Pengantin Tuan Ashoka

Pengantin Tuan Ashoka
Virus HIV


__ADS_3

Setelah kepergian Ayna dan Ayu. Ashoka kembali berbicara layaknya pada seorang Ibu. Karena, ia memang tulus menyayangi Ibu tirinya, ia ingin menjalin hubungan yang baik pada Mama Mega laksana anak dan Ibu kandungnya. Kendati demikian Mama Mega selalu menganggapnya anak tiri. Yah, seyogyanya Mama Mega telah menjaga dan menyayangi Ayna setelah Rose tiada.


"Maafkan atas pernikahan saya bersama dengan Ayu, tapi tolong jangan bicara seperti itu di hadapan Ayna, dia masih kecil. Dia membutuhkan figur wanita yang bisa menjadi ibu sambung, bukan hanya sekedar wanita yang saya nikahi, Ma," Ashoka membuka obrolannya dengan perkataan sangat lembut, agar kiranya Mama Mega mau mengerti dan memahami sudut pandangnya mengenai Ayu.


"Ibu sambung?" Mama Mega meremehkan kata itu. "Mama tau seperti apa Ibu sambung yang baik untuk Ayna, Mama yang merawat Ayna dari dia bayi sampai menjadi gadis kecil, Mama sudah pilihkan Ibu sambung yang seribu kali lipat lebih baik dan lebih hebat daripada wanita kampungan itu, Shoka," Mama Mega tetap pada pendiriannya, bahwa secara terang-terangan tidak menyukai Ayu.


"Apa kau meremehkan pilihan Mama untuk mu Shoka? Mama juga tidak gampang memilihkan Ibu sambung untuk Ayna, Oma sayang cucu Oma," sambungnya, Mama Mega memang menyayangi Ayna laksana cucu kandung yang sesungguhnya.


"Iya Ma, saya tau. Tapi tidak lihat kah Ayna nampak bahagia dan bisa secepat ini menerima Ayu sebagai Mamanya. Bukankah ini sebuah hal yang sepatutnya kita syukuri, karena tidak perlu bagi Ayna beradaptasi untuk menjadikan Ayu sebagai Mamanya?" tukas Ashoka, mengingat kembali bagaimana peran Ayu di sekolah.


"Tetap saja Mama tidak suka!" cetus Mama Mega dengannya perkataan super tegas.


Ashoka menghela nafas panjang. Ia memang tidak bisa membantah ucapan Mama Mega yang selalu saja bisa mendebat dari tiga sampai empat perkataan atau pertanyaannya.


"Tapi Ma, dia guru TK Ayn, dia cukup tau menenangkan Ayna ketika anak-anak di sekolah merundungnya karena tidak mempunyai Mama, sebagai seorang Ayah, saya tidak bisa melihat Ayna murung dan sedih," ucap Ashoka mengenai sudut pandangnya tentang Ayu.


"Ya apa salahnya kamu kan bisa mempertimbangkan pilihan Mama, ada Vita, Anggraini, dan ada beberapa wanita yang sudah Mama perkenalkan padamu, termasuk juga Jamila. Mereka baik kok, salah satunya dokter anak-anak malahan," balas Mama Mega tidak mau kalah.


"Tapi Ayn tidak pernah merasa cocok dengan wanita yang dipilihkan Mama, saya hanya ingin menikahi wanita yang disukai anak saya, Ma," yah, Ashoka memang merasa wanita yang diperkenalkan Mama Mega tidak cocok, kebanyakan wanita itu sosialita dan berkarir. Ashoka menyangsikan wanita yang dipilih Mama Mega untuk menjadi Ibu sambung Ayna.


"Itu karena kau yang tidak memberikan kesempatan, kau tidak mau membuka hatimu, apa istimewanya Rose sampai kau sangat sulit untuk membuka hatimu pada wanita yang mencintai mu, Shoka. Anak-anak akan mengikuti apa yang orang tuanya pilihkan untuknya," sahur Mama Mega tanpa sadar telah membandingkan dan mengungkit istri pertama Ashoka yang amat sangat dicintai Ashoka.


"Ma, tolong jangan bawa-bawa Rose, selamanya dia wanita yang tidak bisa saya lupakan," Ashoka amat kesal, tapi sebisa mungkin ia menahan emosinya agar tidak meluap-luap.


"Dengarkan Mama, Shoka. Ayu wanita miskin, dia kampungan dan udik, dia pasti hanya menginginkan hartamu saja, dia tidak benar-benar menganggap Ayna seperti anaknya. Dia hanya menginginkan hartamu saja, Shoka," Mama Mega sama sekali tidak menurunkan egonya.


