
Entah mengapa Ayu merasa kesepian dalam keadaan hati tak bertuan. Kendati demikian cincin pernikahan sudah melingkar, kendati demikian dia sudah berstatuskan istri dari seorang Ashoka Bratajaya. Sama sekali tak membuatnya bangga dan bahagia.
Ia mengira semua laki-laki sama saja, tidak ada yang bisa setia dalam satu pasangan saja. Kenapa? Apakah sangat sulit untuk bisa setia? Kenapa semua laki-laki menyakiti perasaannya. Apa yang salah, apa kurangnya, apa karena wajah pas-pasan ini, atau memang takdir tidak mempertemukannya dengan cinta sejatinya.
Kenapa rasanya seolah aku ini wanita si buruk rupa. Kenapa aku harus merasa sedih, saat tadi melihat suamiku dengan wanita lain. Kenapa, dan ada apa hatiku ini, bukankah pernikahan ku hanya berdasarkan kesepakatan?
Aku harus sadar dan mengingat, dia melarang ku untuk mencampuri urusan pribadinya, dia tak benar-benar menganggap ku istrinya. Aku harus bisa lebih melapangkan hatiku,
Bukankah, aku juga pernah mengalami dikhianati seperti ini, bahkan lebih parah. Aku tak menyangka, satu tahun menjalani hubungan pacaran dengan Rudi, bukannya berakhir di pelaminan tapi berakhir berantakan.
Setelah dari kantor, Ayu merasa sangat gamang, padahal baru sehari jadi istri Ashoka dan perannya sebagai Mama untuk Ayna sudah membuatnya bosan. Bukan karena dia menyesal telah menjadi Mama untuk Ayna, mungkin karena belum terbiasa dengan hal ini. Belum lagi gerak-geriknya selalu terintimidasi oleh tatapan Mama Mega padanya, seakan-akan Ayu bukanlah menantu di rumah ini.
Seharian pula Ayu hanya di rumah menemani Ayna les piano, dan mengajari Ayna medote pengucapan cadel Ayna menjadi R. Tapi memang agak sulit dan harus pelan-pelan.
"Lllrllrlll..."
"Lllrllrlll...."
Dan tetap saja seperti itu, lidah Ayna sepertinya memang pendek.
"Udara, petir, air kotor di rawa-rawa," ucap Ayu mengajari Ayna sangat pelan dan terbata-bata.
Ayna mengikuti ucapan yang di peragakan Mama Ayu. "Udala, petil, air kotol di lawa-lawa.."
Haisshh... memang harus pelan-pelan. Tidak bisa sekaligus bisa.
"Enggak bisa Ma, Ayna nggak bisa.." Ayna merengek karena merasa dia tidak bisa mengucapkan R.
Ayu mengusap wajah gadis kecil ini. "Ya sudah, besok lagi kita belajarnya, sekarang Mama temani Ayna bobo siang."
Bik Marni merasa lega dengan hadirnya Ayu di rumah ini, karena Ayna lebih mudah di atur ketimbang sebelum ada Ayu.
__ADS_1
Setelah Ayu menemani Ayna tidur siang. Dia turun dan selebihnya dia tidak tahu lagi apa yang akan dilakukannya. Semua pelayan tidak bisa di ajak bicara seenaknya sendiri. Apalagi Mama Mega, wanita itu seperti pemeran mertua antagonis.
Astaga ada apa dengan otakku, kenapa melabeli mertuaku dengan antagonis?
Ayu teramat merasa bagaikan patung teronggok begitu saja, tidak tahu harus melakukan apa. Menjadi istri orang kaya tidak serta merta membuatnya bangga dan menjadi wanita angkuh sama seperti suaminya.
Sangat monoton khas Ibu rumah tangga, padahal sebelumnya Ayu tidak pernah memimpikan kehidupan monoton yang membuatnya bosan seperti ini. Bukan karena dia tidak ingin menikah, hanya saja banyak hal yang ingin dia lakukan. Ibarat kata menyelam sambil minum air, menjadi Ibu rumah tangga sekaligus menjadi guru, itulah mimpinya.
Mungkin aku harus membicarakan lagi pada Ashoka tentang kuliahku, tidak mungkin jika aku tidak melanjutkan kuliah. Sedangkan sudah banyak pelayan dan juga ada Mama Mega di rumah ini, tidak apa kan meninggalkan Ayna dua sampai tiga jam?
Hari sudah mulai senja, Ayu berjalan menuju dapur, dilihatnya ada beberapa pelayan yang sepertinya sedang menyiapkan makan malam.
"Ada yang bisa saya bantu?" ucapnya membuyarkan salah satu konsentrasi seorang pria yang memakai pakaian koki.
