Pengantin Tuan Ashoka

Pengantin Tuan Ashoka
Salah pilih target


__ADS_3

Selama tinggal di rumah megah ini, Ayu tidak bisa tidur nyenyak, mungkin karena belum terbiasa dengan suasananya. Untuk yang kesekian kalinya Ayu terbangun lagi, pada saat ini Ashoka sudah tidak ada di sebelah Ayna, entah kemana perginya pria itu. Saat melirik jam dinding menunjukkan pukul 01:45 wib. Ayu turun dari tempat tidur karena merasa haus dan ingin meminum air, lantas keluar dari kamar Ayna.


Ketika baru saja di ujung anak tangga, Ayu dikejutkan dengan adanya seseorang yang menarik tangannya. Sontak saja Ayu terperangah dan membulatkan matanya saat melihat siapakah gerangan orangnya.


"Adik ipar...?" pekik Ayu terlonjak kaget.


"Ssstt jangan keras-keras Kakak ipar," ucap Gading, ia baru saja pulang dari club'malam tak menyangka melihat Kakak iparnya yang baru saja menuruni tangga.


Ayu melihat Gading tersenyum menyeringai membuatnya muak sekaligus merinding.


"Apa yang kau lakukan, lepaskan aku!" hardik Ayu dengan suara lirih tapi masih terdengar tegas.


Alih-alih menjawab, Gading justru memandangi dan menikmati setiap inci wajah Ayu dengan pikiran mesumnya, memang kecantikan Ayu tidak seperti wanita yang ditemuinya di club malam tadi, tapi entah mengapa ia begitu tertarik pada nya. Gading mendekati wajah Ayu dan semakin dekat seperti akan mencium Kakak iparnya, dilihatnya Ayu segera memalingkan wajah.


"Jangan bersikap kurang ajar, aku adalah Kakak ipar mu!" Ayu menegaskan rahangnya, tangannya terkepal melihat sikap senonohnya Gading. Bau alkohol menusuk hidungnya, Ayu menerka-nerka bahwa Gading mungkin saja baru pulang dari tempat hiburan malam.


Melihat penolakan Ayu, Gading semakin tertarik dan tertantang. Ia mengangkat tangan kirinya, lalu membelai wajah Ayu, tentu saja tindakannya ini mendapat penolakan lagi. "Aku tau, kau dan Kak Ashoka menikah bukan atas dasar cinta, tapi kau menikah karena hutang, itu sama saja kau sudah di jual,"


Ayu tertegun mendengar perkataan Gading, dalam benak Ayu bertanya-tanya, apakah Ashoka yang memberitahukan sebab pernikahannya. Atau memang Gading sudah tahu sendiri, mengingat Mama Mega saja terus mempertanyakan bagaimana Ashoka menikahinya. Ayu meronta semakin kuat untuk melepaskan cekalan tangan Gading di pergelangan tangan yang semakin lama semakin terasa sakit.


"Kau menyakitiku, lepaskan aku!" lagi Ayu berbicara dengan gigi yang dikeratkan.


Gading tersenyum devil, semakin dikuatkannya cekalan tangan yang sedang menahan betapa kuatnya tenaga Ayu untuk melepaskan diri.


"Tenanglah Kakak ipar, kenapa kau sangat galak. Kau tau, semakin kau bersikap galak seperti ini, maka aku akan semakin tertarik padamu," ucap Gading ringan, seringan pikirannya kala melihat wajah cantik Ayu.


"Bersikaplah sopan!" hardik Ayu dengan suara tertahan.


Gading kembali menunjukkan seringai senyuman devilnya. Lalu mendekati telinga sang Kakak ipar lalu berbisik manjah. "Bagaimana jika setelah kau melayani Kak Ashoka, kau layani juga aku, aku akan membayar mu, berapa pun kau mau,"


Ayu semakin geram dengan sikap kurang ajar Gading. Ditatapnya wajah Gading yang nampak amat menjengkelkan. "Kalau kau berani melecehkan ku, aku akan teriak!"


"Teriaklah," cetus Gading tidak merasa takut, justru ia ingin tahu seberapa besar tingkat keberanian Kakak iparnya ini. "teriak saja, kau pikir ada yang percaya padamu kalau aku menggoda mu, hah? Bahkan suamimu itu tidak akan percaya padamu, karena apa, karena dia sangat bodoh," tukas Gading semakin nyalang menatap Ayu.