Yah, Mama Mega lah wanita yang diibaratkan tadi! seloroh Ashoka dalam hati.


"Cukup!" Ashoka tidak ingin mendebat lebih lama lagi, ia tidak mau emosinya terpancing. "saya sudah menikahinya, jadi saya mohon untuk Mama bisa berlapang dada menerima Ayu, terserah Mama mau menganggapnya menantu atau tidak, tapi dia cukup baik untuk Ayna." telak Ashoka tanpa ingin didebat lagi. Meskipun ucapannya kali ini terkesan membantah tidak seperti biasanya, tapi Ashoka berharap Mama Mega tidak lagi berkata kasar pada Ayu, paling tidak. Bukan di depan Ayna.


"Tidak!" tukas Mama Mega. "Mama tidak akan pernah menerimanya!" sambungnya lagi dengan penuh ketegasan.


Gading dilanda pusing, jika Mama sudah berdebat dan mengeluarkan keluhannya, maka telinga rasanya sangat sakit. Ini lagi, tidak biasanya Kak Ashoka menjawab malahan mendebat.


"Ma, Gading berangkat dulu," Gading berniat beranjak dari duduknya, tapi perkataan Ashoka berhasil membuatnya duduk kembali.

__ADS_1


"Kenapa Mama tidak menjodohkan pilihan Mama pada Gading, saya kira Gading sudah dewasa dan pas untuk menikah, daripada dia bercocok tanam pada sembarangan wanita, itu lebih bahaya Ma. Gading bisa terkena virus HIV," Ashoka melihat Gading yang hampir saja berdiri. Ia cukup tau, seperti apa tabiat ketika Gading masuk kedalam club'malam.


"Lho kenapa jadi bawa-bawa aku? Aku sejak tadi diam saja, pakai acara menyumpahi ku segala," Gading merasa tidak nyaman. "apalagi soal perjodohan? Tidak, aku tidak mau!" Gading menggelengkan kepalanya, menurutnya zaman perjodohan hanya terjadi di abab ke-21.


"Kenapa kau malah menyumpahi adikmu terkena HIV, Shoka? Kakak macam apa kau ini?" sungut Mama Mega tidak terima.


"Saya tidak bermaksud begitu, Ma," Ashoka berdalih, "lihatkan Ma, Gading saja tidak mau dijodohkan, bagaimana Mama memaksakan kehendak Mama untuk menjodohkan saya. Jika saya tidak mementingkan putri saya, akan saya pikirkan perjodohan Mama pada saya," Ashoka merasa bisa sedikit mengurangi emosinya yang sempat tersulut, dilihatnya Mama Mega diam, mungkin juga sedang menyiapkan strategi untuk menjawabnya.


Mama Mega mengalihkan atensinya, kini kedua bola matanya seperti bola liar yang melihat anak kandung dan anak tirinya. Ketika akan menjawab suara Jamila yang baru memasuki ruang makan membuat Mama Mega mengurungkan niatnya untuk bersuara.


"Mama, Ashoka...?" Jamila menyapa dengan suara yang dibuat manja, ia berjalan mendekati Mama Mega mencium tangannya, selayaknya menantu di rumah ini. Lalu menghampiri Ashoka, pada saat akan mencium pipi Ashoka tanpa risih ada Gading dan Mama Mega, dilihatnya pria yang ia cintai menghindari dan langsung berdiri.


"Ma, saya berangkat dulu," Ashoka mendekati Mama Mega, menyalami dan mencium singkat tangan Mama Mega. Tanpa menunggu jawaban, Ashoka segera pergi dan mengacuhkan keberadaan Jamila yang baru saja datang.


"Ashoka...!" Mama Mega berseru secara bersamaan membaur dengan suara Jamila.


"Ashoka...!" Jamila berdecak kesal, karena Ashoka selalu saja bersikap tak perduli padanya. Kurang apa aku ini Ashoka, awas kau shoka!


"Ma lihatlah Ashoka, dia mengacuhkan perasaan ku lagi," Jamila merasa hatinya telah hancur. Melihat kepergian Ashoka bahkan tanpa meliriknya.


"Sudahlah, tenang sayang. Mama pasti akan membujuknya lagi. Mama juga tidak menyukai Istri Ashoka, entah bagaimana mereka bertemu." bujuk Mama Mega pada Jamila, agar wanita muda dan merupakan anak dari seorang pengusaha kelapa sawit ini tidak marah. Mama Mega sangat menyayangkan, jika nantinya Jamila sedih, karena Jamila selalu saja membelikannya barang-barang branded seperti berlian yang berharga ratusan juta.