Bukan pelayan yang menjawabnya, tapi Mama Mega yang sudah berdiri di belakang Ayu.
"Apa kau buta, di depan mu itu adalah seorang koki dari hotel bintang lima." Mama Mega datang dari ruangan lain sebelum ruangan dapur. Dia menyambar perkataan Ayu.
Ayu terlonjak kaget lalu menoleh kearah wanita tua yang masih tampak cantik dan sangat anggun.
"Kau!" Mama Mega menekankan ucapannya. Lalu mendekati menantu keduanya yang terlihat baginya seperti wanita kampungan. "kau membantah ucapan ku? Dasar wanita kampungan, entah apa yang membuat Ashoka memilih mu menjadi istrinya!"
Semua pelayan yang semula ada di dapur keluar dari ruangan itu, tidak ada yang berani jika sang ratu telah mengeluarkan kuasanya.
Ayu tidak menyangka jawabannya untuk menelaah ucapan Mama Mega yang mengatakan dia buta, ternyata memantik kemarahan mertuanya.
"Maafkan saya Ma, saya hanya merasa ucapan Mama kurang baik jika sampai di dengar Ayna, saya tidak bermaksud membantah," Ayu menunduk tidak berani menatap mata tajam Mama Mega.
"Halah tau apa kau soal Ayna, kau hanyalah guru TK, tidak usah menunjukkan bahwa kau ini guru terpelajar," kata Mama Mega meremehkan. "katakan padaku, kenapa sampai Ashoka mau menikahi mu, kau tahu berapa banyak wanita yang ingin aku jodohkan dengannya, tapi dia menolak?" lanjutnya tanpa menurunkan keangkuhan.
Kali ini Ayu diam, bukan karena tidak ada jawaban untuk menjawab, hanya saja dia tidak ingin lebih memancing emosi Mama Mega dan memperkeruh suasana.
__ADS_1
"Baru sehari Ayu, dan masih banyak keajaiban yang akan terjadi. Sabarlah dalam menghadapi mertuamu." Ayu menekan lebih dalam lagi kesabarannya.
"Kau harus ingat, kau di sini bukan untuk menjadi ratu, tapi kamu hanyalah menantu yang tidak pernah dianggap sebagi menantu ku, kau hanyalah seorang sampah!" kata Mama Mega menatap Ayu yang menunduk.
Aku bukan sampah! Ayu berteriak dalam hatinya.
Gading baru saja masuk ke ruangan dapur, penasaran dengan suara Mamanya yang terdengar sampai ke ruangan lain.
"Ada apa ini, Ma?" Gading melihat Mama Mega dan kakak iparnya.
Tatapan Ayu bersamaan dengan Mama Mega menatap Gading yang baru saja pulang. Mama Mega menjauhi Ayu.
"Lihatlah tampang kampungan wanita ini, entah Ashoka memungutnya dari mana, baru sehari menjadi nyonya, dia sudah berani membantah ucapan Mama," Mama Mega terus menatap Ayu sinis.
Ayu tercengang dengan sebutan 'memungut. "Maaf Ma, saya bukan anak yatim, jadi saya tidak perlu di pungut." ucapnya spontanitas.
Mama Mega mendelikkan matanya mendengar jawaban Ayu yang dirasa baginya membantah dan kurang ajar.
"Lihat kan Gading, dia sangat nyolot!" kata Mama Mega amat kesal.
Gading menatap Ayu, dia mengamati kakak iparnya dari ujung kaki sampai ujung kepala. Kelihatannya kakak ipar yang satu ini lebih berani dari kakak ipar pertama. pikir Gading.
"Kakak ipar, tidak seharusnya kau berbicara ataupun membantah ucapan Mama, ingat kau di sini hanya menantu!" kata Gading tegas.
"Baru saja sehari jadi menantu, lagaknya sudah seperti ratu." timpal Mama Mega, sangat tidak menyukai Ayu.
Meskipun sakit hati atas ucapan kedua makhluk yang ada di depannya. Namun, Ayu yang terbiasa menahan amarah, tersenyum simpul. "Terimakasih sudah mengingatkan saya, jikalau saya menantu di rumah ini, lain kali saya akan lebih berhati-hati,"
"Kau! Apa kau sedang mengejek ku, aku tidak memujimu, kenapa kau mengatakan terimakasih, dasar wanita gila!" geram Mama Mega melihat Ayu yang tiada beban perasaan tersinggung dengan semua ucapannya.
Ayna baru saja memasuki ruangan dapur dan melihat Oma Mega seperti marah-marah. "Oma Mega kenapa?"
__ADS_1
...*****...
Bersambung