
Di dalam gedung yang paling tinggi di perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi bernama Bratacorp. Ruangan yang tidak sembarangan orang bisa masuk. Ashoka tersenyum tipis mengingat kejadian pagi ini, saat bibirnya menyentuh pipi Ayu yang hangat. Tanpa sadar tangannya mengusap bibirnya dengan gerakan lembut.
Akan tetapi detik berikutnya Ashoka tersadar, jikalau ada sesuatu hal yang tiba-tiba mengusik pikirannya. Apalagi jika bukan perbuatan Mama Mega yang akan menjadi bumerang dalam pekerjaan yang sebelumnya telah disepakati bersama dengan perusahaan pertambangan Tomicrop.
Dia sebenarnya sudah lelah menjalani kehidupan yang seperti ini, harus bersaing dengan Mama Mega dan Gading yang selalu ingin menguasai aset serta tender proyek yang sedang di kembangkan nya. Ingin rasanya meninggalkan dan melepaskan semua ini, tapi mengingat pesan almarhum Papa Arsena.
"Jangan meninggalkan perusahaan bagaimanapun keadaannya, tetaplah bertahan." kata Papa Arsena sebelum hari naas itu tiba.
Hahh... Ashoka menghela nafas panjang. Mengingat kembali semua kenangan pahit, membuatnya amat sangat sesak.
Pintu ruangannya terketuk.
"Masuk." Ashoka berkata tanpa mengalihkan atensinya dari menatap whiteboard yang memperlihatkan objek proyek yang telah lama mangkrak.
Pintu terbuka dengan adanya Tarjo yang membawa beberapa map kontrak perjanjian dengan perusahaan pertambangan Tomicrop.
"Tuan Ashoka, urusan tuan Brandon CEO dari perusahaan pertambangan telah selesai. Beliau tidak jadi membatalkan proyek yang sudah di setujui sebelumnya. Benar seperti yang sudah anda duga,"
"dibalik rencana pembatalan proyek tersebut, karena adanya peran nyonya Mega yang turut campur. Nyonya Mega ingin hanya proyek tuan Gading saja yang diterima,"
Tanpa basa-basi Tarjo menjelaskan apa maksudnya. Pria bertubuh tegap seperti Ade Rai ini berdiri di belakang Ashoka berjarak dua meteran. Dilihatnya Ashoka bergeming sedang berdiri melihat whiteboard objek proyek apartemen mewah yang sudah lama mangkrak, tuannya itu seolah membeku di tempatnya berdiri.
Basi! Bersaing dalam satu naungan perusahaan Bratacorp! Ashoka memaki dalam hati.
Netra Ashoka masih memandangi objek proyek apartemen yang mangkrak. Meskipun dalam kehidupan ini membuatnya lelah, tapi ia masih bersyukur, setidaknya ada Ayna dan seseorang yang bisa diandalkannya. Yaitu, Tarjo. Seorang pria yang telah dianggapnya seperti Kakaknya sendiri.
"Terimakasih Tarjo, kau selalu bisa ku andalkan tanpa perlu aku yang menanganinya," sahut Ashoka yang memang sudah tahu seperti apa keserakahan Mama Mega padanya.
Tarjo tersenyum tipis mendengar kata 'terimakasih dari tuannya. Ashoka selalu saja bisa mengapresiasikan kerja kerasnya. Dan itulah salah satu aspek penting mengapa ia masih bertahan mendampingi kerasnya kehidupan yang Ashoka jalani.
"Sudah menjadi tugas saya tuan," Tarjo masih menatap Ashoka yang membelakanginya.
Ashoka melihat Tarjo sekilas, wajahnya datar tanpa ekspresi. Lantas kembali melihat whiteboard di depannya. Jarinya mengusap-usap dagunya seraya berpikir untuk memperbaiki atau merenovasi ulang gedung apartemen sutra citra garden.
Sepertinya jika ku ambil alih lahan itu, aku bisa menciptakan sebuah bangunan mewah tapi dengan ciri khas alam.
Lain dengan pikiran Tarjo, Pria 37 tahun ini merasa Ashoka mungkin saja butuh refreshing dan mengingat kembali, jikalau Ashoka belumlah membeli tiket atau merencanakan pergi berbulan madu setelah menikahi Ayu.
"Tuan Ashoka," Tarjo memanggil tuannya ragu.
__ADS_1
"Ada apa?" jawab Ashoka datar.
