
Tatapan Mama Mega masih sama, menilai wanita yang di perkenalkan Ashoka sangat-sangatlah berbeda kelas dengan keluarganya yang konglomerat. Maniknya beralih menatap Ashoka.
"Ashoka, sebelum kau menikahi wanita kampung itu yang nantinya hanya akan menjadi parasit dalam keluarga kita, sebaiknya kamu pikirkan kembali keputusan mu,"
"Percayalah, Mama tahu akal bulus wanita kampungan sepertinya hanya menginginkan hartamu saja,"
"percayalah sama Mama. Jamila lebih baik 100 kali lipat dibandingkan wanita ini." ucap Mama Mega panjang kali tinggi, bahwa ucapannya bertujuan tidak menyukai dan tidak menyetujui jikalau Ashoka akan menikah dengan wanita kampungan seperti yang dipilih Ashoka saat ini.
Ashoka masih diam, dia membiarkan Mama Mega mengeluarkan uneg-unegnya, dari pada mendebatnya.
Tatapan Jamila amat tidak menyukai pada wanita muda yang jelas tidak selevel dengan keluarganya maupun keluarga Bratajaya.
"Memangnya kamu kenal dia dimana Shoka, lihatlah penampilannya. Dia sangat dekil dan kumel, pastilah dia mempunyai guna-guna untuk menarik minat mu padanya." Jamila berkata tanpa memikirkan perasaan calon istri Ashoka. Dia berpikir, mungkin saja wanita itu memakai susuk atau semacam guna-guna untuk memikat pria yang sangat diinginkannya.
Ucapan Jamila pun disetujui oleh Mama Mega. "Mama setuju dengan ucapan Jamila, Ashoka. Jangan-jangan dia menggunakan metode pelet, kalau tidak seperti itu, mana mungkin wanita rendahan sepertinya akan memikat mu, hingga kamu pun mau menikahinya,"
"Sadar, Ashoka...?" lanjutnya lagi dengan nada suara menekan.
Ashoka mengingat lagi, saat pertama kalinya mempertemukan Mama Mega dan Ayu. Tentu usulannya untuk menikahi Ayu mendapat penolakan yang keras dari Mama tirinya. Bahkan sampai detik ini, Mama Mega masih tidak mengakui bahwa Ayu adalah menantunya.
Ashoka membuka matanya, saat ini ia sedang duduk di kursi kerjanya, menatap keseluruhan ruangan kantor. Ketika dalam kepenatan segala problematika pekerjaan, maka pria satu anak ini akan memejamkan matanya untuk sejenak.
"Aku teramat sangat sadar, kenapa aku menikahinya."
Dilihatnya pintu terbuka dengan adanya Tarjo masuk kedalam ruangan dengan membawa nampan berisikan jus dan sepiring buah segar.
Ashoka langsung beranjak dan beralih duduk di sofa. Tarjo dengan sigap mengambilkan nya garpu. Di terima olehnya dengan tangan kanan. Satu tusuk buah naga diambilnya dari piring dan mulai mengunyah buah yang berwarna putih serta berbintik hitam ini.
Diambilnya lagi, bukan untuk dimakan. Ashoka mengamati buah naga yang tertusuk garpu. "Buah ini sangat aneh, kulitnya tebal berwarna pink fanta, dalamnya berwarna putih, ada bintik hitamnya juga,"
"seperti manusia saja, dari luar memiliki tampilan yang memikat, pertama kalinya di kupas yang terlihat putih bersih tiada noda, tapi siapa sangka ternyata setelah di potong terdapat banyak sekali biji kecil hitam seperti tipu muslihat, diiringi dengan manis di setiap kunyahan, agar kita yang memakannya terlena dan menganggap dia ini sangat manis."
Ashoka kembali menyuapkan potongan buah naga yang semula ia roasting.
Tarjo tak bersuara, dia masih berdiri pada posisinya. Meskipun dalam hatinya sungguh heran.
Eh, buah naga saja bisa jadi bahan roastingan. Apakah pikiran tuan Ashoka sedang mengalami kepenatan? Tapi dia memang seperti itu, apa saja yang tidak pas dengan hatinya pasti akan di roasting.
Lamunan Tarjo buyar, kala mendengar suara Ashoka yang mengajaknya bicara.
__ADS_1
"Bagaimana menurutmu Jo, apa yang ku katakan tadi salah?" kata Ashoka, dilihatnya Tarjo yang berdiri tidak jauh darinya berada.
"Eh, tidak tuan. Semua yang anda katakan memang benar, manusia terlihat menarik jika di lihat dari penampilannya, ketika baru pertama kali mengenal terlihat sangat baik, tapi setelah mengenal dalam waktu yang lama kita tidak pernah tau ternyata dia begitu banyak menyimpan tipu muslihat untuk menipu siapa saja yang menjadi targetnya,"
"Duduklah," Ashoka menunjuk sofa kosong tak jauh darinya berada.
Tarjo mengikuti apa yang tuannya katakan tanpa menjawab dan tanpa membantah sepatah kata pun.
"Bagaimana dengan pabrik keluarga Ayu, apa sudah normal?" Ashoka kembali menusukkan garpu pada buah naga, lalu memberikannya pada Tarjo.
