Pengantin Tuan Ashoka

Pengantin Tuan Ashoka
Mendengarkan laporan


__ADS_3

Dering ponsel yang sejak tadi dimatikan karena ada rapat kerja dihidupkan nya. Ashoka melihat layar ponselnya yang selalu menyala.


"Ya," ucapnya setelah sambungan telepon tersambung.


"Ya, baiklah Kim. Aku akan menemui mu," jawab Ashoka lalu mematikan sambungan telepon.


"Kau masih ingat dengan Kim, Jo?" tanyanya pada Tarjo, setelah diskusi rapat selesai.


"Kalau tidak salah, Kim yang berambut cokelat dan berkulit seputih salju,"


"Ingatan mu sungguh kuat,"


"Apakah anda akan menemuinya, tuan?"


"Sepertinya memang begitu,"


"Tapi malam ini anda akan ada pertemuan dengan investor dari China, tuan,"


"Setelah aku menemui investor dari China."


Perbincangan usai, karena Ashoka telah beranjak dari duduknya. Tarjo hanya heran, untuk apa Ashoka menemui Kim. Apakah ada informasi penting dari wanita yang telah lama meninggalkan tanah kelahirannya. Tarjo menggendikkan pundaknya. Dia hanyalah seorang sekretaris, yang kemana-mana harus menemani tuannya pergi.


**


Malam menjelang, setelah pertemuannya dengan investor asal China. Ashoka mendatangi tempat hiburan yang dahulu sewaktu bujangan sering dia datangi. Tapi sudah sangat lama dia tidak datang ke tempat ini. Dalam ingatannya setelah menikah dengan almarhumah Rose dan memiliki Ayna. Bahkan setelah Rose di tiada, Ashoka tidak pernah datang ke tempat ini lagi.


Dan inilah kali pertamanya setelah sekian lama vakum, dia datang ke club'malam, Ashoka melihat orang-orang yang sedang ajojing di temani dengan musik DJ sangat keras serta minuman keras. Dia sedang mencari keberadaan seseorang. Di kursi bartender, maniknya melihat seorang wanita yang telah lama tidak di temuinya.


"Kimberly..."


Seorang wanita yang bernama Kimberly blasteran Belanda ini menoleh ke arah seorang pria yang memanggilnya. "Ashoka.."


Kimberly turun dari kursinya, dengan membawa segelas minuman beralkohol. Tak segan dia mencium pipi kanan Ashoka.


Sontak saja Ashoka menghindari Kimberly wanita yang telah menjadi rekan bisnisnya di Belanda. "Tolong Kim, jangan seperti ini,"


"Ah Ashoka, kenapa kau sangat kaku, aku hanya mencium pipi mu, bukan bibirmu. Kau pasti tau kan, kalau di Belanda sana, berciuman adalah hal yang lumrah," kata Kim manja.


"Tapi ini bukan di Belanda, ini di Indonesia. Meskipun kita sedang di club malam, kau tidak seharusnya melakukan ini padaku,"


Kim memukul dada Ashoka ringan. "Kenapa kau tidak menikahi aku saja, hm?"

__ADS_1


"Kau bukan tipeku," celetuk Ashoka datar.


"Kau jahat! Mana istri barumu?" Kimberly mendengus kesal dengan jawaban monoton Ashoka.


"Langsung saja, kenapa kau mau menemuiku?" Ashoka bertanya tanpa basa-basi.


Kim lebih mendekati Ashoka, dia tepiskan peringatan Ashoka padanya, lalu berbisik tepat di telinga pria yang dahulu pernah ditaksirnya. "Kau selalu saja seperti ini Ashoka, ayolah minum denganku dulu, lalu kita nikmati malam ini bersama di kamar hotel ku,"


Ashoka menatap Kimberly dingin, lalu menjauhkan dirinya. "Kalau kau tidak bisa serius, sebaiknya aku pulang!"


Kimberly sangat kesal karena sikap Ashoka yang selalu dingin dan kaku padanya.


"Oke fine, fine," Kimberly mengalah, dia berjalan di bartender yang sebelumnya didudukinya. "Come on baby, kita bicarakan ini baik-baik, aku tidak akan lagi menggoda mu,"


Ashoka menghela nafas panjang. Lalu duduk di sebelah Kimberly, dia ingin tahu perihal apakah yang ingin disampaikan wanita bule satu ini.


"Aku ingin bekerja sama dengan perusahaan mu untuk membangun perusahaan di Belanda, bagaimana apa kau mau?"


"Perusahaan milik siapa?" Ashoka mengangkat satu alisnya. "Kau, atau milik orang lain? Dan berikan aku alasan, kenapa dari sekian banyaknya perusahaan jasa kontruksi, kau memintaku untuk bekerjasama?"


