Pengantin Tuan Ashoka

Pengantin Tuan Ashoka
Cap Cake


__ADS_3

Dosen Martin datang ke rumah. Ayu terkejut dan langsung bersembunyi di balik dinding untuk mendengarkan percakapan Ashoka dan Dosennya. Jika dikatakan menguping, ya memang dia menguping.


Hah Dosen Martin, ada apa dia datang kesini?


"Shoka, lama kita tak berjumpa. Tapi sekalinya berjumpa kau memintaku untuk menjadi Dosen mengajar, memang untuk siapa? Kau tidak mungkin kuliah lagi kan? Secara kita seangkatan," kata Martin.


"Dari dulu kau tidak pernah berubah, selalu cerewet dan banyak tanya," jawab Ashoka sekenanya. Mengenang masa-masa kuliah dulu.


Masih mendengarkan di balik dinding, Ayu terkejut ternyata Ashoka dan Martin saling kenal. Mereka seperti saling mengenal, apa mereka teman lama?


Martin sudah terbiasa mendengar cibiran dan ucapan pedas Ashoka. Pria berusia 38 tahun ini hanya menggendikkan pundaknya. "Ya aku menyadarinya. Kalau aku tak menjadi orang yang cerewet maka mahasiswa dan mahasiswi ku akan seenaknya saja,"


"Tapi kenapa kau selalu mengerjai seorang mahasiswi bernama Ayu," sahut Ashoka datar.


Dosen ini terkejut, dahinya mengernyit mendengar Ashoka menyebut nama salah satu mahasiswinya. "Kau kenal Ayu?"


Ashoka gelagapan matanya membulat kala mendengar Martin menyebut nama istrinya. Dia berehm-ehm, untuk menutupi kelemesan lidahnya yang telah keceplosan menyebut nama Ayu.


"Hei Shoka, kenapa kau diam saja?" Martin mengibaskan tangannya di depan Ashoka yang diam mematung. Dilihatnya Ashoka sempat terkejut, dan kembali netral.


"Kau kenal Ayu?" Marti kembali bertanya.


Ya jelas aku mengenalnya, dia istri ku! Sahut Ashoka hanya dalam hatinya saja.


"Kenapa memang, aku tidak boleh mengenal salah satu mahasiswi mu yang cukup berprestasi?" kilahnya Ashoka berkata dengan bersilat lidah.


Di balik dinding Ayu tersenyum senang, mendengar untuk pertama kalinya Ashoka memuji kelebihannya. Eh tapi darimana dia tau? Apa dia juga menyelidiki tentang ku? Jangan-jangan kemanapun aku pergi, dia menyuruh bodyguard untuk memata-matai ku?


Ayu kembali memasang telinganya untuk mendengarkan percakapan suami dan Dosennya.


"Dia salah satu mahasiswi menyebalkan, kau tau dia itu sok pintar, dan aku tidak suka dengan mahasiswi yang sok pintar. Makanya terkadang aku memberikan materi tambahan," kelakar sang dosen, tapi juga dia menyimpan rasa pada Mahasiswinya itu.


"Itu karena dia memang pintar," celetuk Ashoka, lantas berbalik badan dan berkata pada sang kepala pelayan. "Pak Khan, panggilkan dia sekarang,"


"Baik tuan." Pak Khan sedikit membungkuk, lalu melaksanakan titah tuannya.


Ayu terlonjak kaget dari tempatnya berdiri. Ia langsung berlari dan menuju ke dapur. Ya, semula dia ingin membuat kue cap cake untuk memancing Ayna agar mau lagi lengket dan semanis kue cap cake buatannya nanti. Tapi berhubung dia mendengar suara yang tidak asing, Ayu jadi ingin tahu siapakah tamu yang datang.


Pak Khan sebenarnya tahu jikalau Ayu sejak tadi menguping, dia berjalan menuju dapur dimana keberadaan Ayu berada. "Nyonya, tuan memanggil anda,"


"Eh iya," Ayu terkejut saat Pak Khan sudah berdiri di belakangnya. "ada apa ya Pak Khan?" lanjutnya pura-pura bertanya.


"Bukankah tadi nyonya sudah mendengar obrolan tuan? Jika tuan Ashoka sampai tahu nyonya dengan sengaja menguping, maka bisa dipastikan jikalau nyonya tidak lagi mempunyai telinga,"


Ayu bergidik ngeri, ia langsung memegangi telinganya. "Eh, telingaku ini memang tak ada akhlak Pak Khan, jadi maklum saja kalau suka usil menguping,"


"Kali ini saya akan bekerjasama, tapi jikalau nyonya melakukannya lagi, saya tidak janji," kata Pak Khan datar.


