Pengantin Tuan Ashoka

Pengantin Tuan Ashoka
Tidur bersama


__ADS_3

Untuk sesaat Ayu merasa jantungnya seakan berhenti berdetak. Saat Ashoka memintanya untuk pindah, ia mengira bahwa Ashoka benar-benar akan mengusir ataupun mengasingkannya. Entah mengapa Ayu merasa senang akan hal itu, ia juga tidak mau tinggal di sini.


Tapi nyatanya?


Ayu hanya di suruh pindah kamar, dan membawa serta semua pakaian yang terdapat di lemari. Ada satu lagi yang membuat Ayu tercenung, ternyata pakaian yang dipakainya bukanlah milik mendiang Almarhumah istri pertama Ashoka.


Kata pelayan, semua pakaian ini masih baru yang sudah di persiapkan Ashoka. Ayu tidak tahu ada apa gerangan dibalik alasan Ashoka untuk memintanya pindah kamar. Memang kamar ini sama saja luasnya dengan kamar Ashoka, Ayu mengamati semua pelayan yang menata kembali pakaiannya kedalam lemari pakaian.


Saat semua pelayan sudah selesai, Ashoka masuk kedalam kamar yang sekarang ini ditempati oleh Ayu. Dilihatnya, Ayu sedang memperhatikan seisi kamar. "Kau bisa pakai kamar ini,"


Ayu Terkejut dengan adanya suara Ashoka memecahkan lamunan. Dilihatnya Ashoka telah berganti pakaian rumah. "Terimakasih," ucapnya canggung.


Setelah mendengar jawaban monoton Ayu, Ashoka berbalik badan dan hendak pergi dari sana, tapi sesaat kemudian mendengar suara Ayu yang sepertinya ingin menyampaikan sesuatu.


"Tunggu.." Ayu melihat suaminya itu akan keluar dari kamar.


"Ada apa?" Ashoka menjawab tanpa melihat lawan bicaranya.


"Apakah karena banyaknya kenangan bersama dengan istri pertama anda, sehingga anda meminta saya untuk pindah kamar? Sungguh bila itu alasannya, saya tidak keberatan dan saya tidak cemburu," Ayu tertegun setelah menyampaikan hal yang sejak tadi bergerilya di dalam benaknya.


Ashoka terhenyak mendengar sangkaan Ayu yang ternyata adalah sebuah kebenaran. Bahwasannya Ashoka merasa tidak nyaman, dengan adanya Ayu berada di kamarnya dan melihat semua kenangan yang terlukis di dalam bingkai foto bersama mendiang Rose, padahal Ashoka telah meminta pada pelayan untuk menata pakaian Ayu ke kamar yang sekarang ini. Dan Ashoka baru tahu, setelah mengintrogasi pelayan, ternyata hal ini ulah Mama Mega yang meminta pelayan untuk menata pakaian ke kamarnya bersama dengan mendiang Rose.


Lama mendiamkan Ayu, Ashoka berbalik badan dan melihat istri mudanya seperti sedang menunggu jawaban darinya. "Apa kau sedang membujukku, atau merayuku dengan mengatakan hal itu? Apa karena malam pertama kita kemarin tertunda?"


Ayu sontak saja menggeleng, "Tidak dua-duanya, saya hanya ingin anda merasa nyaman, tanpa terganggu keberadaan saya," sejenak Ayu mengedarkan pandangannya dan kembali menatap suaminya yang memiliki tatapan dingin.


"Lalu? Apa kau ingin kita melakukannya malam ini, apa kau sungguh tidak ada harga diri?" Ashoka berjalan selangkah mendekati istrinya.


Jantung Ayu berdetak lebih cepat, entah mengapa jantungnya ini tak kompromi saat melihat tatapan dingin suaminya.


"Saya tidak ingin menikmati malam pertama dengan pria yang tidak saya cintai, dan saya mohon. Jangan bercanda tentang harga diri, anda tidak akan pernah tau, harga diri seseorang tidak bisa semena-mena di rendahkan seperti ini, saya bukan pelac*r," Ayu berkata dengan gigi dikeratkan. Ditatapnya manik mata Ashoka yang tidak bersahabat.


Ashoka terhenyak mendengar jawaban Ayu, ditatapnya sepasang mata Ayu yang sedang menatapnya tajam. Ashoka melihat keberanian sekaligus ketakutan dalam diri istrinya ini. Sesaat kemudian tersenyum devil, ia tidak menyangka menemukan wanita yang kepribadiannya sedikit mirip seperti Rose, tapi bukan itu yang membuat Ashoka menyetujui menikahi wanita yang tidak ia cintai ini.


