
Ashoka jadi berpikir, bagaimana jika Ayu makan sendirian terus disamperin pria, seperti yang dilaporkan Lusy siang tadi. Saat ada seorang pria yang menyelamatkan serta berbincang dengan Ayu nampak sangat akrab. Bahkan kata Lusy Ayu terlihat nyaman berbincang dengan pria itu.
Ketika mendengar laporan dari Lusy, seolah ada yang mencubit hati Ashoka. Entah apakah gerangan penyebabnya. Apakah karena cemburu, atau apalah tapi yang pasti tidak nyaman dan membuat gelisah.
Sekarang bukan hanya marak pelakor, tapi juga marak pebinor. Apalagi dia terlihat masih sangat muda, bisa saja pria siang tadi menyukai istri ku. Batin dan pikiran Ashoka seketika oleng.
"Bagaimana Mas?" Ayu bicara lagi, dikarenakan melihat Ashoka hanya diam, seperti sedang berpikir keras.
Ashoka tersentak mendengar suara Ayu, sampai lamunannya buyar menjadi kepingin seperti debu. Netranya sekilas melihat Ayu dan kembali melihat jalanan depan.
"Siapa yang tidak mau makan di sini. Ayo kita coba, bagaimana rasanya!" lamanya bergulat dengan pikirannya sendiri, Ashoka menjawab dengan nada suara jutek. Dilihatnya Ayu sampai terlonjak kaget.
Netra Ayu membulat sempurna kala mendengar jawaban menohok suaminya. "Eh.. bener nih, Mas nantinya nggak muntah-muntah setelah makan di pinggir jalan?"
"Ya, kita berhenti saja di sini." Ashoka merasa tertantang, lantas menepikan mobilnya dimana saat itu tukang parkir yang membantunya parkir.
"Yakin?" Ayu bertanya guna memastikan, Ashoka terlihat mengangguk mantap tapi tidak dengan wajah yang nampak cemas. "nanti jangan sampai kalau sudah masuk kedalam tenda pecel lele. Mas Ashoka tidak jadi beli, kan malu Mas," Ayu menatap Ashoka dengan tatapan tajam. Ia takut menjadi pusat perhatian orang-orang. Sorot dan gaya berpakaian Ashoka berbeda dari kebanyakan orang-orang yang masuk dan keluar dari tenda pecak lele. Meskipun saat ini hanya memakai setelan kasual celana panjang warna cokelat serta kaos berlengan pendek warna hitam.
"Kau meragukan ku tidak bisa bayar, atau kau meremehkan ku?" Ashoka menatap Ayu dengan mata memicing.
Ayu mengibaskan tangannya, membersamai dengan senyuman masam. "Tidak, tentu saja saya tidak meremehkan apalagi meragukan keuangan tuan Ashoka, eh Mas Ashoka maksudnya hehe,"
Ayu terkekeh canggung.
Ashoka tak mengindahkan perkataan Ayu, ia membuka pintu mobil. Setelah keluar, ia juga membuka pintu mobil untuk Ayna.
Sungguh pria yang angkuh, pikir Ayu. Lantas menyusul Ashoka keluar dari mobil.
Mereka lantas berjalan beriringan menuju tenda pecak lele. Saat memasuki tenda, Ashoka memperhatikan orang-orang yang duduk lesehan sedang makan dengan lahapnya. Bahkan mereka makan hanya memakai tangan tanpa satupun yang memakai sendok.
Apa memang sangat enak, atau memang karena harganya yang murah?
Sesaat kemudian ada yang mengganggu pandangan Ashoka. Ketika melihat kucing-kucing apalagi kucing buriken tak jauh dari keberadaan orang-orang yang makan dengan lahap tanpa merasa terganggu akan keberadaan si kucing yang sesekali mengeong-ngeong.
Netra Ashoka melihat Ayu dan Ayna yang berjalan menuju tempat lesehan kosong. Ashoka segera menyusulnya.
"Kau tidak salah pilih tempat ini, tuh lihat banyak sekali kucing liar, apalagi yang buriken," Ashoka berbisik tepat di dekat kuping Ayu yang tertutupi hijab instan. Ia bergidik ada rasa jijik melihat hal yang menurutnya tidaklah lazim.
