
Perlahan mata yang sejak tadi terpejam, kini telah terjaga. Ayu merentangkan tangannya, dilihatnya jam setengah tiga pagi di dinding kamar Ayna, agaknya malam ini ia sampai ketiduran di kamar putri kecilnya. Biasanya, setelah menemani Ayna tidur, maka Ayu akan kembali ke kamarnya sendiri untuk mengerjakan tugas yang diberikan sang dosen.
Untuk Ayu sendiri, ia sudah terbiasa bangun malam untuk melaksanakan kewajibannya sebagaimana mestinya, karena ia merasa tiada daya dan tiada upaya tanpa pertolongan-Nya.
"Alhamdullillahilladzi ahyaanaa ba'da maa amaatanaa wa ilaihin nusyuur."
(Segala puji bagi Allah yang menghidupkan kami kembali setelah mematikan kami dan kepada-Nya aku dibangkitkan.)
Ayu beranjak duduk sebelum turun dari tempat tidur, dia terdiam sejenak. Untuk mengumpulkan sejuta nyawa yang masih tertinggal di alam mimpi tadi.
"Hahh rasanya sekujur tubuhku sakit semua. Seperti tertindih pagar beton."
Ayu menggerakkan lehernya ke kanan dan ke kiri. Dia merasa badannya sangat kaku. Terbesit ingatan semalam, saat dipeluk Ashoka.
"Eh, kemana perginya pria itu?"
Ayu celingukan melihat keseluruhan kamar Ayna, tapi tak mendapati suaminya.
"Semalam aku tidur sampai jam berapa, kenapa aku tidak ingat?"
"Mungkinkah sampai tengah malam?"
"Ah, aku rasa tidak sampai tengah malam?"
Ayu mengernyitkan keningnya. Entah kemana perginya pria yang malam ini memeluknya sangat erat, hingga membuatnya tidak bisa bergerak.
Seketika saja, Ayu membulatkan matanya ketika menyadari sesuatu. Dilihatnya dada yang masih tertutup, bahkan tanpa satupun kancing piyama yang terbuka.
Helaan nafas panjang menyelaraskan rasa lega yang sempat membuat nafasnya serasa tercekat di tenggorokan.
"Haisshh, aku mikir apaan?"
Refleks tangannya menggeplak jidat agar segera sadar dari tidurnya atau dari pikiran yang mulai ngelantur kemana-mana.
Dilihatnya Ayna masih tertidur pulas. Diusapnya kepala Ayna dengan gerakan tangan yang sangat lembut.
"Kasihan Ayna, dia pasti selalu kesepian. Tidak seperti masa-masa kecilku yang banyak teman. Dia berteman dengan orang-orang dewasa. Tapi memang kehidupan ku dulu sangat kontras dengan kehidupan Ayna. Aku hidup di desa dan sangat aman ketika main di luar. Tapi sekarang banyak orang tua sangat hati-hati, jika bukan pemberitaan penculikan ya predator anak. Kasihan anak-anak menjadi incaran orang-orang jahat,"
Menengadahkan wajahnya menatap langit-langit kamar, kelopak mata memanas dan mulai menggenangkan air mata.
__ADS_1
Menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Ya Allah, semoga anak-anak penerus bangsa ini dijauhkan dari segala hal marabahaya yang sedang merajalela dan meresahkan. Bukan hanya hari ini, tapi seterusnya. Tolong jagalah mereka Ya Allah, amin."
Tak sengaja saat mengedarkan pandangannya, dia melihat foto Ashoka dan Ayna di atas meja belajar. Pria yang sudah beberapa hari ini selalu membuatnya merasa takut sekaligus ngeri kala berhadapan, dan berbicara, tapi entah mengapa semalam Ayu seolah merasa kehangatan, dan nyaman seperti dilindungi.
"Batu karang bisa terkikis oleh deburan ombak."
Ayu segera menggelengkan kepalanya, lalu menepuk-nepuk kepalanya agar terbangun dari apa yang dia pikirkan dan apa yang dia rasakan.
"Cinta?"
"Tidak mungkin dalam waktu dekat ini kami saling tertarik. Bahkan interaksi ku dan dia sangat kaku,"
Terlintas dalam ingatannya akan kutipan kata, "Allah Maha membolak-balikkan hati."
Yah, sebisa mungkin Ayu tak pernah melupakan bahwa ada yang namanya Sang Maha Pemilik Hati, yang bersemayam di atas Arsy.
Ayu mencium pipi Ayna, lalu turun dari tempat tidur. Dia berjalan ke kamarnya sendiri. Dan kamar mandi adalah tujuannya. Setelah beberapa saat berkutat di kamar mandi, Ayu keluar dengan tubuh yang bugar, lalu menuju ruang pakaian yang berada dalam satu ruangan di dalam kamarnya. Selain tempat berganti pakaian, ruangan ini juga biasa Ayu melaksanakan sholat, karena ruang pakaian ini cukup lebar.
Menggelar sajadah dan memakai mukena putih berenda, tanpa sadar selama melaksanakan sholat qiyamullail. Kelopak matanya serasa panas, dan lamat-lamat mengaburkan pandangan, seperdetik kemudian menjadi buliran air mata yang menganak sungai di pipi. Desah nafas menjadi tidak beraturan. Rasa sesak semakin menyeruak menusuki relung hatinya.