"Hehe baiklah Pak Khan, tidak perlu tegang begitu," Ayu tak ingin lagi mendengarkan jawaban Pak Khan. Ia langsung berjalan menuju dimana Ashoka dan Dosennya berada.

__ADS_1


"Mas Ashoka tadi memanggil saya?" Ayu berdiri tidak jauh dari suaminya.


"A-ayu, apa yang kau lakukan di sini?" Martin terkejut melihat keberadaan mahasiswi ini.


"Kau sekarang akan kuliah di rumah, dan kau tidak perlu lagi meninggalkan Ayna," jelas Ashoka datar.


Cih, apa dengan begitu kau sengaja mengurungku? Ayu melihat Ashoka malas.


"Shoka, sebenarnya ada apa ini? Kenapa Ayu berada di rumah mu?" masih terkejut dan tidak mengerti ada hubungan apa antara Ashoka dan Ayu, Martin menuntut jawaban atas rasa penasarannya.


"Dia Istri ku." tukas Ashoka.


Ayu sebenarnya ingin tertawa melihat wajah pucat Dosennya yang galak, cerewet bin bawel. Saat Ashoka mengatakan dia istrinya.


Ternyata tuan Ashoka yang kaku ini, punya hati nurani juga, mau mengakui ku sebagai istrinya di hadapan orang lain.


...***...


Setelah selesai dengan materi kuliahnya hari ini, Ayu sedang berkutat di dapur. Sebelum Ashoka berangkat bekerja, dia sudah meminta izin untuk menggunakan dapur. Kendati dia adalah istri di rumah ini, tapi setidaknya dia tidak bisa bebas untuk melakukan ini dan itu. Terlebih jikalau, menyangkut Mama Mega.


Behhh belibet urusannya...


Aroma wangi kue tercium hingga ke penjuru rumah ini. Ayu pun tidak ingin kalah pamor, meskipun Mama Mega telah membuat rencana sedemikian cantik untuk membuat Ayna membencinya, bukan berarti Ayu akan menyerah. Mama Mega belum tahu saja seperti apa seorang gadis yang telah dinikahi Ashoka.


Meskipun pernikahannya tidak dilandasi saling cinta, tapi setidaknya jangan pernah menjatuhkan martabat seorang istri dan wanita yang bergelar sebagai menantu. Karena pada dasarnya, wanita itu bisa jadi lebih kuat dibandingkan yang terlihat lemah.


Ayu celingukan di ruangan dapur yang bersebelahan dengan ruang makan. Dia telah selesai memanggang kue, dan sengaja mengangin-anginkan kue dengan kipas kecil agar aroma butter ini tercium sampai ke ruang bermain Ayna.


Di ruang bermain, indra penciuman Ayna merasa tertusuk-tusuk oleh aroma kue kesukaannya. Dia melihat sekelilingnya, ada dua pelayan yang sedang menemaninya bermain, dan ada Oma Mega yang sedang tidur di sofa meskipun tangannya sedang memegang majalah.


"Mbak Wati, apa koki sedang memanggang kue?" tanyanya pada sang pelayan.


"Bukan non," jawab Mbak Wati.


"Telus siapa yang buat kue?" tanyanya dengan raut wajah polos.


"Mama Ayu," ucap Mbak Wati berbisik agar tidak terdengar nyonya besar.


Wanginya sangat enak, aku mau makan kue, tapi gimana calanya supaya aku bisa pelgi dali sini?


Gadis kecil ini berpikir dengan otaknya yang kadang bisa berfungsi kadang tidak.


"Mbak Wati tolong ambilkan boneka princess ku di kamal?"


"Mbak Sopi tolong ambilkan buku celita di kamal Om Gading, kemalin Ayn tinggal di sana,"


Mbak Wati maupun Mbak Sopi melaksanakan perintah nona kecilnya.


Setelah kedua pelayannya pergi, Ayna segera keluar dari ruang bermain dengan mengendap-endap supaya tidak menimbulkan suara dan tidak membuat Oma Mega terbangun.

__ADS_1


Ayu sengaja tidak memanggil gadis kecil itu, dia membiarkan gadis kecilnya datang atas kemauannya sendiri. Dan lihatlah, Ayna sudah mengendap-endap di balik dinding seperti anak kucing yang sedang mencium bau ikan goreng.