"Ehmm... Tuan Ashoka, tidakkah tuan berencana untuk liburan atau pergi berbulan madu, saya rasa itu perlu. Jika anda berkenan, saya akan mencari reservasi sebuah negara yang bisa anda kunjungi bersama dengan istri anda. Anda mau ke Jepang, Italia, atau ke Korea?" ujar Tarjo memberikan saran yang kiranya dapat di terima baik oleh Ashoka.
"Atau begini saja, anda sudah sangat lama tidak mengunjungi pulau pribadi anda di kepulauan Mentawai. Anda bisa snorkeling, paddle boat atau berkano, anda sepertinya memang membutuhkan refreshing," sambungnya lagi dengan menatap raut wajah dan ekspresi yang diperlihatkan Ashoka atas sarannya.
Aku harap, tuan Ashoka mau membuka hati untuk bahagia bersama dengan Ayu. Entah mengapa aku merasa Ayu adalah pilihan yang tepat, tanpa harus melupakan Rose.
Ashoka tercenung mendengar rentetan saran dari Tarjono. Ia membalikkan badannya menghadap Tarjo yang langsung saja menunduk tanpa berani menatapnya.
"Korea," Ashoka sedikit memiringkan kepalanya, ditatapnya Tarjo yang menunduk, "kau pikir aku mau operasi plastik?"
Tarjo menggeleng, menyanggah ucapan Ashoka. "Tidak tuan,"
"Jadi apa menurutmu wajahku terlihat pucat, pias, atau kekurangan oksigen. Sehingga kau menyarankan ku untuk berlibur atau berbulan madu, kau pikir aku punya waktu untuk itu?" Ashoka berkata datar tapi super cepat membersamai dengan gerakan tangannya yang memutari wajahnya sendiri.
Tarjo menggelengkan kepala tanpa melihat Ashoka, dia menjawab. "Maaf tuan, anda sangat sehat bugar sama seperti yang saya lihat pertama kali mengenal anda empat belas tahun silam. Anda masih sama seperti tuan Ashoka yang gagah dan tidak mudah menyerah,"
Ya, sebelum Tarjo menjadi asisten pribadi Ashoka. Dia merupakan senior Ashoka di kampus, dan Ashoka selalu saja membantu ketika Tarjo sedang dalam keadaan terpuruk, bukan hanya itu. Ashoka juga mau membantu Tarjo membiayai kuliahnya yang sempat menunggak hingga Tarjo tertahan di semester kelulusan nya, dan akhirnya sama-sama lulus di universitas ternama di Jogjakarta.
"Bagus kalau kau masih mengingatnya," Ashoka kembali melihat objek gedung apartemen yang mangkrak berlantai 20.
Ashoka kembali teringat dengan dongeng yang diceritakan Ayu semalam. Ada padang rumput dan kupu-kupu yang berterbangan ke sana kemari.
Tarjo terkejut mendengar Ashoka memanggilnya, setelah keadaan yang dirasa tadi sedikit mencekam.
"Saya tuan," jawabnya.
"Bagaimana kalau aku ambil alih lahan apartemen ini," Ashoka menunjuk objek proyek apartemen di papan whiteboard, "merenovasi apartemen ini menjadi sebuah apartemen yang ramah lingkungan, seperti di tanami pepohonan dan bunga-bunga," lanjut Ashoka tanpa melihat kearah Tarjono.
Tunggu apa dia tidak menerima saran berlibur dari ku? Hah sungguh pria yang kaku! seloroh Tarjo dalam hati.
Netra Tarjono langsung melihat objek proyek apartemen mewah yang sedang dalam pengamatan atasannya. "Tuan, mengenai proyek apartemen itu, sore ini saya ingin menunjukkan seseorang yang bertanggung jawab atas penanganan pembangunan yang tidak dilanjutkan."
...***...
Sebulan terakhir memang Ashoka meminta Tarjo untuk menyelidiki apa penyebab proyek apartemen mewah yang di khususkan untuk keluarga. Entah alasan apa, proyek yang masih di bawah naungan Bratacorp ini terhenti tiada pasti. Seseorang yang seharusnya bertanggung jawab atas pembangunan apartemen yang bernama sutra citra garden ini menghilang entah kemana rimbanya.
Dan sore ini, masih di ruangan yang sama. Seorang laki-laki terlihat lemah tiada daya sedang bertekuk lutut di hadapan penerus perusahaan besar Bratacorp.
