
Ashoka berlari ke ruang keluarga, dimana Pak Khan berkata bahwa Ayu dan Ayna berada di sana. Saat sedang berada di kantor, dia mendapatkan info, bahwa istri dan anaknya hampir saja mengalami kecelakaan, dan itu cukup membuat Ashoka panik, lantas memutuskan untuk pulang.
Baik Tarjo maupun Via juga ikut berlarian untuk menyusul Ashoka.
"Ayna, Ayu...!" Ashoka berseru lantang saat melihat istri dan anaknya duduk di sofa ruang keluarga.
Sang empu yang mempunyai nama mengalihkan atensinya melihat kedatangan Ashoka, sebelumnya mereka sedang di interogasi Mama Mega perihal berita ini.
Bagi Ayu sendiri sama sekali tidak menyangka, ternyata berita ini cepat sekali menyebar seperti berita yang sudah di endus oleh netizen, padahal ia merasa baik-baik saja dan tidak perlu sampai di besar-besarkan. Bukan pula tidak mengkhawatirkan kondisi Ayna, tapi ia merasa Ayna juga baik-baik saja.
Ayu merasa tidak enak hati pada Fonzo, bukan karena tertarik atas aksi heroik yang dilakukan Fonzo, hanya saja ia merasa tidaklah sopan meninggalkan Fonzo begitu saja.
Ayu masih ingat jelas perkataan Lusy dengan nada tegas, saat pria bernama Fonzo berbincang dengannya sewaktu masih di depan minimarket.
"Mari nyonya Ayu, nona kecil sebaiknya kita langsung saja pulang. Tuan Ashoka akan sangat marah jikalau mengetahui nyonya berbicara akrab dengan orang lain apalagi seorang pria asing, terlepas orang itu telah menyelamatkan nyonya." kata Lusy memperingati Ayu saat melihat Ayu sedang berbincang di depan minimarket.
Tak ada daya dalam melawan atau bahkan membantah, Ayu sepenuhnya sadar siapa dia sekarang. Kebebasannya sungguh dikekang, bahkan kini interaksinya dengan orang lain seakan dibatasi.
"Lihatlah Shoka, Mama bilang juga apa, istri mu ini lambat laun akan membuat kekacauan, kau tidak lihat, kalau dia telah lalai dalam menjaga cucu Oma," Mama Mega memprovokasi agar Ashoka membenci Ayu.
"Benar nyonya, saya juga merasa demikian." seorang wanita bule yang sangat fasih berbahasa Indonesia juga ikut bersuara.
Ayu menatap seorang wanita bule yang sebelumnya disebut Mama Mega bernama Kimberly. Entah darimana datangnya bule nyasar ini, setibanya di rumah. Ayu sudah melihat keberadaan si bule.
"Sebenarnya dari mana sih ni bule, dari tadi ngomongnya selalu memojokkan ku. Aku tahu Mama Mega tidak menyukaiku, tapi apakah itu belum cukup, sehingga kini ada seorang bule yang entah berasal darimana ikut menjadi kompor." Ayu membatin, dengan tatapan tajam menatap Kimberly.
Ashoka melewati kedua wanita yang berbeda generasi juga berbeda kewarganegaraan, ia tak menghiraukan suara sumbang Mama Mega dan Kimberly yang ternyata masih berada di Indonesia. Pria tegap ini langsung menghampiri Ayna.
"Ayna apa kau baik-baik saja sayang, hem?" Ashoka berucap dengan nada khawatir. Ia berlutut tepat dihadapan anaknya.
__ADS_1
"Seperti yang Dady lihat, Ayn baik-baik saja," Ayna mengangguki ucapan sang Ayah, bahkan ia sedikit bingung kenapa di rumah ini banyak sekali orang-orang.
Sekarang Ashoka bisa bernafas lega, menepikan perasaan yang sebelumnya telah menjadi antah berantah seolah ia merasa telah lolos dari maut. Kehilangan orang-orang yang dicintainya membuat Ashoka dalam kepanikan. Dipeluknya sang anak erat-erat seolah ia sangat takut untuk kehilangan orang tersayang nya lagi.
"Dady, kenapa peluk Ayn kenceng banget, Ayn tidak bisa bernafas Dady," ucap Ayna dibalik sang Ayah yang belum juga mengurai pelukannya.
"Maafkan Dady sayang, Dady sangat bersyukur kamu baik-baik saja," Ashoka mengurai pelukannya, kali ini ia menciumi wajah putri kecilnya.
Dalam diamnya, meskipun Ayu terharu melihat Ashoka dan Ayna. Tapi terdalam di lubuk hatinya, sebenarnya ia amat sangat gelisah.
"Apakah aku akan dihukum lagi? Lalu hukuman apa kali ini, setelah mengurungku, dan membatasi ku untuk keluar rumah. Jangan sampai dia mengurungku dalam kamar." monolog Ayu, ia tak berani berkutik, tatapannya menunduk setelah sesaat tadi ia melihat Ashoka.
Semua orang di dalam ruang keluarga menyaksikan apa yang mereka lihat. Bagaimana Ashoka teramat sangat menyayangi anak semata wayangnya. Bahkan Ashoka sangat menjaga ketat agar Ayna selalu dalam keadaan aman.