Amat sangat senang saat melihatnya beralih bersembunyi di balik guci besar. Namun sengaja Ayu diam, lalu duduk dan memakan kue cake cokelat bertabur seres warna-warni agar menggugah selera. Mudah saja baginya membuat kue, karena di rumah Bapak dan Ibu, Ayu sudah terbiasa membuat kue bolu, dan cake untuk dia jualan di kampus.


"Uuhhh manisnya kue ini, aku jadi ingin memakan semuanya," Ayu sengaja menekankan suaranya agar terlihat lebih menggugah selera, ia menggigit ujung kue dengan gerakan seperti host makanan yang ada di tv-tv, yang selalu bikin ngiler bagi siapa saja yang menonton dan bagi siapa saja yang tidak mampu membelinya.


"Tolong yah, jangan ada yang memintanya, aku mau makan kue ini sendiri, karena kue ini sangat enak dan manis," Ayu kembali bersuara sedikit keras pada pelayan dan koki yang saat ini ada di dapur.


Pelayan hanya tersenyum-senyum melihat aksi yang dilakukan Ayu. Apalagi mereka juga tau, jikalau Ayna sedang bersembunyi di balik ruangan meja makan.


Ayna semakin tidak tahan, terlihat sangat manis dan enak memang. Kenapa Mama Ayu nda memanggil Ayn?


Ayna mengusap air liurnya yang hampir saja menetes di bibirnya melihat kue yang manis itu di kunyah Mama Ayu.


Dia melangkahkan kaki mungilnya mendekati ruang makan dan meja makan panjang adalah tujuannya, semula dia berdiri di meja makan panjang di bagian paling ujung.


Ayu masih meneruskan sandiwaranya, dan dia pun tahu jikalau Ayna mendekat seperti anak kucing yang minta jatah makan. Sengaja dia mendiamkan, dan terus memakan potongan kue cake. Seolah tidak menghiraukan keberadaan Ayna.


Lihatlah anak kecil ini semakin mendekat, haha aku jadi ingin tertawa melihat wajahnya yang seperti anak kucing. Sangat imut dan lucu.


"Ayn mau kue?" ucap Ayna, kini tak ada jarak, karena dia sudah berada di sebelah Mama tirinya.


"Kamu mau?" Ayu masih sok jual, padahal dia sangat kasihan melihat wajah Ayna yang terlihat sangat ingin memakan kue ini. Dilihatnya Ayna mengangguk.


"Baiklah, tapi ada syaratnya?" Ayu menahan senyuman geli di perutnya.


"Apa syalatna?" tanya Ayna polos yang penting dapat kue manis kesukaannya.


"Ayna jangan lagi memanggil Mama, Tante lagi, oke? Karena Mama Ayu sayang sama kamu, bukan hanya sayang sama Dady, tidak seperti yang dikatakan Oma Mega," ucap Ayu membujuk.


Ayna menatap kedua bola mata Mama Ayu, perasaannya berkata. Mama Ayu sepeltina memang sayang sama Ayna.


Gadis kecil ini lantas mengangguk. "Iya, Mama,"


Ayu melebarkan senyumnya.


"Pintar," Ayu mengacungkan dua jempolnya, yah kalau bisa empat jempol juga boleh, tapi mana mungkin pakai jempol kaki. Saru!


"Sekarang Ayn duduk, Mama akan ambilkan kue untuk Ayna ya sayang," Ayu menarik kursi lantas mengangkat tubuh mungil Ayna untuk duduk. Dilihatnya gadis ini sudah tersenyum hangat.


"Ayna!" pekik Mama Mega di ujung ruang tamu. Mama Mega mendekat dengan langkah jenjang. "jangan makan kue ini, kamu tahu. Bisa jadi Mama tiri mu ini sudah mencampurinya dengan racun," diambilnya secara paksa kue cake yang baru di pegang cucunya.


"Tapi Oma, kata Mama Ayu, Mama Ayu sayang sama Ayn?" jawab Ayna polos, padahal tangannya baru saja memegang kue cake yang terlihat sangat enak, tapi sudah di ambil dari tangannya.


"Ma, cukup! Jangan libatkan Ayna lagi, dia masih kecil." tukas Ayu dengan bahasa yang santun agar tidak berkesan membentak Mama Mega dihadapan Ayna.


...*****...


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2