Ayu menoleh melihat wajah Ashoka yang nampak tak bersahabat, nampaknya pria ini tidak nyaman dengan suasana yang ada di dalam tenda pecak lele. "Mereka tidak akan mengganggu kita makan, tuan- eh Mas,"
__ADS_1
Berbeda argumen dengan Ayna, dia malah girang melihat kucing, apalagi melihat anak kucing yang nampak lucu dimatanya.
"Wah ada banyak kucing... ini lucu, kucingnya matanya biru Ma," Ayna melihat Mama Ayu sekilas dan kembali melihat anak kucing liar yang mendekatinya.
"Ayna jangan pegang kucing itu, nanti tanganmu kotor dan itukan kucing banyak sekali bakterinya. Kita tidak tahu berapa milyar bakteri yang menempel pada setiap helai bulu itu!" Ashoka berseru lantang saat melihat putrinya akan memegangi ekor kucing.
Seruan Ashoka rupanya mengundang perhatian orang-orang yang sedang menikmati makanannya serta penjual pecak lele itu sendiri. Mereka menatap mereka bertiga dengan tatapan aneh.
Ayu memejamkan matanya dalam-dalam. Duh, seharusnya aku tidak mengajaknya ke sini, kan jadi berabe urusannya.
Ayu tertegun saat mendengar suara penjual yang menawarkan menu.
"Permisi, mau pesan apa, ayam, bebek, atau lele?" seorang pria menawarkan menu.
Dahi Ashoka mengerut, kala selentingan menu yang ditawarkan.
"Katanya warung pecak lele, kenapa ada bebek sama ayam? Tidak konsisten sekali jualannya. Jangan-jangan ada lagi menu lain, pecak silat ikan lele," Ashoka mencibir pria yang menawarkan menu.
Sekali lagi, Ayu hanya bisa menghela nafas panjang melihat betapa suaminya ini over dan selalu bisa mengkritik sesuatu yang menurutnya tidak pas. Dilihatnya pria yang menawarkan menu hanya diam, mungkin juga menahan agar tidak kesal.
"Mas apa hubungannya pecak silat, sama pecak lele. Bebek sama Ayam kan hanya menu tambahan. Jangan bilang Mas Ashoka belum pernah ke warung lamongan," Ayu berkata dengan nada akrab, seperti ia berbicara pada suami yang telah lama dia nikahi.
"Nah, sebab itulah saya mengajak Mas Ashoka biar merasakan makanan khas Indonesia, jangan selalu makan spaghetti dan pizza," ada nada cibiran yang Ayu sampaikan pada suaminya.
"Apa kau sedang mencibirku?" Ashoka menajamkan matanya pada Ayu.
"Kalau iya?" tak ada lagi rasa takut untuk berbicara pada Ashoka. Mulai hari ini, ia akan menyisihkan rasa takutnya jauh-jauh.
Ayna melihat Dady Ashoka dan Mama Ayu secara bergantian. Dia bingung akan apa yang sebenarnya diperdebatkan oleh orang dewasa.
Begitu juga seorang pria yang menawarkan menu juga bingung melihat kedua orang yang saling bersitegang serta berbeda argumen.
"Ini jadi pesan apa tidak yah? Kalau tidak kan saya mau ke pelanggan lainnya?"
Ayu memutuskan kontak matanya pada Ashoka. Kini ia melihat seorang pria yang sejenak tadi dia kacangi. "Iya." Ayu mengelihkan atensinya pada Ayna, gadis kecil yang cenderung pendiam dari pada Bapaknya. "Ayna mau makan pakai apa, ayam, lele atau bebek?"
"Ikan lele, Ma," jawab Ayna.
"Kalau begitu bebek satu, terus pecak lelenya dua, jangan lupa kasih tempe sama tahunya, ya Bang," Ayu berkata pada si penjual pecak lele.
__ADS_1
"Iya neng," jawab Bang pecak lele.
"Sebentar!" Ashoka menyela pembicaraan yang terjadi antara Ayu dan penjual lele. Dan langsung mendapat tatapan dari keduanya. "bukankah kamu bilang kamu ingin makan pecel lele, kenapa jadi bebek? Wanita ini memang sulit dimengerti gampang sekali berubah," sambungnya lagi, tak henti-hentinya bersuara yang menurutnya tidak seperti sediakala.
