
Di ruangan Dokter, Seorang pria rupawan bernama Ashoka Bratajaya yang biasa di panggil dengan sebutan tuan Ashoka. Sedang mendengarkan penjelasan tim Dokter pasca melakukan tindak operasi pada persalinan Rose Cantika.
"Tuan Ashoka, keadaan Nyonya Rose sangat kritis. Dia tidak punya waktu yang lama, kami tim Dokter sudah berusaha keras, tapi pendarahannya sangat banyak. Kami tidak bisa berbuat apa-apa, dia tahu hal itu. Saya sudah bilang padanya, pada masa bersalinnya akan ada komplikasi. Tapi dia juga tahu, anda sangat menginginkan buah hati anda lahir. Nyonya Rose juga bilang, bahwa dia sangat menyayangi putrinya lebih dari nyawanya sendiri." secara ringkas Dokter Ranita menjelaskan tentang keadaan yang terjadi pada Rose.
Ashoka menatap Dokter berkaca mata itu dengan mata berair. Hatinya berkecamuk merana. Ashoka langsung berdiri dengan kasar sampai membuat kursi yang didudukinya terhempas ke lantai. Ashoka sama sekali tidak mempercayai ucapan dokter itu, ia merasa apa yang didengarnya ini hanyalah omong kosong.
Ashoka berlari keluar dari ruangan Dokter. Dan menuju kamar VVIP rumah sakit. Pria bertubuh atletis ini berdiri di ambang pintu masuk kamar. Melihat istrinya sedang menciumi bayi merah yang baru beberapa menit lahir ke dunia.
Setelah perawat meletakkan bayi ke keranjang bayi, perawat itupun keluar dari kamar perawatan intensif.
Dengan langkah gontai, Ashoka berjalan mendekati istrinya. Namun ia duduk di tepian brankar memunggungi Rose. Ia tak sanggup melihat wajah pucat nan sayu istrinya, ia sungguh tidak sanggup jika harus berpisah dari wanita yang telah melahirkan buah hatinya yang berjenis kelamin perempuan ini.
Sebagai seorang pria dan penerus perusahaan ternama Bratacorp. Ia tidak pernah menuntut istrinya untuk melahirkan keturunan laki-laki. Apapun jenis kelamin buah hatinya ia terima dengan perasaan bahagia dan rasa syukur.
Karena Ashoka berpikir lapang, seorang pemimpin bukan hanya dari kalangan kaum Adam, akan tetapi kaum Hawa pun bisa menjadi pemimpin. Bukan hanya pemimpin sebuah perusahaan besar, akan tetapi seorang perempuan bisa jadi memimpin sebuah negara.
Seperti halnya Sang Ratu Elizabeth. Dialah seorang pemimpin di Inggris.
Ashoka Bratajaya merupakan darah campuran, dialah anak dari seorang Ibu bernama Laila Hasnah yang berkewarganegaraan Saudi Arabia dan seorang Ayah bernama Arsena Bratajaya berkewarganegaraan Indonesia. Namun sayangnya, sang Ibu sudah meninggal dunia sejak Ashoka masih kecil.
Sang Ayah menikah lagi dengan seorang wanita bernama Mega Handayani. Dari pernikahan itulah, Ashoka mempunyai Adik bernama Gading Bratajaya.
Ashoka sejak kecil memang di kenal sebagai seorang pria dingin dan angkuh tak jarang pula orang-orang akan menyebutnya pria arogan. Itu terjadi semenjak Ayahnya menikah lagi, ia merasa sang Ayah tidak setia kepada almarhumah Ibunya. Ia sangat kecewa akan hal itu.
Namun sifatnya itu seiring waktu berubah semenjak bertemu dan menikahi seorang wanita bernama Rose Cantika yang hidupnya sebatang kara setelah wafatnya kedua orang tua Rose yang mengalami kecelakaan fatal di tol Cipularang.
Bukan hanya merasa kasihan dengan kehidupan yang Rose jalani. Sikap tegar, kecantikan, kelembutan serta cinta tulus Rose meluluhkan hati Ashoka yang ibarat kata sekeras batu karang. Bahkan Ashoka rela jika harus memberikan hidupnya untuk wanita yang telah melahirkan buah hatinya. Karena memang setelah sang Ayah meninggal, ia tidak memiliki siapapun kecuali Ibu dan adik tirinya yang selalu ingin merebut Bratacorp dari tangannya.
__ADS_1
Dan lagi... perpisahan serta kehilangan menghantui pikiran Ashoka setelah mendengar penjelasan dokter yang mengatakan keadaan Rose pasca melahirkan sangat kritis.
"Ashoka, apa kamu lihat. Putri kita sangat menggemaskan. Aku ingin dia mengenalku, bagaimana ibunya, siapa ibunya, dan bagaimana aku menyayanginya. Aku ingin menamainya Ayna, bagaimana menurutmu, hm?" Rose melihat suaminya sedih, mungkin juga Dokter sudah menjelaskan keadaannya.
"Maafkan atas segala keegoisanku, sifat manjaku, dan terimakasih telah menjadi lelaki yang sangat menyayangi ku." ucap Rose menahan gejolak rasa sedih akan perpisahan ini, namun sebisa mungkin ia tegar di hadapan Ashoka.
