Pengantin Tuan Ashoka

Pengantin Tuan Ashoka
Tebal telinga


__ADS_3

Setelah menjadi istri Ashoka, Ayu sudah seperti seorang wanita yang memiliki anak. Dia di sibukkan dengan memandikan Ayna, dan menemani Ayna kemanapun anak ini pergi. Yah, persis seperti apa yang dikatakan Ashoka.


24 Jam Ayu harus berada di sekitar gadis kecil ini. Apalagi sekarang, jam kuliahnya di gantikan tiga kali seminggu di rumah, sudah seperti les privat, pikirnya.


Setelah beberapa hari menjadi istri Ashoka Bratajaya. Ayu menyadari suaminya sangat berpengaruh dan mungkin kekayaannya sampai tujuh turunan, sehingga bisa mendatangkan seorang dosen ke rumah adalah suatu hal yang lumrah.


Kini Ayu telah selesai membersihkan diri. Setelah sebelumnya dia telah selesai memandikan dan mengurus Ayna. Ayu turun dan melihat gadis kecilnya sedang menonton siaran televisi anak-anak.


Tidak di rumah kecil, tidak di rumah besar. Kenapa Upin Ipin selalu bisa digemari anak-anak Indonesia. Memang di Indonesia tidak mempunyai kartun yang lebih bagus daripada dua bocah kembar berkepala plontos itu?


Seumpama Adit dan Sopo Jarwo, atau bisa jadi Dudung. Tapi kembali lagi, selera memang berbeda-beda. Dia mendekati Ayna sekedar memberikan ciuman di pucuk kepala.


Tak ada respon dari Ayna, karena gadis kecil ini sepertinya memang sedang fokus menonton televisi.


Ayu beranjak ke dapur, di sana dia melihat Mbak Sopi, Mbak Wati dan seorang koki terlihat sedang sibuk menyiapkan sayuran dan daging yang masih beku.


"Mau masak-masak yah? Saya bisa bantu nggak?" Ayu bertanya sambil melihat kedalam kulkas yang tingginya melebihi tinggi tubuhnya.


Tiga orang yang sekarang ada di dapur terkesiap dengan adanya nyonya Ayu yang datang ke dapur. Dalam ingatan mereka, pada saat nyonya Ayu datang ke dapur malah terjadi perdebatan. Berbeda pada saat Ayu membuat cup cake, karena sudah diizinkan Ashoka.


"Anda tidak perlu membantu nyonya, biar kami yang melakukan," jawab sang koki.


"Tenang meskipun saya membantu kalian di dapur, saya tidak akan merebut pekerjaan kalian kok hehe.. saya hanya ingin sekedar membantu," Ayu mendekat dilihatnya sayuran dan daging. "mau masak apa malam ini,"


Seorang wanita yang berprofesi sebagai koki menjelaskan menunya sore ini. Khas seperti yang ada di restauran. "Daging lada hitam, cah brokoli, beberapa menu lainnya."


Ayu manggut-manggut paham, lalu memakai celemek. "Ya sudah ayo kita masak, tunggu apa lagi?"

__ADS_1


Semua orang yang semula bengong kini mengambil bagian dari apa yang akan mereka kerjakan. Meskipun ada rasa takut karena saat ini Ayu berada di dapur ikut membantu.


Tak berselang lama memanglah Nyonya besar mereka datang dengan wajah garang.


"Apa yang kau lakukan menantu kampungan?" sentak Mama Mega melihat Ayu berada di dapur.


Ayu sama sekali tidak terkejut, dia melihat Mama Mega. Lantas menjawabnya santai. "Masak, Ma,"


"Siapa yang sudah mengizinkan mu masuk ke dapur, hah? Bukankah sudah ku bilang, ada seorang koki handal!" pekik Mama Mega nyalang menatap menantu yang tidak pernah dianggapnya.


Ayu diam, tapi dengan wajah tersenyum. Dilihatnya Mama Mega amat sangat kesal.


Mama Mega ngomel dan mengomel lagi, Ayu merasa telinganya tersumbat saat mendengar suara Mama Mega yang kembali menghinanya.


"Kau lebih pantas sebagai pelayan, dari pada menjadi nyonya di rumah ini!" Mama Mega tak segan membandingkan menantunya dengan pelayan.


"Mama mau mencicipinya?" Ayu menunjukkan daging sapi yang baru saja di masaknya.


