Pengantin Tuan Ashoka

Pengantin Tuan Ashoka
Pernikahan yang membuat kecewa


__ADS_3

Malam semakin larut, pesta telah usai. Semua berjalan sesuai dengan rencana, dan berakhir dengan semestinya. Tak menunggu sampai besok, atau lusa. Ayu segera di boyong Ashoka menuju istananya. Di sinilah, Ayu baru di kenalkan oleh seluruh anggota inti keluarga Ashoka yang mendiami mansion nya.


Seminggu, hanya salam waktu seminggu Ayu kenal dengan suaminya, itupun hanya tiga kali dia menemuinya. Dan baru kali inilah, Ayu tahu bahwa Ashoka tidak mempunyai Ayah. Yang dilihatnya saat ini hanyalah seorang wanita paruh baya yang dikenalnya Mama Mega dan seorang pria yang lebih muda dari suaminya yang sebelumnya pernah di lihatnya.


"Kakak Ipar, mungkin kamu belum mengenal ku, aku Gading." ucap Gading memperkenalkan dirinya, dengan tersenyum lebar, lalu mengulurkan tangan di hadapan sang Kakak ipar.


Alis Ayu saling terpaut, jika menyebutnya Kakak ipar berarti Gading adalah adik suaminya. Sebagai penghormatan, meskipun sungkan. Ayu tetap bersalaman dengan Gading. Namun Ayu tertegun kala gerakan tangan Gading di telapak tangannya sangat membuatnya muak. Dilihatnya, wajah Gading tersenyum ja'im. Ayu segera menarik tangannya.


"Kamu, apa kamu bangga telah menjadi anggota keluarga ini sekarang?" Mama Mega langsung menghardik dan masih tidak terima pabila wanita yang dianggapnya kampungan ini adalah menantu keduanya setelah almarhum Rose.


"Tapi, meskipun aku belum menyukai mu, mari jabat tanganku, anggap ini sebagi sambutan." lanjutnya lagi membersamai dengan mengulurkan tangannya kehadapan Ayu. "aku akan membuatmu berada di dalam neraka." sungut Mama Mega dalam hati.


Ragu Ayu menjabat tangan wanita tua, yang masih terlihat muda. Mungkin karena sering perawatan, jadi kerutan di wajahnya tidak seperti Simbah-simbah di desa-desa. Mama Mega ini lebih nampak anggun dan menawan.


"Kakak ipar, yang perlu kamu tahu meskipun aku dan Kak Ashoka bukanlah adik kandung. Tapi kami saling menyayangi, benar kan Kak Ashoka?" ucap Gading melihat Kakaknya.


Bukan adik kandung, kejutan apa lagi setelah aku menjadi istri Ashoka? Ayu membatin.


"Benar, dan aku juga sangat menghormati Mama. Terimakasih telah bersedia hadir dan menjadi saksi atas pernikahan saya, Ma." ucap Ashoka melihat wajah Mama Mega yang masam.


"Kau memang anak yang berbakti Shoka, tapi pernikahan mu ini membuat Mama kecewa," Mama Mega tersenyum lebar. Akan tetapi sesaat kemudian senyuman lebar itu berubah menjadi wajah sendu dan ucapannya berubah parau. "Seharusnya kamu menikah dengan calon istri pilihan Mama, sekarang gadis ini sudah menjadi istrimu, dialah yang akan mengusir kesepian mu setelah Rose tiada dan mungkin setelahnya kami tidak dianggap. Dia juga yang akan mengatur rumah ini."


"Maksudnya apa yang dikatakan Mama Mega, mengapa berkata demikian. Oh Ayolah kenapa orang-orang di rumah ini sangat aneh. Aku bukanlah orang yang suka mengusik kehidupan orang lain." Ayu menatap ketiga orang yang berada di depannya. Mama Mega memang sudah terlihat tidak menyukainya.


"Tidak Mam, Mama lah yang tetap akan mengatur suasana rumah ini, Ayu lah yang harus menghormati keputusan yang dibuat Mama." kata Ashoka melirik Ayu sekilas.


Ayu tercenung mendengar perkataan Ashoka. Ditatapnya wajah datar suaminya. "Apakah dengan cara menyiksaku, membuatmu merasa puas?" namun makian itu, hanya bisa Ayu katakan dalam hatinya saja.


"Bagaimana menantu, apa kamu setuju dengan usulan suamimu?" kata Mama Mega mengusap pipi menantunya.


Ayu merasa seakan berdiri di tengah-tengah pohon kaktus, sedikit saja menyenggol akan melukainya. Tidak banyak yang harus bisa dilakukan untuk sekedar menolak, dia hanya bisa mengangguk singkat sembari tersenyum tipis.

__ADS_1


Setelah di rasa semua sudah mengenal Ayu. Ashoka menunjuk salah sayu pelayan yang sejak tadi sudah standby.


"Antarkan nyonya muda menuju kamarnya." titah Ashoka pada seorang pelayan.


"Baik tuan."


Ashoka meninggalkan ruang tengah tanpa melihat istrinya, dia berjalan menuju kamar putrinya yang telah lebih dulu pulang dan tertidur di kamar. Ashoka membuka pintu kamar, lalu mendekati ranjang dan duduk di tepiannya. Melihat wajah putri kecilnya yang terlelap dalam keremangan lampu tidur.