Selangkah lagi, Ashoka mendekati Ayu, hingga membuat Ayu tersudut lalu duduk di sofa. Ashoka menopangkan kedua tangannya ke sandaran sofa, lalu wajahnya mendekati Ayu. "Kau, tidak jatuh cinta atau belum jatuh cinta padaku? Kita lihat saja, apa kau akan menyamaratakan semua laki-laki seperti mantan kekasih mu?"


Sebelumnya Ashoka telah mencari tahu semua hal tentang Ayu, dia tidak mungkin menikahi wanita tanpa mencari tahu tentang latar belakangnya.


Sedangkan Ayu tercengang mendengar perkataan Ashoka. Berulang kali ia mengerjap-ngerjapkan matanya menatap netra Ashoka yang telah berubah menjadi lebih hangat. "Da-dari mana anda tau?"


Ashoka mendekati telinga Ayu lalu berbisik. "Tidak ada yang luput dari pengawasan ku," sesaat kemudian Ashoka menarik dirinya dan berjalan menjauhi Ayu.

__ADS_1


Ayu dilanda kebingungan, semakin misterius saja pria ini, apa dia pikir dia Tuhan tak luput dari pengawasannya? pikir Ayu.


"Di rumah ini, jangan berdebat dengan Mama Mega, karena kau tidak akan pernah menang," ucap Ashoka memperingatkannya.


Ayu mengamati gestur tubuh Ashoka dari belakang, di balik dinginnya itu seolah Ayu merasakan rasa yang menyedihkan dari seorang Ashoka Bratajaya. Ayu mengangguki ucapan Ashoka.


"Baiklah saya paham, saya juga minta maaf karena sudah berlaku kurang ajar terhadap Mama Mega. Lain kali saya akan lebih berhati-hati,"


"Hm bagus, kalau kau paham." Ashoka berjalan keluar dari kamar yang sekarang ini ditempati Ayu, dia kembali ke ruangan kerjanya untuk menyelesaikan pekerjaan yang sempat tertunda tadi siang.


**


Menjelang malam, setelah makan malam yang dilalui dengan kecanggungan. Apalagi melihat wajah suram Mama Mega dan wajah Gading yang menyebalkan. Ayu lebih memilih untuk menghabiskan waktu di kamar Ayna, di rumah ini yang membuat Ayu merasa nyaman hanyalah bersama dengan gadis kecil ini.


"Ayo gosok gigi dulu sebelum tidur," ajak Ayu setelah menemani Ayna belajar sebelum waktunya tidur.


Ayna menatap wajah Ayu dengan tatapan mengharap, bahwa sebelum tidur ia ingin dibacakan dongeng.


"Ada apa sayang, kenapa lihat Mama seperti itu?" Ayu penasaran dengan tatapan mata polos Ayna yang seperti sedang mengharapkan iba.


"Ayn penen banget sebelum Ayn bobo, dibacain celita, soalnya Ayn jayang dengel celita sebelum bobo," ungkap Ayna mengenai unek-uneknya.


"Lho memang tidak ada yang membacakan cerita untuk Ayna?"


Ayu kembali merasakan teramat sangat kasihan melihat wajah gembul Ayna, gadis kecil ini pasti selalu merasa kesepian. Ayu tersenyum lebar, lalu menghampiri Ayna dan membopongnya. "Baiklah, Mama akan bacakan cerita untuk Ayna, sekarang kita gosok gigi dulu, yuk,"


"Acik acik acik..." Ayna langsung bersemangat dalam gendongan Ayu yang berjalan menuju kamar mandi.


Sementara itu, Ashoka sedang berada di ruang kerjanya, secara diam-diam memerhatikan interaksi antara Ayu dan Ayna di layar monitor cctv. Ia tersenyum kala melihat keakraban yang terjalin diantara istri dan anaknya. Memang tidak salah, untuk menjadikan Ayu sebagai Ibu sambung untuk Ayna.


Ashoka berniat untuk datang ke kamar putrinya, saat itu juga melihat Bik Marni akan memasuki kamar Ayna.


"Bik," Ashoka berjalan mendekati wanita setengah baya yang sudah bekerja dengannya untuk menjaga Ayna selama lima tahun.


"Iya tuan," Bik Marni mengurungkan niatnya untuk membuka pintu kamar. Tatapannya menunduk kala berhadapan dengan tuannya.


