
"Pokoknya Ayna mau Mama Ayu huu huu hu..." gadis kecil ini sudah dua jam menangis sesenggukan, seraya memanggil-manggil wanita yang belum sampai sebulan menjadi Mamanya. Namun entah mengapa ia merasa sangat dekat, mungkin juga karena telah lama mengenalnya sebagai guru Ayu di sekolah.
Ayna menagih perkataan Mama Ayu dan Bik Marni yang mengatakan jikalau Mama Ayu tidak akan pergi lama. Tapi nyatanya, kenapa semua orang dewasa selalu saja membohonginya.
"Bik Malni bohong, Mama uga bohong, katana Mama Ayu pulangna gak lama, tapi kenapa belum pulang uga.. huuhuhu.. huuhuhu..." Ayna terus merengek meminta janji yang sudah di ucapkan.
Hampir semua pelayan sedang membujuknya, tiada yang berhasil membuat gadis kecil berusia 5 tahun terdiam, bahkan tidak mengurangi tangisannya.
"Nona kecil, yuk main sama mbak Sopi,"
"Iyah Non, yuk main kuda-kudaan sama mbak Wida,"
Ucap beberapa pelayan membujuk nona kecil mereka.
Bik Marni sangat kewalahan, ia menyanggupi untuk membantu Ayu, tapi sekarang ini sungguh dia kewalahan jika Ayna terus menangis sampai guling-guling seperti ini.
"Ya Allah, semoga nyonya Ayu segera pulang, sebelum tuan Ashoka dan nyonya besar pulang." Bik Marni membatin dengan perasaan was-was.
"Non, Mama Ayu pasti pulang, tadi Bibik sudah menelepon Mama Ayu." untuk yang kesekian kalinya Bik Marni membujuk dengan suara super halus.
Tak berselang lama, Mama Mega masuk kedalam rumah. Dengan perasaan kesal karena hari ini CEO dari perusahaan pertambangan mendadak tidak jadi menemuinya. Entah alasan apa, yang pasti sudah membuatnya gelap mata. Dan semakin membuatnya kesal, saat mendengar, melihat Ayna menangis sampai terguling-guling di atas permadani ruang keluarga.
"Ada apa ini?" Mama Mega berseru seraya mendekati cucunya yang sedang menangis sampai terlihat wajah mungil Ayna memerah. Lantas memberikan tasnya pada seorang pelayan.
Seorang pelayan menerima tas mahal dari tangan nyonya besarnya dengan perasaan was-was. Karena setiap hal yang dipakai nyonya Mega sangat mahal dan tidak boleh ada yang lecet.
Ayna tak menghiraukan keberadaan serta panggilan Oma-nya. Gadis kecil ini masih juga menangis, meluapkan emosinya, karena Mama Ayu tak kunjung pulang sampai hari sudah mulai senja.
"Ada apa ini Bik Marni, kenapa Ayna sampai menangis seperti ini?" Mama Mega berlutut di hadapan Ayna yang nangis.
Semua pelayan yang ada di ruang keluarga ini tidak ada yang berani menjawab. Begitu juga dengan Bik Marni.
Mama Mega melihat semua pelayan ini terdiam sangat geram. "Kalian ini tidak punya mulut tidak? Kenapa tidak ada yang menjawab ku?" sentaknya bersuara keras sampai memekikkan gendang telinga semua pelayan yang ada di ruang keluarga ini.
__ADS_1
Baik bik Marni maupun enam pelayan yang sekarang ini ada di ruang keluarga ini terkejut tatkala melihat kemurkaan nyonya besar mereka sudah terdengar.
"I, itu nyonya Ayu," kata Bik Marni terbata-bata.
"Bicara yang jelas! Kalian ini sangat payah!" lagi Mama Mega berkata dengan nada tinggi.
"Nyonya Ayu belum pulang," sambung seorang pelayan bernama Sopi.
"Hu hu hu Mama Ayu, Ayn mau Mama Ayu.." tangis Ayna yang sedari tadi sudah pecah semakin menjadi antah-berantah.
Mama Mega tertegun memang sejak masuk kedalam rumah netranya tidak melihat wanita yang dianggapnya sebagai hama dalam rumah ini.
"Dimana menantu sialan itu. Kemana perginya?" kata Mama Mega tidak sedikitpun menurunkan suaranya. Ia kembali berdiri dan melihat satu-persatu pelayan rumah yang satupun tidak berani menatapnya. "Jawab!" sentaknya lagi.
Semua pelayan terkesiap.
"Itu nyonya, nyonya izin kuliah, dia berjanji akan pulang jam 2, tapi sampai sekarang dia belum juga kembali," jawab seorang pelayan yang bernama Wida.
