Pengantin Tuan Ashoka

Pengantin Tuan Ashoka
Kau harus terbiasa


__ADS_3

Saat pertama kali Ayna membuka pintu kamar Mama Ayu, dilihatnya Dady Ashoka sedang berbaring di pangkuan Mama Ayu. Dilihatnya kedua orang dewasa itu terlonjak kaget saat menyadari keberadaannya.


Ayu dan Ashoka celingukan, saat pintu tiba-tiba dibuka dibarengi dengan suara dan Ayna yang masuk kedalam kamar.


"Dady, Mama," Ayna berseru membersamai dengan langkah kaki mungilnya mendekati Dady Ashoka dan Mama Ayu.


Ashoka yang sudah duduk dengan tegak melihat Ayna. "Ada apa Ayn?"


"Ayo Dad, Ayn ingin pergi, tadi Oma pergi. Ayn mau ikut nggak dibolehin sama Oma," Ayna duduk ditengah-tengah orang tuanya.


"Memang Oma pergi kemana sayang?" tanya Ashoka.


Ayna menggelengkan kepalanya. "Nggak tau, tapi Ayn nggak boleh ikut, Dad."


Dahi Ashoka mengerut. "Mungkin Oma akan pergi menemui teman-temannya,"


"Tapikan, Ayn bosen Dad. Ayn mau pelgi," Ayna terus merengek.


"Kalau ke mall?" Ashoka memberi saran.


"Saya rasa anak-anak pasti bosen kalau hanya jalan-jalan ke mall," Ayu ikut bersuara.


Ashoka langsung mengalihkan atensinya pada Ayu. "Lalu, apa kau memiliki saran yang kiranya dapat membuat mood lebih baik?"


Ayu diam bersitatap dengan sorot mata Ashoka. Ia tengah berpikir sejenak. "Kenapa kita tidak jalan-jalan di sekitaran kota saja, atau mengunjungi taman pada malam hari. Saya lihat siang tadi ada tenda-tenda festival di sana,"


"Asik, Ayn mau ke sana. Ayn juga lihat wahana bermain, Dad," Ayna antusias kala mengingat pada saat melintasi taman, sempat dilihatnya festival.


Melihat pancaran sinar mata yang berbinar-binar seperti bintang di mata Ayna membuat Ashoka sebagai seorang ayah luluh.


"Baiklah. Dady akan mandi terlebih dahulu, baru kita pergi." Ashoka beranjak dari duduknya.


"Asik..." Ayna berseru girang, sampai ia mencak-mencak.


"Apa perlu saya siapkan air hangatnya?" Ayu ikut beranjak melihat punggung Ashoka.


"Tidak perlu, kau juga harus bersiap." Ashoka berjalan keluar dari kamar Ayu. Di depan kamar, ia melihat Tarjo. "Kau masih di sini?"


"Saya belum sempat izin pada anda untuk pulang tuan," ucap Tarjo, "dan saya juga belum memberikan daftar apa saja yang diperlukan nyonya Ayu untuk menyiapkan keperluan yang akan di bawa anda nanti, selama perjalanan bisnis," Tarjo masih dengan setia memegang map merah.


Ashoka melihat map merah yang dipegang Tarjo. "Berikan padaku, nanti aku yang akan memberikan padanya,"

__ADS_1


"Baik tuan," Tarjo memberikan map merah pada Ashoka.


"Kalau begitu pulanglah, ini sudah sore." kata Ashoka setelah map berpindah tangan.


"Terimakasih tuan." Tarjo sedikit membungkukkan punggungnya, lantas pergi dari hadapan Ashoka.


Sesampainya di kamarnya sendiri, Ashoka memanggil Pak Khan lewat telepon rumah yang terhubung di ruang pelayan. Menunggu untuk sesaat sampai sambungan telepon tersambung.


"Pak Khan, datang ke kamar ku sekarang." setelah mengatakan itu dan mendengar jawaban Pak Khan, Ashoka menaruh gagang telepon. Selama menunggu kepala pelayan itu datang, Ashoka bergegas menuju kamar mandi dan membersihkan diri.


Setelah lima belas menit berkutat dalam kamar mandi, Ashoka keluar dalam keadaan tubuh yang bugar . Netranya melihat cctv yang tersambung di layar monitor televisi, di sana ia melihat Pak Khan sedang berdiri.


"Masuk Pak Khan." serunya, lalu duduk di sofa depan meja rias.


Pak Khan membuka pintu sang tuan, dilihatnya tuan Ashoka sedang mengeringkan surainya. "Ada yang bisa saya bantu tuan?"


"Hem..." Ashoka mematikan mesin hairdryer. Lantas membalikkan tubuhnya melihat Pak Kha. "suruh pelayan membereskan semua pakaian saya,"


Pak Khan terkejut mendengar titah tuannya. "Jika boleh saya tau..." Pak Khan menjeda ucapannya. Meskipun ragu, ia tetap mengajukan pertanyaan. "mau di bawa kemana semua pakaian anda tuan, apakah anda berniat untuk pindah dari rumah ini?"


Ashoka melihat wajah Pak Khan yang nampak pias, ia tersenyum tipis.


**


"Selamat malam tuan Ashoka, nyonya Ayu." sapa Pak Khan ramah.


"Malam Pak Khan." jawab Ayu juga ramah, sedangkan Ashoka diam saja. Ck, pria ini seperti es balok!