Ashoka melihat botol susu yang dibawa Bik Marni. "Biar saya saja yang memberikan susunya,"


"Baik tuan." Bik Marni langsung memberikan nampan pada Ashoka. Lalu melihat tuanya itu membuka pintu dan masuk kedalam kamar, pintu pun ditutup. Bik Marni kasihan melihat kehidupan Ashoka yang seperti tertekan, padahal Ashoka sudah tau jikalau nyonya Mega dan tuan Gading selalu merepotkan nya, tapi ya sudahlah, bik Marni menyadari di rumah ini, ia hanyalah sekedar pelayan.


Saat keluar dari kamar mandi dengan gigi yang sudah bersih. Ayu dan Ayna melihat Ashoka yang sudah berbaring di tempat tidur.

__ADS_1


"Apa Dady akan tidul di sini juga?" ucap Ayna mendekati Dady Ashoka.


"He'em, lihatlah, Dady sudah membuatkan susu untukmu," ucap Ashoka berbohong, sambil menunjuk botol susu di atas nakas.


Benarkah dia yang membuat susu, kenapa aku tidak percaya. Ayu memicingkan matanya menatap Ashoka.


"Acik acik acik.. Ayn sueneng Dady nda pulang malam," ucap Ayna girang. "Mama, ayo kita bobo belsama," Ayna menarik tangan Ayu yang masih berdiri di samping tempat tidur. Inilah impiannya tidur bersama dengan Mama dan Dady-nya.


Ayu canggung dengan hal ini, dilihatnya wajah Ashoka yang mengangguk tipis seolah mempersilahkan untuknya tidur bersama. Ayu mulai duduk dan kemudian berbaring di samping Ayna. Tak perlu menunggu sampai membuat anak seperti apa, karena sekarang ini, Ayu merasa sudah mempunyai anak tanpa perlu membuatnya.


"Ayo Ma, bacain celitana Ayn mau dengel." Ayna berkata sembari meminum susunya.


Ayu mulai berehm-ehm, diliriknya Ashoka sudah memejamkan matanya.


"Di sebuah padang rumput yang luas, ada segerombolan kupu-kupu berwarna-warni, mereka sangat bahagia. Selain rumput yang menyejukkan mata, ada bunga-bunga yang indah,"


"Pada suatu hari, ada seorang manusia yang akan mengambil alih lahan padang rumput yang didiami kupu-kupu dan akan di bangun sebuah gedung,"


"Sontak saja segerombolan kupu-kupu itu sangat sedih, karena rumah mereka akan diambil alih,"


"Telus gimana sama kupu-kupuna?" Ayna menyela cerita yang sedang di dongengkan Mama Ayu.


"Kupu-kupu itu menangis sangat sedih, karena mereka berpikir tidak mempunyai rumah lagi, tidak ada sari bunga yang akan dijadikannya sumber makanannya,"


"Bealti manusia itu jahat, melusak lumah kupu-kupuna?" setengah mata terpejam, Ayna berkata.


Ashoka mengernyitkan dahinya mendengar cerita yang sedang disampaikan oleh Ayu, sebagai seorang CEO perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi, Ashoka merasa tersindir. "Kenapa kau membacakan cerita seperti itu, apa kau sedang menyindir ku?"


"Lha dalah, menyindir yang bagaimana?" Ayu merasa tidak menyindir siapapun.


"Dady, bialin Mama selesaikan celitana," Ayna tidak terima dengan protesan Dady-nya yang tak masuk akal.


Nahkan, Bos kalah sama anak Bos. Ayu tersenyum tipis, untung saja saat ini menggunakan lampu tidur jadi ia bisa tersenyum melihat Ashoka yang seketika itu diam seperti patung, kala mendengar protes dari anaknya.


Ayu kembali melanjutkan ceritanya, "Jadi, manusia itu mendengar tangisan segerombolan kupu-kupu, akhirnya manusia itu tidak jadi merusak rumah kupu-kupu dan membiarkan padang rumput itu menjadi sebuah taman bunga yang sangat indah."


Tak perlu menunggu waktu lama, dilihatnya Ayna sudah tertidur pulas. Hem, anak ini gampang sekali tidurnya. Ayu pun ikut terlelap di samping Ayna, ia melucuti segala kecanggungan dan perasaan tidak enak tidur dalam satu tempat bersama dengan seorang pria, dan berpikir bahwa ada Ayna di tengah-tengah mereka, karena inilah kali pertama baginya.


Ashoka tersenyum tipis melihat Ayu di keremangan lampu tidur. Ia memikirkan sebuah ide dalan pekerjaannya, mengenai cerita yang disampaikan Ayu.


Sepertinya taman bunga dan padang rumput akan menjadi sebuah ikonik yang menarik ujung dijadikan sebuah tempat usaha wisata yang menarik.

__ADS_1


...*****...


Bersambung...


__ADS_2