Pengantin Tuan Ashoka

Pengantin Tuan Ashoka
Canggung


__ADS_3

Dalam keadaan mata terpejam dan tenggelam dalam khayal mimpi, sebenarnya Ashoka tidak bisa tidur nyenyak. Apalagi ketika sang Ayah secara diam-diam memberikan hak atas pengelolaan beberapa perusahaan jasa kontruksi ini padanya.


Ashoka merasa mempunyai tanggung jawab yang begitu besar dalam mengelola dan menjalankannya, agar menjadi sebuah perusahaan yang semakin maju dan tidak tergerus oleh perusahaan saingannya.


Ada banyak inovasi yang harus dikembangkan, sehingga membuat Ashoka tidak bisa leha-leha dengan tidur nyenyak nya. Kadang, ada kalanya ingin menjalani hidup menjadi orang biasa. Tapi, ia menyadari apa yang sedang ia keluhkan, bisa saja banyak orang yang menginginkan hidup seperti dirinya.


Netra Ashoka terbuka, samar-samar netranya melihat seorang wanita yang telah menjadi istrinya. Dia juga melihat putri kecilnya.


Mereka berdua tidur seperti bayi, padahal aku mengira wanita ini tidak bisa tidur nyenyak. Tapi dia sepertinya nyaman dalam pelukan ku, apakah aku harus sering-sering memeluknya. Lalu bagaimana si junior yang ada di bawah sana jika menginginkannya lebih?


Dalam keadaan penerangan lampu tidur yang redup, dilihatnya bagian kecil yang tertutupi celana pendek, lalu beralih melihat bagian pinggul Ayu yang tertutupi piyama.


Ashoka menggeleng tipis.


Aku tidak mungkin tergoda dalam waktu sesingkat ini. Meskipun aku sah saja menyentuh dan meminta hak ku padanya, tapi aku rasa dia belum siap menerima ku, seperti aku juga belum sepenuhnya siap menerimanya sebagai istriku,


Biarlah waktu yang akan menjawabnya.


Tak ingin pikirannya melantur kemana-mana, Ashoka turun dari tempat tidur Ayna, dilihatnya jam dinding menunjukkan pukul dua dini hari. Ashoka keluar kamar Ayna, lalu menuju ruang kerjanya yang masih satu lingkup dilantai dua. Dibiarkannya pintu terbuka lebar, agar tak perlu menyalakan pendingin ruangan.


Setelah duduk di kursi kerjanya, Ashoka membuka laptop. Maniknya melihat desain gambar yang diinginkan oleh perusahaan ternama asal Belanda yang menginginkan gedung dengan nuansa alam. Mungkin agar tidak menimbulkan kebosanan saat bekerja, sebab itulah banyak perusahaan yang menginginkan gedung dengan nuansa hijau.


Jasa kontruksi bangunan yang diterapkan dalam perusahaan Bratacorp adalah jasa kontruksi bangunan yang berkonsep alam. Dan bisa saja akan menggunakan bahan daur ulang.


Pada saat sedang fokus mengamati dan menyalin gambar untuk mempermudahnya membuat sketsa, tanpa sengaja netranya melihat Ayu keluar dari kamar Ayna.


Untuk apa dia bangun sepagi ini, apa mungkin dia tidak bisa tidur?


Ashoka teringat dengan kartu sakti yang belum diberikannya pada Ayu. Dia sebenarnya juga ingin mengetahui seboros apa atau seroyal apa istri barunya ini dalam menghabiskan uang.


Diambilnya kartu sakti di laci meja kerjanya, lalu menuliskan pin di secarik kertas. Menunggu untuk sesaat sambil mengerjakan pekerjaannya, sampai jam digital menunjukkan pukul tiga pagi.


Barulah Ashoka beranjak dari duduknya, lalu keluar dari ruang kerja. Berjalan menuju kamar yang sekarang ini ditempati istri barunya. Sebelum membuka pintu, Ashoka terdiam sejenak.


Mungkinkah dia sedang tidur?


Tapi sejak kapan aku memikirkan apa yang orang lain lakukan?

__ADS_1


Lagipula sah-sah sajakan aku masuk kedalam kamarnya?


Ashoka menggendikkan pundaknya tak acuh, bahwa apapun yang dilakukan orang lain tidak akan membuatnya merasa sebagai pengganggu dan mengganggu. Ia terbiasa melakukannya tanpa persetujuan orang lain. Seperti saat tadi malam, ia memeluk istrinya tanpa persetujuan dan tanpa pembicaraan.


Dengan gerakan perlahan ia membuka pintu kamar.


Pintunya tidak di kunci?


Maniknya melihat cahaya lampu kamar yang berpendar. Dilihatnya tempat tidur yang masih terlihat rapih, ia mengedarkan pandangannya dan kamar ini nampak kosong.


Akan tetapi sesaat kemudian, telinganya sayup-sayup mendengar suara dari ruangan pakaian. Dilihatnya samar-samar, Ayu sepertinya telah selesai sholat.


Ashoka mendekati sofa dan kemudian duduk. Tatapannya masih melihat Ayu di balik sekat kaca lebar bermotif.


Termenung saat mendengar Ayu bersuara sendu.


Dia gadis yang tegar, tapi juga mempunyai sisi yang rapuh.


Tak lama kemudian Ashoka tak lagi mendengar Ayu menangis, dan tergantikan oleh suara mengaji.