Mama Mega langsung menatap nyalang pada pelayan yang mengatakan tentang kemana perginya Ayu. "Harus dikasih pelajaran pada menantu sialan itu, agar tidak lagi semena-mena di rumah ini!" gumamnya berkata dengan gigi dikeratkan.
Gading melihat keponakannya sedang duduk seraya menangis sesenggukan. Soal rasa sayangnya pada Ayna, tidak setulus yang terlihat. Tapi semenjak adanya Ayna di rumah ini, Gading rasa suasananya jadi terlihat hidup. Yah, bisa dikatakan rumah akan sepi tanpa anak-anak, tapi kenapa dia merasa tidak ingin memiliki anak jika tau begitu?
Hem.. entahlah! Gading mendekati keponakannya.
"Ada apa my princess, kenapa menangis?" Gading berlutut di hadapan gadis kecil berwajah sembab, dilihatnya mata dan hidung Ayna nampak merah dan begitu banyak mengeluarkan air mata serta ingus.
"Ini semua gara-gara menantu sialan kampungan itu! Dia pikir, dia bisa pergi seenaknya, pulang semaunya! Awas saja kalau pulang!" maki Mama Mega sangat amatlah geram.
Gading mengerutkan keningnya, "Jadi ini gara-gara Kakak ipar?"
Setelah beberapa saat kini Mama Mega dan Gading membujuk gadis kecil bernama lengkap Ayna Azkayr Bratajaya. Siapa sangka, jika Ayna sudah menangis, maka akan sulit untuk dibujuk berhenti, jika tidak benar-benar membuatnya senang.
"Dia ini mirip sekali seperti Ashoka." Mama Mega mengeluh ketika cucunya sudah seperti ini.
__ADS_1
"Iya, seharusnya Kakak sudah pulang, tapi kenapa sampai sekarang belum juga kelihatan? Aku yakin, Kakak ipar pasti akan mendapatkan hukuman," Gading terus melihat kearah pintu, namun tidak ada tanda-tandanya seorang pelayan mengatakan Ashoka pulang.
"Ush.. ush... ush... Sudah ya sayang, jangan menangis lagi. Oma kepalanya sampai pusing dengerin kamu nangis." Mama Mega membujuk lagi dan lagi, meskipun tidak membuahkan hasil agar cucunya ini berhenti menangis justru tangisan Ayna semakin kencang saja.
"Ayn mau Mama Ayu, Ayna mau Dady.. huhuuuu.." Ayna terus saja menangis, seakan-akan bendungan air matanya tidak dapat membendung nya lagi.
"Ayna sudah ya nak, nanti Oma akan bacakan cerita yang bagus untukmu." Mama Mega membujuk untuk yang kesekian kalinya.
Ayna menggelengkan kepalanya. "Enggak Ayna mau sama Mama Ayu yang bacakan celita, Ayna maunya Mama Ayu..."
...***...
Di sisi lain, Ayu sedang berlari sekuat angin laksana badai tornado. Sebenarnya ia sempat naik ojek, tapi siapa sangka populasi jumlah penduduk semakin padat. Hingga kendaraan pribadi memenuhi sisi kota ini. Ia tidak mau terjebak kemacetan lebih parah hingga mengulur waktunya untuk sampai di rumah ba' istana Ashoka.
Dia ingin pulang lebih awal dari pada Ashoka. Atau kalau tidak, dia akan mendapatkan hukuman dari suaminya yang dingin kek kutub Utara.
Hahh hahhh hahh... Ayu terus memacu kakinya untuk bisa menghemat waktu dari pada harus terjebak di jalanan yang super duper macet. Tak perduli dengan detak jantungnya yang berdegup hebat.
"Ayo Ayu, kau pasti bisa!" Ayu menguatkan dirinya untuk terus berlari sekuat tenaga.
Sungguh sial memang, akibat dampak kemarin tidak berangkat, Dosen berkaca mata dan alis tebal yang selalu membuatnya kesal, memberikannya materi tambahan, yang seharusnya Ayu bisa pulang dua jam lebih awal.
Meskipun dia tak pernah berpikir sepenting apa dia di mata anak tirinya. Tapi dari panggilan telepon Bik Marni yang tidak terjawab sampai 99 panggilan selama ponselnya mati, karena dalam kelas Dosen Tanto tidak boleh ada yang menghidupkan ponsel.
Membuat Ayu sangat frustasi, sampai dia tidak menghiraukan panggilan teman-temannya saat tadi baru saja keluar dari kampus.
Ya, Yang ada di otak Ayu saat ini hanya ada Ayna dan Ashoka.
...*****...
Bersambung...
Jangan lupa like dan votenya yah kakak.. Bintang 🌟🌟🌟🌟🌟 nya juga.
__ADS_1
Terimakasih