Terutama dalam hati Mama Mega dan Kimberly. Mereka berdua berharap agar Ayu lah yang dipersalahkan atas kejadian satu jam lalu.
Begitu pula dengan Kimberly. Wanita yang telah lama menjadi rekan bisnis Ashoka ini menyimpan rasa pada duda satu anak itu. Namun langkahnya untuk mendapatkan Ashoka selalu saja mendapatkan jawaban dingin. Kimberly membatin, mengharap Ashoka mengusir wanita yang sekarang ini telah berstatuskan istri dari Ashoka. "Ashoka, aku ada di sini. Seharusnya aku yang jadi istri mu dan menjadi nyonya Bratajaya."
Ashoka mengalihkan atensinya, ia memang belum fokus pada Ayu. Dan kali ini dilihatnya Ayu sedang duduk terdiam sedangkan pandangannya menunduk bahkan sama sekali tidak berkutik. Detik berikutnya ia kembali menatap Ayna. "Ayna sayang, sekarang kamu ikut Om Tarjo. Dady ingin bicara sama Mama Ayu."
"Iya Dad." Ayna turun dari sofa dibantu sang Ayah, dia berjalan mendekati sekretaris Dady Ashoka.
Sebelum pergi dari ruang keluarga, Tarjo melihat kearah Ayu. Dia merasa kasihan jikalau Ayu kembali mendapatkan hukuman. Padahal gadis itu sudah banyak berkorban, jika banyak gadis seusia Ayu berontak ketika kebebasan nya di kekang, tapi tidak dengan Ayu, gadis itu sangat penurut. Apakah hanya karena gadis itu penurut, lalu tuan Ashoka akan semakin menekannya?
Tarjo tidak sendiri dalam membawa Ayna menuju taman bunga samping rumah. Via juga ikut bersamanya.
"Apa yang akan kau katakan sekarang, apa alasanmu, hm?" Ashoka bersuara tegas menatap Ayu tajam.
"Maafkan saya," ucap Ayu bergetar, ia takut untuk menatap suaminya. Entah alasan apa ia sampai merasakan ketakutan seperti ini.
__ADS_1
Mama Mega dan Kimberly sangat senang melihat dan mendengar suara Ashoka terdengar sangat dingin dan kaku terhadap Ayu. Mereka tersenyum licik.
Ayu beringsut dari duduknya yang semula seperti terpaku pada sofa, kini ia menjadi berlutut dihadapan suaminya. Terlepas dari salah atau tidaknya, yang Ayu harapkan jangan sampai karena permasalahan ini, Ashoka kembali mengusik ketenangan orang tua angkatnya.
"Saya mohon maafkan saya, saya mohon, saya sadar saya telah lalai. Anda boleh mengusir saya, tapi saya mohon jangan mengusik kehidupan orang tua saya," ucap Ayu parau, perlahan tapi pasti, mata yang sejak tadi sudah membendung air bening kini membasahi pipi.
Ashoka yang masih berdiri dengan kokohnya menatap Ayu yang sedang berlutut dihadapannya. Hatinya bermonolog. "Dasar gadis idiot, untuk apa kau memohon agar aku jangan mengusik ketenangan orang tua angkat yang telah menjadikan mu seorang babu selama kau menjadi anaknya. Apakah selama ini kau tidak tahu, jikalau mereka memanfaatkan mu saja?!"
Ashoka masih melihat Ayu, bahkan dilihatnya pundak Ayu yang mulai bergetar menahan tangis.
"Bangunlah." ucapnya dingin.
Ayu tercenung mendengar Ashoka memintanya untuk berdiri. Sesaat kemudian ia menggeleng. "Saya mohon, saya akan menanggung hukuman, tapi jangan usik ketenangan keluarga saya,"
Sebenarnya apa yang dikatakan Ayu, membuat pikiran Mama Mega terusik. Tapi ia memilih diam, guna mengetahui apa yang sebenarnya terjadi antara keluarga Ayu dan Ashoka.
"Ku bilang bangunlah!" Ashoka bicara lagi, kali ini ia berbicara lebih tegas lagi. Sampai orang-orang yang sekarang berada di ruang keluarga terperanjat mendengar suara Ashoka yang terdengar menggelegar.
Begitu juga yang dirasakan Ayu, ia tersentak mendengar suara Ashoka sangat tegas. Ayu menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Dalam keadaan tubuh gemetaran serta air mata yang sejak tadi tiada berhenti untuk menetes, Ayu berdiri dengan perasaan lunglai dan berhadapan dengan suaminya namun masih dengan pandangan menunduk. Akan tetapi sesaat kemudian ia merasakan tubuhnya dipeluk sangat erat.
Alih-alih menghukum ataupun mengeluarkan caci makian nya, Ashoka justru memeluk Ayu sangat erat, bahkan tak memperdulikan orang-orang yang sekarang ini berada di ruang keluarga.
"Jangan lagi kau melakukan sesuatu yang membuat jantungku seakan berhenti berdetak." bisik Ashoka pelan di dekat telinga sang istri, dilihatnya Ayu mengangkat wajah dan kini bersitatap sangat dekat.
Apa yang dilakukan Ashoka, sontak saja membuat Mama Mega serta Kimberly meradang.
...*****...
Bersambung...
__ADS_1