"Kau tidak lebih pintar dari Kakak mu," tukas Ayu.


Diingatnya dengan sangat jelas, seolah masih tersimpan di otaknya, seperti apa perselisihan kemarin yang membuatnya seperti tersudut. Ayu mengamati keadaan sekitar ruangan ini, nampak sepi dengan penerangan lampu yang minim. Semua pelayan pasti sedang tidur, begitu juga dengan Mama Mega dan mungkin juga Ashoka.


Sialan, tidak Mama Mega tidak Gading dan bahkan suamiku sendiri membuatku muak, aku bukan hanya seperti di neraka, tapi sudah seperti di lubang buaya. Adik ipar ekor buntung, kau salah pilih target, kau harus tau, aku bukan wanita yang gampang kau tindas!


Sejenak Ayu terdiam sambil mengambil ancang-ancang.

__ADS_1


"Bagaimana hm? Ayo kita permudah saja, sekarang sangat sepi dan sunyi, kita lakukan saja di kamarku," Gading bicara lagi dengan suara berat menahan hasrat, ia memastikan bahwa targetnya sudah lumpuh dan tidak mampu melawan. Ternyata dia tidak seberani yang aku pikirkan. Benak Gading melihat Ayu tanpa perlawanan.


"Sudah jangan bicara lagi bedebah!" Ayu mempunyai jurus jitu, ia menggunakan dengkulnya untuk menghajar dua buah lato-lato milik Gading, dan tepat. Pria brengsek ini mengerang dan mundur seraya memegangi kedua buah lato-latonya.


"Kau!" erang Gading menatap Ayu nyalang, ingin sekali ia balas perbuatan Kakak iparnya yang sudah berani menghajar si junior yang tak bertulang yang sudah berdiri tegak karena tergugah sejak tadi.


Pada saat yang sama lampu menyala...


"Sedang apa kalian?" Ashoka berdiri dengan gagahnya di samping dinding ruangan. Maniknya menghunus melihat Ayu dan beralih melihat Gading yang membungkuk seperti menahan sakit di suatu bagian ************.


Baik Ayu maupun Gading terlonjak kaget, melihat keadaan lampu yang menyala terang, ditambah suara Ashoka yang terdengar menggelegar.


"Saya mau mengambil air minum, saya haus, tapi tidak sengaja bertemu dengan adik ipar," Ayu berkata spontanitas, sebelum Gading menjawab dan membuatnya semakin sulit untuk beradaptasi di rumah ini.


Ashoka melihat kepergian Ayu yang berjalan menuju dapur.


Sedangkan Gading langsung berdiri dengan menahan sakit yang sangat amat luar biasa, ia memaksakan bibirnya untuk tersenyum. "I-iya Kak, aku bau pulang dan tidak sengaja bertemu dengan Kakak ipar,"


"Lalu kenapa kau seperti menahan sakit?" Ashoka berjalan mendekati Gading, dilihatnya wajah Gading yang pias.


"Tidak, tidak apa Kak, pahaku tadi kepentok meja," kilah Gading menutupi fakta yang ada, tidak disangka olehnya. Bahwa Ayu begitu berani melawan dan menolaknya. "Kalau begitu aku akan ke kamar." Gading berlalu dari hadapan Ashoka, dia membawa serta dendamnya untuk membalas perbuatan Ayu.


"Saya akan kembali ke atas, anda juga sebaiknya istirahat." ucap Ayu lembut, seolah tidak ada hal yang terjadi tadi.


Ashoka melihat kepergian Ayu, ada perasaan ganjil tatkala melihat Ayu yang sepertinya menutupi sesuatu.


**


Keesokan harinya, setelah selesai mengurusi si bayi besar Ashoka, Ayu beralih ke kamar Ayna. Yah, di rumah ini, poin paling penting baginya adalah mengurus segala keperluan Ashoka dan Ayna.


Bapak beruntung kah kau memiliki anak seperti ku, semoga aku sudah termasuk anak yang berbakti, karena mau menikah untuk melunasi hutang mu.