"Mas..." Ayu berkata dengan suara ditekankan.
"Oke, baiklah. Aku tidak akan bicara lagi." Ashoka memalingkan wajah.
Duh, ternyata suamiku sangat-sangat cerewet. Batin Ayu, lantas kembali melihat pria yang tadi menawarkan menu.
"Minumnya apa Neng?"
"Teh hangat dua, sama es teh satu. Gulanya jangan banyak-banyak Bang."
Sebelum pria yang menawarkan menu berlalu, Ashoka kembali berbicara. "Bang, apa bisa di jamin makanan di sini higienis?"
Habislah sudah kesabaran sang pria yang menawarkan menu. Ia mulai menatap satu pelanggan pria yang cerewet ini dengan tatapan tajam. Dan kemudian berkata dengan penuh penekanan tapi masih ia usahakan untuk tidak berteriak agar tidak terkesan marah-marah. "Selama kami menjual dan membuka usaha ayam pecak lele ini tidak pernah sekalipun ada yang mengeluhkan sakit perut,"
Ayu geleng-geleng kepala dengan tingkah laku suaminya. "Maaf Bang, jangan dengarkan suami saya. Dia belum minum obat malam ini, jadi yah biasa seperti ini,"
"Obat?" Ashoka mengulangi perkataan Ayu. "Apa maksudnya minum obat?" sesaat kemudian ia merasakan tangannya di genggam sangat erat di bawah meja. Ashoka langsung menatap Ayu dari samping, dilihatnya istrinya ini seperti sedang menahan kesal.
Di bawah meja, Ayu menggenggam tangan Ashoka sangat erat. Ia amat sangat-sangat gemas dengan tingkah bertingkah suaminya yang sepertinya belum pernah merasakan hidup susah dan makan di pinggir jalan.
"Iya Neng, saya paham. Maaf kalau tadi saya sempat kesal." kata si penjual pecak lele merasa iba.
Ayu tersenyum masam, dan melihat penjual pecak lele itu berlalu untuk membantu rekannya dalam menyiapkan menu yang dipesan oleh para pembeli, ia merasa lega. Lalu melepaskan genggaman tangannya dari tangan Ashoka. Sungguh tak habis pikir, mau makan aja ribet banget. Ini namanya drama tenda pecak lele.
"Kamu hutang penjelasan padaku," Ashoka menatap Ayu tajam.
Ayu mengangkat wajahnya yang semula menunduk. Bersitatap gemas, ingin rasanya menarik jakun pria yang duduk tepat di depannya ini. "Iya, selama saya menjadi istri anda, saya akan terus berhutang pada anda, dan selama itu pula saya akan terus dalam pengabdian yang sia-sia, bukan karena Lilahita'ala,"
"Kenapa kamu sebut pengabdian yang sia-sia?" Ashoka terkejut mendapati jawaban istrinya yang tegas meskipun demikian suaranya pelan.
"Karena selamanya saya hanya anda anggap sebagai istri pelunasan hutang, selama itu pulalah saya merasa tidak mempunyai hak untuk menilai berdasarkan asumsi saya sendiri, meskipun pada akhirnya bisa jadi saya mempunyai rasa cinta yang tulus dan terus tumbuh seiring berjalannya waktu. Dan semoga saja saya bisa insya Allah, karena saya hanya ingin menikah sekali seumur hidup, meskipun pada awalnya hanya berlandaskan hutang, saya masih menggaris bawahi itu," Ayu menjawabnya tentu dengan nada suara pelan. Agar tidak di dengar orang lain. Ayu juga merasa hatinya mulai sedikit ada rasa simpati yang mungkin saja kian hari jadi berubah dengan seiring berjalannya waktu. Ia percaya Allah Maha membolak-balikkan hati kepada setiap hamba-Nya.
Ashoka terpekur mendengar jawaban Ayu. Netranya bersitatap dengan sorot mata Ayu yang meneduhkan serta menyejukkan hati. Bagaikan oase di tengah padang pasir yang gersang. Tatapan itu menyejukkannya.
...*****...
__ADS_1
Bersambung...