik tiri mu!"
__ADS_1
Aaaahhh..... perasaan emosi yang sudah lama di tahan kini semakin menguar bersamaan dengan teriakan dan tangisan yang menggebu-gebu.
Uhuk, uhuk, Ayu terbatuk-batuk karena saking semangatnya dia dalam meluapkan isi hatinya yang selama ini tertahan.
"Hufft... rasanya sangat lega memang, setelah aku mengeluarkan apa yang aku rasakan seperti ini. Apa aku setiap hari harus datang saja ke sini dan memaki mereka. Tapi bagaimana kalau orang-orang yang sedang melintas di jalan mendengar dan menganggap ku makhluk gaib?"
"Ehemm.." terdengar suara deheman laki-laki.
"Eh," Ayu langsung terlonjak kaget, seketika itu ia mencari sumber suara. "suara siapa itu?" Ayu beranjak dari duduknya, netranya menyisir lokasi sejauh mata memandang tempat kosong ini. Ia mengucek matanya yang sembab dan betapa terkejut tatkala maniknya melihat seorang pria yang memakai tudung hitam keluar dari balik triplek.
"Si-siapa kau?" gagapnya bertanya.
"Hhoaaamm cm cm cm... aku hanya bocah jalanan," ucapnya sembari menyibakkan tudung jaket yang menutupi kepalanya.
Kata 'bocah jalanan' yang baru saja di katakan pria itu Ayu menyangsikannya, sebab pria itu terlihat tampan dan memiliki kulit bersih. Jauh dari gambaran bocah jalanan yang lebih terkesan dekil.
"Sedang apa anda di sini?"
Pria yang mengatakan bocah jalanan ini berjalan mendekati wanita yang dilihatnya berwajah sembab.
"semalam aku membunuh, dan aku di kejar-kejar polisi, jadi aku bersembunyi di dalam gedung ini sampai ketiduran," ucapnya bersuara santai, seolah kata membunuh sudah biasa baginya.
Ayu terkejut mendengar perkataan pria asing itu, namun ia lebih memilih bersikap tenang dari pada menimbulkan ketakutannya.
Aku tidak perduli dengan siapa yang aku temui, tapi semoga saja dia tidak mendengar makian ku tadi.
"Emm, apa tadi anda mendengar apa yang saya katakan?" Ayu masih berusaha menyelesaikan kegugupannya.
Pria yang mengakui dirinya bocah jalanan berjalan melewati wanita yang terlihat sama sekali tidak takut mendengar pengakuannya soal perkataan membunuh.
"Yah, sayangnya tadi aku mendengar," ucapnya seraya menggaruk pelipisnya yang gatal akibat gigitan nyamuk.
Glek... Ayu menelan ludahnya pada saat pria bocah jalanan ini melewatinya, netranya terus merunut pria itu tanpa mengedipkan mata. "Jadi apa anda mendengar semuanya?"
Bocah jalanan ini mengangguki ucapan wanita yang dilihatnya tidaklah asing. "Ya," dia berbalik badan, membersamai dengan tangannya yang meraih tangan wanita itu.
Ayu sontak saja terkejut, pada saat tangan pria itu meraih tangannya. "Lepaskan aku!"
Seketika itu, bocah jalanan ini melepaskan tangannya lalu mengangkat sampai ke atas. "Kau hampir saja terjatuh, dan membuat nyawamu melayang, kau datang ke gedung angker ini bukan untuk bunuh diri bukan?"
Ayu tertegun mendengarnya, ia baru saja menyadari selangkah lagi ia mundur. Sudah dapat di pastikan, ia terjatuh dan tewas seketika itu juga.
...*****...
Bersambung....
__ADS_1
*
[Maaf yah man teman sudah lama nunggu yah? Yah biasa, kalau cuaca lagi gak menentu begini, badan jadi kurang vit, diharapkan sehat kembali dan lancar up-nya. Terimakasih sudah membaca karya yang jauh dari kata sempurna ini]