Pengantin Tuan Ashoka

Pengantin Tuan Ashoka
What is kunyukk?


__ADS_3

Mobil yang membawa Mama Mega baru saja sampai di pelataran rumah. Seorang pelayan dengan sigap membukakan pintu mobil untuk sang nyonya besar.


Namun sang nyonya besar tidak sendirian, ia bersama dengan seorang wanita keturunan bule rambut pendek. Siapa lagi jika bukan Kimberly. Tentu ketika masih dalam perjalanan banyak yang mereka bicarakan, salah satunya rencana untuk memisahkan Ayu dan juga Ashoka.


Tentunya Kimberly sangat senang, karena rencananya mendapat apreasiasi dari Mama Mega.


Dan bagi Mama Mega sendiri, bekerjasama dengan Kimberly merupakan sebuah konspirasi yang menguntungkan. Karena ia tahu, jikalau Kimberly merupakan wanita cerdik yang mempunyai kenalan banyak pengusaha mapan dan berjaya di dalam maupun luar negeri.


"Apa Mama yakin, Ashoka tidak akan mengusirku lagi?" Kimberly bertanya pada Mama Mega sebelum turun dari mobil.


"Tenanglah sayang, ada Mama. Ini juga sesuatu yang menyenangkan bisa mengenalmu lebih dekat Kim." balas Mama Mega tersenyum ramah.


Dengan segenap keanggunan, keangkuhan, serta kewibawaan dari seorang wanita setengah baya ini turun dari mobil, lantas berdiri di depan pintu mobil yang terbuka. Maju untuk beberapa langkah. Mama Mega tersenyum menyeringai, sedangkan matanya menatap mansion yang hampir dua puluh sembilan tahun ditempatinya.


Selama ini, tak pernah ada yang mengusik ketenangan. Semua berjalan sesuai keinginannya. Kendati demikian, saham terbesar Bratacorp masih atas nama Ashoka termasuk juga aset rumah ini, yang masih bernamakan mendiang almarhumah ibu kandung anak tirinya. Tapi selama ini tak pernah menjadi masalah baginya. Karena Ashoka masih terbilang sebagai anak tiri yang sangat penurut.


Saat tenggelam dalam lamunan tentang perjalanan hidupnya yang sudah sampai sejauh ini. Sorot lampu mobil menyilaukan netra tuanya. Mama Mega memutar badannya ke samping, dilihatnya Gading yang berada dalam mobil sport, sampai pada mesin serta di susul lampu mobil itu redup. Mama Mega masih melihat Gading keluar dari dalam mobil.


"Mama... Kimberly..." Gading berjalan mendekati ibunya.


"Halo Gading," sapa Kimberly ramah.


"Habis dari mana saja?" Mama Mega bertanya bernada suara jutek.


"Biasalah Ma, namanya juga anak muda," Gading menjawab pertanyaan Mama Mega santai.


Mama Mega menajamkan matanya pada anak kandungnya yang suka hura-hura. Ini masih mending pulang agak sorean, biasanya sampai subuh menjelang.


Gading takut melihat sorot mata Mama Mega yang seperti macan akan menerkam mangsa. Lebih lagi saat Mamanya itu mendekat, Gading membulatkan matanya, sampai pada akhirnya kupingnya di jewer serta dipelintir oleh sang Mama.


"Aduh duh Ma, sakit Ma, sakit!" Gading memegangi tangan Mama Mega yang menjewer kupingnya.


"Mau sampai kapan kamu keluyuran malam, mau sampai kapan kamu foya-foya tiada guna! Mau sampai kapan Gading?!" sarkas Mama Mega sangat marah.


"Iya sampai Gading puas Ma," celetuk Gading merasakan sakit di kupingnya.


Mama Mega geram, habis kesabaran. Ia memelintir kuping Gading lebih keras, sampai anaknya ini mengaduh sakit. "Apa kamu bilang? Sampai kamu puas, kapan Gading kapan? Kamu tidak becus menjadi seorang pemimpin, maka sebab inilah Ayahmu mempercayakan perusahaan pada Ashoka. Paling tidak, berguna lah untuk membantu Mama, Gading. Ini semua demi kamu, masa depan mu!"


Kimberly hanya bisa menyembunyikan rasa ingin tertawanya melihat Gading.


Kali ini dengan sekuat tenaga, Gading mampu melepaskan tangan Mama Mega yang sedang menjewer kupingnya. Berulang kali mengusap-usap kupingnya yang mungkin saja sudah merah seperti jambul ayam jago.


"Iya Ma, iya. Gading masih berusaha, Gading juga nggak asal tidur kok di kantor, Gading sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi Mama juga harus mengakui jika pada dasarnya Kak Ashoka memang hebat," keluh Gading masih mengusap-usap kupingnya yang terasa panas.