"Hey, ada apa dengan pertanyaan mu itu Ashoka?" Kimberly merasa terintimidasi dengan sorot mata Ashoka yang jarang sekali bersahabat.


Ashoka diam


"Benarkah?" Ashoka bertanya untuk memastikan.


"Sungguh." jawab Kimberly.


"Suruh sekretaris mereka menghubungi Tarjo, kami akan membicarakannya lebih lanjut."


Kim oh Kim, kau hanyalah wanita sebagai wanita informasi Ashoka. Meskipun kau adalah rekan bisnisnya dan sudah banyak lelaki yang kau taklukkan. Tapi kau tidak bisa menaklukkan hati Ashoka. Kau harus mendapatkannya. Kimberly memandangi wajah Ashoka, dia mengaguminya sejak lama.


**


Mobil yang beberapa saat lalu menyusuri jalanan yang lengang. Kini memasuki pelataran rumah utama. Ashoka keluar dari mobil, Pak Khan yang memang sedang menunggu kepulangan Ashoka berjalan mendekat.


"Selamat malam tuan," sapa Pak Khan ramah.


"Malam." tak segan Ashoka menjawab sapaan pelayannya, meskipun dengan suara datar.


"Tarjo, kau pulanglah." katanya pada Tarjo. "Bersiaplah untuk mendiskusikan tentang rencana proyek yang dibicarakan Kim,"

__ADS_1


Mendengar suara Ashoka. Tarjo menghentikan langkahnya yang akan mengikuti Ashoka masuk kedalam rumah. Dengan membawa tas hitam berisikan berkas.


"Baik tuan, selamat istirahat." Tarjo sedikit membungkuk, dilihatnya Ashoka sudah masuk kedalam rumah. Setelah memastikan Ashoka tidak terlihat lagi, Tarjo memberikan tas hitam pada Pak Khan. Lalu berbalik badan menuju mobilnya yang terparkir di garasi karyawan.


Yuhuu... akhirnya pulang juga. Pasti istri dan anakku sedang menungguku, di rumah. Tarjo girang bukan main. Betapa bahagianya dia, ketika Ashoka mengatakan dia sudah boleh pulang. Karena biasanya pada hari minggu saja, kadang Ashoka memintanya untuk beranjak. Meskipun hanya sekedar menemani Ashoka bermain golf.


Ashoka melihat keadaan rumah yang terlihat lengang. Mama Mega yang biasanya menonton televisi tidak terlihat, juga Ayna dan Ayu. Kalau Gading jangan di tanya lagi, pasti adiknya itu sedang foya-foya di club'malam.


Pak Khan membantu Ashoka melepas jas. Ashoka duduk di sofa terlihat mengamati ruang tengah yang biasanya dijadikan tempat berkumpul keluarga. Pak Khan membantu Ashoka membuka sepatu, lalu meletakkan sandal rumah di dekat kaki.


"Apa yang terjadi hari ini?" tanyanya pada Pak Khan.


"Nyonya Mega memarahi nyonya Ayu, tuan," jawab Pak Khan tak berani menatap majikannya.


Tidak terkejut mendengar laporan dari Pak Khan, seorang kepala pelayan yang telah bekerja sejak Papa Arsena masih hidup.


"Karena apa?"


"Karena nyonya Ayu memasak di dapur," jawab Pak Khan lagi.


Ashoka mengernyitkan dahinya. "Hanya itu?"


Pak Khan lantas menceritakan semua kegiatan dan apa yang terjadi di rumah pada Ashoka. Tanpa melewatkan dan tanpa menguranginya secuil pun apa yang terjadi hari ini.


"Lalu dimana Mama Mega sekarang?"


"Nyonya besar, sejak makan malam berada di kamarnya,"


"Terimakasih atas laporannya Pak Khan," Ashoka menepuk pundak Pak Khan.


"Sama-sama tuan." balas Pak Khan.


Ashoka beranjak dari duduknya. Dia berjalan menuju kamar Mama Mega, begitu tulus rasa sayangnya pada Mama tirinya. Dia takut jikalau Mama Mega sakit. Setelah memeriksa keadaan Mama Mega yang sudah terlelap di jam setengah sepuluh malam. Ashoka keluar dari kamar Mama Mega.


Dia berjalan menuju tangga yang lebar. Sampailah di lantai dua, dilihatnya pintu kamar Ayna yang sedikit tersingkap.


Ashoka tak lantas masuk kedalam kamar putrinya. Karena dia mendengar suara Ayu dan Ayna yang sedang berbincang.


Mereka belum tidur, di jam setengah sepuluh?


*****

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2