Dan sekarang malah menjalani pernikahan dengan cara seperti ini. Dia tak pernah berpikir untuk menikahi seorang pria berlandaskan pada pelunasan hutang. Entah seperti apa pernikahannya kelak.
Dengan gerakan sangat perlahan tangan yang tertutupi mukenah mengusap air mata yang memang tidak berhenti mengalir membasahi pipi, sesaat kemudian tangannya mulai menadah, pandangannya terangkat.
"Ya Allah," desahnya lirih.
"Ada sesuatu di pikiranku," rasanya semakin sesak yang ia rasa.
"Aku tak bisa melakukannya dengan benar tak bisa dengan benar," teringat dengan semua perjalanan yang panjang.
"Itu tidak pergi, meskipun aku sudah berusaha mengabaikannya. Aku hanya ingin kedamaian di hatiku, kedamaian hati," air matanya kian luruh, menyelaraskan perasaan gundahnya.
"Aku merasa seperti jatuh dari waktu ke waktu, dan itu terus kembali dan selalu kembali. Segala yang meragukan hidupku adalah bagian dari dariku. Siang dan malam aku melawan rasa ketidaknyamanan itu,"
"Aku terus bertanya," masih dengan suara lirih, serta tangisan yang tertahan.
"Aku kenapa? Aku kenapa?" berulang kali ia menepuk-nepuk dadanya yang serasa sesak.
__ADS_1
"Aku hanya ingin kedamaian di hati,"
"Ya Allah. Engkaulah kedamaian itu. Dan dari-Mu lah datangnya kedamaian. Berkah dari mu Ya Rabb, yang Maha Besar dan Maha Mulia,"
"Ya Allah, aku membutuhkan kedamaian-Mu, aku butuh kedamaian-Mu,"
"Aku percaya setelah kesulitan akan ada kemudahan. Enyahkanlah tekanan ini, enyahkanlah,"
"Sepanjang hidupku aku tahu Engkau telah membimbingku. Engkaulah satu-satunya, yang tahu akan takdirku. Aku akan baik-baik saja, aku yakin Engkau akan menjagaku nanti,"
"Engkau tahu apa yang ada di hatiku."
Ayu semakin larut dalam keresahan di hatinya, ia gambarkan lewat air mata. Apa yang dia rasa, dan apa yang selama ini dia tahan, selalu saja di atas sajadah lah tempat ia mencurahkan keluh kesahnya.
Mengusapkan telapak tangannya yang tertutupi mukenah ke wajah. Ayu berharap setiap doa yang dipanjatkan diijabah. Dia tak langsung beranjak dari atas sajadah, dia mengambil Al-Qur'an lalu melantunkannya.
Sampai pada menjelang subuh tiba, sayup-sayup terdengar kumandang adzan subuh. Ayu meletakkan Al-Qur'an di dalam lemari tempat dia menyimpan buku, lalu terdiam selama mendengar adzan dari masjid atau musholla yang mungkin saja jaraknya lumayan jauh dari kediaman Ashoka.
Lagi air mata membasahi pipinya. Ada rasa yang tak dapat dijelaskan lewat kata-kata. Dan hanya bisa di rasa, Ayu berdiri, berjalan ke kamar mandi yang memang bersebelahan dengan ruang pakaian.
Sebenarnya boleh saja dilanjutkan sholat subuh karena ia masih dalam keadaan bersuci, tapi Ayu merasa ia memerlukan air untuk membasuh wajah.
Ayu kembali memakai mukena dan melaksanakan sholat subuh. Dua rakaat di laksanakan dengan sangat khusyuk.
Usai sholat dan berdoa, Ayu melepaskan mukena dan melipat nya rapih, lantas mengikat rambutnya secara acar.
Setelah tinggal di rumah ini, selepas sholat subuh Ayu akan langsung mempersiapkan segala keperluan Ashoka barulah Ayna, sangat berbeda memang ketika masih tinggal di rumah orang tua angkatnya, saat pagi maka Ayu akan langsung berkutat di dapur untuk membantu Ibunya. Sebenarnya tak jauh beda, sama-sama mempunyai aktivitas, hanya saja di rumah ini dia mengurus anak dan orang dewasa.
Ayu keluar dari ruang pakaian, namun ia terperanjat saat mendengar suara Ashoka. Secara refleks mencari sumber suara, dilihatnya Ashoka sedang duduk di sofa, tak jauh dari keberadaan tempat tidur.
"Kau sudah bangun?" ucap Ashoka melihat Ayu keluar dari ruang pakaian.
"Astaghfirullah!" pekik Ayu, dia menaruh telapak tangan kanannya di depan dada, sedang tangan kiri memegang kaca buram motif lebar yang menjadi pemisah antara ruang pakaian dan tempat tidur. Eh, sejak kapan dia ada di situ? Perasaan saat aku masuk kamar tidak ada siapa-siapa?
Ashoka mengernyitkan dahinya, lalu berjalan mendekat dan melihat kelopak mata sembab istrinya. "Kenapa kamu terkejut begitu? Kamu tidak berpikir aku ini hantu 'kan?"
...*****...
Bersambung...
__ADS_1