Pengantin Tuan Ashoka

Pengantin Tuan Ashoka
Hasutan


__ADS_3

Ayu mengikuti langkah Ashoka yang membawanya pergi dari jangkauan Mama mertua antagonis serta adik ipar menyebalkan. Dia sangat bersyukur karena Ashoka mau menyelamatkannya tanpa banyak berkata-kata untuk membantah Mama mertua. Meskipun Ayu, tidak melupakan janji yang sudah dilanggar hari ini.


Matilah aku? Dia terlihat sangat garang. Apa hukumannya kali ini Setelah hukuman kemarin membuatku tidak bisa tidur nyenyak karena harus memijit kakinya yang berotot, jangan-jangan dia akan menghukum ku memijit lengannya yang kekar. Hahh, aku benar-benar takut jari-jari ku akan patah, jikalau terus membuat kesalahan, meskipun tanpa ku sengaja.


Ditatapnya Ashoka dari belakang samping kanan, Ayu terus mengikuti langkah Ashoka yang menapaki anak tangga berbahan dasar marmer glas, sangat mengkilap sampai bisa untuk bercermin.


Aku tak menyangka, wanita sederhana dan sangat biasa seperti ku bisa menjadi salah satu orang yang menghuni rumah mewah ini. Tapi apalah aku ini, aku hanyalah wanita penebus hutang dan tugasku yang sebenarnya hanyalah menjaga anak kecil dan itu sama saja sebagai baby sitter berkedok istri Ashoka Bratajaya.


Netranya beralih menatap punggung tangan yang berotot milik suaminya ini. Menggenggam, ralat! Bukan menggenggam tapi mencengkram lengannya sangat erat. Ayu merasa sirkulasi darahnya berhenti mengaliri jari jemarinya. Sampai nampak jari jemarinya terlihat kebiruan.


Ashoka membawa Ayu ke lantai atas. Dihempaskan nya tangan Ayu begitu saja, dilihatnya istrinya itu langsung memegangi lengan bekas cengkraman tangannya yang sengaja di tekan lebih kuat.


"Kau tau apa kesalahan mu?" kata Ashoka dingin.


Ya, dengan mata terbuka Ayu sadar kesalahannya yang tidak di sengaja.


"Maafkan saya," mungkin dengan meminta maaf tidak membawa dampak baik dan menghindarkannya dari hukuman yang akan diberikan Ashoka padanya. Tapi hanya kata itu, satu-satunya cara yang bisa dilakukannya saat ini.


Ditatapnya wajah Ayu tajam. Ashoka rasa sekarang bukan saatnya menyelesaikan misi untuk memberikan hukuman pada istrinya yang telah melanggar janji untuk pulang tepat waktu. Karena ada yang lebih penting dari sekedar memberinya hukuman. Putri kecilnya ada di kamar, yang sejak tadi menunggu wanita yang belum lama di panggil Mama ini pulang.


Ya Allah, dia bukan malaikat pencabut nyawa ku 'kan? Kenapa aku sangat merinding. Padahal beberapa detik yang lalu dia sudah membuatku terasa aman. Ayu meratapi nasibnya sendiri. Mungkin saja diamnya Ashoka, sedang memikirkan bagaimana memberinya hukuman karena terlambat pulang.


Ashoka mendekati istrinya yang sejak tadi tak berani untuk menatapnya.


Hati dan isi kepala Ayu semakin takut dan ngeri, manakala suaminya ini mendekatinya. Ia mundur beberapa langkah, sampai kepentok lemari hias. Tiba-tiba saja, Ayu merasakan sakit di keningnya.

__ADS_1


Aaaaaa.... Apa-apaan ini? Dia menyentil kening ku. Sakit, sangat sakit...


Spontanitas Ayu mengusap kening yang mendapatkan sentilan dari jemari tangan Ashoka yang dua kali lipat lebih besar dari jemari tangannya.


"Masuklah, Ayn sedang bermain. Dia menunggu mu sedari tadi," Ashoka berkata datar, maniknya terus melihat Ayu menunduk seraya mengusap kening bekas ia sentil. "tapi ganti pakaian dekil mu itu, aku tidak mau anakku tertular virus dari luar, lagipula kau terlihat sangat jelek sampai membuat mataku sakit," lanjutnya lagi dengan jari telunjuk yang ia gerakan naik turun pada istrinya.