Aih apa ini, sepertinya memang ada yang mengganggu pikirannya.
Tarjo bergumam dalam hati dalam menerima garpu yang sudah seperti hadiah baginya.
"Makanlah, aku juga ingin kau menikmati kemanisan dari buah naga ini," kata Ashoka setelah garpu berpindah tangan.
Tarjo mengangguk kaku. "Terimakasih tuan."
Tarjo merasakan manis, saat buah naga ini masuk kedalam mulutnya dan teringat kembali dengan pertanyaan Ashoka yang belum di jawabnya. Dia menaruh garpu di samping potongan buah naga yang ada di piring.
"Mengenai pabrik Pak Bahar sudah kembali normal, tuan. Bahkan sekarang Pak Bahar sudah menambahkan cabangnya di Jawa barat,"
"Menurut info yang saat dapatkan, nyonya Ayu bukanlah anak kandung Pak Bahar dan Bu Tumirah,"
Ashoka tercengang mendengar informasi ini. "Jadi itukah sebabnya dia menyingkirkan anaknya dengan cara seperti ini?"
Tarjo terdiam, ia memang acap kali diperintahkan Ashoka untuk mencari informasi mengenai hal apapun tentang kehidupan Ayu.
Semoga saja dengan segala informasi yang ku dapatkan ini, tuan Ashoka benar-benar mau membuka hatinya. Karena ku lihat wajahnya lebih memancarkan kehidupan. Dibandingkan sebelum bertemu dengan nyonya Ayu.
"Apa yang kalian bicarakan?" Ashoka bicara lagi.
Tarjo tersentak, tidak mengerti apa yang coba Ashoka tanyakan. "Siapa?"
"Kau dan Ayu?" tanya Ashoka datar.
Tarjo teringat dengan pertanyaan Ayu saat berada di taman kemarin. "Dia bertanya apakah alasan dan sebab anda menikahinya?"
"Apakah hanya itu, lalu kau ?"
__ADS_1
Tarjo menceritakan semua yang Ayu tanyakan kemarin, tanpa mengurangi dan melebihi. Semua yang Ayu katakan.
Ashoka tercenung mendengar penjelasan Tarjo.
"Baiklah, sekarang kau boleh pergi,"
Tarjo mengangguk singkat, lalu beranjak dari duduknya. Sebelum meninggalkan ruangan, ia kembali membungkukkan sedikit punggungnya. Lantas keluar dari ruangan Ashoka.
Setelah kepergian Tarjo, Ashoka kembali bergulat pada pikirannya.
Dalam menemukan Ibu sambung yang cocok dengan buah hatinya tidak semudah membalikkan telapak tangan, diperlukan kehati-hatian, agar bukan hanya menginginkan hartanya saja. Tapi memang sepenuhnya sayang pada putri kecilnya yang memerlukan kasih sayang dari sosok Ibu.
Namun ada satu hal yang membuat Ashoka terbelenggu selama ini.
Kadang semua kenangan lama tersimpan dalam ingatan, tak bisa dengan mudah terhapuskan, bagaimana bisa menggantikan seseorang yang paling dicintai dalam hidup ini. Ketulusan hati, serta kesetiaan cinta berlaku hanya pada orang-orang yang memegang teguh bahwa kesetiaan adalah tingkatan tertinggi dalam menjalin hubungan.
Gamang, sampai sekarang antara menerima dan tidak menerima bahwa ada seseorang yang saat ini sudah di panggil putri kecilnya dengan sebutan Mama. Ada sebuah kesejukan saat putri kecilnya mengatakan Mama untuk yang pertama kalinya pada seorang wanita.
Apalagi seseorang yang dipanggil Mama, terpaut jauh usianya. Tapi sepertinya gadis itu, cukup baik dalam menjalani perannya sebagai ibu muda meskipun tidak melahirkan.
Teringat dengan tantangan yang dia berikan untuk Ayu bisa merebut kembali perhatian Ayna. Ashoka merasa luluh saat melihat bagaimana berjuangnya Ayu untuk membuat Ayna mengerti. Dia salut dengan cara wanita itu. Tapi untuk jatuh cinta, mungkin belum terpikirkan.
Soal cinta biar jadi urusan belakangan. Pikirnya
Nyatanya keberanian Ashoka tidak seperti yang terucap saat pertama kalinya bertemu dengan Ayu. Yah, wacana melahirkan anak laki-laki, keluar begitu saja dari mulutnya.
Bahkan sampai sekarang, Ashoka tidak pernah menyentuh istrinya.
"Seharusnya aku lebih berani untuk mengakui bahwa dia istri ku, bukan hanya sekedar baby sitter untuk anakku,"
Kadang rasa tidak adil menghantui nya, karena telah membelenggu seorang gadis yang sebenarnya masa depannya masih panjang.
Dan sampai saat ini, Ashoka belum memberikan sepeserpun uangnya pada sang istri.
"Wanita pasti tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk menghabiskan uang. Aku ingin tahu, bagaimana cara dia menggunakan kartu sakti ku."
Ashoka tersenyum tipis.
...*****...
__ADS_1
Bersambung....