Perlahan Ashoka mengambil tangan Ayna, dan mengusapnya lembut. "Dady menikahinya karena mu, bukan soal uang 2 Milyar, sayang. Dady harap kamu bisa merasakan kasih sayang dari seorang Mama."


Ashoka bergumam seorang diri, diciuminya kening Ayna. Tanpa terasa setetes air bening meluncur mulus dari kelopak matanya. Mengenang mendiang istrinya yang telah meninggalkan dunia untuk selama-lamanya.


**


Ayu mengikuti langkah kemana pelayan membawanya menuju ke lantai dua. Di lantai dua, bukan hanya luas, namun sepertinya bisa untuk bermain futsal.


"Silahkan nona, ini kamar anda dan tuan Ashoka." kata pelayan, menunjuk sebuah kamar pintu kamar.


Melihat Nyonya muda hanya terdiam pelayan kembali bersuara. "Apa yang ingin anda sampaikan nyonya?"


Ayu terkesiap, dia menyadari telah menjadi tuli untuk sesaat karena begitu mengamati ruangan lantai dua ini. Dia menatap pelayan wanita yang terlihat sudah berusia 40 tahunan.


"Panggil saja saya Ayu, Bibik tidak perlu memanggil saya dengan gelar, dan tidak perlu memberikan penghormatan lebih terhadap saya," Ayu melihat wajah pelayan itu menunduk. "karena aku hanyalah wanita penebus hutang." lanjutnya dalam hati.


"Maafkan saya Nyonya," ucap pelayan menunduk. Dia menyadari siapapun wanita yang telah menjadi istri Ashoka sudah sepatutnya di panggil nyonya, terlepas siapa wanitanya. "nama saya Marni, anda bisa memanggil saya kapan saja anda membutuhkan saya." lanjut Bik Marni tidak berani bersitatap wajah dengan istri muda tuannya.


Hufft... Ayu menghela nafas panjang setelah beberapa saat yang lalu terasa tercekat di tenggorokan. "Terimakasih." ucap Ayu ramah pada pelayan.


Ayu menyadari bahwa tidak membawa satu stel pakaian untuk ganti, mengingat Ashoka langsung membawanya ke sini.


"Bik, saya tidak membawa baju ganti. Saya tidak mungkin memakai pakaian ini." Ayu memegangi gaun pengantin yang masih melekat di tubuhnya.

__ADS_1


"Pakaian Nyonya sudah disiapkan di dalam nyonya, mari saya tunjukkan." Bik Marni membuka pintu kamar sang tuan.


Ayu ragu untuk melangkahkan kakinya memasuki kamar yang luar ini. Pandangannya mengedar menatap keseluruhan kamar, ada tempat tidur berukuran jumbo, mungkin bisa untuk lima orang yang bertubuh ramping, tapi untuk yang ukuran bertubuh agak subur, mungkin cukup tiga orang. Lemari dan juga sofa, semuanya serbah terlihat besar dan mewah. Entah mengapa orang kaya selalu membeli yang berukuran besar dan berkelas hanya untuk sebuah sofa.


Langkah Ayu mengikuti kemana Bik Marni membawanya menuju ruangan pakaian yang memperlihatkan seperti pakaian di dalam etalase toko.


"Ini pakaian Nyonya dan yang di sebelah sana pakaian tuan." jelas Bik Marni menunjukkan lemari pakaian yang sangat lengkap berserta rak sepatu yang terjejer rapih.


Manik mata Ayu melihat seisi ruangan ini. Benar-benar membuatnya takjub. Seperti inikah cara orang memiliki toko pakaian di dalam kamarnya? Ini sih amazing.


Bik Marni melihat raut wajah Ayu yang sedang memperhatikan seisi ruangan. "Kalau begitu saya permisi nyonya."


"Terimakasih Bik." Ayu melihat Bik Marni keluar dari ruangan ini, sesaat kemudian mendengar pintu tertutup.


Ingin segera menyegarkan tubuhnya, Diambilnya satu stel piyama, Ayu sudah merasa sangat gerah. Dia ingin segera menyegarkan tubuhnya. Celingukan mencari keberadaan kamar mandi, dan di rasa sudah menemukan. Ayu segera masuk kedalam kamar mandi dan membersihkan diri.


Malam semakin larut, namun tak kunjung dia melihat Ashoka masuk kedalam kamar ini. Padahal netranya sudah dilanda kantuk, bukan karena menunggu untuk malam pertamanya, dia hanya ingin meminta izin bolehkah dia tidur di tempat tidur king size itu?


Ayu memutuskan diri untuk duduk di sofa dan menyadarkan kepalanya di sandaran, netranya menatap ranjang yang terlihat sangat empuk dan nyaman, lamat-lamat rasa kantuk kian mendera matanya.


Malam pengantin ini Ayu ditinggalkan seorang diri. Apa yang bisa diharapkan dari pernikahan ini, selain bisa melunasi hutang Bapak yang telah menjeratnya.


Setetes air mata meluncur mulus di pelipis Ayu seolah merasakan dirinya sendirian.


**


Sementara itu, Ashoka terlelap di kamar putrinya. Dia tidak merasa memiliki istri lagi, kendati sudah mengucap ijab kabul beberapa jam yang lalu. Dia benar-benar belum sepenuhnya move on dari mendiang istrinya.


Pernikahan ini hanyalah sebuah kesempatan.


...*****...

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2