Mama Mega mengalihkan atensinya, dilihatnya seorang asisten kepercayaannya terlihat akan menyampaikan sesuatu hal yang penting. "Ya ada apa Rini?"


"CEO dari perusahaan pertambangan ingin menemui anda pagi ini juga di hotel Belibis, beliau ingin menyampaikan sesuatu hal yang sangat mendesak mengenai rencananya tentang pembatalan proyek yang sedang diajukan oleh tuan Ashoka," jelas Rini, sang asisten pribadi nyonya Mega Handayani.


"Ya," Mama Mega langsung berdiri, namun sebelum pergi. Wanita berusia 60 tahun ini melihat Jamila. "maaf sayang, Mama harus pergi, ada pertemuan penting," Mega mengalihkan atensinya pada Gading. "Gading temani Jamila jalan-jalan ke mall atau ke salon," titahnya.


"Iya Ma." jawab Gading malas, pasalnya Jamila adalah wanita yang sangat merepotkan, selain manja Jamila juga suka memerintah seenaknya saja.


Yah, apalah daya. Jamila hanya bisa memaksakan dirinya untuk tersenyum pura-pura manja. "Hati-hati Ma." jawabnya selayaknya menantu yang patuh, demi Ashoka dia rela untuk menunggu dua tahun lamanya. Akan tetapi setelah mendengar kabar bahwa Ashoka telah menikah lagi, sesak saja rasanya.


Mama ega berlalu dari ruang makan bersama dengan Rini sang asisten pribadinya.


Kini hanya ada Gading yang entah akan melakukan apa, dan Jamila yang menatap nanar cangkir bekas Ashoka minum.

__ADS_1


Jamila lantas berdiri, toh tidak ada lagi yang akan dilakukannya di sini. Lebih baik ia pergi saja.


"Kau tak perlu menemani ku Gading, aku sebaiknya pergi ke kantor,"


"Tunggu Jamila," seru Gading, lalu beranjak dari duduknya menghampiri Jamila. Ia sedikit membungkukkan badannya, lalu berbisik di telinga Jamila. "bagaimana jika sebelum pergi, kita olahraga terlebih dahulu?" ucapnya bersuara serak.


Jamila langsung menatap mata Gading. "Aku sudah berolahraga pagi ini,"


Gading menggelengkan kepalanya, sebelum ia berbicara. Gading mengedarkan pandangannya menatap sejauh mata memandang area ruang makan. Sepertinya para pelayan rumah juga sedang sibuk dengan pekerjaannya. Gading beralih menatap wajah Jamila dengan pikiran mesumnya.


"Ini lain, olahraga kali ini akan membuatmu puas dan lebih bersemangat, bahkan bisa melupakan perasaan mu pada Kak Ashoka, lagi pula kita sudah pernah melakukannya," bisiknya lagi, masih ditelinga Jamila.


"Apa maksudmu?" Jamila menatap Gading memicingkan mata. Ya, tepatnya sebulan yang lalu, Jamila yang saat itu mabuk di club tanpa sadar telah melakukan hubungan sekss bersama dengan Gading.


"Ikut aku," Gading menggandeng tangan Jamila.


"Mau kemana?" Jamila menahan tangan Gading yang sudah menggandeng tangannya.


"Sudah ikut saja, kau akan tau dan menikmatinya." lagi Gading membujuk dengan tipu muslihatnya.


**


Kamar, adalah tujuan Gading. Pria yang sudah menahan hasratnya sejak melihat Ayu pagi ini sedang menyalurkan hasratnya pada Jamila, tentunya Gading sudah memakai pengaman agar tidak menimbulkan efek samping seperti dung-dung-kek, selepas kenikmatan ini.


Ia juga tidak menyangka, Jamila tidak segalak saat di atas ranjang. Bahkan wanita ini sangat hebat memainkannya.


"Aaahh... lagi Gading." racau Jamila menikmati setiap sentuhan tangan Gading padanya. Hal panas ini bukanlah yang pertama baginya, jadi ia tak mempermasalahkannya.


Gading semakin memacu adrenalinnya dalam menguasai permainan panas di pagi harinya ini bersama dengan Jamila.


Gading tak khawatir, karena kamar ini kedap suara, jadi tidak ada yang mendengar suara erangan kenikmatannya yang membaur dengan suara Jamila.


...*****...


Bersambung...

__ADS_1


Mohon semangatnya bestie.. like, komen dan votenya yah..


terimakasih


__ADS_2