Entah mengapa Ashoka merasakan hatinya seperti gurun pasir yang tersirami air hujan, sangat sejuk dan ia merasa ada dahaga yang ingin dipuaskan. Ada hati yang ingin ditenangkan. Ada kedamaian yang selama ini telah hilang dari kehidupannya.


Namun ada satu doa yang masih diingatnya dengan sangat jelas, yaitu doa makan.


Jika ada orang yang mengetahui seorang CEO dari perusahaan ternama ini hanya hafal doa makan, pastilah banyak orang yang menertawakan ku, dan untungnya hanya aku dan Tuhan yang tau.


Ashoka masih diam terpaku di tempatnya duduk, netranya masih fokus melihat Ayu dibalik kaca lebar bermotif. Sayup masih dia dengarkan lantunan ayat suci Al-Qur'an.


Dia bukan anak ponpes, tapi kenapa suaranya sangat merdu, sampai membuatku merinding seperti ini. Seolah setiap ayat yang dilantunkan seperti jarum kecil yang masuk menusuk relung hatiku?


Ashoka meraba dadanya, seolah hatinya memang tertusuk jarum kecil. Lantas melihat kartu sakti beserta secarik kertas ditangannya lalu diletakkan di atas meja.


Lamat-lamat suara mengaji itu berhenti, tak lama digantikan oleh suara menangis tersedu-sedu tapi suaranya seperti suara tangisan yang tertahan.


Eh ada apa ini, kenapa dia menangis lagi?


Ashoka merasa penasaran, dia beranjak dari duduknya. Ingin menghampiri tapi seolah tak ada keberanian.

__ADS_1


Aku harus bagaimana, kenapa pula aku mengkhawatirkannya?


Ashoka duduk kembali, masih setia menunggu sampai pada akhirnya melihat Ayu di ambang batas ruang ganti pakaian. Dilihatnya gadisnya itu terkejut melihatnya.


"Kau sudah bangun?" ucap Ashoka melihat Ayu keluar dari ruang pakaian.


"Astaghfirullah!" pekik Ayu, dia menaruh telapak tangan kanannya di depan dada, sedang tangan kiri memegang kaca lebar bermotif yang menjadi pemisah antara ruang pakaian dan tempat tidur.


Ashoka mengernyitkan dahinya, lalu berjalan mendekat dan melihat kelopak mata sembab istrinya. "Kenapa kau terkejut begitu? Kau tidak berpikir aku ini hantu 'kan?"


Ayu sangat canggung dalam keadaan sedekat ini dengan Ashoka. Ia mundur selangkah.


"Bu-bukan hantu, hanya saja saya terkejut melihat anda di sini. Karena sewaktu saya masuk kedalam kamar, saya tidak melihat anda," Ayu berkata dengan pandangan menunduk.


Ashoka masih melihat Ayu yang menundukkan pandangan. Dilihatnya tangan kanan Ayu yang masih berada di depan dada, diambilnya dari sana. Ia tercubit, saat melihat Ayu sempat terkejut.


Ayu tersentak saat Ashoka mengambil tangannya. Matanya langsung bertemu pandang saat mendongakkan wajah menatap wajah Ashoka.


"Aku rasa kau perlu ini untuk keperluan hidup mu," Ashoka meletakkan kartu hitam dengan seret emas serta secarik kertas ke telapak tangan Ayu.


Ayu melihat kartu hitam dengan seret emas yang diberikan Ashoka. Lagi, matanya bertemu pandang dengan netra tajam Ashoka yang selalu membuatnya merasa kecil.


"Apakah ini sangat penting untuk hidup saya?"


"Ya tentu saja, selain itu. Ini adalah kewajiban yang seharusnya aku berikan padamu, kau tidak berpikir bahwa aku pria yang kikir bukan?"


Ayu menelan salivanya, ada degupan jantung yang seakan tidak terkontrol. Ia berjalan melewati Ashoka, karena merasa tak sanggup menatap lama-lama mata dengan manik brown itu.


"Tidak, saya tidak pernah sekalipun terpikirkan bahwa anda adalah pria yang kikir, tentu saja jika anda pria kikir, maka anda akan menagih atau paling tidak menjebloskan Bapak saya ke dalam penjara karena tidak bisa membayar hutang, tapi anda malah menikahi saya," Ayu menjeda ucapannya, dia menggenggam kartu hitam ini erat-erat. "dan untuk itu, saya berterimakasih kepada anda, karena sudah berbaik hati mau menerima tawaran Bapak saya, dan tidak mempersulit nya,"


Ashoka tersentuh mendengar kata itu, dilihatnya Ayu yang memunggunginya. Pada awalnya, ia ingin sedikit menyiksa, atau bermain-main kejam dengan wanita yang jauh lebih muda darinya. Tapi Ashoka kemudian mengetahui bahwa kehidupan yang dijalani Ayu sebelumnya sudah rumit dan sulit. Jadi, tidak ada salahnya untuk sedikit berbaik hati pada wanita ini.


Ashoka masih diam, sampai keadaan menjadi semakin canggung. Dilihatnya Ayu berbalik badan, dan bersitatap dengan manik matanya yang teduh.


"Cepatlah bersiap, dan jangan jadi pemalas." ucapnya tegas, lalu keluar dari kamar yang sekarang ini ditempati Ayu.


Netra Ayu melihat Ashoka keluar dari kamar. Ia merasa suaminya itu mempunyai sifat kepribadian ganda, kadang lembut kadang kasar.

__ADS_1


...*****...


Bersambung....


__ADS_2