Pengantin Tuan Ashoka

Pengantin Tuan Ashoka
Apa yang terjadi?


__ADS_3

Mama Mega, Gading dan Ayu langsung mengalihkan atensinya kearah gadis kecil yang berdiri tidak jauh dari mereka berada.


Ayu melihat wajah polos anak tirinya, ia tak menyangka bahwa Ayna akan tinggal dengan orang-orang semacam ini. Bagaimana masa depannya, Ayu tau bahwasanya Ayna tidak memiliki kekurangan dalam hal ekonomi, tapi bisa saja kekurangan dalam hal etika dan moral.


Sementara itu, Mama Mega selalu ingin mencari simpati, sebab itulah dia tidak ingin orang lain merebut posisinya di rumah ini sebagai ratu. Dia ingin semua orang tunduk atas ucapan dan titahnya. Bahkan, wanita yang sudah berusia setengah abad ini bisa menjadikan Ashoka bonekanya dalam waktu yang lama. Hanya saja, belum dapat sepenuhnya menguasai saham dan harta Arsena Bratajaya.


Dan kali ini, setelah Rose tiada, ada seorang wanita kampungan yang dibawa Ashoka sebagai Nyonya muda. Pasalnya Mama Mega hanya ingin Ashoka menikahi pilihannya. Wanita yang bisa di ajak bekerjasama untuk menguasai aset peninggalan Arsena.


Gadis kecil ini kembali melangkahkan kakinya untuk mendekati Mama Mega. "Oma, Oma kenapa?"


"Oma tidak apa-apa sayang, Oma hanya menasehati Mama mu agar dia tidak membantah ucapan orang yang lebih tua." ucap Oma Mega mendekati cucunya yang sedang berdiri memegangi boneka Cinderella.


Hufft... kenapa wanita tua itu malah memutar balikkan fakta. Apa yang harus aku lakukan, haruskah aku diam seperti patung jika Mama mertua berbicara? Ayu menghela nafas dan terheran-heran melihat sikap Mama Mega yang kekanakan.


"Mama Ayu, apa Mama menjawab pelkataan Oma Mega? Kata Dady, nggak baik membantah ucapan Oma?" Ayna melihat Ayu berdiri tak jauh dari Oma Mega dan Paman Gading.


Ayu melihat Mama Mega tersenyum sinis kearahnya.


Lho kenapa aku yang seolah bersalah di sini. Mama Mega sepertinya jago memainkan perannya. Kalau begitu aku juga bisa berakting.

__ADS_1


Ayu mengalah mungkin dengan mengalah, dia akan menjadi orang yang diremehkan. Meskipun dia menikahi Ashoka hanya karena hutang, tapi dia juga tidak mau dianggap sampah oleh keluarga ini, ia tidak ingin mempersulit hidupnya, orang mengalah bukan berarti kalah 'kan? pikir Ayu.


Ayu berlutut di depan semua orang, kedua tangannya memegang kedua telinganya. "Maaf Oma Mega." ucapnya bersuara rendah.


Mama Mega, Gading maupun Ayna terperangah dengan apa yang dilakukan Ayu.


Terutama Mama Mega dan Gading, mereka tidak berpikir bahwa Ayu mempunyai cara jitu untuk memenangkan hati Ayna.


Dasar wanita picik! desis Mama Mega.


Secara bersamaan Ashoka baru saja pulang dan mendengar selintingan keributan dari arah dapur.


Seorang pelayan menjawab, "Nyonya besar sedang memarahi Nyonya muda, tuan."


Ashoka mengernyitkan dahinya, lantas memberikan tas beserta jasnya pada pelayan, dan berjalan dengan langkah jenjang menuju dapur.


Sesampainya di ruangan dapur, Ashoka melihat Mama Mega, Gading, dan Ayna. Sedangkan Ayu sedang berlutut di hadapan ketiga anggota keluarganya. Sesaat kemudian melihat Ayna menghampiri Ayu.


"Mama, Oma Mega pasti maafin Mama, Mama ayo beldili?" Ayna memegang kedua lengan Ayu yang sedang memegangi telinga.

__ADS_1


"Benarkah, Oma Mega akan memaafkan Mama?" Ayu bertanya dengan nada super halus, dia ingin terlihat seperti orang yang tidak berdaya di hadapan anak tirinya. Ayu merasa, Ayna cukup berpengaruh di rumah ini. Seperti apa Rose menjalani perannya sebagai menantu di rumah ini. Apakah dia lemah, atau dia tegar dalam menghadapi Mama Mega.


"Sudahlah Ma, kenapa harus di ributkan." kali ini Gading yang ikut bersuara, ia sadar betul bahwa Mamanya hanya mencari alasan untuk mencari kesalahan Ayu.


Ayna menghampiri Oma Mega, "Oma, Oma pasti maafin Mama Ayu kan?"


Dengan sangat terpaksa Mama Mega tersenyum masam lantas mengangguki ucapan cucunya. Dilihatnya Ayna tersenyum lebar.


"Lihat kan Ma. Oma Mega pasti maafin Mama, ayo Ayn bantu Mama beldili," ucap Ayna, mengulurkan tangannya kehadapan sang Mama tiri.


Dalam keadaan mata terpejam sedang telinga tertutup pun Ashoka tahu, jikalau keributan ini pasti akan terjadi. Pasalnya, ia menikahi seorang wanita yang bukan pilihan Mama Mega.


"Bik Marni bawa Ayna naik ke atas." titahnya pada pelayan yang biasa mengurusi putri kecilnya.


"Baik tuan." jawab Bik Marni, lalu menghampiri Ayna dan membawa bocah kecil ini untuk naik ke lantai dua.


*****


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2