Pengantin Tuan Ashoka

Pengantin Tuan Ashoka
Adu domba


__ADS_3

Ashoka tak menyangka jikalau Ayna akan bergantung sepenuhnya pada Ayu, bahkan belum genap ditinggal seharian saja sudah begini, apalagi sampai Ayu benar-benar full dengan urusannya sendiri. Lalu buat apa menikahi wanita itu?


Pria berperawakan tinggi ini berjalan hendak meninggalkan ruang keluarga, namun baru tiga langkah Ashoka mendengar suara Mama Mega, meskipun saat ini sungkan untuk berbicara pada Mama Mega maupun Gading. Tapi dengan amat terpaksa Ashoka menghentikan langkahnya, guna menghormati wanita yang lebih tua, wanita yang telah merawatnya sedari ia kecil. Ya, bisa dibilang ada balas budi di sini.


"Mama harap kau lebih memperhatikan Ayna, Shoka. Dia butuh quality time bersama dengan mu. Kenapa kau tidak memberikan tanggungjawab perusahaan pada Gading untuk sementara waktu, paling tidak biar Ayna tidak menangis seperti ini,"


"lebih-lebih istri mu yang tidak tau diri itu. Mama kan sudah bilang, mau menikahi wanita itu harus melihat bibit, bobot dan bebetnya, Shoka!" kelakar Mama Mega sinis, dia berharap Ashoka dapat memikirkan ucapannya dan menceraikan Ayu.


"Lihat sendiri kan, baru beberapa hari jadi istri mu saja, dia sudah pergi-pergi seenaknya sendiri!" lanjutnya lagi.


Hufft... Ashoka menghela nafas panjang. Rasa-rasanya telinga ini sangat sakit kerap kali mendengar ocehan seperti ini. Seharusnya aku bisa untuk mengambil langkah meninggalkan rumah ini, tapi rumah ini satu-satunya kenangan paling membahagiakan bersama almarhumah Bunda.


"Saya akan menemani Ayn bermain sambil menunggu Mamanya pulang, baru kita bicara lagi, Ma," ucap Ashoka datar tanpa melihat Mama Mega, dia kembali melangkahkan kakinya menuju kamar Ayna yang berada di lantai dua.


Gading melihat Ashoka melenggang pergi dari ruangan ini, dia mendekati dan memegang pundak Mamanya.


Setelah beberapa saat ....


Ayu baru saja sampai di pelataran, namun tatapan dari beberapa pelayan yang bertugas untuk menyirami tanaman di halaman rumah seperti mengintimidasinya. Ia lalu bergegas masuk, di ruang televisi yang bersebelahan dengan ruang keluarga Ayu melihat Mama Mega sedang anteng menonton tv.

__ADS_1


Dia berjalan dengan mengendap-endap, berharap Mama Mega tidak melihatnya. Namun, siapa sangka. Ternyata kepulangannya sudah di tunggu-tunggu.


"Hay menantu sialan!" Mama Mega berteriak tatapannya langsung menghunus menatap menantunya yang ketahuan baru pulang.


Apa tadi, setelah kemarin dia mengatai ku wanita kampungan. Sekarang telah ganti, menantu sialan? Ayu terpekur di tempatnya berdiri.


"Dasar udik, kau tau ini sudah jam berapa? Darimana saja kau?" Mama Mega memaki dengan nada sinis.


"Maaf Ma, Dosen di kampus tadi memberikan mata pelajaran lebih, karena kemarin saya tidak absen," Ayu tidak berani mendekati wanita yang sudah terlihat garang itu.


"Siapa yang suruh kau menjawab, hah?" Mama Mega tak menurun pita suaranya. Masih terdengar ngegas dan sinis. Dia berjalan mendekati menantu yang dianggapnya wanita kampungan dan lagi, sialan!


"Kau pikir kau hebat, iya? Kau tidak lain hanyalah wanita kampungan, buat apa kau pergi kuliah, kau mau menggunakan alasan kuliah untuk memoroti uang Ashoka, padahal kau pergi shoping-shoping ngumpul dengan teman-temanmu itu kan?"


"Alah sudahlah! Aku tidak mau mendengar suara buruk mu itu!" pekik Mama Mega mengibaskan tangannya, enggan mendengar penjelasan dari Ayu.


Ayu terdiam, bukan karena tidak mampu menjawab hanya saja ia tak tahu lagi perkataan apa yang sekiranya bisa dimengerti oleh mertuanya. Bohong, jika Ayu berkata baik-baik saja, tanpa merasa sakit hati. Ia sangat-sangat amat sakit hati jika harus setiap hari mendengar caci makian dari mertuanya.


"Jawab kenapa kau diam saja? Telinga mu tuli, iya? Atau kau mendadak bisu?!" kata Mama Mega lagi, dilihatnya Ayu yang diam membisu. "semoga kau beneran jadi bisu!" lanjutnya sinis.

__ADS_1


Astaghfirullah, kenapa sampai segitunya Mama mertuaku, Ya Allah? Aku harus apa sekarang? Ayu memberanikan diri mengangkat wajahnya, maniknya melihat Mama Mega yang tak pernah menunjukkan sedikit senyum padanya.


"Bukan begitu Ma, tadi saya menjawab Mama tidak mau mendengar penjelasan saya, dan saya diam Mama mengatakan saya bisu?" ucap Ayu berkata lirih.


"Kau! Berani sekali kau!" Mama Mega tak ada habisnya menghardik sang menantu.


Tak beberapa lama, Ashoka menuruni tangga juga Gading yang datang dari ruangan lain. Ayu melihat ketiga orang itu sedang menatap seperti mengulitinya.


"Lihatlah Ashoka!" Mama Mega menatap Ayu sinis. "wanita kampungan yang kau nikahi, dia sangat tidak tau diri! Mama rasa dia pergi bersamaan dengan selingkuhannya, menikmati uang yang kau berikan untuknya," lanjutnya memfitnah, tentunya untuk membuat Ashoka marah pada istrinya.


Apa ini? Mama Mega tidak juga puas hanya dengan memaki, menyumpahi dan kini mengadu domba? Ayu merasa seakan lunglai dalam mengahadapi mendengar perkataan Mama Mega yang sangat menyakitkan hati.


Ashoka berjalan ke tengah-tengah, diantara Mama Mega dan Ayu. Ia melihat istrinya itu sedang menunduk. Tak lama setelah beberapa detik mengamati Ayu, Mama Mega dan Gading, Ashoka berjalan mendekat pada istrinya, bahkan tak segan merangkul bahunya.


"Ma, Ayu pasti lelah. Biarkan dia istirahat." ucap Ashoka lembut, bahkan tak segan ia mencium singkat kening istrinya.


Mama Mega dan Gading tertegun melihat hal yang dilakukan Ashoka barusan.


Apalagi Ayu, dia sampai merasa jadi patung mendapat perlakuan lembut dari suaminya yang dianggapnya dingin serta kaku.

__ADS_1


...*****...


Bersambung


__ADS_2