Meskipun di sisi lain Ayu merasa takut dan was-was setelah kejadian semalam. Tidak disangka olehnya, jikalau Gading akan menggoda sekaligus menjatuhkan harkat dan martabatnya, lagi-lagi karena pernikahan karena hutang yang membuatnya seperti tidak pantas untuk dihargai. Saat-saat pikirannya kalut, suara Ayna memecahkan lamunannya.


"Ma, kenapa Mama diam, apa Mama sakit?" Ayna bertanya dengan posisi tubuhnya yang kini dipangku Mama Ayu.


"Eh.." Ayu tertegun, ditatapnya wajah polos anak tirinya. "tidak, Mama tidak apa-apa," kilah Ayu menutupi perasaan gamangnya.


"Sini Mama bantu kamu kepang rambut, mau berapa banyak rambutmu di kepang?" ucapnya mengalihkan perhatian Ayna.


"Kalau selibu?" celetuk Ayna.

__ADS_1


"Aih.. kalau kepang seribu bisa sampai lebaran sapi,"


"Memang ada lebalan sapi Ma?"


Aih kenapa aku ngomong asal-asalan di depan anak kecil. Ayu mulai mengambil sisir dan tali rambut. "Mama kepang dua aja yah?" ditatapnya wajah Ayna di pantulan cermin.


Ayna mengangguk senang, dan membiarkan rambutnya menjadi ajang kreasi Mama Ayu. Ayna amat sangat senang sekarang ada wanita dewasa yang bisa dipanggilnya Mama sesuka hatinya.


Ketika Mama Ayu sudah selesai mengepang rambutnya, Ayna menciumi pipi Mama Ayu, pada saat mengalihkan atensinya, ia melihat Dady Ashoka masuk kedalam kamarnya. "Makasih Ma."


"Sama-sama.." jawab Ayu lembut.


"Pagi cantik.." sapa Ashoka lalu masuk kedalam kamar.


"Dady..." Ayna turun dari pangkuan Ayu lalu menghampiri Dady-nya, dengan sangat cepat Ayna melayang di udara karena Dady Ashoka sudah mengangkat tubuhnya. "Dady, cantikan kepangan Mama Ayu?" gadis kecil ini menunjukkan kepangan nya.


"Tentu, kau sangat cantik my princess," jawab Ashoka mencium singkat pipi Ayna.


"Dady cium pipi Mama Ayu uga," celetuk Ayna menunjuk Mama Ayu yang sedang mengemasi meja rias Ayna yang penuh dengan pernak-pernik hiasan princess.


Seketika Ayu tertegun dan menghentikan aktivitasnya dalam membereskan meja rias Ayna, ia tercenung saat mendengar Ayna menyuruh Ashoka untuk menciumnya.


Bukan hanya Ayu, Ashoka pun terkejut mendengar ucapan anaknya.


"Lain kali saja Dady mencium Mama, ini sudah siang. Pasti Oma sudah menunggu di meja makan," kilah Ashoka sembari menunjukkan jam tangannya.


"Ayolah Dady hanya sebental," bujuk Ayna dengan wajah ngambeknya.


"Tidak perlu Ayn, benar apa kata Dady, ini sudah siang, sudah waktunya serapan dan berangkat seko-" tidak sampai Ayu mengakhiri ucapannya, karena secepat kilat Ashoka mencium pipinya. Ayu langsung mengatupkan bibirnya, ia tak menyangka bahwa Ashoka akan menuruti perkataan anak kecil.


Ashoka menutup mata Ayna sebelum mendaratkan bibirnya di pipi Ayu. "Sudah Dady sudah mencium pipi Mama, sekarang ayo turun, ini sudah siang."


Sesaat setelah Ashoka mencium pipinya, Ayu seakan mendengar irama detak jantungnya sendiri. Ia menjerjap matanya menatap Ashoka sedekat ini. Dilihatnya wajah Ashoka tidak menunjukkan ekspresi wajah yang berarti, detik berikutnya Ashoka sudah berbalik badan keluar dari kamar bersama dengan Ayna. Ayu memegangi pipi bekas bibir Ashoka.


"Selama pacaran sama Rudi, aku tak pernah sedikitpun memberikan kesempatan ini, dan kenapa sekarang jantung ku seperti mau lompat."


Ayu bergegas membangunkan diri dari rasa tertegun. Lalu menyusul Ayna dan Ashoka.


...*****...


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2