"Iya Mama tahu, Ashoka hebat dalam menjalankan perusahaan, tapi bukan berarti kamu juga harus menyerah Gading!" sungut Mama Mega tak sedikitpun menurunkan pita suara.

__ADS_1


"Dengan cara apa lagi Ma?" Gading melihat Mamanya itu memalingkan wajah, kini menghadap pada mansion yang dibangun sebelum ia lahir.


"Menculik istrinya," cetus Mama Mega, sorot matanya tajam pada mansion di depannya.


Kimberly yang sebelumnya sudah membicarakan tentang soal penculikan hanya tersenyum tipis.


Gading terpekur mendengar hal yang dikatakan oleh Mamanya. "Maksud Mama Kakak ipar?"


"Iya," Mama Mega mengangguk kecil.


"Apa hubungannya dengan Kakak ipar?" Gading masih tidak mengerti dengan maksud Mama Mega.


"Tentu saja ada!" celetuk Mama Mega melihat Gading sekilas. "apa kamu tidak ingat sewaktu Rose meninggal. Ashoka sangat terpukul sampai setahun lamanya dia resign dari perusahaan, dengan menculik istrinya. Dia akan kalang kabut dan kamu bisa mengambil perhatian para kolega bisnisnya," terbesit dalam ingatan Mama Mega saat Ashoka dirundung duka lara saat kematian Rose. Sampai membuat Ashoka seperti mayat hidup selama hampir setahun dan sempat pula mengabaikan keberadaan Ayna.


"Tapi Ma, mana mungkin Kak Ashoka akan terpengaruhi dengan hal itu. Sementara mereka menikah karena pelunasan hutang, mereka tidak saling mencintai. Jadi mana mungkin juga Kak Ashoka akan merasa kehilangan dan frustasi," Gading menyangsikan rencana Mama Mega, ia juga tidak tega jika sampai Ayu di culik.


"Apa kau bilang?" dahi Mama Mega mengerut, hingga nampak jelas jikalau wanita ini sudah hidup untuk beberapa waktu yang cukup lama.


"Mereka tidak saling mencintai," ucap Gading.


"Bukan yang itu," Mama Mega masih belum mengerti apa maksud yang dikatakan Gading.


"Soal pelunasan hutang?" Gading mencoba menerka-nerka bahwa Mama Mega belum mengetahui hal ini.


"Orang tua Kakak ipar berhutang sangat banyak, dan tidak bisa membayar pada Kak Ashoka. Dari berita yang ku dengar, Ayah Kakak ipar mengajukan anaknya untuk dinikahi Kak Ashoka..." Gading menjeda ucapannya, ia menghela nafas panjang. Untuk sesaat membalikkan badan sedikit ke samping. "yah, dan seperti yang Mama ketahui, Kakak ipar sekarang telah menjadi istri Kak Ashoka," sambungnya lagi dengan akhiran kata yang semakin lirih.


"Pantas saja Mama sangat curiga, dengan pernikahan Ashoka yang terbilang sangat tiba-tiba, tanpa membicarakan yang sebenarnya," Mama Mega ikut berdiri sejajar dengan Gading.


Kimberly mendekati Gading, bahkan ia berdiri di depan Ibu dan anak ini. "Tetapi, jika Ashoka menikahi wanita itu hanya karena hutang, siang tadi saat mobilku hampir saja menyerempet wanita sialan itu, kenapa Ashoka sangat khawatir?"


Gading membuka matanya lebar-lebar mendengar pengakuan wanita bule ini, ia langsung menoleh pada Kimberly. "Jadi kamu yang berniat menabrak Ayu?"


"Iya, aku yang sudah mencoba menabraknya, tapi sayang gagal," tanpa rasa bersalah Kimberly mengakui perbuatannya.


"Mama juga sudah tahu?" Gading berbalik menatap Mama Mega.


"Iya, Mama sudah tau," jawab Mama Mega santai.


Gading tidak menyangka kedua wanita di depannya ini sangat sadis. "Jangan mencelakai Ayu lagi, jika ingin menyingkirkannya, biar aku saja yang bertindak."


Dahi Mama Mega berkerut, lantas bertanya menyelidik. "Apa maksud mu Gading?"


"Ma, Mama tenang saja. Kali ini tanpa perlu mengotori tangan Mama dan tentunya kamu Kim. Ayu pasti akan di usir oleh Kak Ashoka sendiri dari rumah ini," Gading membuat sebuah rencana dalam hati, setelah Jamila pergi entah kemana. Kini dia harus menemukan mainan baru yaitu, Ayu.