Kalau kau tau aku jelek, kenapa kau mau menikahi ku! Dasar Hulk! Ayu sudah frustasi, ingin rasanya menjerit tapi suaranya selalu saja tertahan di tenggorokan.


"Kenapa kau tidak menjawab perkataan ku? Apa kau tak dengar?" Ashoka bicara lagi, melihat diamnya Ayu. Dia berasumsi jikalau istrinya ini sedang mengutuk nya dalam hati.


"Baik tuan," Ayu terkejut dengan panggilannya barusan. Ah tapi, dia memang seperti tuan ku, bukan suamiku.


"Bagus!" sahut Ashoka, lalu berbalik badan.


Sesaat kemudian Ayu kembali menurunkan tangannya dari kening, dilihatnya Ashoka menghentikan langkah serta menoleh sedikit lalu berkata.


"Aku paling benci dengan orang yang mengingkari janji, tidak tepat waktu, dan selalu membuat alasan!" Ashoka berkata dengan gigi dikeratkan, ia mensejajarkan dagu dengan pundaknya, dapat dilihatnya dari ekor matanya jikalau Ayu sedang menatapnya tajam. Setelah mengatakan itu, Ashoka kembali melenggang pergi dari hadapan istrinya.


Sialan! Kenapa dia tadi membuatku melayang, dan tiba-tiba saja menjatuhkan ku ke dasar jurang. Tidak mertua, adik ipar dan suamiku sama saja, selalu membuatku seperti kain perca yang gampang sekali di tindas!


Ayu berdecak kesal, lalu berjalan ke kamarnya sendiri. Lelahnya hari ini amat sangat membuatnya benar-benar ingin berendam di dalam bak mandi dengan air dingin untuk mendinginkan suhu hati dan tubuhnya yang sejak tadi sudah bergejolak panas ketika berhadapan dengan tiga orang yang membuatnya seperti hidup dalam neraka.


Belum mati saja hidup ku seperti di neraka, apalagi jika aku mati beneran, dan membawa serta dosa-dosa ku yang segudang!


Tanpa sadar air matanya jatuh membasahi pipi, di bawah guyuran shower. Ayu menangis lagi dengan suara tertahan. Namun ia tak mau lama-lama bergulat di kamar mandi, cukup menyegarkan diri dengan air dingin di bawah guyuran air shower yang seperti rintik hujan, karena bisa saja, Ayna memang sedang menunggunya.

__ADS_1


Selama berganti pakaian dia berpikir. Apakah Ayna benar-benar sudah bergantung padanya? Apakah anak tirinya ini benar-benar merindukan sosok Ibu pada dirinya? Kalau begini, akan sangat sulit untuk bebas dari sini.


Hufft... Ayu sudah selesai dengan pakaian ala-ala rumahan. Ia mengisi udara di salam rongga paru-parunya. Inilah saatnya untuk menuju kamar anak tirinya. Yah, meskipun anak tiri tapi Ayu merasa benar-benar sudah klop banget pada Ayna.


Pada saat mengetuk pintu kamar Ayna, tidak ada jawaban.


"Ayna sayang, boleh Mama masuk?" sapanya memanggil Ayna lembut. Akan tetapi masih tidak adanya jawaban dari dalam kamar putrinya. Alhasil Ayu membuka pintu, dilihatnya Mama Mega ternyata ada di dalam kamar sedang menemani Ayna bermain.


Ayu memberanikan diri untuk mendekati Ayna yang sedang ditemani Mama Mega.


"Ayna sayang," ucapnya sangat lembut. Tapi Ayna malah mengacuhkannya.


"Ayo Oma kita main di lual," Ayna berdiri dia mengajak serta Oma Mega.


Mama Mega tersenyum miring, diliriknya Ayu yang nampak kecewanya. "Ayo sayang, jangan bermain dengan Mama tirimu yang jahat ini,"


Deg....


Mama tiri jahat? Ayu merasakan hatinya seperti di tancapkan paku yang amat sangat menyakitkan mendengar perkataan Mama Mega tadi.


Salahkan bila ia kemudian berprasangka jikalau Mama Mega telah menghasut Ayna untuk membencinya. Netra Ayu melihat, memanglah sikap Ayna berubah dingin dan terkesan tak perduli padanya. Sejak ia masuk kamar, sampai pada akhirnya melihat Ayna dan Mama Mega yang akhirnya keluar kamar bernuansa pink ini.


...*****...


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2