"Tuan Ashoka, nyonya Mega sedang keluar rumah. Apakah saya perlu siapkan makan malam, koki Yana juga tidak berangkat," kata Pak Khan pada Ashoka.


"Tidak perlu Pak Khan, kami akan keluar. Nanti kalau Mama Mega pulang, dan beliau bertanya, katakan saja saya pergi," jawab Ashoka.


"Baik tuan." Pak Khan membungkuk sepintas. Lantas mengantarkan tuan dan nyonya nya sampai pelataran depan rumah. Bahkan sampai mereka masuk kedalam mobil dan meninggalkan pelataran rumah. Barulah pria paruh baya ini masuk kedalam rumah.


Pukul 19:35 wib


Ayu melihat jam pada layar monitor ponselnya. Ia melihat kebelakang, dilihatnya Ayna sedang bermain permainan di iPad. Lantas mengalihkan atensinya pada Ashoka dari samping, pria ini terlihat sangat fokus mengemudi, rahangnya yang tegas menambah kesan maskulin. Tapi Ayu tak tahan lagi untuk mengatakan sesuatu yang sejak tadi bergulat dalam pikirannya.


"Maaf, boleh saya memberi saran sebelum pergi ke festival,"


"Ya katakan saja," Ashoka menjawab tanpa menoleh.

__ADS_1


"Saya ingin makan, saya merasa sangat lapar," ujar Ayu mengeluarkan unek-unek yang sejak tadi berkecamuk dalam perut serta hatinya.


"Baiklah, kita akan ke resto Brata," tukas Ashoka.


"Bolehkah saya makan pecel lele yang ada di pinggir jalan?" Ayu berkata sampai sukses melihat suaminya menoleh dan kini tengah memandanginya.


"Apa?" Ashoka kaget.


"Sudah lama saya tidak makan pecel lele, tidak tahu kenapa saya ingin makan itu," Ayu menunduk tak berani melihat sorot mata Ashoka.


"Ma, memang lele bisa dimakan?" Ayna menyela pembicaraan orang tuanya.


"Bisa sayang, enak malahan." jawab Ayu menoleh kebelakang.


"Ayn penasalan, sepelti apa makan ikan lele." Ayna mengecap rasa di lidahnya. Selama ini yang dia lihat, ikan lele di YouTube.


Ashoka menghela nafas panjang, biasanya wanita akan suka jika diajak makan ditempat mewah seperti restauran miliknya. Tapi lain, Ayu justru ingin makan makanan yang dijajakan dipinggir jalan.


Selama mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, sesekali Ashoka terus memperhatikan warung-warung yang berjajar di pinggir jalanan. Tenda-tenda berwarna biru serta tulisan yang abstrak juga menghiasi depan tenda.


Selama ini, ia hanya melihat tanpa ingin merasakan seperti apa makan di pinggir jalan. Jika dalam perjalanan jam pulang kantor, Ashoka hanya melihat orang-orang makan di tenda-tenda yang menjajakan aneka makanan.


Ada yang sendiri, ada yang datang bersama teman atau keluarga. Mereka nampak asik bercengkerama, seperti tak ada beban di wajah mereka. Kadang ia juga merasa iri, ingin mempunyai kehidupan seperti mereka.


Dulu sewaktu masih duduk di bangku SMA sampai kuliah, Ashoka mengenyam pendidikan di luar negeri atas keinginan sang Ayah, sebab itulah dia tidak tahu seperti apa makanan khas Indonesia, hingga sampai sekarang ia tidak berkeinginan makan-makanan yang dijajakan dipinggir jalan. Ia takut dan jadi paranoid, jikalau makanan itu tidak higienis.


Terkadang muncul dalam pikirannya, apakah mereka memilih makan di tempat itu karena enak, atau harganya yang terjangkau daripada restauran. Tapi melihat wajah Ayu yang tersenyum sumringah, begitu juga dengan Ayna. Ashoka jadi tidak tega jika menolak keinginan istrinya.


"Dad, kenapa Dady tidak juga menghentikan mobilnya? Ayn udah lapel," Ayna bertanya antusias. iPad tak lagi membuatnya tertarik.


"Iya sayang, kita berhenti di ujung jalan sana." Ashoka tak dapat lagi mencegah jika dia sebenarnya enggan makanan di tempat seperti ini.


Ayu tersenyum simpul melihat gelagat Ashoka yang nampak cemas. "Jika anda tidak mau makan di tempat seperti ini, kita pergi saja."


"Anda, tuan?!" Ashoka mengulangi kata yang selalu diucapkan istrinya. Entah sengaja atau tidak, tapi sebenarnya sangat mengganggu pendengarannya. "Kau ini sedang berbicara dengan suami mu. Atau atasan mu, kenapa kau sangat formal seperti itu." sarkasnya ingin Ayu berbicara santai.


"Iya Mas, maaf. Saya belum terbiasa," kata Ayu bernada suara rendah.


"Sebab itulah, mulai sekarang kau harus terbiasa!" celetuk Ashoka.


"Iya...." Ayu kaget, sekaligus bingung mendapati sikap dan perubahan pada diri suaminya ini. "jadi kalau Mas enggan makan di tempat ini, kita pergi saja dari sini. Saya bisa menahan keinginan saya untuk makan pecel lele, saya bisa makan sendirian lain kali,"

__ADS_1


...*****...


Bersambung...


__ADS_2