Ashoka terdiam matanya sudah tak kuasa menahan air bening ini. "Sudah jangan bicara lagi. Kamu sudah sangat banyak bicara -" Ashoka menjeda ucapannya, ia menghela nafas yang dirasakannya sangat berat. "jadi aku minta, jangan bicara lagi... Rose," sambungnya lagi menahan gejolak rasa yang semakin berkecamuk.
"Ashoka.." Rose memanggil suaminya yang kini duduk membelakangi, ia mengambil tangan Ashoka dan mendekap tangannya erat.
"Hey Ashoka, mau menjadi suamiku?" ucap Rose lagi, kini suaranya sudah semakin melemah.
Ashoka mengingat bahwa ucapan itulah yang pernah dikatakan Rose saat baru mengenalnya. Menahan rasa emosional yang menjalari sekujur tubuh, Ashoka mengalihkan atensinya. Segenap hati, ia menahan air mata agar tidak menetes di pipi.
Bersitatap dengan sorot mata Ashoka, dalam menahan rasa kram di perutnya. Rose kembali berkata. "Berjanjilah padaku, kamu tidak akan pernah menangis, tidak akan pernah-" Rose menjeda ucapannya, ia melihat Ashoka menggelengkan kepala. "Lagi pula, kamu tidak terlihat tampan kalau kamu menangis."
"Berjanjilah satu hal lagi," Rose memegang pipi suaminya. "ikhlaskan kepergianku, dan setelah aku tiada segeralah cari penggantiku. Maafkan aku Ashoka, maafkan aku." suara Rose semakin melemah, ia menunduk menahan rasa sakit yang kian tak tertahankan.
Ashoka memegangi dagu Rose agar menatapnya, setetes air bening meluncur mulus di pipinya. Dengan bibir bergetar, Ashoka berkata. "Jangan pergi..."
Rose mengulurkan tangannya, ia mengusap air mata yang menetes di pipi Ashoka. Ia menggelengkan kepalanya, pertanda untuk Ashoka, jangan menangisi kepergiannya.
Ashoka berbaring di samping istrinya, ia memeluknya erat, Rose juga membalas pelukannya. Namun lamat-lamat pelukan Rose semakin melemah dan tidak terasa. Inilah kali terakhir, Ashoka dapat melihat dan memeluk sang istri untuk yang terakhir kalinya. Rose meninggal dalam pelukannya.
"Rose, jangan tinggalkan aku! Aku mohon! Aaaarrggghhh ha ha aargghhh. Roseee!" Ashoka semakin mengencangkan pelukannya, ia mengguncangkan tubuh istrinya yang sudah tidak bernyawa, Ashoka menangis dan berteriak.
"Rose bangunlah sayang aaarrgghh aarrhh... jangan bercanda, jangan tinggalkan aku dan putri kita, bangunlah Rose! Kamu sudah berjanji akan membesarkan putri kita bersama-sama."
__ADS_1
Ashoka menghujani wajah Rose dengan ciumannya. Ia mengusap pipi istrinya, membelai rambutnya. Sekali lagi Ashoka memeluk jazad istrinya sangat erat.
"Tidak sayang, kamu tidak boleh meninggalkan ku, Rose!"
Seketika Ashoka membuka kedua matanya, ia mengatur nafasnya yang tidak beraturan.
Lima tahun sudah Rose tiada, namun Ashoka sering memimpikan almarhum istrinya. Dia menyadari terlelap di kamar Ayna, di tatapnya wajah Ayna yang masih terlelap.
"Dady memimpikan Mama mu lagi, sayang."
Netra Ashoka melihat bingkai foto mendiang Rose di atas nakas.
"Rose kamu datang menemui ku lagi, apa kamu merindukan ku, seperti aku merindukan mu. Aku sangat mencintaimu Rose, kenapa kamu pergi tak mengajakku, kamu sangat egois Rose, kamu membiarkan ku kesepian selama ini." Ashoka mengusap kaca bingkai foto, tepatnya mengusap wajah Rose Cantika.
Tak sengaja netranya melihat cincin lain yang melingkar di jari manis kanannya, karena cincin pernikahan pertamanya di jari kirinya. Seketika itu juga Ashoka teringat, telah memiliki seorang istri lagi. Dan mengerti mengapa dia bermimpi untuk yang kesekian kalinya.
"Maafkan aku Rose, ku harap mimpi ini bukan karena kamu marah karena aku sudah menikah lagi,"
"Seperti yang aku ceritakan kemarin, dia gadis yang di jual Bapaknya untuk melunasi hutang, dia juga guru Ayna, jadi aku berpikir dia akan menjadi Ibu pengganti yang baik untuk putri kita."
Ashoka melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 04:25 wib. Dia menaruh kembali bingkai foto di atas nakas, lalu turun dari tempat tidur sebelum benar-benar pintu tertutup, Ashoka melihat Ayna masih terlelap. Lantas menutup pintu sangat pelan.
Dan berjalan menuju kamarnya sendiri, saat membuka pintu, dia tidak mendapati istri mudanya tidur di atas ranjang. Ashoka tergelak, dia langsung mencari keberadaan Ayu dikamar nya, dan ternyata Ayu sedang melaksanakan ibadah subuh.
Hatinya tercubit, kala melihat istrinya itu sangat khusyuk dalam sholat nya.
...*****...
__ADS_1
Bersambung....