__ADS_1
"Maafkan saya tuan, maaf. Saya tidak bermaksud kabur, dan saya tidak bermaksud untuk mengkhianati anda," ucap seseorang yang bertanggung jawab atas proyek apartemen sutra citra garden.
Ashoka sangat geram terhadap para pengkhianat, dilemparkannya map tebal pada laki-laki yang telah menghilang juga membawa lari uang senilai milyaran guna pembangunan apartemen sutra citra garden.
Bagi Ashoka tiada ampun untuk seorang koruptor.
Ujung map yang sangat tebal tepat menggores di kening laki-laki ini, hingga darah segar membasahi pipi nya. Namun, ia sama sekali tidak berkutik bahkan. Kini selesai sudah babak pelarian nya, bersembunyi di Singapura selama empat tahun lamanya. Berharap Ashoka Bratajaya tidak dapat menemukannya, namun ia salah. Jaringan Ashoka sangat luas, hingga bersembunyi di lubang semut pun masih bisa di ciduk oleh anak dari Arsena Bratajaya.
"Tarjo, singkirkan pengkhianat ini, uraikan usus serta jantungnya lalu cincang dia dan sebarkan dagingnya ke laut, agar para hiu memangsanya tanpa sisa," kata Ashoka penuh dengan penekanan.
"Tiada ampun bagi para koruptor!" lagi Ashoka berbicara lalu membalikkan tubuhnya membelakangi pegawainya yang korup bernama Rukminto Syahrul.
Syahrul merasa hidupnya terancam langsung bersimpuh di kaki Ashoka, mengharap iba, dan ia masih di beri kesempatan kedua.
"Ampuni saya tuan, ampuni saya, saya terpaksa melakukannya. Sungguh saya terpaksa, karena hal itu merupakan permainan licik tuan Gading," Syahrul berkata parau, membayangkan jikalau lah benar, Ashoka akan mencincang dan membuang jasadnya ke laut.
"tu-tuan Gading meminta saya untuk pergi dan meninggalkan proyek, jika saya tidak menjalankan permintaannya, tuan Gading mengancam akan melenyapkan istri dan anak saya," lanjut Syahrul menjelaskan yang sebenarnya, sebab musabab ia pergi tanpa pesan pada Ashoka.
Lagi-lagi memang Gading! Aku sudah curiga sangat lama. Tapi aku belum bisa menemukan buktinya.
Ashoka menegaskan rahangnya, serta meremass tangannya yang terkepal. Tak bisa di tolerir lagi, sepertinya ia harus mengambil tindakan tegas terhadap Gading.
"Bawa dia pergi, aku tidak mau melihatnya!" titah Ashoka pada dua bodyguard yang masih standby di dalam ruangannya.
"Tolong tuan, ampuni saya.." Syahrul memohon amat sangat memohon agar ia tidak dilenyapkan.
Tarjo mengikuti langkah dua bodyguard yang membawa keluar Syahrul. Sampai di luar ruangan CEO mereka.
"Aku sudah pernah memperingati mu dulu, jangan pernah tertipu dengan perkataan tuan Gading, kali ini tamat riwayat mu Syahrul." Tarjo berkata tajam.
"Tolong saya Pak Tarjo, saya tidak mau di bunuh saya masih ingin hidup, saya masih mempunyai anak kecil," ucap Syahrul masih dengan suara memohon.
Tarjo memberikan isyarat pada dua sekretaris yang ada di depan ruangan kantor Ashoka untuk mengambilkannya kotak tissue. "Bersihkan lukamu!"
Syahrul menerima kotak tissue yang disodorkan Tarjo. Lalu mengusap darah segar yang menetes di pipinya, ini benar-benar sakit dan terasa pegal, tapi mungkin ini sebanding dengan pengkhianatan yang dilakukannya. "Tolong ampuni saya, saya janji saya akan memperbaiki," ucapnya lirih.
"Tuan Ashoka tidak sekejam dengan apa yang kau pikirkan. Cepatlah pergi dari sini, dan perbaiki masalah yang ada!" ucap Tarjo kembali memperingati Syahrul.
Syahrul menatap garangnya ketegasan Tarjo. Ia takut, karena Tarjo bisa jadi lebih kejam dari tuan Ashoka.
__ADS_1
...*****...
Bersambung...