Pembicaraan dari ketiganya terhenti, saat melihat mobil memasuki pelataran rumah. Tentunya semua orang yang ada di sana tahu, jikalau itu merupakan mobil Ashoka.

__ADS_1


Tanpa bantuan dari pelayan, Ayu membuka pintu mobilnya sendiri. Ia sempat melihat Mama Mega, wanita bule juga adik iparnya lantas berjalan kearah pintu mobil bagian belakang. Di sana Ayna sudah terlelap. Dengan amat sangat perlahan Ayu mengangkat Ayna untuk keluar dari dalam mobil.


"Kau masuklah kedalam rumah terlebih dahulu, nanti aku menyusul," kata Ashoka setelah keluar dari dalam mobil dan kini berdiri tak jauh dari Ayu yang menggendong Ayna.


"Baik." jawab Ayu, lalu berjalan menuju di mana mertuanya berada. Meskipun ia tahu sapaannya tidak bakal dibalas, akan tetapi demi menjaga kesopanan. Ayu tetap berkata salam. "Assalamualaikum Ma,"


Mama Mega mengabaikan salam yang diucapkan menantunya. Ia bahkan secara terang-terangan mengalihkan pandangannya secara sinis.


"Wa'alaikumussalam Kakak ipar," jawab Gading membalas salam Kakak iparnya.


Melihat wajah Gading yang menurutnya menyebalkan, Ayu diam saja. Lantas pergi dari sana, akan tetapi baru beberapa langkah kakinya menuju pintu besar. Telinganya berdengung saat mendengar suara manja wanita bule itu menyapa suaminya.


"Ashoka, kau darimana saja, aku menunggumu, aku sangat merindukanmu, kau tau ucapan mu siang tadi sangat melukai ku, tapi karena aku sangat mencintaimu aku memaafkan mu, honey." Kimberly menghampiri Ashoka dengan gaya centilnya.


Ayu yang mendengar kata dari wanita bulek itu hanya melet-melet. Wlek mencintai gundulmu! Jadi wanita kok nggak ada harga dirinya!


"Kenapa kau masih di sini, bukankah kau seharusnya sudah kembali ke Belanda?" Ashoka menjawab pertanyaan Kim dengan tegas.


"Ashoka ada apa dengan cara bicara mu, Kimberly memang sedang menunggu mu," Mama Mega menegur Ashoka yang bertanya pada Kimberly bernada suara dingin.


Tatapan Ashoka beralih pada Mama Mega. "Ma, apa Mama baru pulang? Kenapa Mama pulangnya sampai larut malam, bagaimana kalau Mama sampai jatuh sakit?"


"Tidak apa Ashoka, Mama baik-baik saja," Mama Mega mengulurkan tangannya mengusap rahang tegas Ashoka. "tadi Mama tidak sengaja bertemu dengan Kimberly, dan katanya Kim akan menginap di sini, karena besok dia ingin pulang ke Belanda bersama dengan mu," jawab Mama Mega menekankan kata-katanya, dan melirik Ayu sekilas.


Ayu mendengar itu, rasanya telinga ini panas. Dengan kaki yang dihentikan lebih keras serta kaki yang jenjang. Ia melangkah masuk kedalam rumah. Oh jadi dia pergi ke Belanda tidak sendirian. Yah yah, aku tahu, aku tidak berhak melarangnya. Aku akan diam, seolah aku ini tuli.


Melihat respon Ayu, Ashoka tersenyum tipis pandangan matanya melihat sampai Ayu masuk kedalam rumah. Lalu kembali melihat Kimberly yang sedang tersenyum manja serta Mama Mega.


"Gading ayo kita masuk lebih dulu, biarkan Kakakmu bicara dengan calon Kakak iparmu." ucap Mama Mega mengajak Gading.


Setelah Mama Mega dan Gading pergi dari sana. Kini hanya Ashoka dan Kimberly.


Kimberly melancarkan aksinya. Ia mendekati Ashoka tak segan ia menempelkan payudara montoknya yang tertutupi pakaian sangat seksi ke dada bidang Ashoka.


"Shoka, sampai kapan kamu akan mengabaikan ku, hem?" ucap Kimberly dengan suara yang dibuat mendesahh.


Melihat celah payudara besar serta wajah bule Kimberly yang menggoda. Tak membuat Ashoka terperdaya. Karena ia telah banyak melihat wanita yang model seksi seperti Kim. Ashoka menoyor kening Kimberly seraya berkata penuh penekanan. "Dasar kunyukk! Kalau kau sampai menggoda ku lagi! Tamat riwayat mu!"


Setelah mengatakan itu, Ashoka berlalu begitu saja dari hadapan Kimberly.


Kimberly cengo mendengar kata sangat asing yang diucapkan Ashoka. "What is kunyukk?"


...*****...


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2