Mama Mega hanya melirik seperti jijik pada masakan yang diperlihatkan Ayu. "Cih... aku tak sudi memakan makanan yang kau masak!"


Ayu tersenyum simpul, ia sudah tebal telinga dalam mengatur pendengaran saat Mama Mega bicara. "Mama suka makanan apa, nanti saya akan memasaknya, kebetulan kadang Ibu jualan centering jadi saya sedikit bisa masak-memasak, walaupun tidak secanggih Mbak Yana,"


Ayu melirik seorang koki yang hanya berdiri dalam diam sembari menunduk.


"Dasar wanita kampung, ku bilang aku tidak sudi!" Mama Mega mendelik kesal menatap Ayu yang sedang tersenyum. Dia lantas melenggang pergi dari ruangan dapur.


Tidak ada seorang pun yang menjawab bahkan seorang pelayan dan seorang koki diam mendengar omelan nyonya besar mereka.

__ADS_1


Ayu tersenyum puas menatap kepergian Mama Mega dari dapur. Aku harus kebal hati, lama atau tidaknya aku bertahan di sini, semua demi hutang Bapak. Seberapa pentingnya aku berguna di mata suamiku.


Ayu juga sudah tahu, jikalau koki yang khusus memasak untuk keluarga Ashoka adalah koki yang bekerja di restauran Brata Resto. Jika mengingat tentang restauran itu, Ayu teringat dengan pertemuan pertama kalinya dengan Ashoka. Yang pada akhirnya membawanya terdampar di mansion mengerikan ini.


"Sepertinya saya melihat, nyonya Ayu sangat sabar menghadapi nyonya besar," ucap Yana, seorang koki dari restauran Brata Resto dalam mengamati istri baru tuan Ashoka.


"Hehe saya sudah terbiasa menghadapi anak-anak yang rewel Mbak Yana," Ayu tertawa kecil.


Yana jadi ingin tersenyum mendengar perkataan Ayu, seperti menyamakan nenek-nenek dan anak-anak itu adalah hal yang lucu. Rose dan Ayu berbeda, jika Rose dikenalnya pendiam, tapi Ayu lebih terkesan humoris. Tapi sama-sama memiliki keberanian dan kesopanan saat menghadapi Nyonya besar.


"Semoga pernikahan nyonya Ayu dan tuan Ashoka langgeng tidak sama seperti nyonya Rose yang telah...." Yana menghentikan ucapannya yang seperti tercekat di tenggorokan saat menyebutkan nama mendiang istri pertama Ashoka. Dia cukup mengenal keluarga Ashoka termasuk Rose, karena Yana telah lama bekerja dengan Ashoka. Dan Yana hanya datang ke rumah ini pagi dan sore hari, tidak selalu standby di rumah megah ini.


"Maaf nyonya, saya bicaranya sudah ngelantur kemana-mana," lanjut Yana merasa tidak enak hati. Dia teringat kembali pada mendiang istri pertama Ashoka.


"Tidak apa-apa Mbak Yana, saya sudah tahu kok. Jangan sungkan-sungkan cerita soal nyonya Rose, saya nikah juga karena permintaan nyonya Rose, dia datang ke mimpi saya hehe..." kata Ayu seraya tersenyum memecah kecanggungan.


"Aih nyonya Ayu, kalau bicara jangan suka buat Yana bingung," ucap Yana mengalami kebuntuan untuk mencerna apa yang Ayu katakan.


"Nanti saya cerita kalau ada waktu santai. Eh, ngomong-ngomong sebelum waktu magrib tiba, saya mau tanya-tanya dulu,"


"sudah beberapa hari saya tinggal di sini, tapi sampai sekarang saya belum tau apa kesukaan Mas Ashoka dan Ayna selain cup cake, dan cemilan apa saja yang mereka sukai?"


"terus makanan apa yang mereka tidak suka?" Ayu bertanya secara beruntung. Namun kemudian dalam hatinya ia bergumam.


Tentunya karena Mama Mega yang selalu melarang ku ini dan itu, jadi aku gaptek begini. Tapi kenapa aku jadi ingin tahu kesukaan suamiku? Kalau Ayna, dia memang sudah ku anggap anakku. Ah sudahlah, yang penting aku tau, kan siapa tau jika suatu saat dia ingin memakan masakan ku. Ya kali aja, antisipasi.


...*****...

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2